
Tepat pukul sembilan malam, Ayah Roby dan Ibu Nadia pamit undur diri setelah memastikan pesta putranya berjalan lancar dan telah selesai. Sebelum benar-benar pergi, Kedua orang tua Ricky bercengkrama dengan besan dan sedikit meledek putranya yang terlihat begitu tampan dengan balutan baju pengantin.
"Good luck Boy, Ayah menantikan kabar baik." Bisik Ayah Roby ditelinga putranya yang langsung membuat Ricky tersenyum canggung.
"Ibu dan Ayah pamit ya sayang, Ibu sangat menantikan Billa dirumah kami. Happy Wedding untuk kalian sayang" Billa hanya tersenyum lembut setelah melepaskan pelukan hangat dari Ibu Mertuanya. Kini, kedua pasangan halal itu terlihat canggung satu sama lain setelah ditinggalkan oleh kedua orangtua mereka.
"Dek" panggil Ricky lirih mencoba mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya dengan mencoba membangun obrolan ringan.
"Iya ?" Billa menoleh kearah suaminya menahan rasa gugup dan juga malu lebih tepatnya. Ricky tersenyum lembut sembari mencoba menggenggam tangan Istrinya yang mungil.
"Deketan dong, kita sudah halal kok." Billa semakin malu setelah mendengar permintaan dari pria dewasa disampingnya. Namun, gadis itu tetap menuruti keinginan suaminya.
"Kalian tidak lelah ? Lapar atau haus ?" ucap Reza tiba-tiba datang membawa satu piring somay permintaan Istrinya.
"Isi tenaga dulu Ky, beribadah juga butuh tenaga" celetuk Reza sembari melenggang pergi tanpa merasa bersalah sama sekali. Billa yang tak paham dengan kode yang dimaksud oleh Kakaknya hanya menatap Kakak kandungnya yang sudah pergi.
"Kamu lapar ?" tanya Ricky sembari menggenggam tangan Istrinya. Billa mengangguk pelan sambil berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
"Baiklah, kita makan dulu ya.. setelah itu kita bisa istirahat dan beribadah." Billa hanya mengangguk pelan mencoba mencerna penuturan dari suaminya yang sudah menuntunnya untuk menuju meja hidangan.
"Bill" panggil seseorang dibelakangnya dengan suara beratnya. Ricky dan Billa menghentikan langkah kakinya dan menoleh kearah sumber suara. Benar dugaan Billa, pemilik suara khas itu adalah milik Syafik. Laki-laki yang dulunya mempunyai tempat spesial dihatinya itu kini berdiri tegap dengan tatapan sendunya yang ditemani oleh sahabatnya Rahman.
"Syafik" ujar Billa lirih menatap suaminya sekilas yang juga menatapnya mencoba memahami situasi.
"Selamat atas pernikahanmu, dan maaf untuk segalanya yang pernah terjadi. Semoga pernikahanmu penuh dengan sakinah, mawadah warahmah." Billa mengangguk pelan sembari tersenyum hangat menatap pria yang kini berusaha untuk tegar dihadapan wanita yang masih dicintainya.
"Happy Wedding Habibillah, semoga segera diberikan momongan. Selamat menempuh hidup baru untuk kalian. Salam kenal Mas, saya Rahman dan ini Syafik, kami teman seperjuangan Billa saat masih di pondok." Ricky tersenyum hangat menyambut kedua pria tampan yang terlihat berbeda dalam menyapanya.
"Terima kasih telah menyempatkan waktu kalian untuk datang. Silahkan dinikmati jamuannya, maaf jika hidangan kami sederhana." Ujar Ricky merendah. Padahal, jamuan pesta yang disediakan oleh kedua pihak Ricky dan Billa begitu nikmat dan berbagai menu tersedia. Benar-benar memanjakan lidah para tamu undangan dan kerabat yang ikut hadir pada acara penting itu.
"Sudah kok Mas, kami bahkan sudah mencicipi semuanya. Sangat lezat dan begitu mewah." Jawab Rahman jujur karena sejak tadi Rahman sengaja mengajak sahabatnya untuk sibuk mencicipi hidangan gratis yang menggugah selera.
"Sepertinya kami harus pamit sekarang, sekali lagi selamat atas pernikahan kalian. Assalamualaikum" Rahman menyeret sahabatnya setelah menjabat tangan Ricky dan berpamitan dengan Billa. Sikap Syafik yang diam seribu bahasa bahkan acuh terhadap suaminya Billa, membuat Rahman tidak enak hati dan memilih mengakhiri segera.
"Aku tahu kau begitu terluka saat ini. Tapi tidak sepantasnya kau mengacuhkan suaminya yang tidak bersalah tentang hubungan kalian. Kamu bahkan tidak mengajaknya bersalaman." Tegur Rahman setelah menjalankan mobilnya untuk melaju pulang. Syafik tetap diam menatap keluar jendela kaca mobil.
