Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Reoni



Ricky menghampiri sahabatnya Reza untuk memberikan ucapan selamat kepada teman seperjuangan sekaligus sahabatnya itu. Pria itu datang bersama Ayah dan Ibunya sekaligus untuk bersilaturahmi kepada calon besan.


"Selamat Kakak Ipar, Semoga Allah memberkahi pernikahanmu. Barakaaallahulaka Wabaraka'alaika Wajama'a Baina kuma Fiikhoir. Aamiin." Ucap Ricky yang langsung mendapat pelukan erat dari Reza.


"Terima Kasih Ky, Sebenarnya aku belum bisa merelakan Adikku. Tapi aku sangat yakin dan percaya padamu, kamu akan mampu membawanya untuk lebih dekat kepada Allah. Jazakumullahu Katsiron Brother " Ujar Reza menepuk pundak sahabatnya dengan tersenyum hangat.


"Wih.. manten anyar, MaaSyaAllaah.. Semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah brother. Doa terbaik untuk pernikahan kalian." Cicit Zaid ikut menimbrung berkumpul dengan sahabatnya. Sementara Winda, perempuan itu sedikit canggung dengan keberadaan teman-teman suaminya, membuatnya lebih memilih melipir berkumpul bersama Billa dan Ibu Mertuanya.


"Ustadzah, sini sini. Pasti risih ya banyak temennya Bang Reza." Ujar Billa mengajar Kakak Iparnya untuk ikut mencicipi hidangan.


"Panggilnya jangan Ustadzah sayang, bisa panggil Mbak atau Ammah juga boleh.."pinta Winda mengelus wajah Adik Iparnya yang masih sangat imut. Kedua perempuan yang dulunya memang sudah akrab saat masih di pondok itu menikmati hidangan sambil mengobrol akrab satu sama lain.


Reza yang asyik mengobrol dengan kedua sahabatnya, kini menatap heran tamu perempuan yang begitu familiar di matanya. Pria itu bahkan tidak menyangka, gadis yang dulu sempat disukainya cukup lama. Hadir dalam pernikahannya dengan anggun, Reza memang mengundangnya melalui email. Tapi dia tidak menyangka perempuan itu akan menghadiri acara paling berharga dalam hidupnya.


"Za! bengong.. Kesambet woy!" ledek Ricky menyenggol lengan sahabatnya agar mau ikut mencicipi hidangan bersama.


"Dia lagi mikirin gimana caranya memulai beribadah versi nikmat surga nanti malam." Ledek Zaid yang kini mulutnya di sumpal oleh tangan Reza.


"Apa kalian masih mengenalinya ?" tanya Reza kembali memandang sosok perempuan yang kini berjalan dengan anggun menghampirinya. Zaid dan Ricky kompak mengikuti arah pandangan Reza dengan tatapan yang sangat berbeda.


"Hey, itu.. Apa itu benar Mutia ?" ucap Zaid heboh sendiri sembari melambaikan tangan menyambut sosok perempuan yang kini berbalut dengan pakaian lebih sopan.


Sementara Ricky lebih memilih diam bahkan terlihat acuh dan segera mengalihkan pandangan kearah sosok wanita yang sedang asyik mengobrol sambil menikmati jamuan.


"Hai Reza, selamat atas pernikahanmu. Semoga langgeng dan segera diberikan momongan." Ucap Mutia menyapa mempelai pengantin Pria terlebih dahulu dengan menangkupkan kedua tangannya sebagai salam antar lawan jenis yang bukan mahram. Sedikit banyak Mutia sudah mengetahui bahwa semua sahabatnya sudah berhijrah dan tidak saling menyentuh lawan jenis.


"Terima kasih Untuk doa dan telah menyempatkan waktu untuk datang. " Jawab Reza membalas salam dengan menangkupkan kedua tangannya.


"Hai Zaid, kamu masih sama seperti dulu, heboh dan selalu happy. Aku dengar kamu sudah menikah. Dan dimanakah Istri kalian berdua ?" ujar Mutia lebih memilih menyapa sahabatnya Zaid. Gadis itu cukup mengerti, sejak Ricky menyadari dirinya hadir, pria itu sangat enggan menatapnya.


"Nanti kami akan kenalkan mereka kepadamu, Bagaimana kabarmu Tia, kudengar kau baru beberapa bulan memulai kariermu di rumah sakit Bumi Medika ?" Mutia mengangguk sembari tersenyum ramah menjawab pertanyaan dari sahabatnya yang tidak pernah berubah itu.


"Hai Iky, apa kabar ?" tanya Mutia canggung memberanikan diri menatap sosok pria yang masih begitu dicintainya.


