Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Pensi



Hari berlalu begitu cepat, Billa dan teman seperjuangannya. Kini tengah duduk berbaur dengan warga desa, menyaksikan anak-anak desa tempat mereka KKN dan para remaja yang telah di latih sepenuh hati oleh peserta KKN posko dua satu dua, Pentas seni tersebut diselenggarakan sebagai penutupan kegiatan KKN selama empat puluh hari di desa.


Seluruh anak-anak membawakan penampilan dengan suka dan cita. Keberadaan Mahasiswa KKN tentu menjadi warna tersendiri pada desa itu, selama empat puluh hari full mereka berusaha memberikan yang terbaik untuk memberdayakan masyarakat sebagai awal dari Mahasiswa tersebut terjun dimasyarakat. Tidak heran, jika banyak para masyarakat terutama kaum Ibu-ibu begitu simpati kepada Billa dan teman-temannya yang telah memberikan kegiatan positif untuk desa tersebut.


Kini tiba acara yang menjadi inti dari diadakannya Pensi itu adalah sesi pamit yang resmi dilakukan oleh Billa beserta teman-temannya kepada lurah dan jajaran petinggi desa tersebut. Malam ini juga, Ricky tidak bisa hadir lantaran tidak diperbolehkan oleh Ibu dan Ayahnya, mengingat kurang lebih satu pekan lagi Dosen yang sudah cukup dewasa itu akan melaksanakan pernikahan. Sorak ramai disertai oleh canda tawa dan haru telah dinikmati seluruh warga yang hadir pada malam itu. Hingga ujung acara, sang MC yang dipimpin oleh Tiwi dan Ridho memanggil Alir untuk maju ke atas panggung.


Sebagai ketua kelompok, Alir mewakili teman-temannya mengambil alih acara itu untuk mengucapkan sepatah dua kata beserta pamit undur diri dari desa yang telah menerima keberadaannya dan teman-temannya selama empat puluh hari melaksanakan program kerja KKN dari kampusnya. Tak lupa pria yang sangat kompeten itu meminta maaf kepada seluruh warga sekitar, apabila selama di desa tidak sengaja melakukan kesalahan dan membuat warga sekitar tidak nyaman.


"Terima kasih saya ucapkan kepada Bapak camat dan jajaran para petinggi Desa Ambarawa yang telah menerima kehadiran kami beserta segala program kerja selama disini. Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada warga dan juga anak-anak yang telah membantu mensukseskan program kami. Kami mohon maaf, jika selama ini tidak bisa memberikan yang terbaik untuk desa tercinta. Sekali lagi, kami sangat berterima kasih kepada Ibu dan Bapak yang telah memberikan izin kepada kami untuk menjalankan program studi kami disini. Jika Ibu dan Bapak berkenan, insyaallah saya dan teman-teman mungkin akan mengunjungi desa ini untuk bersilaturahim lain waktu. Jujur, desa ini sangat memberikan banyak sekali pengalaman baru untuk saya pribadi dan teman-teman saya. Semoga apa yang telah kami tinggalkan bermanfaat untuk desa ini. Akhir kata, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh."


Alir mengambil sebuah Plakat akrilik yang sebelumnya sudah disiapkan olehnya dan teman-teman untuk diberikan kepada Pejabat desa sebagai simbol kenang-kenangan telah menempuh KKN pada desa tersebut.


Suasana perpisahan itu tentu saja diiringi dengan tangisan para warga yang merasa sudah dekat dengan Billa dan teman-temannya. Momentum akhir KKN memang selalu menjadi alasan dimana rasa kekeluargaan terasa kuat. Terlebih Billa dan teman-temannya selalu ikut membaur dengan warga dalam berbagai acara apapun.


"Semoga sukses ya Kak, terima kasih telah membimbing kami semua selama disini. Kami tidak akan pernah melupakan kakak" ucap salah satu anak yang selalu mengingikuti bimbingan belajar di posko.


"Aamiin, tetap semangat untuk kalian semua. Semoga kalian juga menjadi orang yang sukses kelak" Acara pensi malam itu ditutup dengan Isak tangis haru warga dan anak-anak setempat saat mereka semua bersalaman satu persatu.


"Sumpah, gue gak nyangka. Kita besok pulang cuy" ujar Ridho heboh saat baru saja sampai dihalaman posko.


"Eh bentar deh, kita duduk dulu semua di halaman ini melingkar, gimana kalau kita semua evaluasi selama kita KKN dan ngungkapin keluhan masing-masing selama kita menjalin kerjasama disini. Besok, setelah kita pulang. Kecil kemungkinan kita bakalan kumpul bareng kaya gini lagi. Karena kita pasti disibukkan dengan kegiatan masing-masing" usul Alir yang langsung disetujui teman-temannya


"Boleh juga tuh, itung-itung kita bisa tahu perasaan masing-masing selama kita tinggal bareng. Plus minta maaf sekalian." Ujar Dita sembari mengambil posisi duduk diatas kedua sandalnya.


Kini Billa dan teman-temannya tengah duduk berdampingan membentuk lingkaran, malam yang larut membuat nuansa sesi rapat malam terakhir kini begitu terasa. Dimulai dengan mengevaluasi segala kegiatan, hingga permasalahan keluhan secara pribadi mulai menghiasi obrolan malam itu. Tidak ada yang merasakan kantuk sama sekali, padahal selama beberapa hari ini mereka semua disibukkan dengan persiapan pensi yang membuat Billa dan teman-temannya kurang istirahat.


"Sekarang giliran gue, keluhan gue cuma satu sih. Tempat tidur, gue gak masalah sama kepribadian kalian yang kadang bikin jengkel setengah mati. Tapi bagi gue itu gak masalah, kalau kita justru lempeng-lempeng aja artinya gak normal proker kita. Secara kita empat belas kepala. Beda pemikiran dan keinginan. So.. gue minta maaf kalau sikap dan ucapan gue mungkin ada yang buat kalian sakit hati. Kesan gue banyak banget, gue cuma mau bilang, gue bersyukur banget disatukan sama kalian semua. Kalau bukan sama kalian, mungkin bakalan beda cerita kita. Gue akuin, kalian the best banget dalam bekerja sama dan nyelesain masalah. Thanks banget buat posko dua satu dua. Kalian berhasil punya tepat tersendiri di hati gue" Ridho memeluk erat Raka dan Agil yang kebetulan ada disamping kanan kirinya.


Hampir semua keluh dan kesan Billa beserta teman-temannya sama, ada yang memang sakit hati tapi tidak sampai memutuskan tali silaturahim. Contohnya Vivi, sejak awal perempuan itu memang tidak terlalu akrab dengan teman-temannya. Hal itulah yang membuatnya sering Miss komunikasi dan jarang bergabung. Kendati demikian, Vivi mampu menyelesaikan Proker Individu dan kelompok dengan baik.


"Gue minta maaf, mungkin selama disini gue jarang banget mau gabung sama kalian saat waktu senggang, mau digimanain juga karakter gua memang begini dari dulu. Tapi kalau gue boleh jujur, gue bersyukur banget ketemu kalian. Berkat kalian juga akhirnya gue bisa masak." Vivi mengusap air matanya yang sempat menetes di pipi mulusnya. Perempuan itu menangis sendu di pelukan Billa dan juga Tiwi.


"Kita udah maafin kamu kok Vi, kita juga minta maaf kalau mungkin tanpa disadari buat kamu marah. So.. jangan nangis lagi" ucap Billa menengangkan.