
Malam yang dingin begitu terasa dan menembus pada kulit mulus seorang gadis cantik yang tengah melakukan rutinitas malamnya. Gadis itu telah membasuh wajahnya dengan air wudhu untuk melangsungkan sholat tahajud sebelum adzan subuh berkumandang. Begitu pula dengan seorang pria dewasa yang kini baru saja merampungkan sholat malamnya. Ricky terbangun lebih awal dan langsung menunaikan empat rakaat sholat tahajud dan satu rakaat witir.
"Ya Rabb, aku serahkan hari ini kepadamu. Niat baikku untuk menyempurnakan agama telah sampai pada hari dimana pernikahan suci itu akan berlangsung. Mudahkanlah niat ini, serta berikan Ridho terbaikmu untuk acara kami hari ini. Bissmillah" ucap Ricky saat menengadahkan kedua tangannya meminta dengan khusyuk kepada sang pemilik takdir.
Sementara Billa, gadis itu tengah menunaikan sholat malamnya dengan khusyuk. Tidak ada rasa kantuk sedikitpun yang dirasakan oleh Billa sejak semalaman, perasaan deg-degan dan was-was selalu menyertainya hingga ujung malam berakhir gadis itu hanya tidur sekitar dua jam.
Suara ramai kerabat dekat dan para tetangga yang membantu mempersiapkan acaranya kini telah terdengar. Gadis itu tetap memakai mukenah dengan kitab kecil ditangannya, suaranya yang halus nan merdu mengiringi malam yang sebentar lagi menyongsong fajar. Billa hanyut pada ayat-ayat yang dibacanya dengan nikmat, hingga adzan subuh berkumandang. Gadis itu baru menutup kitabnya dan menuaikan sholat subuh dengan hikmat.
"Dek" ucap seorang perempuan menepuk pelan pundak Billa dan ikut duduk disampingnya.
"Mbak, aku gugup sekali" Winda memeluk Adik Iparnya dengan sayang. Perempuan itu benar-benar sudah menganggap Billa seperti Adik kandungnya.
"Tenanglah sayang.., insyaallah Billa bisa melewatinya dengan baik. Sekarang, Adek mandi dan bersiap-siap. Mbak Winda akan membantu memakai gaunnya sebelum Mbak Riri datang untuk merias Adek." Billa mengangguk seraya melipat mukenanya dengan rapih.
"Bagaimana ?" tanya Reza saat Istrinya keluar dari kamar Adiknya. Reza sangat mengetahui Adiknya satu pekan ini begitu takut dan gugup.
"Aman" ujarnya tersenyum. Kedua pasangan itu tersenyum lega lalu melangkah menuju keberadaan Buya dan Umma yang juga sedang mengkhawatirkan putri bungsunya.
Acara yang telah ditunggu-tunggu akhirnya datang, mempelai pengantin Pria dengan pakaian serba putihnya telah datang beberapa menit lalu bersama dengan rombongannya. Ricky tampak gagah dengan balutan resmi yang dikenakannya berkat desainer ternama pilihan Ibunya. Ya, semua acara sakralnya hampir keseluruhan Ibu Nadia berperan banyak dalam mempersiapkan segalanya.
"MaaSyaAllaah calon manten, jangan gugup gitu dong. Santai kawan. Pasti lancar!" ucap Zaid menyemangati sahabatnya yang kini duduk gelisah menanti Bapak penghulu.
"Haus, Astaghfirullah" ujar Ricky tanpa menggubris ucapan temannya. Dia begitu gugup saat menit-menit terakhir akan mengucapkan ijab qobul, Zaid terkekeh geli melihat sahabatnya kini begitu resah sampai mengelap keringat yang muncul pada keningnya. Padahal ruangan khusus untuk dilakukan akad itu dipenuhi oleh kipas angin.
"Yasaalam, kamu itu orang penting bahkan sangat disegani. Bisa-bisanya sekarang begitu gugup." Celetuk Zaid semakin meledek sahabatnya, Ricky sama sekali tidak menggubris ocehan sahabatnya. Saat ini dirinya benar-benar haus bahkan hendak berdiri untuk mengambil minum. Namun, saat akan beranjak berdiri seseorang menyodorkan sebotol air minum sambil tersenyum ramah kepadanya.
"Ini Kak, maaf seharusnya aku menghadiri acara resmi Kakak mulai dari proses lamaran. Tapi tidak masalah, aku tetap tidak telat kan. Sebab acara sakralnya aku bisa hadir." Ricky hanya tersenyum canggung menanggapi ucapan tulus dari seseorang yang dulunya begitu akrab bahkan sudah dianggap Adiknya sendiri. Pria itu menoleh kearah sahabatnya yang kini juga sedang menatapnya lekat.
