
Billa dan Ratna melangkah gontai sambil menenteng berkas dan laptop milik Dosen Mentopen mereka. Keduanya menunggu diluar ruangan karena tengah ada tamu yang sedang menemui Dosennya itu.
"Lama banget sih Ibunya didalam. Aku udah pengen banget liat muka tampan Pak Ricky" ucap Ratna sambil berjalan menengok kearah pintu masuk kembali. Billa menggelengkan kepalanya saat melihat teman dekatnya benar-benar berubah karena bawaan bayinya.
"Sini duduk dulu Rat, nanti kamu lelah. Jangan mondar-mandir terus dari tadi" ujar Billa mengingatkan. Ratna kembali duduk disebelah Billa dengan wajah ditekuk.
"Ibu itu lama banget Billa. Kamu tidak tahu aku pengen banget liat muka Pak Ricky dari dekat." Billa beranjak berdiri dan melihat aktivitas didalam ruangan melalui celah jendela.
"Sebentar lagi insyaallah kita masuk. Ibunya sudah mau keluar kok" Billa kembali duduk sambil menenangkan temannya.
"Kamu tu gak tahu banget apa yang tak rasain. Udah pengen banget Bill. Mana pintunya cuman di buka sedikit, kalau agak lebarkan aku bisa lihat dari luar." Lagi-lagi Billa menghela napasnya lantaran melihat perubahan Ibu hamil yang begitu sensitif.
"Kalian mau menemui Pak Ricky ya ?" tanya seorang perempuan yang tidak lagi muda keluar dari ruangan Dosennya.
" Iya Bu, kami harus mengantarkan berkas dan Laptop beliau" jawab Billa dengan senyuman manis seraya beranjak berdiri menyesuaikan lawan bicaranya.
"Eh sebentar, Saya tidak asing dengan wajahmu sayang" Billa dan Ratna terkejut ketika mendengar penuturan dari seorang wanita yang sudah tak lagi muda itu. "Apa kamu yang bernama Billa ?" ucapnya lagi sambil menatap intens wajah milik Billa dengan senyuman manisnya.
"Kalian masuklah, saya sudah menunggu berkas dan Laptop saya dari tadi." Suara berat milik Dosennya jelas mengalihkan pandangan ketiga wanita yang berbeda generasi itu.
"Baik Pak," Jawab Ratna semangat menggandeng tangan Billa kuat untuk beranjak masuk keruangan Dosennya. Billa tersenyum manis seraya mengangguk menatap wanita yang masih tersenyum hangat dan menatapnya intens.
"Masuklah, kita bisa bertemu lagi lain kali." Ucapnya sambil melambaikan tangan kearah Billa dan Ratna. Billa membalas lambaian tangan itu dan segera mengikuti Ratna yang sudah masuk terlebih dahulu.
"Kenapa lama sekali ?" tanya Ricky menatap kosma dan sekertaris kelas bergantian.
"Maaf Pak, tadi diajak ngobrol sama Ibu yang tadi masuk keruangan Bapak." Jawab Ratna tenang sambil menatap Dosennya tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.
"Baiklah, terima kasih sudah mengantarnya. Semoga liburan kalian menyenangkan. Salam untuk keluarga dirumah." Billa dan Ratna mengangguk serempak sebagai jawaban.
"Pak, Boleh tidak saya minta foto berdua dengan Bapak. Kalau lagi pengen liat muka Bapak tinggal liat di handphone nanti " Ucap Ratna yang langsung mendapat tatapan tajam dari Dosennya. Billa menghela napasnya pelan seraya menenangkan teman dekatnya yang mulai berkaca-kaca.
"Mohon maaf sebelumnya Pak, apa boleh minta kenang-kenangan berfoto Pak ? Insyaallah fotonya akan aman tidak disebarluaskan di manapun." Ucap Billa tenang sambil mengusap lengan Ratna yang sudah ingin menangis. Ricky menatap Billa tak percaya dengan ucapan gadisnya. Netranya beralih menatap Ratna yang kini menunduk lesu dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah, hanya satu kali. Jaga foto ini jangan sampai disebarluaskan apalagi ketahuan dengan Mahasiswa lainnya." Ujarnya setuju menatap lekat Billa yang sedang sibuk menenangkan teman dekatnya.
