
Ricky terbangun dari tidurnya saat mendengar Alarm jam weker diatas mejanya berbunyi. Pria itu lantas bangun dan menuju kamar mandi dengan mata yang masih mengantuk. Ricky membasuh wajahnya dan mulai mengambil air wudhu, kebiasaan Ricky bangun malam untuk Tahajud dan mengulang hafalan adalah rutinitas yang selalu diterapkan saat dirinya mulai kembali di tanah air. Enam tahun lalu, saat Ricky mulai merintis karirnya di kampus milik orangtuanya sendiri, pria itu bertemu dengan Sahabatnya Zaid dan Reza. Saat itu juga Ricky mantap untuk berubah menjali lebih baik dan berusaha mengimbangi pergaulan dengan para sahabatnya yang cukup religius.
"Ya Rabb, aku serahkan kepadamu segala urusan kehidupanku, Berikan Ridho atas jalanku. Tetapkan hatiku dalam kebaikanmu, Engkau yang lebih mengetahui mana yang terbaik untuk kehidupanku." Ucap Ricky setelah melaksanakan dua rakaat tahajud dan satu rakaat witir. Pria itu selalu menyempatkan diri untuk berdoa setelah sholat malam.
Ricky kembali berdiri untuk melakukan sholat Istikharah sebagai penetapan hatinya dalam memilih rasa kebimbangan yang sedang menyelimutinya. Pria itu melaksanakan dua rakaat sholat istikharah dengan khusyuk. Bayangan Billa selepas sholat sekelebat melintas didalam ingatannya. Membuat Ricky tersenyum tipis dan mulai membuka kitabnya. Pria itu kembali larut dalam surat yang sedang di muroja'ah pagi ini.
"Aku tidak akan melepaskan kamu Dek, susah payah aku mendapatkan lampu hijau di hatimu. Mutia hanya masa laluku. Tidak untuk kedua kalinya aku jatuh pada lubang yang sama." Gumamnya lirih menatap sebuah foto seorang wanita yang sangat anggun dengan gamis dan hijabnya yang panjang.
*
Billa dan teman-temannya sukses melakukan proker kelompok dengan memberdayakan masyarakat sekitar untuk menghidupkan aktivitas masjid yang dulunya redup dan jarang dilakukan. Contohnya pengajian mingguan khusus Ibu-ibu dan Bapak-bapak serta aktifnya remaja masjid dan anak-anak untuk mengaji setiap sore. Kegiatan ini tidak luput dari peran Billa dan teman-temannya untuk terus memberikan kegiatan yang positif di desa sekitar.
"Alhamdulillah, satu Minggu ini kita berhasil dengan program sederhana kita secara menyeluruh. Semoga pekan kedua nanti, kita bisa laksanakan proker lainnya untuk membangun kreativitas di masyarakat." Ucap Alir ketika mengawali rapat rutin setiap menjelang tidur.
"Gimana kalau kita manfaatin kain bercak yang sudah tidak digunakan lagi pada konveksi sebelah. Itu bisa kita daur ulang untuk membuat keset lantai. Dan tentu saja menghasilkan receh untuk para remaja yang menganggur." Usul Tiwi yang disetujui langsung oleh seluruh warga rumah itu.
"Wih, ide bagus tu. Lu bisa enggak buatnya. Harus ada yang bisa dulu baru kita nanti panggil para remaja desa ini untuk ikut belajar." Ujar Ridho semangat.
"Insyaallah bisa. Kita izin dulu besok ke pemilik konveksi. Kita boleh tidak ambil kainnya cuma-cuma. Kalau kita harus membayar sebaiknya tidak usah. Kita cari ide lain untuk program kita. Untuk sementara, kalian boleh lanjutkan program individu kalian saat ini." Ucap Alir bijaksana.
"Gue rencananya besok juga mau ke sekolahan buat izin bantu ngajar untuk program individu gue." Ujar Puri selaku jurusan pendidikan matematika bersama Febri dan Eka. Ketiganya merupakan jurusan pendidikan Matematika dan Fisika.
"Hey, ikut dong. Gue juga fisika cuy." Ucap Ridho yang langsung disambut baik oleh ketiga cewek itu.
