
Gadis itu menutup leptopnya dengan perasan gusar. Fakta bahwa Zafran merupakan anak dari pimpinan pondok ternama di kota L tersebut membuatnya sangat bimbang. Kepalanya terasa mau pecah dan hatinya di liputi kegelisahan. Billa faham betul bagaimana resikonya menolak lelaki yang datang dengan niat baik terutama lelaki itu adalah laki-laki yang Sholih. Akan ada sebuah bencana atau keburukan yang menimpa nya ketika seorang perempuan menolaknya terang-terangan. Sebenarnya Billa bisa saja memilih yang terbaik antara Zafran dan syafik. Karena jelas Billa belum memberikan keputusan kepada syafik. Satu-satunya jalan yang akan dia lakukan adalah sholat istikharah. Meminta petunjuk atas keresahan yang menimpa nya.
"Ara, aku ingin meminta pendapat nya, tetapi dia tidak memegang ponsel. Masih dua pekan lagi baru diperbolehkan menelpon sanak saudara" ujarnya sambil merebahkan tubuhnya. Billa sangat ingin membagi apa yang di alaminya oleh kedua orangtuanya, tetapi mengingat dirinya baru saja lulus SMA dan baru masuk kuliah membuat nya ragu untuk menceritakan kepada ibunya. Bisa di pastikan kedua orangtuanya tidak akan mengizinkan putrinya menikah muda. Apalagi sang kakak, melihat ambisi kakaknya untuk menjadikan Billa penerus yayasan pendidikan yang sudah di rintisnya lama.
Gadis itu mencoba tidak memikirkan apapun sekarang, yang Billa tahu, dirinya harus fokus kepada kuliahnya. Jangan pikirkan apapun. Mencoba masa bodoh dengan segala kegundahan yang di alaminya. Iseng gadis itu mencoba mencari tahu prihal apa yang seharusnya dia lakukan ketika mendapat CV dari dua pria yang sama-sama Sholih. Jarinya mengetik lincah pada benda pintar itu. Billa mencoba mendengarkan semua nasehat dari para tokoh ustadz di Vidio yang sedang diputarnya. Hingga sayup-sayup matanya mengantuk dengan ponsel yang masih menyala dan menampilkan Vidio ustadz yang sedang di putar.
***
Sementara itu, seorang pemuda berdiri di balkon kamar nya dengan menatap langit. Pemuda yang masih sangat muda dan tampan itu jelas menantikan sesuatu yang dia harapkan dari perempuan yang sudah dirinya kagumi semanjak pertemuan pertamanya. Suara ketukan pintu kamar begitu nyaring di telinga nya, membuat dirinya beranjak untuk membuka pintu.
"Dek, di panggil Abah di bawah. Kamu kenapa di kamar terus. Tadi juga kenapa gak ikut makan malem."?
"Sudah makan sama teman tadi di kafe bang, Abah di ruangan mana.?"
"Dii ruang tamu sama ummi." Ujarnya sambil berlalu masuk ke kamar yang terletak di samping kamar adiknya itu. Tapi sebelum menutup pintu Zafran lebih dulu membututi abangnya sampai masuk ke kamar.
"Mau apa lagi kamu hey."
"Abang jadi menikah bulan ini?"
"Insyaallah, memangnya kenapa.?"
"tidak apa-apa, aku ingin bertanya banyak hal. Tapi sepertinya Abah sudah menungguku." Jawabnya seraya melangkah pergi menuruni tangga.
"Hey, buat penasaran saja. Fokus kuliahmu, baru lulus SMA, jalanmu masih panjang, cari ilmu sebanyak mungkin dulu. Baru melangkah ke sana." ucap Zaid cukup menyindir sang adik yang sepertinya sudah terbaca oleh sang kakak dengan niatnya yang ingin bertanya mengenai pernikahan. Zafran lantas berhenti dan menoleh kepada sang kakak yang menasehati nya sambil berteriak dan menutup pintu kamarnya. Pemuda itu lantas menemui abahnya yang sudah menunggu kedatangan nya sejak habis sholat isya.
"Abah mencari ku,?"
"Duduk dulu nak, apa seperti itu berbicara kepada abahmu.?" ucap sang ummi mengingatkan.