"Billa, tolong foto kami." Ucap Ratna tersenyum senang sambil menyodorkan handphone miliknya ketangan Billa. Namun belum sempat Billa meraihnya, tangan kekar milik Dosennya mengambil alih ponsel Ratna.
"Tidak dengan foto berdua. Kita foto bertiga." Titahnya mutlak tidak ada yang berani membantah. Billa beranjak berdiri disamping Ratna dan mulai menghadap kamera. Mereka bertiga foto bersama dengan Ricky yang memegang kamera.
"Ini, sekali saja." Ricky mengembalikan handphone milik Ratna setelahnya beranjak duduk di kursi kerjanya.
"Terimakasih Pak, kalau begitu kami pamit dahulu. Semoga liburan Bapak juga menyenangkan." Ucap Ratna sebelum meninggalkan ruangan.
"Sama-sama." Jawabnya datar menatap kepergian Billa yang sejak tadi menunduk dalam. Ricky sebenarnya ingin menahan Billa untuk tetap di ruangannya. Tapi dia benar-benar bingung dengan alasan apa untuk menahan kepergiannya.
Billa melangkah gontai menuju parkiran motornya, sementara Ratna sudah pulang terlebih dahulu dijemput oleh sepupunya.
"Kenapa lesu sekali ?" suara berat dan khas itu tentu saja Billa hafal. Langkahnya terhenti karena kaget dengan suara yang familiar di telinganya. Billa memutar tubuhnya dan benar saja, suara itu milik seorang pemuda yang sudah lama merantau di Madinah untuk belajar disana.
"Kenapa diam saja, apa kamu tidak mengenaliku ?" tanya pemuda itu lagi menatap lekat gadis imut yang sedang menatapnya juga.
"Aku mengenalmu. Tapi.. apa kamu sedang liburan ?" Zafran tersenyum lembut seraya mengangguk pelan.
"Hem, lucu bukan, liburan tapi datang ke kampus" gumamnya lirih tetapi masih bisa didengar Billa. Gadis itu ikut tersenyum karena perkataan Zafran. "Apa kabar Billa ?" Billa menunduk tenang seraya menghela napasnya pelan dan menatap pria dihadapannya yang terlihat lebih berisi dan tentu saja semakin tampan.
"Aku baik Zafran, Bagaimana kabarmu ?" Zafran tersenyum lembut menatap gadis imut yang kini menunduk tenang.
"Aku baik, tapi hatiku masih luka karena belum ada yang mengobati" Billa kembali menatap pemuda dihadapannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Maafkan aku, semoga dengan begini kita bisa melanjutkan studi kita masing-masing dengan tenang dan baik."
"Hem..., Habibillah Hawaari, aku harap pintu hatimu masih terbuka saat nanti takdir menyatukan kita. Meskipun hanya aku yang terus berdoa dan berharap. Semoga Allah mendengarkan setiap untaian doa untuk harapanku kepadamu selama ini." Billa mengusap air matanya yang jatuh dengan kasar. Bukan terharu karena ucapan Zafran. Melainkan merasa dirinya tidak pantas untuk ditunggu.
"Jangan berharap kepadaku atau manusia lainnya. Jika Allah berkehendak lain, maka akan sangat sakit nantinya. Kita serahkan saja jalan kita kepada Allah. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kebaikan kita semua." Zafran semakin mengagumi sosok wanita yang ada dihadapannya saat ini. Tanpa keduanya sadari, seorang pria dewasa sejak tadi melihat bahkan mendengar langsung percakapan keduanya secara tidak sengaja. Ricky yang juga ingin pulang dan berjalan kearah parkir tidak sengaja melihat sosok gadis yang dikenalinya sedang berdiri berhadapan dengan seorang pemuda yang juga dikenalinya. Niat hati ingin menyapa adik dari sahabatnya justru sekelebat mendengar penuturan mengharukan dari mulut Zafran. Membuatnya berhenti dibalik mobil yang terparkir diarea dan mendengar dengan jelas percakapan keduanya.
"Sebenarnya ada hubungan apa Zafran dan Billa" gumamnya lirih seraya pergi dari lokasi memilih melipir jalan lain.