
Billa dan Ratna kompak menemui Dosen Metodologi Penelitiannya sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat.
"Tumben beliau nyuruh kita ngadep, biasanya lewat email kalau ngasih tugas." Cicit Billa saat keduanya berjalan beriringan menuju ruangan Pak Ricky.
"Sepertinya karena beliau besok tidak bisa masuk, makanya tugas harus dijelaskan melalui kita." Ujar Ratna menerka-nerka.
"Maksudmu karena akan keluar kota itu ?" tanya Billa memastikan. Ratna mengangguk pelan menatap teman dekatnya.
"Semoga saja ini tugas terakhir sebelum UAS." Gumam Ratna lirih saat keduanya sampai didepan ruangan Dosen favorit Mahasiswi itu. Billa hanya tersenyum menanggapi permohonan temannya. Ratna mengetuk pintu sebelum membuka pintu ruangan Dosennya itu.
"Sepertinya sepi, mungkin beliau belum kembali dari kelas Rat."
"Tapi beliau tadi chat aku sudah menunggu di ruangannya." Billa mengetuk pintunya kembali dan mengucapkan salam dengan lembut.
"Assalamualaikum Bapak.., maaf ini kami dari kelas A prodi Paud. Apakah Bapak ada didalam ?" tanya Billa dengan hati-hati. Ratna mengacungkan jempolnya lantaran sikap Billa yang sangat sopan. Saat keduanya saling menatap, pintu ruangan itu terbuka dari dalam membuat Ratna dan Billa reflek menoleh kearah pintu.
"Waalaikumussalam, masuklah. Lain kali ketika ingin menemui Dosen lainnya, bukan hanya mengetuk pintu. Tetapi jelaskan seperti tadi." Titah Bapak Dosen tampan itu menatap kedua Mahasiswi dihadapannya yang sedang menunduk malu.
"Maaf Pak" ucap Ratna mengakui kesalahannya.
"Masuklah, saya harus segera berangkat setelah ini." Billa menatap Dosennya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun saat Ricky ingin menatapnya justru Billa mengalihkan pandangan menatap lembaran tugas yang ada ditangannya.
"Tolong fotocopy tugas ini dan berikan kepada teman-teman kalian dikelas. Saya tidak sempat mengetik karena pekerjaan lainnya. Jika keberatan untuk fotocopy kalian bisa mengetik dan kirimkan pada teman kalian berbentuk file." Terang Ricky menatap lekat Billa yang kini menunduk dalam mendengarkan perintah Dosennya.
"Baik Pak. Mohon maaf Pak, tugas ini dikumpulkan kapan Pak?" tanya Ratna hati-hati.
"Kumpulkan secepatnya, ini adalah tugas terakhir pada semester ini. Saya harap nilai dari tugas ini membantu teman-teman kalian yang belum memenuhi nilai bagus. Kumpulkan dalam bentuk file dan kirimkan pada sekertaris kelas kalian. Setelah semuanya selesai, Sekertaris kelas wajib mengumpulkan langsung pada saya dalam bentuk file dimasukan pada flashdisk ini." Ujarnya gamblang sambil menyodorkan flashdisk dihadapan Billa. Kedua gadis itu mengangguk mengerti atas perintah Dosennya.
"Baik Pak, saya akan sampaikan kepada teman-teman kelas." Ucap Ratna bertanggung jawab sebagai kosma kelasnya.
"Sampaikan pesan saya pada teman-teman kalian, persiapkan dengan matang untuk ujian akhir semester mata kuliah saya. Kemungkinan saya tidak bisa masuk pekan depan. Jadi kita akan bertemu pada ujian nanti. Tugas harap dikumpul sebelum ujian." Titah Ricky mutlak tanpa dibantah. Billa hanya menunduk mendengarkan dengan baik perintah dari Dosen yang terus menatapnya lekat.
"Terima kasih sebelumnya. Kamu boleh meninggalkan ruangan ini. Sekertaris kelas mohon tetap di ruangan. Saya harus mengetahui laporan hafalan dari teman-teman kelas kalian untuk merekap nilai tambahan." Ucap Ricky datar yang langsung membuat kedua mahasiswi dihadapannya menoleh bersamaan kearah Dosennya. Billa menggigit kecil bibir bawahnya menandakan gadis imut itu sangat tidak nyaman dan itu bisa dirasakan oleh teman dekatnya Ratna.
"Maaf Pak, sebaiknya Ratna tetap menemani saya disini. Sepertinya dia juga ingin menambah setoran sekali lagi" ucap Billa tanpa sepertujuan Ratna. Tentu saja Ratna sangat kaget, diluar dugaan teman dekatnya itu begitu berani mengungkapkan apa yang ada dihatinya padahal jelas tadi Dosennya yang memberi perintah.
