
"Bagaimana kelanjutan CV mu ?" Ricky menatap datar Ayahnya yang kini tengah duduk di sofa sambil menatap datar putranya.
"Nanti aku kabari kalau Billa sudah menjawabnya. Sekarang keluarlah Ayah, aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dengan tenang." Ucapnya kesal lantaran Ayahnya membuntuti dirinya yang ingin sendiri.
"Baiklah, Ayah menunggunya. Jangan terlalu lama juga Ki, ingat umurmu sudah hampir kepala tiga." Ujar Ayah Roby menyindir putra tunggalnya lalu melangkah keluar tergesa.
"Ck, Aku tau itu." Teriak Ricky melemparkan pulpennya kearah pintu yang sudah ditutup oleh Ayahnya.
*
Billa kembali ke kamarnya setelah menyelesaikan makan malamnya diruang Televisi bersama teman-teman lainnya. Sekelebat netranya melihat dua paper bag pemberian Dosen dan Ayah Dosennya tadi sore sebelum pulang dari kampus. Billa meraihnya dan berjalan kearah ranjang mungilnya. Gadis itu membuka salah satu paper bag yang sudah berada dihadapannya.
"Huft.., ini pasti mahal. Kenapa harus begini sih. Aku harus membalas apa kalau seperti ini pemberian mereka" Gumamnya lirih sambil membuka perlahan kotak kecil berwarna hitam pekat itu.
"Tuh kan..," ujarnya lagi sambil melepas kaitan dari kotak mungil tersebut. Gadis itu sebenarnya sangat senang, tapi sungguh ini bukanlah perkara yang mudah baginya menerima pemberian dari Dosennya sendiri. Jam tangan mahal itu terlihat begitu cantik dan mewah dimatanya. Gadis itu menutupnya kembali dan meraih satu paper bag lagi untuk dibuka.
"Kali ini apa lagi" ucapnya lirih sambil membuka kotak kecil yang terlihat elegan dihadapannya. Gadis itu kembali kaget saat melihat isi hadiah didalam kotak berwarna biru muda itu.
"Astaghfirullah, bagaimana caranya bergantian memberi kejutan kalau begini modelnya mereka memberiku hadiah" Billa meletakan kembali sebuah kalung berlian yang sangat cantik nan indah ketempat nya. Gadis itu menghela napasnya pelan seraya membereskan kotak-kotak itu dan memasukannya kedalam lemari. Billa merebahkan tubuhnya karena begitu pusing setelah melihat pemberian Dosen dan Ayahnya itu.
"Aku bingung, Ya Rabb.. apa beliau jodohku. Ibu dan Ayahnya sangat baik. Ibunya memasak langsung menu lengkap khusus untukku, Ayahnya membelikan kalung berlian. Dan Beliau bahkan memberiku jam tangan mewah." Gumamnya lirih menatap langit-langit kamarnya.
.
Hari berlalu begitu cepat, hari ini adalah hari terakhir dirinya melaksanakan ujian akhir semester pada perkuliahan semester lima. Billa dan teman-teman sekelasnya mempersiapkan diri masing-masing untuk menanti ujian terakhir dari SKS yang telah diambil pada perkuliahan semester lima.
"Rat, sudah dipastikan belum sama Dosennya kalau jam ini ujian mata kuliah beliau ?" tanya Billa memastikan tugas kosma sebagai teman dekatnya.
"Sudah, aduh aku makin grogi sama ujian makul beliau. Kira-kira ujiannya model gimana ya.. mana tulis pula. Kenapa gak tugas aja sih.." keluh Ratna mewakili teman-teman lainnya yang resah.
"Selamat siang sebelumnya. Terima kasih karena telah mengikuti perkuliahan kelas saya dengan baik. Nilai kelas ini insyaallah tidak ada yang mengulang pada semester depan." Ucapnya yang langsung membuat kelas ricuh dan senang lantaran pernyataan yang diberikan Dosen tampannya. "Selamat menempuh ujian akhir pada mata kuliah ini. Semoga dengan adanya nilai dari ujian ini bisa membantu kalian mendapat nilai A. Selamat berjuang" Dosen tampan itu langsung mempersilahkan pengawas untuk membagikan lembar soal untuk ujian hari ini. Seluruh Mahasiswa yang berada dikelas itu seketika hening dan konsentrasi memberikan jawaban yang menurut mereka paling tepat.