"Izin juga ya.., insyaallah besok aku akan mulai mengajar di Taman Kanak-Kanak desa ini, tadi sore saat aku pulang ngajar ngaji. Alhamdulillah aku sempet mampir ke rumah Kepsek TK itu untuk izin ngajar di TK selama KKN. Dan beliau menyetujui." Ucap Billa yang langsung disambut baik oleh ketua kelompok maupun teman-teman lainnya.
"Mau ditemenin enggak Bill, Aku siap kok nganter jemput kamu " Ujar Raka yang langsung membuat rapat itu gaduh karena modusnya.
"Lu bener-bener ya Raka! Pepet terus, ngaca dulu woy. Billa orangnya kalemnya gak ketulungan. Lah Lu, model apaan woy.! Teriak Tiwi merasa keberatan dengan modus Raka.
"Haha, kalah lu Raka, mundur aja lu !" ucap Ridho ikut-ikutan mengejek teman paling banyak gaya itu.
"Astaga, Hey. Gini-gini gue nih mantan anak pondok juga woy!" ucapan Raka yang spontan itu langsung membuat suasana rumah itu semakin ribut lantaran banyak yang tidak percaya dengan ucapannya.
"Serius sih Raka, gak usah keterlaluan kalo boong."
"Ogah kalau modelnya kaya Billa ngisi kultum waktu pengajian, gue gak mau. Malu coy. Kalau adzan gua bakal lakuin besok subuh." Janji Raka terbawa emosi dengan ucapan teman-temannya yang tidak mempercayainya.
"Oke deh, gak apa-apa gak ngisi kultum. Tapi janji ya besok subuh adzan." Ujar Tiwi yang langsung mendapat dukungan dari teman-teman lainnya.
"Sudah-sudah, lebih baik kita tutup rapat kita malam ini. Selamat rehat untuk kalian semua. Semoga besok kita jadi lebih baik lagi dan diberikan ide-ide cemerlang lainnya." Ucap Alir sebelum menutup resmi rapat malam itu.
"Lir, Pak Ricky gimana ?" tanya Dita yang menyadari pesan DPL nya bahwa setiap satu pekan sekali akan mengunjungi posko.
"Eh iya, lupa gue. Tadi siang beliau chat gue. Insyaallah besok siang beliau bakal datang buat kunjungan rutin ke posko. Jadi siap-siap ya.." ujar Alir dadakan.
"Lu gimana sih, berita penting gak ngomong dari tadi. Kita kan harus nyiapin makanan dulu sebelum beliau Dateng. Yok lah, kita rembukan mau dijamu apa Pak DPL terhormat" usul Febri sedikit kesal dengan ketua kelompoknya.
"Begini saja, besok pagi kita ke pasar cari bahan untuk masak, sebagian yang memang mulai mengajar boleh tidak ikut membantu. Tapi nanti, saat Pak Ricky datang. Kalian yang tidak sempat membantu masak untuk Pak Ricky bisa menggantikan peran kami saat pulang dari ngajar." Ujar Tiwi bijaksana yang langsung disepakati oleh teman-temannya.
"Makasih Tiwi, kamu memang yang terbaik." Ucap Billa memeluk teman dekatnya selama KKN.
"Sip, kamu kan harus ngajar pagi. Nanti bisa bantu habis ngajar." Billa tersenyum hangat dan mengacungkan jempolnya sebagai tanda setuju.
"Nanti aku bantu deh, proker individu kamu."
"Harus dong" ucap Tiwi bisik-bisik bersama Billa.
Malam itu, Billa dan teman-temannya mengakhiri rapat rutin setiap malamnya dengan berembuk menu untuk menyambut DPL kelompok poskonya. Billa ikut mengusulkan masakan yang sekiranya Billa paham tentang menu yang pasti disentuh oleh calon suaminya tanpa sepengetahuan dari teman-temannya.
"Ayam goreng lengkuas ribet Bill, cari menu lauk lainnya deh." Sanggah Febri tidak setuju dengan saran menu dari Billa.
"Insyaallah mudah, besok aku tulis ya resepnya. Ikuti saja petunjuknya. Insyaallah berhasil."
"Lu aja yang buat gimana, lu yang paham." ujar Vivi yang langsung disetujui teman-temannya. Billa nampak menimbang usulan teman-temannya namun akhirnya gadis itu menolak lantaran tidak enak dengan janji yang dibuatnya dengan kepala sekolah TK yang akan menjadi tempatnya mengajar.
"Gue yang akan masak, gue bisa kok" Ucap Tiwi yang langsung mendapatkan dua jempol dari Billa.