
Billa dan teman-temannya sibuk mempersiapkan kegiatan kelompok yang akan dilaksanakan besok pagi, gadis itu terlihat menyimak saran dan diskusi teman-temannya yang berencana mengunjungi kantor kecamatan untuk memperoleh informasi kondisi desa.
"Bill, dari tadi diem aja. Kalau ada usul boleh dibicarakan di sini. Pumpung kita lagi rapat." Ujar Tiwi menyenggol lengan teman dekatnya yang sudah mulai akrab.
"Aku ikut saja bagaimana baiknya, kalau membutuhkan bantuan dariku, dengan senang hati aku akan membantunya." Tiwi tersenyum hangat dan kembali ikut menyimak teman-teman lainnya.
"Billa, Lo bisa enggak ngajar ngaji untuk anak-anak di desa ini. Gue liat tadi sore daripada mereka main gak jelas lari sana sini mendingan kita berdayakan mereka supaya waktunya bermanfaat." Usul Raka yang membuat teman-teman lainnya takjub tak percaya. Pria itu jelas terkenal dengan gaya nyeleneh dari yang lainnya. Tapi tidak disangka justru pria itu ternyata dan ternyata lebih alim daripada prasangka teman-temannya.
"Boleh, insyaallah bisa. Kita coba pendekatan saja dulu besok siang." Jawab Billa setuju dengan usul dari pria yang sempat membuatnya risih dulu.
"Begini saja, besok setelah kita pulang dari kantor camat, kita ajak mereka main ke posko kita dan menawarkan mereka untuk belajar bersama, sejenis les tambahan untuk membantu mereka. Hitung-hitung kita belajar menjadi guru sebelum kita lulus, toh tidak ada ruginya. Justru kita memanfaatkan ilmu yang kita peroleh dengan baik." Usul Alir yang langsung mendapat persetujuan dari teman-teman lainnya. Malam itu adalah malam pertama bagi mereka semua menginap sekaligus membicarakan kegiatan yang akan dilaksanakan rutin pada kelompoknya.
"Okeh, kita buat jadwal mengajar kita sekarang. Baik untuk les maupun ngajar ngaji harus dibuat jadwal biar semuanya ikut andil." Usul Ridho yang sejak tadi hanya menyimak rapat. Pria itu segera mengambil buku dan pulpen untuk menyusun nama-nama temannya dan dibentuk jadwal harian.
"Hey, jangan lupakan jadwal piket dapur dan beres-beres rumah. Piket dapur direkap sekaligus masak untuk kita semua." Ujar Dita yang langsung membuat teman-teman laki-lakinya protes.
"Bisa tidak, kalian saja untuk masalah itu. Kami mana tahu hal-hal begituan." Saran Agil yang selama ini diam dan nurut sedikit tidak setuju kalau pekerjaan yang biasanya di lakukan oleh kaum hawa, harus juga dilakukan oleh pria saat KKN.
"Eits, mana ada seperti itu. Kita disini Tim dan harus adil. Tidak ada yang namanya tugas laki-laki ataupun perempuan. Kalian tidak perlu memasak, tapi tangan kalian bisa kan kalau cuma ikut potong sayuran atau mencuci piring." Sanggah Ida tidak terima jika hanya perempuan yang mengerjakan soal beres-beres dan memasak.
"Betul, enak saja kalian cuman ngerjain proker, semuanya harus adil. Toh nantinya kegiatan kita ini bakalan bermanfaat untuk kalian para cowok kalau kalian jadi suami. Hitung-hitung belajar jadi suami pengertian" celetuk Puri mengoceh begitu saja.
"Huft.. baiklah, tidak ada gunanya kamu usul begitu Agil, jumlah mereka lebih banyak daripada kita dirumah ini. Nurut saja, toh kita juga menikmati masakan mereka nantinya." Ujar Raka yang sejak tadi pusing mendengarkan perdebatan kecil di kelompoknya. Dengan senang hati Dita dan teman-teman lainnya mulai menyusun jadwal masak dan beres-beres rumah selama empat puluh hari ke depan.