Sementara itu, Ricky tidak terlalu mempermasalahkan sikap kedua teman Billa saat menemuinya dan Istrinya. Pria itu adalah Dosen yang sudah lama mengajar, ribuan orang telah dijumpainya dengan berbagai jenis karakter. Membuatnya terbiasa dan memilih tidak terlalu pusing untuk dipikirkan.
"Kamu Dek" Billa yang tengah mengambil beberapa tusuk sate langsung menoleh kearah suaminya yang semakin tersenyum lebar menatapnya.
"Aku ? maksud Kakak ingin masakan aku ?" Ricky menggeleng pelan lalu menunjuk menu agar diambilkan oleh Istrinya. Billa dengan cekatan mengambilkan sepiring nasi beserta lauk dan teman lainnya kepada suaminya yang tengah berdiri disampingnya.
Setelah merasa cukup dengan menu yang akan disantap, keduanya memilih duduk bergabung dengan kerabat lainnya untuk makan malam. Ricky tak segan menyuapkan beberapa kali makanan yang ada dihadapannya kepada Billa. Tak ingin mengecewakan suaminya, Billa lebih memilih menuruti dan menikmati perhatian dari Ricky untuknya.
"Bill" ucap seseorang yang kini tengah berdiri disamping suaminya. Betapa terkejutnya Billa saat mengetahui pria dihadapannya saat ini telah pulang dari tempatnya menempuh pendidikan.
"Zafran" gumam Billa lirih memandang pria dihadapannya bergantian dengan suaminya.
"Selamat untuk pernikahanmu dan Kak Ricky, doa terbaik untuk pernikahan kalian, aku bersyukur setidaknya Billa jatuh pada orang yang tepat. Jika Kakak menyakitinya nanti, aku tidak akan segan untuk menunggunya lagi untuk memilikinya." Ucap Zafran tegas yang langsung membuat Billa menatap tak percaya pria dihadapannya. Ricky mengangguk pasti lalu memeluk Adik sahabatnya dengan erat, kedua pria itu kembali berpelukan sebagai tanda keduanya memang sama-sama berdamai dengan perasaan masing-masing.
"Terima kasih untuk doanya Zafran, apa kalian saling kenal ?" tanya Billa ragu-ragu menatap bergantian kedua pria dihadapannya.
"Hem, dia sudah Kakak anggap sebagai Adik sendiri karena Zafran adalah saudara kandung Zaid." Billa terkejut mendengar penuturan suaminya. Perempuan itu tersenyum lembut setelah Zafran berpamitan sebelum beranjak pergi.
"Jaga dia Kak, aku percaya kepadamu." ucapnya sebelum benar-benar pergi untuk kembali ke Madinah.
Setelah menyelesaikan makan malam singkat, keduanya tidak kembali ke pelaminan, melainkan menuju tempat peristirahatan tepatnya kamar milik Billa yang sudah dihias cantik sebelumnya. Umma sengaja menyuruh keduanya untuk masuk kedalam kamar lantaran acara memang sudah selesai dan merasa kasihan dengan putri sekaligus menantunya yang sudah lelah.
"Kak, Dek" keduanya kembali kikuk sendiri setelah sampai dikamar milik Billa. Sangking gugupnya keduanya sampai berucap berbarengan untuk menghilangkan rasa malu dan grogi.
"Kamu mau ngomong apa Dek.." ujar Ricky lembut menatap wajah ayu Billa yang masih terbalut dengan riasan diwajahnya.
"Lebih baik Kakak bersih-bersih duluan, setelahnya baru aku. Ini Handuk untuk Kakak, aku harus melepaskan perhiasan dan membersihkan makeup ini dulu. " Ricky tersenyum hangat sembari mencoba mendekati Istri mungilnya yang kini terlihat begitu menggemaskan.
"Mau Kakak bantu ?" goda Ricky semakin mendekat sampai tidak ada celah di wajah keduanya. Kening Ricky tepat menempel pada kening milik Istrinya yang kini dapat merasakan deru napas keduanya. Ricky tersenyum lembut manakala melihat wajah Istrinya dari dekat yang terlihat sedikit takut dan grogi. Pria itu segera memberi jarak namun tetap memegang kedua tangan Billa dengan lembut.
"Baiklah, Kakak akan mandi sekarang." Ujarnya tenang menatap sekilas wanitanya dan beranjak menuju kamar mandi milik Billa. Pria itu faham, gadisnya benar-benar masih polos untuk membuatnya peka dengan sikapnya. Ricky akan mencobanya dengan pelan tanpa harus membuat Billa takut bahkan trauma.
Setelah memastikan suaminya masuk kedalam kamar mandi, gadis itu bernapas lega dan memegang dadanya yang tiba-tiba bergemuruh hebat namun begitu merasa senang.
"Ya Rabb.., aku takut sekali. Tapi ini benar-benar nyata" gumamnya lirih lalu beranjak untuk melepaskan perhiasan dan hijabnya dimeja rias.