"Zafran, Abah sudah mengizinkanmu kuliah di sini, tentu kamu masih ingat bukan dengan syarat Abah agar kamu melanjutkan kuliahmu di Madinah.?"
Zafran bungkam dan semakin menunduk. Inilah yang sebenarnya membuat Zafran ragu untuk melangkah maju memberikan biodata nya kepada Billa, dirinya seolah di atur untuk meneruskan kepemimpinan pondok yang di rintis oleh mendiang kakeknya dan abahnya. Sedangkan abangnya sudah lebih dulu mengolah karirnya sendiri di dunia kampus. Menjadi putra bungsu di keluarganya membuat Zafran seperti di setir untuk melakukan banyak hal. Dirinya bahkan terang-terangan menolak untuk kuliah jauh. Bukan tanpa alasan, Zafran memilih kuliah di kotanya karena dirinya tidak pernah merasakan hidup bersama orang tuanya. Dia besar di pondok mulai dari sekolah dasar. Meskipun anak dari seorang pemilik pesantren tidak menjadikannya berbeda menerima perlakuan. Hal ini membuat nya jengah dan kesal kepada Abah dan ummi nya. Dia ingin kembali merasakan tinggal di rumahnya sendiri seperti dulu saat kecil. Hal itu pun dirasakan oleh sang kakak, tetapi kakaknya tidak di tuntut untuk menjadi penerus pondok pesantren milik keluarga nya. Di karenakan Abang nya sudah berhasil membesarkan kampus yang dulu abahnya rintis. Mau tidak mau, Zafran harus menjadi penerus pondok pesantren milik keluarga nya.
"Aku masih mengingatnya bah, tapi. Apa boleh aku mengajukan syarat lagi kalau ingin aku menjadi penerus pondok ini.?"
Kedua orangtua Zafran mengernyitkan dahi secara bersamaan, bukan bingung atas penyataan sang anak melainkan sangat kesal dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh putra bungsunya.
"Syarat apa maksudmu Zafran, Abah sudah menuruti keinginanmu untuk kuliah di dalam negeri. Sekarang apalagi syaratnya." ucap abah seraya memijit pelipis nya karena merasa nyut nyutan dengan pola pikir putra nya.
"Aku ingin menikah muda" ujarnya tenang.
Membuat ummi dan Abah yang sedang pusing itu mendongak bersama menatap ke arah Zafran secara bersamaan. Tangan ummi menggenggam erat tangan Abah, kemudian mengelus lengan nya mencoba mengatakan untuk tetap sabar dan berfikir jernih sebelum memberikan tanggapan atas ucapan sang anak. Abah menghela nafas nya dengan berat, begitupun ummi. Dirinya beranjak berdiri dan duduk disamping putra nya. Mencoba mengelus rambut putranya dan memangku tangan putra nya secara lembut.
"Ummi tahu nak, kamu masih kesal dengan apa yang dilakukan ummi dan Abah di masa kecilmu. Apa kamu masih marah dengan itu semua sayang.?" ujarnya sambil menepuk tangan kanan Zafran yang ada di pangkuannya dengan lembut.
"Aku tidak marah ummi, aku hanya mengutarakan apa yang ingin aku lakukan, jika ummi dan Abah merestui keinginanku. Aku berjanji tidak akan menolak apapun yang diperintahkan untukku mulai saat ini." ujarnya gamblang.
"Menikah bukanlah perkara yang mudah Zafran anakku, itu adalah ibadah terpanjang dan bukan sebuah misi yang harus di selesaikan cepat. Kamu perlu ilmu untuk melakukannya, bukan sembarang menikah kemudian sudah."
"Aku mengerti Abah, aku bahkan menyerap segala perkataan para asatidz di kelas dengan segala macam kitab disampaikan untuk kami. Apa menikah harus S2 dulu sama seperti Abang Zaid.?"
"Tidak nak, begini saja, berikan data akhwat yang ingin kamu nikahi itu lebih dulu, baru kita bahas apakah Abah mengizinkanmu atau tidak."
"Baiklah, terima kasih Abah, ummi." Ucapnya sambil memeluk umminya erat.
Ummi membalas pelukan itu tak kalah erat, matanya menuju kepada Abah dengan senyuman mengembang mengisyaratkan rasa terima kasihnya kepada suaminya yang telah menanggapi anaknya dengan kepala dingin dan tenang.