
Billa tidak benar-benar tidur, dia hanya rebahan dan memainkan ponselnya untuk mengusir rasa jenuhnya sambil menunggu adzan isya. Suara pintu terbuka membuatnya segera menoleh dan beranjak ke posisi duduk.
"Umma, ada apa.. ?"
"Kenapa murung nak, Kamu tidak biasanya dikamar terus setelah pulang" ucap umma seakan faham ada yang di sembunyikan dari putrinya. Billa tersenyum dan menggenggam tangan ibunya yang duduk tepat di hadapannya.
"Tidak ada apa-apa umma, hanya sedikit lelah karena jarang berkendara jauh."
"Kakakmu sudah memberitahu siapa calonnya kepadamu nak ?"
"Sudah umma, hanya sekilas." ucapnya canggung.
"Bagaimana menurut mu ,? Apa cocok dengan keluarga kita ?" pernyataan yang membuat dahi Billa mengerut mencoba menatap lekat ibunya mencari sesuatu di dalamnya.
"Apa ibu sudah pernah melihatnya. ?" Umma menghela nafasnya pelan dan memandang ke arah lain.
"Belum, tetapi feeling umma mengatakan keraguan untuk perempuan itu" ujarnya tanpa menatap putrinya yang tidak percaya dengan apa yang di dengar.
"Apa Umma mengetahui sesuatu ?"
"Hem, Umma bercerita dengan teman akrab umma saat tidak sengaja bertemu dengannya di minimarket saat itu, Beliau mengatakan kalau perempuan yang bernama Dita itu adalah mantan kekasih anaknya. Adabnya kurang baik saat makan, minum ataupun berkata." Billa terkejut dengan pernyataan ibunya, Billa menghela nafasnya pelan dan mengeratkan genggaman tangan nya pada ibunya.
"Sebaiknya umma katakan jujur kepada Abang, mungkin saja Abang tidak mengetahui nya. Sebenarnya Billa ingin tau, darimana Abang mengenal Dita" Umma terkejut dengan panggilan yang disematkan putrinya kepada calon kakak iparnya.
"Ada apa denganmu nak, apa kamu juga mengetahui sesuatu yang tidak umma tau ?" ujarnya menatap lekat putrinya yang juga menatapnya dan mengangguk pasti.
"Dia teman SMP ku dulu di pesantren umma, dia juga santri baru di pondok. Kami satu kamar asrama dulu. Tabiatnya memang tidak pernah berubah dari dulu. Kata-katanya kotor dan selalu mencibir kami dulu. Banyak yang tidak menyukainya karena sikapnya yang semena-mena" Billa tidak kuat mengingat masa ketika menjadi santri baru dulu, dirinya yang awalnya tidak mengenal Dita benar-benar di buat tidak betah dengan perangai teman satu kamarnya itu. Tetapi tak lama setelah itu terjadi pemutaran santri dan membuat Billa tidak lagi sekamar dengannya. Tetapi masih satu kelas dengan Dita. Ibu terkejut dengan apa yang dikatakan putrinya sampai menutup mulutnya dan menatap lekat putrinya yang tidak akan mungkin berbohong dengan ucapannya.
"Baiklah, ibu akan meminta abangmu untuk menyelidiki perempuan itu sebelum melangkah jauh, mungkin saja Abang mu tidak mengetahui apapun tentang calonnya." Billa mengangguk sebagai jawaban. Namun belum sempat berbicara bibirnya kembali menutup karena suara yang sangat familiar keluar dari balik tembok dekat pintu kamar Billa.
"Tidak perlu umma, hari ini juga akan aku batalkan niatku untuk melamarnya." Ucap Reza tegas. Tangannya mengepal dengan nafas yang memburu.
"Kendalikan emosimu nak, berbicara baiklah padanya, jangan pula kamu membentak atau mengumbar aibnya di depan nya. Katakan alasan yang membuatnya mengerti kenapa kamu mengambil keputusan sekarang" ucap ibu bijak dengan menepuk lembut bahu putra nya. Reza mengangguk dan memeluk ibunya dengan erat,
"Kenapa umma tidak katakan langsung kepadaku, apa ini alasanmu tidak mau mendengarkan Abang tadi malam dek ?" ujarnya menatap adiknya yang juga menatap nya. Billa mengangguk pasti dan tersenyum setelah nya.