'Hari ini adalah hari terakhir saya melihatmu pada sesi perkuliahan. Semester depan kamu sudah harus KKN, dan tidak akan belajar dikelas lagi. Hanya satu kemungkinan yang membuat kita terus bertemu sampai kamu lulus. Mungkin dengan begitu saya bisa tetap terus meyakinkanmu untuk menerimaku' ucapnya didalam hati. Ricky tersenyum tipis menatap gadisnya yang tengah konsentrasi mengerjakan soal pemberiannya.
Lima puluh menit telah berlalu dengan cepat, banyak Mahasiswi yang sudah keluar kelas terlebih dahulu lantaran sudah menyelesaikan soal yang diberikan oleh Pak Ricky. Hingga satu jam berlalu kelas yang tadinya ramai sudah kosong karena semua Mahasiswi telah menyelesaikan soal tepat waktu. Billa dan teman-temannya menunggu Dosen dan pengawas keluar kelas baru mereka kembali ke kelas untuk membereskan tas dan peralatan ujian.
"Untuk kosma dan sekretaris kelas bisa minta tolong bantu saya membawa berkas ke ruangan." Ucap Pak Ricky menatap Billa yang tengah duduk bersama teman-teman lainnya diluar kelas.
"Baik Pak." Jawab Ratna dan Billa serempak menjawab permintaan Dosennya. Kedua gadis itu segera beranjak dan mendekat ke meja Dosen yang kini sudah tidak ada Dosen beserta pengawasnya. Hanya ada tumpukan berkas soal dan sebuah laptop milik Dosennya diatas meja. Sedangkan jawaban soal sudah di bawa terlebih dahulu oleh Dosennya.
"Rat, lo istirahat aja deh. Biar Billa gue yang bantuin. Ruangan beliau cukup jauh." Ucap Sisil perhatian mengusap lengan kosma kelas yang tengah mengandung dan mulai sedikit terlihat berisi.
"Tuh kan.., biar aku dan Sisil yang membawanya. Dari tadi dibilangin ngeyel banget." Sanggah Billa yang langsung membuat Ratna berkaca-kaca." Eh eh eh.. kenapa nangis.. Rat, kamu kenapa ?" Billa dan Sisil panik lantaran Ratna bukannya menjawab pertanyaan Billa justru semakin menangis. Teman-teman kelas mereka sudah keluar terlebih dahulu karena makul Mentopen adalah ujian terakhir hari ini. Billa dan Sisil panik karena Ratna semakin menangis sendu.
"Ratna maaf kalau ucapan ku ada yang salah dan menyinggung. Ada apa.. kenapa sampai menangis begini ?" ucap Billa lembut membelai jilbab teman dekatnya.
"Aku juga tidak tahu, aku ingin sekali keruangan Pak Ricky untuk melihat wajahnya dan mengusap rambutnya." Ucap Ratna jelas sambil sesenggukan karena menangis. Billa dan Sisil dibuat tak percaya dengan perkataan teman kelasnya.
"Apa Bayimu yang menginginkannya ?" tanya Sisil hati-hati. Billa menatap lekat teman dekatnya tak percaya saat Ratna mengangguk pasti menjawab pertanyaan Sisil, gadis itu tak percaya bahwa ngidam benar-benar ada.
"Baiklah, sekarang hapus air matamu dan pergilah bersama Billa untuk melihat wajah Pak Ricky. Turuti keinginan Bayimu. Dengar-dengar nanti bisa ngeces kalau tidak sampai keturutan ngidamnya." Billa meraih tangan Ratna dengan lembut. Gadis itu menepuk pundak Ratna pelan seraya mengelusnya lembut.
"Lain kali jangan menangis ya.., kasian Bayimu. Kita akan keruangan Pak Ricky dan kamu bisa melihatnya puas. Tapi aku tidak setuju kalau kamu mengelus rambutnya. Kamu tahu kan alasannya ?" Ratna mengangguk mengerti ucapan teman dekatnya.
"Iya, bukan mahram. Aku akan melihatnya saja. Tapi boleh tidak ya kalau minta foto bersamanya.?" Billa dan Sisil menggelengkan kepala melihat ngidam temannya yang begitu aneh.