"Selamat Kak, aku turut bahagia saat mendengar Kakak akan menikah. Aku mengetahui kabar bahagia ini bukan dari Kak Zaid, melainkan dari teman perempuanku di kampus yang sama dengan Billa. Kebetulan dia juga berteman baik dengan Billa, jadi kami memutuskan untuk datang bersama." Ujar Zafran gamblang menahan sedihnya sejak beberapa hari yang lalu.
Pria itu datang bersama dengan Ratna yang tengah hamil tua dan teman-teman sesama UKM lainnya. Zafran memutuskan untuk mengambil cuti beberapa hari untuk langsung pulang ke negaranya saat mengetahui kabar gadis yang begitu diharapkan dengan sejuta doa akan menikah. Pria itu bahkan sempat marah saat mengetahui mempelai Pria yang akan menikahi Billa adalah sahabat dari Kakaknya sendiri. Sungguh, pria itu begitu menahan gemuruh yang ada dihatinya saat itu.
"Maaf" ucap Ricky memeluk adik dari sahabatnya sambil menepuk punggungnya pelan. Kedua pria berbeda usia itu kini tersenyum tipis setelah berdamai dengan perasaan masing-masing.
"Doaku menyertai kalian Kak" Ricky memeluk pundak Adiknya pelan lalu mengucapkan terima kasihnya.
Suasana semakin menegangkan bagi Ricky lantaran Bapak Penghulu yang ditunggu telah hadir memasuki ruang akad setelah bersalaman dengan pemilik rumah dan beberapa tokoh desa yang menyambutnya.
'Bissmillah' ucapnya lirih didalam hatinya menyakinkan dirinya sendiri untuk mampu melancarkan akadnya dengan khusyuk dan tenang. Ricky dengan tenang duduk dihadapan wali Billa dan para saksi ditemani oleh kedua sahabatnya beserta Ayah dan Ibunya. Kedua sahabatnya Reza dan Zaid mengambil posisi duduk dibelakang Ricky langsung untuk mendampingi sahabatnya yang akan mengucapkan kalimat sakral didepan Ayah Billa dan para saksi. Dengan lancar dan tenang Pria dewasa itu merampungkan hajatnya dengan lugas sambil menjabat kuat tangan wali dari calon istrinya yang tak lain adalah calon mertuanya sendiri.
"Saya terima nikah dan kawinnya Annisa Habibillah Hawaari binti Reyhan Dzaki Hawaari dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" ucapnya tenang dalam satu tarikan napas.
"Sah" suara para saksi dan hadirin yang menyaksikan langsung gagahnya Ricky dalam mengucapkan kalimat akad. Disambut meriah oleh seluruh hadirin yang mendengarkan kalimat sakral tersebut.
Di balik ruangan akad itu, tengah duduk mempelai wanita didampingi oleh Kakak Iparnya tersenyum haru tak kuat menahan tangis bahagia setelah mendengar langsung calon suaminya dengan tenang mempersuntingnya dihadapan Allah dan para hambanya. Gadis itu mengusap air matanya rapih dengan tisu yang telah disiapkan oleh Kakaknya, sementara Winda dengan lembut menenangkan Adik Iparnya sembari memberikan pelukan hangatnya. Kini Billa telah resmi menjadi seorang Istri dari suaminya Ricky Irawan. Gadis itu begitu lega saat mendengar calon suaminya dengan lancar merampungkan hajatnya, perasaan was-was dan deg-degannya langsung hilang berganti dengan perasaan haru yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
Acara itu semakin hikmat manakala sang penghulu memberikan arahan dan doa baik untuk kedua mempelai dengan begitu khusyuk. Tangis haru semakin pecah saat sosok mempelai wanita kini berjalan memasuki ruang akad didampingi oleh Kakak Iparnya langsung.
Dengan santun perempuan itu mencium tangan dari suaminya, meminta Ridho untuk pertama kalinya kepada suaminya untuk keberlangsungan rumah tangganya. Tak lupa Ricky menyambutnya dengan tersenyum haru lalu mencium keningnya sebagai tanda kepemilikannya telah sah dihadapan Allah maupun hambanya.
Pria itu dengan lembut menyempatkan doa kebaikan pada Istrinya. Tangannya dengan sopan berada diatas kepala Billa dan satu tangannya digunakan untuk menengadahkan doa mengharapkan kebaikan dalam menjalani rumah tangganya.
Kedua mempelai itu saling menatap lembut disertai oleh senyuman yang begitu hangat untuk keduanya.