"Abang hanya mengenalnya lewat kawan dekat Abang, Abang hanya melihatnya dari foto. ternyata wajah cantik akhlaknya kurang." Sesal Reza menunduk.
"Memangnya Abang tidak pernah berkomunikasi dengannya ?" Reza menggeleng pelan dan berkata,
"Abang melakukan prosedur ta'aruf lewat teman kakak yang mengenalnya. Sayangnya mungkin teman Abang tidak jujur tentang tabiat perempuan itu dengan Abang."
"Aku rasa mungkin dia menutupi karena bisa jadi Dita sudah berubah" Ucap Billa yang langsung membuat kedua orang yang ada di hadapannya saling menoleh benar.
"Apapun itu, tidak mungkin Abang lanjutkan. Terlebih dia pasti telah menyakitimu dulu. Abang tidak mungkin membawa nya di hadapanmu yang pasti tidak mudah menerimanya" Billa mengangguk dan tersenyum hangat dengan ucapan kakaknya.
"Katakan pada teman mu dengan bijak." Reza mengangguk dan pamit untuk menemui temannya.
*
Malam semakin larut, tepat pukul tiga dini hari alarm yang sudah di setting oleh Billa menggema di kamar yang berukuran tidak sempit dan tidak terlalu besar itu. Billa terbangun dan mematikannya, setelah sadar sepenuhnya gadis itu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya dan mengambil air wudhu. Rutinitas ini sudah Billa terapkan sejak dirinya berada di pondok pesantren. Usai mengambil wudhu Billa menggelar sajadahnya dan memakai mukena dengan rapih. Empat rakaat tahajud dan tiga rakaat sebagai penutup witir dia selesaikan dengan hikmat. Sudah menjadi kebiasaan nya ketika selesai sholat akan melantukan ayat-ayat Allah guna menentramkan hati yang selalu merasa haus dan ingin di tenangkan. Hingga menjelang subuh matanya belum menemukan kantuknya, gadis itu berdiri mengambil handphone yang terletak di meja dekat ranjangnya. Terdapat dua pesan yang belum di baca karena tertidur semalam. Tangannya membuka pesan yang dikirim oleh Syafik, yang kebetulan ternyata status nya di wa sudah online.
"Maaf, semalam ketiduran" balasnya.
"Tidak apa, sudah sholat ?"
"Iya, kamu ngapain pagi-pagi sudah online ?" Syafik tidak membalas pesan milik Billa, padahal status nya masih online. Billa tidak berfikir macam-macam. Dia menduga mungkin Syafik sedang bertukar kabar dengan teman yang lainnya. Cukup lama Billa bolak balik aplikasi itu, ternyata pesannya hanya di baca tanpa di balas oleh pemuda yang sudah menempati hatinya itu. Ketika melihat status wa nya ternyata Syafik masih tetap online. Gadis itu menghela nafasnya pelan, mencoba menetralkan pikiran dan hatinya yang ternyata susah sekali untuk tidak berfikir negatif.
"Seharusnya memang tidak begini" Ucapnya tanpa sadar.
Billa sadar sekali bahwa hubungannya dengan syafik sangat tidak jelas. Gadis itu berfikir mungkin suatu saat baik dirinya atau syafik akan berpaling dari sebuah janji yang bisa berubah kapanpun itu. Adzan subuh berkumandang merdu, membuatnya segera bangkit dari kursi dan melangkah menuju sajadah. Namun saat dirinya melangkah sebuah notice handphone nya berbunyi.
.
Ding.
"Aku sedang berbalas pesan dengan teman lamaku" isi pesan itu. Billa tidak berniat membuka pesan itu, bahkan dirinya sengaja mengabaikan pesan itu, Tangannya mengklik tulisan hapus pesan pada layar handphone nya.
"Mulai sekarang tidak perlu mengharapkan balasan atau apapun itu dari manusia, serahkan segalanya kepada Allah" Ucapnya lirih.