Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Perhatian Ricky



Billa merebahkan tubuhnya yang lelah pada ranjang mungil kesayangannya. Gadis itu bahkan belum melepas hijabnya, bimbang itu yang dirasakan oleh Billa saat ini. CV dari Dosennya tentu saja mulai mengusik ketenangannya saat ini. Pekan ini adalah pekan tenang sebelum ujian akhir semester lima. Sholat istikharah pada setiap malamnya tak luput dari aktivitas malam Billa saat dirinya terbangun dini hari. Usai menunaikan sholat tahajud gadis itu selalu memohon petunjuk atas kegundahan hatinya mengenai CV Dosennya. Billa menatap langit-langit kamarnya kemudian memejamkan kedua matanya, mencari ketenangan sejenak sebelum beranjak bersih-bersih.


*


"MaaSyaAllaah Akhi, Antum nilainya Mumtaz semua. Luar biasa, iri sekali aku melihat kepintaran mu." Ucap seorang pria asal Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Madinah. Kedua pria itu baru saja melihat hasil ujian akhir semester yang telah dilaksanakan pekan lalu.


"Syukron, Antum juga Mumtaz nilainya. Jangan berlebihan seperti itu. Hafalanmu bahkan sangat baik." Balas pria yang juga berasal dari Indonesia. Keduanya dipertemukan tidak sengaja karena satu kamar asrama.


"Ya Zafran, apa Antum akan pulang ke Indonesia liburan ini ?" tanya Emir teman dekatnya selama kuliah di Madinah.


"Mungkin, aku sudah sangat merindukan masakan Ummi, kalau Antum bagaimana ?" Jawabnya tersenyum membayangkan makanan Indonesia.


"Tidak, ane gak ada fulus." Zafran beranjak mendekat teman dekatnya dan menepuk bahu Emir dengan kuat.


"Bagaimana kalau ikut aku pulang ke Indonesia, sekaligus mengasah skill pada tempatnya." Ujar Zafran menaikturunkan kedua alisnya.


"Maksudnya ?" Emir jelas penasaran dengan pernyataan teman dekatnya.


"Di rumahku ada ladang pahala yang menunggumu sebagai calon Syeikh. Ikut aku pulang ya ?" pinta Zafran menatap sahabatnya yang juga sedang menatapnya mulai mengerti.


"Tapi ongkos kamu yang tanggung ya ?"


"Sip. Biar Abahku yang menanggung biaya Syeikh satu ini."


"Apa tidak keberatan nantinya. Tentu saja butuh biaya yang lumayan banyak."


"Insyaallah ada Rezeki dari Allah. Bersiaplah, lusa kita akan pulang ke negara kita." Emir mengangguk mantab seraya memeluk sahabatnya. Bagi Zafran pulang pergi antar negara tidaklah sulit tentang materi. Emir jelas mengenal Zafran adalah anak dari orang terpandang di kotanya. Zafran memilih untuk tinggal di asrama lantaran ingin fokus dengan perkuliahan dan disibukan dengan hal yang bermanfaat. Jika dia mau, dia bisa saja tinggal di apartemen yang dulu ditinggali oleh Kakaknya Zaid saat menempuh pendidikan juga di Madinah. Namun Zafran lebih memilih tinggal bersama-sama dengan Mahasiswa lainnya.


"Bagaimana dengan Billa ?" tanya Emir yang langsung membuat Zafran terdiam setelah keduanya mengurai pelukan erat sebagai tanda sayang itu.


"Entahlah, aku hanya berserah diri pada takdir ini. Jika dia memang jodohku, maka Allah yang akan mempersatukan kami." Ujar Zafran tenang, Pria itu jelas sekali masih sangat mengharapkan Billa. Emir sebagai teman dekatnya sekaligus sahabat perjuangan di negeri orang. Cukup mengetahui mengenai keinginan Zafran. Keduanya sangat terbuka satu sama lain.


"Semoga Allah mengabulkan semua doa mu teman" ucap Emir sungguh-sungguh.


"Aamiin" Zafran tersenyum senang memiliki teman dekat seperti Emir. Pria yang sederhana namun sangat pintar itu selalu membuat Zafran harus merasa bersyukur dengan takdir. Emir adalah yatim piatu, kedua orangtuanya meninggal karena letusan gunung yang terjadi saat dirinya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dia diasuh oleh Nenek dan Kakeknya yang selamat dari bencana alam itu. Emir sendiri saat kejadian itu tidak berada di kotanya. Dia tengah liburan dirumah paman nya bersama Kakaknya diluar kota. Beruntung Emir sangatlah pandai dan berhasil meraih beasiswa kuliah di Madinah berkat hafalannya yang bagus.


