Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Di Tolak



Ratna dan Billa akhirnya menunda merampungkan tugas mereka di perpus. Mereka memutuskan untuk meminjam buku saja dan dikerjakan saat waktu longgar.


"Aku duluan ke kelas ya, nyicil ngetik makalahnya. Nanti malam giliran kamu yang ngetik. Zafran sepertinya mau ngomong serius sama kamu"


Billa mengangguk dan berlalu keluar dari perpus. Gadis itu berjalan gontai menuju kantin. Perutnya lapar dan mungkin ini tempat terbaik untuk keduanya mengobrol. Tidak mungkin Zafran membawa Billa keluar kampus, selain Billa tidak akan mau, tentu saja karena Billa akan masuk kelas lagi untuk mata kuliah selanjutnya.


"Aku boleh meminta biodata mu ?" ucap Zafran sambil menyodorkan botol minuman dingin yang sudah lebih dulu dia buka untuk Billa.


"Tidak" jawabnya dingin.


"Bukankah kamu mau mempertimbangkan CV ku?"


"Kalau hanya untuk membicarakan tentang itu, lebih baik aku ke kelas Zaf. Aku sungguh belum siap dengan semua itu" ujarnya sambil mengaduk-aduk bakso yang sudah dipastikan dingin. Sepertinya Billa benar-benar belum siap dan masih syok dengan pernyataan Zafran yang tidak tau tempat dan kondisi itu.


"Apa itu artinya aku ditolak?" ujarnya sendu.


"Hem, aku sudah memutuskan untuk fokus kepada kuliahku, maafkan aku Zaf, sepertinya pembicaraan kita cukup sampai disini"


"Aku siap menunggumu, jangan memutuskan perkara ini secara emosional dan tidak melibatkanNya. Aku bahkan menjamin kamu tidak mempertimbangkan keputusan mu dengan ikhtiyar mengadu atau istikharah kepadaNya. Jadi biarkan aku menunggumu Bill" ucap Zafran dengan menatap lekat gadisnya.


"Jangan menatapku seperti itu, kita bahkan bukan mahram, tundukan pandanganmu. Aku mempertimbangkan dengan baik keputusan yang aku buat, aku tidak akan melarang mu untuk menungguku. Tapi aku juga tidak bisa jika harus terikat denganmu. Jika ada seorang perempuan yang Sholihah dan kamu tertarik padanya maka nikahilah. Aku tidak siap dan tidak bisa untuk menikah sekarang Zafran. ujarnya gamblang. Gadis itu bahkan tidak berani menatap pemuda itu, dia terus menunduk dan memainkan makanannya. Billa jelas menjaga harga dirinya sebagai muslimah. Perempuan itu bebas mengemukakan pendapat lantaran memang belum ada perasaan apapun di hatinya, tidak ada yang membekas dalam kejadian apapun baginya.


"Baiklah, aku menghormati keputusan mu. tapi tolong jangan menyuruhku untuk berhenti menunggu kesiapan mu. Jalani lah hari-harimu di kampus ini dengan tenang. Aku tidak akan mengusik. Tapi jangan menolakku jika kelak aku datang lagi dengan rasa yang sama. Maafkan aku jika aku terlalu cepat datang dan membuatmu tidak nyaman. Semoga Allah selalu menjagamu selalu. Sekarang makanlah, aku akan pergi. Jangan menolak traktiran ku, Assalamualaikum" ucapnya seraya berdiri dan membayar untuk minuman dan makanan yang telah di pesan keduanya. Pria itu menoleh ke arah Billa sambil tersenyum dan melambaikan tangan.