"Baik" jawab Ricky singkat tanpa mau menatap wanita yang dulu memenuhi hatinya.


"Apa kau mengundang Mutia ? Hey, kau diam-diam masih berhubungan baik dengannya. Kenapa tidak memberitahu kami."tanya Zaid menatap Reza yang kini tengah memperhatikan sikap Ricky yang begitu dingin bahkan terlihat tidak nyaman saat Mutia berada ditengah-tengah mereka.


"Iya, aku mengundangnya melalui email miliknya dulu, tak disangka ternyata email itu masih digunakan. Selamat atas gelar Dokter Kandungannya Tia." Ujar Reza dengan tulus.


"Terima kasih Reza sudah mengingatku pada acara terpenting dalam hidupmu." Reza tersenyum hangat menanggapi ucapan tulus dari Mutia.


"Tidak apa-apa Zaid, semoga pernikahanmu juga langgeng. Jadi, dimana para Istri kalian ?"


"Tunggu disini, aku akan memanggilkan Istri kami, dan juga calon Istri Ricky."Ucap Reza melangkah pergi menghampiri Istrinya dan juga Billa yang sedang asyik mengobrol bersama Kakak Iparnya.


Deg.


Mutia menatap lekat wajah pria yang kini terlihat acuh dan tidak peduli sama sekali dengan kehadirannya. Kakinya mendadak lemas bahkan hampir jatuh jika tidak disangga oleh kursi disampingnya.


"Kau baik-baik saja Tia ? kenapa kau terlihat pucat sekarang. Apa kau sakit ?" tanya Reza beruntun memanggil Adiknya Billa untuk membantu sahabatnya berdiri.


"Aku baik-baik saja Reza, mungkin aku hanya sedikit terkejut bahwa kalian ternyata sudah menikah bahkan ada yang sudah akan menikah." Ujarnya menahan tangis dan mencoba menenangkan diri dengan mengatur napasnya yang terasa sesak.


"Ini Kak, minum dulu. Mungkin ini akan membantu" Ujar seorang perempuan dengan lembut menyodorkan segelas air minum di hadapannya.


"Terima kasih, siapa kamu Dek ?" tanya Mutia menerima segelas minuman yang diberikan Billa dan mulai meneguknya untuk menghilangkan rasa sesaknya di dada.


"Dia Adikku, calon Istri Ricky."


Deg.


Mutia yang kaget dengan fakta yang baru saja didengarnya, tersedak minuman yang sempat diminum. Gadis itu berusaha tersenyum walaupun kini hatinya benar-benar hancur saat harus berkenalan dengan calon Istri dari pria yang masih sangat dicintainya.


"Kakak baik-baik saja ? pelan-pelan Kak" ujar Billa menepuk pelan punggung Mutia agar lebih tenang dan tidak batuk-batuk lagi. Mutia berusaha tersenyum dan memegang lembut tangan milik Billa.


"Aha, jadi ini calon Istri Ricky, kamu sangat cantik Dek, Adikmu sangat imut Reza, Aku sangat iri padanya karena dia pasti wanita hebat, bisa menaklukkan seorang Ricky yang begitu dingin seperti beruang kutub." Ujar Mutia berusaha tersenyum menyapa Billa dan juga Istri dari Zaid dan Kakaknya.


"Kakak juga sangat cantik, apa Kakak yang bernama Mutia ?" sapa Billa menatap wanita yang begitu dewasa dan sangat cantik.


"Iya sayang, salam kenal ya.."


"Tia, ini adalah Istriku, namanya Winda." Sanggah Reza memperkenalkan wanita yang kini begitu memenuhi hatinya dengan sejuta pesona dalam dirinya. Keduanya berjabat tangan sembari tersenyum hangat dan berusaha untuk mengenal satu sama lain.


"Dan ini Istriku, kamu pasti sudah mengenalnya bukan ?" ujar Zaid memperkenalkan Zahra yang kini tengah tersenyum hangat menyapa teman dekatnya dulu.


"Dunia sangat sempit, ternyata Zahra adalah Istrimu." Ujar Mutia memeluk erat teman dekatnya.


"Hem, lalu bagaimana denganmu, apa kamu masih sendiri ?" tanya Zaid meledek sahabatnya yang kini terlihat mencoba tersenyum.


"Iya, sebuah kesalahan membuatku menjadi jomblo sampai saat ini. Mungkin ini hukumanku, yang pasti. Aku sangat bahagia dengan mengetahui kabar kalian saat ini yang sudah memiliki istri dan calon Istri " Ucapnya berusaha tersenyum lalu menatap Seorang pria yang sejak tadi hanya diam memainkan ponselnya dengan khusyuk.