"Eh, maaf Bill, sepertinya aku belum siap jika harus menambah sekarang. Baiklah Pak, saya akan keluar menunggu didepan. Permisi. Assalamualaikum" sanggah Ratna yang jelas membuat Billa kesal lantaran temannya itu tidak mau membantunya untuk sekedar menemani. Ratna jelas grogi jika harus hafalan di hadapan Dosennya. Bukan lupa-lupa ingat lagi nantinya.Justru ngeblank sama sekali tidak ingat hafalannya. Sebut saja Ratna melarikan diri karena grogi dan belum siap.
Billa menunduk tenang dihadapan Dosen yang sejak tadi menatapnya lekat. Sejak temannya keluar dari ruangan, baik Billa maupun Dosen tampan itu belum mengatakan apapun. Billa jelas sangat tidak nyaman, namun karena dia harus tetap menghormati perintah Dosennya. Billa harus menekan egonya.
"Maaf Pak, rekapan mengenai hafalan teman-teman saya akan kirimkan melalui email. Rekapan itu saya tulis dilaptop. Maafkan saya sebelumnya karena tidak membawa laptop." Ucap Billa memberanikan diri untuk memulai percakapan setelah beberapa menit keduanya terdiam.
"Baiklah, saya tunggu nanti malam harus sudah dikirim." Jawab Ricky datar dengan terus menatap gadisnya yang mungkin akan lama tidak bisa melihat wajahnya yang imut.
Ya, Ricky menahan Billa hanya karena ingin melihatnya lama sebelum pria dewasa itu harus keluar kota kunjungan di beberapa universitas lain menemani Ayahnya untuk keperluan kampus. Sangatlah sulit untuk pria itu mendekati gadisnya jika bukan karena alasan ini. Bahkan Ricky harus mencari ide semalaman untuk memikirkan bagaimana cara untuk menemui Billa sebelum berangkat. Dan inilah hasilnya, pria itu benar-benar menggunakan kata laporan untuk membuat gadis yang disukainya menghadapnya saat ini.
"Kalau begitu saya mohon izin keluar Pak. Secepatnya saya akan kirim melalui email Bapak." Ucap Billa kesal karena cukup lama gadis itu menunggu Dosennya bersuara. Gadis itu mulai beranjak dan ingin keluar dari ruangan Dosennya.
"Tunggu, hanya sepuluh menit saja. Tetaplah duduk di hadapanku. " Cegah Ricky menahan langkah Billa dengan berdiri dihadapan gadisnya. Billa kembali duduk lantaran ingin mengetahui kenapa Dosen menyebalkan itu menahannya.
"Ada apa Pak, bukankah Bapak harus pergi setelah ini ?" tanya Billa menyindir pria dewasa yang sejak tadi malah diam kembali sambil menatapnya lekat.
"Hem, justru karena itu saya menahanmu disini. Tetaplah disini beberapa menit lagi sebelum saya berangkat. Cukup lama perjalanan saya nanti untuk kunjungan. Tidak bisa kah kamu memberitahu keputusanmu sekarang sebelum saya berangkat ?" Billa menghembuskan nafasnya pelan dan menariknya lagi untuk mengatur deru nafas yang tiba-tiba sesak lantaran penuturan pria dihadapannya. Gadis itu jelas kesal dan ingin segera keluar dari ruangan yang membuatnya sesak ini.
"Jika Bapak akhirnya mendesak untuk mengetahui jawaban saya. Maka saya akan katakan sekarang. Cukup sampai disini saya berjuang untuk melawan ketakutan saya selama ini. Mungkin juga ini adalah jawaban dari Allah setelah doa dan istikharah saya kepada Allah mengenai CV yang Bapak ajukan kepada saya. Maafkan saya Pak-"
"Cukup." Ricky memotong pembicaraan Billa secepatnya lantaran merasakan tanda yang tidak baik untuknya. Pria itu menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Mencoba berfikir jernih sebelum mengatakan sesuatu.
"Baiklah, saya tidak akan meminta jawabanmu sekarang. Keluarlah, jangan terburu-buru memutuskan perkara ini. Saya akan sabar menunggu keputusanmu nanti. Jaga dirimu baik-baik. Saya harus keluar kota menemani Ayah saya dalam tugas. Belajarlah dengan tenang. Kamu bisa keluar sekarang. Karena saya akan berangkat sebentar lagi" tutur Ricky gamblang menatap lekat gadisnya yang kini juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ricky benar-benar takut mendengar penolakan dari gadis yang sangat dicintainya. Mendengar kata maaf dari mulut mungil Billa tentu saja membuat Ricky menyimpulkan Billa akan menolaknya. Memilih Billa untuk mempertimbangkan lagi keputusannya adalah pilihan terbaik saat ini. Mana tahu Allah membalikan hati gadisnya untuk menerima CV miliknya.