
Billa dan Ratna berbeda kelompok dan lokasi KKN, keduanya kini sedang berkumpul mengenal satu sama lain kelompok masing-masing. Billa menghampiri sekelompok Mahasiswa yang sudah memasukan nomornya kedalam grup posko dua satu dua. Gadis itu segera mendatangi teman-temannya yang sudah membuat janji kumpul dihalaman masjid pusat dekat taman Embung Rektorat.
"Assalamualaikum" sapa Billa tersenyum ramah kepada teman-teman barunya. Gadis itu disambut ramah oleh teman-temannya walaupun berbeda penampilan dengan yang lainnya.
"Waalaikumussalam" jawab mereka kompak, kelompok Billa terdiri dari empat belas Mahasiswa berbeda jurusan dan fakultas. Tidak ada satupun yang dikenalnya walaupun sudah hampir tiga tahun lamanya dia berada di kampus.
"Salam kenal untuk kalian semua. Maaf sudah membuat menunggu lama" ucap Billa tersenyum ramah kepada teman-temannya.
"Salam kenal juga.., nama kamu siapa ?" tanya seorang gadis imut yang memiliki lesung pipi cukup dalam dan gigi yang ginsul membuatnya semakin menarik.
"Namaku Billa. Aku dari jurusan Pendidikan Anak Usia Dini"
"Hai, Namaku Tiwi, Aku dari jurusan ekonomi syariah. Kita juga baru saja sampai. Kita mulai tahap perkenalan kita satu persatu ya.." Ujarnya mulai akrab dengan Billa.
"Ada satu lagi teman kelompok kita yang belum kumpul, namanya Caraka." Ucap salah satu gadis yang memegang kertas pembagian kelompok.
"Hai, ini posko dua satu dua ?" tanya seorang lelaki berpostur jangkung dan gaya pakaiannya yang acak-acakan dipandang oleh mata.
"Kamu yang bernama Caraka ?" tanya Tiwi memastikan. Pria itu mengangguk dan mulai duduk disamping Billa dengan senyum yang mengembang.
"Maaf telat, tadi habis nemenin kawan dulu." Ujarnya sok akrab dan langsung menatap Billa yang terlihat menunduk.
" Lo pasti anak Hukum ya ?" tanya Ridho yang begitu mengenal gaya pakaian nyeleneh yang dikenakan oleh Raka.
"Yoi, Lo anak fisika ?" Ridho mengangguk dan mulai beranjak duduk disamping Raka. Keduanya langsung akrab.
"Stt Sstt..," Desis Raka menyentuh lengan Billa dengan pulpen yang sedang dipegang setelah melakukan tanda tangan memastikan identitas di kertas pembagian kelompok. Billa menoleh dan menatap kesal pria disampingnya, gadis itu mengambil pena dan mulai menadatangani kertas yang disodorkan.
"Lo kelompok kita juga ?" tanya Raka iseng memastikan gadis yang berbeda penampilan dari teman lainnya.
"Iya," jawab Billa singkat.
"Alhamdulillah, ada ukhti di kelompok gue. Mudah-mudahan insaf habis pulang dari KKN." Ucapnya ambigu yang langsung mengundang gelak tawa oleh teman-temannya.
"Jangan berani-beraninya ganggu dia ya, awas aja Lo!" ancam Tiwi yang memahami Billa sangat tidak nyaman duduk disamping pria itu.
"Pindah yuk duduknya, jangan deket-deket sama manusia macam dia." Ajak Tiwi menggandeng tangan Billa untuk duduk disamping teman cewek lainnya. Perkenalan singkat itu berakhir dengan pemilihan ketua kelompok dan menjadwalkan survei lokasi KKN pada lusa besok.
"Tentang apapun informasi digrup, kalian harus membacanya dan jangan diabaikan. Nanti malam insyaallah kita rapat lagi habis Maghrib. Jadi standby di grup ya." Perintah Alir sebagai ketua kelompok poskonya.
"Siap Bos, siapa aja yang ikut cek lokasi lusa besok ?" tanya Febri sebagai wakil ketua pada kelompok poskonya.
"Gue,Lo, Dita, sama Ridho. " jawab Alir yang langsung disetujui oleh yang lainnya. Pertemuan mereka berakhir singkat dengan mengenali wajah masing-masing teman barunya dan mulai akrab satu sama lain. Tingkah lucu Raka membuat kelompok itu selalu tertawa dengan kelakukan konyolnya. Ditambah logat bahasa daerah yang mendominasi saat pria itu berbicara membuatnya semakin lucu.