***


Billa meraih ponselnya diatas meja belajar lantaran suara deringan ponselnya yang memekik. Gadis itu baru saja terbangun dari tidurnya masih menggunakan gamis dan hijab yang lengkap.


"Assalamualaikum Bang."


"Alhamdulillah baik Bang, Abang apa kabar, Buya dan Umma sehat kan ?" tanya Billa dengan suara khas bangun tidur dan tangan yang mengucek matanya lantaran masih sedikit mengantuk.


"Alhamdulillah sehat semua. Kamu baru bangun ? Sudah sholat belum ?" Billa langsung mengecek ponselnya untuk melihat jam pada layar ponselnya.


"Astaghfirullah, aku ketiduran Bang. Ini sudah jam lima sore. Aku belum sholat ashar." Ucapnya panik sendiri dan langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Abangnya. Billa lantas masuk kedalam kamar mandi membasuh wajahnya dan mengambil air wudhu. Billa langsung menggelar sajadahnya dan melaksanakan empat rakaat sholat ashar. Gadis itu lupa karena tidak memasang alarm. Niat hati ingin rebahan untuk menghilangkan penat sebentar, justru berujung ketiduran.


Ding.


{"Dek, kalau sudah libur segera pulang. Insyaallah Kakak akan melamar Ustadzah Winda saat kamu sudah dirumah"} ~ Bang Reza


Billa tersenyum senang saat membaca kabar baik dari Abangnya.


{"Siap, insyaallah pekan depan Billa sudah mulai ujian. Sebentar lagi Billa akan liburan. Semoga Allah mudahkan niat Abang ya.."} ~Adiku Billa.


{"Baiklah, selamat menempuh ujian akhir semester. Semoga nilainya Mumtaz semua. Jangan lupa istirahat"}~


{"Siap"} ~


Billa sangat bahagia mendengar kabar baik yang dilontarkan dari Abangnya, akhirnya Kakaknya akan menikah. Gadis itu begitu antusias karena calon Iparnya nanti adalah Ustadzah yang membinanya sendiri. Berbicara mengenai pondok, Billa tentu saja kangen dengan suasana nyaman dan penuh dengan religius itu. Sekelebat Billa mengingat seorang pria yang kini tengah menempuh pendidikannya di luar negeri. Ada rasa bersalah saat mengetahui alasan pria itu keluar dari Kampus yang sama dengannya.


"Zafran" ucapnya tanpa sadar. Billa kembali membuka kotak pemberian Zafran yang berukuran sedang berwarna pink itu dengan tersenyum. Gadis itu mulai melantunkan ayat demi ayat dengan merdu yang terdapat pada kitab suci Alquran. Billa mulai muroja'ah kembali hafalan surat yang sudah dihafalnya saat di pondok dengan khusyuk. Cukup lama gadis itu larut pada hafalannya, sampai dirinya merasakan begitu lapar pada perutnya yang sudah mulai keroncongan. Billa menutup kitabnya dan segera keluar mencari makan malam dengan menggunakan motornya.


"Dek, sudah mau Maghrib masih diluar ?" Billa jelas mengenali suara berat itu. Gadis itu segara menoleh dan benar dugaannya. Dosen Mentopen yang tampan itu sedang mengantri juga tepat dibelakangnya.


"Tadi lupa tidak sekalian beli waktu pulang kuliah Pak" jawab Billa canggung menunduk malu.


"Lain kali jangan sampai lupa, tidak baik mau Maghrib perempuan masih diluar. Pulang lah, biar nanti saya yang antar." Titah Dosennya yang membuat Billa langsung menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak perlu, lagipula saya bawa motor. Sebentar lagi juga sudah jadi pesanannya Pak." jawab Billa menolak halus tawaran Dosennya.


"Hati-hati dijalan Dek." Billa mengangguk pelan sebagai jawaban. Tidak lama dari obrolan keduanya pesanan Billa sudah jadi. Pecel Ayam sepertinya sangat menggugah selera nafsu makannya malam ini. Tidak hanya untuk Billa tentunya. Billa baru tahu, ternyata Dosennya juga menyukai menu tenda pinggir jalan seperti dirinya.


"Saya permisi Pak, Assalamualaikum"


"Tunggu Dek, saya jelas tidak tenang kamu sendirian nyetirnya. Mana udah adzan, Mang tolong titip dulu pesanan saya. Nanti saya ambil setelah saya sholat." Ucap Ricky seraya mendekat kearah Billa. "Ayo saya antar, jangan khawatir. saya tidak akan turun dari mobil. Hanya mengawal motormu dari belakang. Saya juga mau ke masjid." Ucapnya diluar dugaan.


"Tapi-"


"Tidak perlu penolakan. Cepatlah, sudah masuk waktu Maghrib. Tidak baik menunda terlalu lama." Billa mengangguk setuju dan mulai menghidupkan motornya.