*


Sementara itu di ruang kelas yang cukup ramai dengan diskusi yang sedang berlangsung membuat Billa melupakan sejenak apa yang di alaminya tadi siang sebelum memasuki kelas. Dia bahkan tidak menceritakan apapun dengan Ratna, walaupun cukup sulit untuk menghindari pertanyaan teman dekatnya itu, Billa tetap bisa mengatasinya dengan alasan hanya mengobrol biasa. Gadis itu bahkan sudah bisa bercanda dengan teman sekelasnya tanpa beban, Billa memiliki banyak teman yang mulai akrab dengannya. Pembawaannya yang sopan dan pakaian yang berbeda dengan teman kelas lainnya tidak membuat nya menjadi mahasiswa yang menyendiri dalam hal apapun. Berkat Ratna yang selalu dominan di kelas, dirinya juga ikut menjadi bagian penting di kelas nya. Billa di tunjuk menjadi sekertaris kosma kelas yang artinya segala bentuk peralatan untuk mengajar dosen, absen dosen dan mahasiswa, dia lah yang bertugas untuk menyediakan. Tentu saja di bantu kosma. Untuk kosma sendiri teman-teman Billa memilih Ratna sebagai ketua kelas mereka.


***


Hari berlalu dengan cepat, sejak pertemuan terakhir dengan Zafran, keduanya tidak pernah bertemu dalam keadaan apapun. Bahkan ketika kajian rutin yang di agendakan oleh UKM binaan yang di ikuti, Billa dan Ratna tidak pernah melihat Zafran. Baik Zafran maupun Billa fokus kepada kesibukan masing-masing. Yang berbeda adalah Zafran tidak akan pernah mengikuti kajian rutin itu, dikarenakan waktu yang bersamaan dengan kegiatan mengajarnya di pondok pesantren. Pria itu hanya akan hadir di waktu-waktu yang penting dan benar-benar membutuhkan bantuannya. Zafran bukan lagi menjadi kader binaan dalam UKM tersebut, melainkan tutor. Para senior yang mengetahui basic Zafran dan latar belakangnya membuat senior memutuskan untuk memilih Zafran sebagai tutor untuk binaan kader khusus mahasiswa baru. Begitu pula dengan Billa, gadis itu bukan lagi kader baru yang harus di tutor dengan ilmu baru. Melainkan sudah menjadi tutor untuk mahasiswa baru yang baru mencoba mengenal syariat Islam. Bukan tanpa alasan keduanya sudah menjadi tutor, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama lulusan pondok yang sudah pasti dalam urusan syariat Islam lebih unggul di bandingkan mahasiswa baru lainnya. Bukan hanya mereka yang menjadi tutor dadakan, ada juga teman-teman lainnya yang nasibnya sama dengan Zafran dan Billa karena lulusan pondok dan sudah aktif di kegiatan ekstrakurikuler rohis saat SMA.


.


"Bill, sepertinya nanti mbak belum bisa mengisi kholaqoh binaan mbak karena mbak masih ada kelas sore, boleh minta tolong gantikan?" ucap salah satu tutor UKM yang juga sudah lama menjadi tutor di unit kegiatan mahasiswa tersebut. Saat ini mereka baru saja tengah menyelesaikan kajian rutin mingguan.


"Insyaallah ya mbak, nanti Billa usahakan untuk datang" ujarnya sambil tersenyum.


.


Ding.


"Assalamualaikum Annisa Habibillah Hawaari" di bumbui emoit lucu tersenyum. Billa yang saat itu tengah mengobrol, mengambil ponsel yang berada di atas buku khusus kajiannya. Gadis itu terdiam sesaat ketika mengetahui nama orang yang mengirimkan pesan singkat itu. Tanpa sadar ujung bibirnya melengkung membuat nya tersenyum tipis. Segera Billa buka pesan itu ingin cepat membalasnya, karena dia begitu faham, waktu yang di gunakan untuk berkomunikasi saat ini sangatlah singkat dan terbatas. Seolah di kejar waktu gadis itu larut dalam obrolan nya melalui seluler, hingga semua yang berada di masjid mulai membubarkan diri karena kajian sudah di tutup, gadis itu masih asyik dengan ponselnya. Sesekali dia tersenyum manis, sesekali dia terlihat serius dalam mengetik pesan. Hal itu tidak luput dari pantauan seorang lelaki yang sudah lama tidak pernah bertemu sekalipun. Hatinya menghangat karena kerinduan yang selama ini mati-matian dia tahan untuk tidak menghubungi dan melihat gadisnya sirna begitu saja karena kebetulan ini.


'Kamu terlihat sangat baik-baik saja dan lebih cantik dari biasanya saat tersenyum Bill' batinnya sendu.