Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Belum ACC



Billa terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ponselnya yang memekik. Gadis itu ketiduran setelah menunaikan sholat subuh dan mengulang hafalannya di atas sajadah. Karena merasa mengantuk Billa tidak ingin pindah ke kasur melainkan langsung meringkuk diatas sajadahnya. Posisi seperti ini jelas sangat biasa bagi seorang santri. Tertidur setelah mengulang hafalan atau setelah menghafal itu sangat nikmat. Dilihatnya nama Abangnya yang tertera membuat Billa tersenyum senang dan segera mengangkatnya.


"Assalamualaikum Bang.., Maaf semalam ponselnya aku mode silent." Ucap Billa langsung menjelaskan agar Kakaknya tidak berfikir aneh-aneh.


"Waalaikumussalam Iya Dek. Tidak apa-apa. Sudah siap-siap ke kampus atau masih tiduran ?"


"Hehe. Billa baru bangun. Kebetulan nanti kuliah siang. Ada apa Bang ?"


"Billa, Insyaallah Abang sudah menemukan calon istri Abang yang Sholihah. Kamu mengenalnya dengan baik." Ujar Reza dengan tenang. Billa tersenyum senang ketika mendengar kabar baik yang disampaikan Kakaknya.


"Alhamdulillah..., Benarkah ?, Kali ini apa Abang sudah pastikan dengan benar ?"Reza tersenyum hangat ketika mendengar cecaran Adik kesayangannya.


"Hem. Dia insyaallah baik. Abang sudah pastikan dengan teliti. Kali ini Abang melalui Ustadz sebagai perantara proses ini Dek."


"MaaSyaAllaah.., Kalau begitu beritahu Aku siapa calon Kakak Iparku" tanya Billa tidak sabaran.


"Winda Lailatul Husna"


Deg


"MaaSyaAllaah..., Aku tidak salah dengar Bang.. ?" Reza tersenyum senang mendengar Adiknya begitu bahagia dengan pilihannya.


"Insyaallah tidak Dek, Kami sudah tahap Nadzor (melihat calon istri ketika menggunakan proses ta'aruf) kemaren. Apa pilihan Kakakmu sekarang baik ?" Billa mengangguk cepat seolah Kakaknya mengetahui kalau dirinya sedang mengangguk.


"Sangat tepat. Terimakasih Abang.. Semoga diberikan kelancaran niat baik Abang. Aku menunggu kabar baik selanjutnya. Semoga Allah mudahkan ya Bang." Ucap Billa tulus. Billa sangat terharu dengan kabar baik yang diberikan oleh Kakaknya. Ustadzahnya dulu di pondok akan menjadi Kakak Iparnya, Billa sangat mengagumi sosok Ustadzah yang selalu sabar membimbingnya dalam menghafal dan memperbaiki huruf-huruf Al-Quran. Reza sendiri sebenarnya adalah penghafal Alquran, Dirinya juga lulusan pondok. Setelah menyelesaikan studinya di pondok pria yang dikenal tegas itu langsung melanjutkan studinya di luar kota. Maka benar kata Allah, sesungguhnya jodoh kalian adalah cerminan diri kalian sendiri.


"Baiklah, sekarang belajarlah dengan tenang. Abang akan memberi kabar selanjutnya nanti. Assalamualaikum" ucapnya lembut.


"Sip. Waalaikumussalam" jawabnya lembut dengan senyuman manis di bibirnya. Gadis itu tengah menyiapkan jadwal kuliahnya hari ini dengan perasaan yang sangat bahagia. Tidak lupa Absen kelas dan Dosen menjadi prioritas utama sebagai bentuk tanggung jawabnya.


Ding.


{"Keluarlah, Aku menunggumu diluar"}~Pak Ricky Dosen Mentopen. Billa melepaskan ponselnya dari tangannya setelah membaca pesan singkat dari Dosennya.


"Astaghfirullah.., mau apa Dia kesini. Tunggu dulu.. darimana dia mengetahui alamat kosanku" ujarnya panik sambil mengambil ponselnya yang tergeletak diatas kasur. Gadis itu berjalan mondar-mandir didalam kamarnya. Sungguh Billa benar-benar tidak memahami karakter pria dewasa. Dirinya yang sebenernya masih sangat muda. Jelas kaget dengan hal seperti ini. Ditambah wanita yang belum genap dua puluh tahun itu memang belum pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis secara dekat kecuali dengan Syafik.


Billa membuka pintu kamarnya dan segera mengintip dari jendela ruang tamu.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya memastikan cuaca" jawabnya bohong sambil menutup kembali tirai pada jendela ruang tamu. Rere mengangguk sebagai jawaban.


"Apa kamu akan tidur kembali ?" tanya Billa memastikan, setelah melihat raut wajah Rere yang terlihat sayu karena kelelahan.