"Sumpah kalau nanti gue harus masak jujur aja gak bisa coy, selama ngekost aja gue beli terus makannya. Kita patungan aja yuk nyuruh salah satu warga desa buat masakin kita. Nanti kita bayar deh per Minggu atau sekaligus nanti pas kita mau balik." Usul Vivi keberatan dengan ide memasak untuk empat belas orang.
"Kan satu hari itu gak cuma Lo sendirian yang masak, gak harus Lo juga yang masak, Lo bisa kok bantuin aja." Ujar Tiwi merasa keberatan jika harus membayar orang lagi untuk makan. Sebagai Mahasiswi tingkat akhir, menghemat pengeluaran adalah solusi agar tidak terjadi pembengkakan di akhir bulan. Apalagi kondisi sekarang yang sedang tidak bisa pulang kampung walaupun ada libur. Membuatnya harus serba irit. Ditambah kegiatan KKN nantinya pada program kelompok maupun individu akan ada banyak dana tambahan.
"Oke deh, gue nurut aja.. tapi mohon maaf nih nanti kalau gue gak bisa masak terus masakan gue gak enak." Ucap Vivi mengalah.
"Insyaallah kita bakal bantuin kamu dan ajari kamu Vi, malahan nantinya kamu jadi bisa masak kalau ikut membantu masak setiap hari." Ujar Billa tersenyum hangat.
"Haduh.., kalau ustadzah yang ngomong itu adem ya dengernya." Celetuk Raka menatap Billa dengan tersenyum senang.
"Iyalah, beda banget kalo yang ngomong model kaya elo" jawab Tiwi yang langsung membuat teman-temannya ikut mengejek Raka.
"Gue kalo ngomong di serang mulu, gue kalem aja deh sekarang." Gerutu Raka yang langsung mengundang gelak tawa satu ruangan itu.
"Okeh, sekarang sudah malam. Rapat malam ini kita tutup, segera beristirahat supaya bisa bangun pagi dan meramaikan masjid. Yang perempuan ikut ke masjid ya, kita ini numpang hidup di desa ini. Jadi alangkah lebih baiknya kalau kita beritikad baik di desa ini." Ucap Alir tenang dan langsung disepakati oleh teman-temannya.
Malam itu Billa dan teman-temannya masuk ke kamar setelah bersih-bersih terlebih dahulu. Kamar yang sempit dengan banyak barang pribadi didalamnya membuat mereka sepakat untuk tidak menggunakan ranjang, hanya beralas kasur yang digelar lebar untuk menampung lima orang dalam satu kamar. Sedangkan kamar satunya untuk teman perempuan lainnya juga ditempati lima orang dalam satu kamar. Para laki-laki menempati ruangan tengah yang cukup lebar namun cukup horor dikarenakan langsung tembus dengan ruang dapur, meskipun ada sekat tetapi tidak ada pintu atau gorden pintu agar bisa menutupi ruang gelap itu.
"Besok kita pasang gorden disitu Yuk, horor juga kalau kebangun malam terus nengok dapur. Mana lampu mati pula. Pokoknya besok kita benerin." Ucap Alir lebih memilih memunggungi ruangan gelap itu.
"Gila gue gak bisa tidur, banyak nyamuk cuy. Mana lampunya gak dimatiin. Gini amat sih KKN." Ujar Ridho ngedumbel seperti seorang wanita.
"Tapi gue yakin, cerita KKN kita pasti bakal indah banget kalau dikenang. Lu pasti langsung inget kejadian-kejadian lucu waktu gak sengaja denger adik tingkat kita nantinya yang mau KKN." Ucap Raka yang dibenarkan oleh teman-temannya.
"Kalian tidur woy, jangan ngobrol terus. Berisik tau! teriak Dita dari dalam kamarnya.
"Hey, coba aja kalian yang tidur disini, serem woy." Alhasil bukannya tidur, mereka justru saling teriak dengan mengobrol namun dengan posisi yang sama masih didalam ruangan masing-masing. Hingga terdengar suara ketukan pintu yang cukup kuat mengalihkan perhatian penghuni rumah bahkan membuat sebagian yang sudah tidur kembali terjaga kaget.