"Aku bawa kendaraan kok, terima kasih sebelumnya." Penolakan Billa jelas mengundang gelak tawa teman-temannya.
"Lo modus banget sih Raka, sini tawarin gue aja. Gua siap kok dianter Sampek depan Ayah gue." Ledek Ida dengan senyum manisnya.
"Uhuy, jangan-jangan nanti pulang KKN pada bawa pasangan."
"Sudah-sudah, pertemuan kita sampai sini dulu. Besok insyaallah aku akan coba hubungi DPL kita. Beliau sepertinya Dosen Fisika, Ridho tahu kontak Beliau enggak ?" Ridho mengecek ponselnya dan benar saja, nomor DPL kelompok poskonya adalah Dosen senior di jurusannya.
"Gua gak yakin DPL kita bakal nengokin kita, secara dia super sibuk dan orang nomor dua setelah Pak Ruby"
"Maksudnya DPL kita petinggi kampus ?"
"Iya, heran gue, kok bisa ya. Dia mau ngurusin Mahasiswa KKN, jelas-jelas dia masuk jajaran petinggi kampus"ujar Ridho yang mulai memahami satu persatu Dosen di kampus. Ridho merupakan Mahasiswa yang sangat aktif dengan berbagai UKM yang diikuti, dia juga masuk anggota BEM Kampus. Tidak sulit baginya mengenal petinggi kampus karena sering keluar masuk ruangan untuk mendapat ACC dalam program UKM yang di ikutinya.
"Siapa tahu beliau yang memegang tanggung jawab penuh untuk KKN angkatan kita tahun ini." Ucap Alir sok tahu.
"Memangnya siapa nama beliau ?"tanya Tiwi penasaran
"Ricky Irawan" jawab Alir singkat membuat teman-temannya menganggukkan kepala. Billa yang dari tadi menyimak dibuat kaget dengan nama yang baru saja disebut oleh ketua kelompoknya itu. Gadis itu berusaha menepis segala kemungkinan yang memenuhi pikirannya.
"Gue baru denger nama beliau" ujar Raka santai menatap Ridho yang juga sedang menatapnya.
"Jelas lah lu gak kenal, bukan Dosen anak hukum. Kalau Bokap nya mungkin lu kenal. Bahkan mungkin pernah duduk di mata kuliahnya." Terang Ridho yang memang mengetahui petinggi kampusnya.
"Siapa emang Bokap nya ?" tanya Raka penasaran
"Pak Ruby itu Bokap nya, Dosen anak Hukum kan ?" Raka mengangguk sambil mengacungkan jempol tangannya, "Lu pernah denger enggak, kalau istri beliau juga ngajar di kampus ini juga. Tapi gue gak tahu siapa nama istrinya " ungkap Ridho lagi. Billa menelan salivanya dengan susah, gadis itu tentu saja terkejut dengan penuturan teman-teman barunya. Tidak disangka pria yang saat ini menjadi calon suaminya adalah Dosen pembimbing lapangan yang akan menemani kegiatan KKN nya selama hampir empat puluh hari di desa Ambarawa tempatnya KKN.
'Tidak mungkin Pak Ricky yang akan menjadi DPL kelompokku, kenapa bisa pas begini. Mudah-mudahan beliau hanya menengok satu kali. Atau tidak pernah sekalipun lebih bagus.' ucap Billa didalam hatinya. Gadis itu nampak gusar dan gugup membayangkan jika teman-teman barunya mengetahui fakta bahwa dirinya adalah calon istri dari DPL kelompok poskonya.
"Bill ?" panggil Tiwi sekali lagi kepada teman barunya yang terlihat melamun.
"Iya ?, ada apa ?" jawab Billa gugup dan melihat ke segala arah teman-temannya sudah tidak ada. Hanya Tiwi yang masih setia disampingnya dengan tatapan bingung.
"Lo kenapa sih ? Dari tadi ngelamun terus. Sampek gak sadar kan temen-temen lainnya udah pada cabut pulang."
"Sorry, kita pulang yuk." Tiwi mengangguk sambil beranjak berdiri membantu teman barunya juga untuk berdiri.
"Lo udah tunangan ?" Billa menghentikan langkah kakinya dan menggenggam erat tangannya, menyembunyikan cincin cantiknya dijari manisnya yang sejak tadi mencuri perhatian Tiwi.