"Hem. Aku habis lembur tugas. Aku mau tidur, jika nanti keluar tolong kunci gerbangnya. Hanya kita berdua di kosan. Yang lainnya ada kuliah pagi" ucapnya gamblang setelahnya menutup pintu kamarnya. Billa mengangguk mengerti dan berlari menuju kamarnya. Gadis itu mengecek kembali ponselnya yang ditinggalkan di dalam kamar.


"Astaghfirullah.. Bagaimana ini.. Apa aku harus menemui Pak Ricky" gumamnya gelisah.


Sementara Ricky menunggu gadisnya didalam mobil cukup lama, Dirinya yang terbiasa ditunggu tentu saja membuat rasa sabarnya sedikit berkurang.


"Sebenarnya dia sudah berangkat ke kampus atau belum. Jangan-jangan sudah berangkat. Percuma aku menunggu kalau ternyata Dia ada kuliah pagi." Ujarnya berbicara sendiri. Tangannya kembali mengecek ponsel dengan lincah. Sekilas melihat status Billa yang sedang online tetapi tidak berniat membalas pesannya. Tentu saja membuat Ricky mulai tidak sabar. Pria itu menekan tombol memanggil lantaran kesal dengan sikap Billa yang mengabaikan pesannya. Tetapi sungguh malang, Panggilan nya langsung ditolak dengan cepat tanpa menunggu lama.


"Yassalaam..." gumam nya kesal karena tidak dihiraukan oleh billa. Saat hendak memutar mobilnya, bayangan Billa sedang berjalan sambil mencari keberadaannya jelas terlihat dari dalam mobilnya. Membuat sudut bibirnya terangkat dan membentuk senyuman manis. Pria itu segera membuka pintu mobilnya dan berjalan menghampiri Billa yang sedang mencari keberadaannya.


"Kenapa tidak mengangkat telepon ku ?" Billa kaget saat suara seseorang yang dikenalnya sudah berada di belakang dirinya sambil menenteng sebuah paper bag.


"Astaghfirullah.., Kenapa Bapak kemari. Apa ada tugas mendadak yang harus saya sampaikan dengan teman-teman sekelas ?" tanya Billa dengan hati-hati tanpa menjawab pertanyaan dari Dosennya. Bagaimana pun pria menyebalkan dihadapannya adalah Dosennya sendiri. Jadi Billa harus tetap menjaga sopan santunnya sebagai Mahasiswinya.


"Ini, terimalah. Ibuku membuat khusus untukmu. Semoga kamu menyukainya. " jawabnya tenang sambil mengulurkan paper bag yang ada di tangan kanannya. Billa jelas merasa bimbang, jika ditolak jelas akan membuatnya tidak enak. Tetapi jika diterima pasti membuat pria dihadapannya semakin menaruh harapan. Billa mengambil pemberian dari Dosennya dengan canggung.


"Terima Kasih, kenapa repot-repot." Ucapnya malu ditambah tidak enak.


"Tidak merepotkan sama sekali. Terimakasih karena sudah mau menemui ku" ucapnya tulus. Billa mendongak menatap Dosennya yang juga sedang menatapnya lekat. Keduanya sama-sama memutuskan pandangan saat mendengar suara Ibu kosan Billa menghampiri keduanya dengan sapaan lembutnya dan tersenyum ramah.


"Nak Billa... Mas ini siapa.. Maaf nak, bukannya Ibu melarangmu menemui Billa. Tapi aturan dikosan ini tidak memperbolehkan laki-laki berkunjung selain keluarganya."Tegur Ibu Nana dengan sopan. Satu kata yaitu malu bagi keduanya. Billa bahkan menunduk malu tanpa berani menatap Ibu Kosannya yang sangat baik itu.


"Maafkan saya Bu, Saya tidak mengetahui sebelumnya. Jangan menyalahkan Billa tentang ini. Karena saya yang tiba-tiba datang sebelum bertanya. Kebetulan saya Dosen Billa semester ini. Ada beberapa hal yang mengharuskan saya untuk menemui Mahasiswi saya." Ujarnya dengan tenang dan gamblang. Pernyataannya jelas membuat Bu Nana kaget.


"Eh MaaSyaAllaah..., Maaf ya Pak Dosen. Kalau begitu mari masuk kedalam saja. Agar lebih nyaman mengobrol nya dengan Nak Billa." Tutur Bu Nana lembut seraya mempersilahkan masuk.


"Mungkin lain kali saja Bu.., Saya harus ke kampus Sekarang. Terimakasih sebelumnya." Ucap Ricky karena melihat jelas raut wajah Billa yang malu dan tegang. Bu Nana mengangguk mengerti dan pamit kembali ke dalam rumah.


"Masuklah, Terimakasih Billa" Billa tidak membalas perkataan Dosennya melainkan langsung masuk kedalam tanpa mengatakan apapun.


"Huh... Beginilah kalau punya calon masih unyu.. Eh, di ACC aja belum udah ngaku-ngaku." Ujarnya terkekeh sendiri dengan celotehnya.