Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Sensitif



"Kudengar dia sudah kembali, Istriku yang memberitahu saat dia datang ke rumah sakit saat itu." Ucap Zaid menjawab pertanyaan dari sahabatnya Reza.


"Istrimu kerumah sakit kenapa ?" tanya Ricky mengacuhkan kabar tentang teman dekatnya juga dulu.


"Cek kandungan untuk program hamil, waktu itu aku tidak bisa menemani. Jadi dia datang sendiri. Sahabatnya yang menangani langsung Promil istriku, Tidak disangka sahabatnya istriku adalah teman dekat Mutia juga saat kuliah kedokteran" Reza dan Ricky hanya menyimak informasi dari sahabatnya yang super update.


"Kalian tahu, Tia juga ternyata Dokter kandungan" Reza mengangguk mengerti sedangkan Ricky benar-benar tidak peduli dengan sahabatnya satu itu. Dia lebih memilih mengecek ponselnya untuk membalas pesan Ayahnya.


"Ky, apa kamu masih kesal dengannya sampai sekarang ?" tanya Reza penasaran.


"Tidak, untuk apa kesal dari zaman SD sampai seumur gini masih di pendam. Aku hanya tidak ingin mengenalnya lagi saja." Penuturan Ricky yang santai namun tajam itu tentu saja membuat kedua sahabatnya saling berpandangan.


"Sebenarnya apa yang dia katakan saat menemui kamu sebelum kalian pergi saat kelulusan ?" ucap Zaid memberanikan diri bertanya.


"Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin menjalin hubungan dengan lawan jenis walaupun dengan nama teman dekat apalagi sahabat. Menurutku dia hanya masa lalu sebagai teman seperti yang lainnya. Berbeda dengan kalian." Ujar Ricky tenang setelahnya menyeruput Kopi hangat miliknya.


"Wohoooo.. kamu benar-benar berbeda sekarang. Padahal dari kami bertiga hanya kamu yang tidak masuk pondok. Belajar dimana kamu ?"


"Rahasia." Ujarnya singkat lalu beranjak berdiri. "Aku harus pamit sekarang, Ayahku membutuhkan aku saat ini. Oh iya, kemungkinan aku akan menjadi Pembimbing Lapangan Mahasiswa KKN tahun ini, jadi mungkin kita akan jarang bertemu. Dan kamu Reza, tolong kabari aku jika hari bahagia milikmu sudah tiba." Reza mengangguk mantap dan menerima jabatan tangan dari sahabatnya dengan erat. Begitupun Zaid, ketiganya sungguh memaklumi pekerjaan masing-masing.


"Apa kamu sedang longgar Pak Direktur ?" goda Zaid kepada Reza.


"Hanya meliburkan diri sejenak untuk berkumpul dengan kalian. Tak disangka Ricky malah harus pamit." Zaid terkekeh mendengar penuturan sahabatnya.


"Jika nanti kamu tidak sengaja bertemu dengan Mutia, apa kamu akan menegurnya ?" Reza menggerakkan bahunya menandakan jawaban ambigu.


"Lalu bagaimana dengan perasaanmu yang dulu, apa sudah benar-benar luntur digantikan oleh Ustadzah Winda ?" ledek Zaid semakin menjadi, Reza menendang kaki sahabatnya yang berada didekatnya dengan pelan.


"Sudah tidak ada lagi, tak ada yang tersisa. Lagipula jauh jika dibandingkan dengan calonku." ucap Reza sombong dan mulai beranjak berdiri.


"Hey, jangan seperti itu. Kita tidak tahu bagaimana dia hidup selama ini. Siapa tahu dia bergaul dengan para muslimah juga." Ujar Zaid mengikuti sahabatnya yang sudah berdiri. Keduanya memutuskan untuk kembali pada pekerjaan masing-masing.


*


Suara alarm pada ponsel Billa membangunkan si empunya yang sedang nyenyak dalam tidurnya. Gadis itu segera beranjak dari tidurnya setelah mengucapkan Alhamdulillah dan doa setelah bangun dari tidurnya. Meskipun matanya sangat sulit dibuka, tapi gadis itu tetap melangkah pelan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan mengambil air wudhu.


Billa keluar dari kamar mandi setelah merasa segar dan mulai menggelar sajadahnya disamping ranjang mungilnya. Dua rakaat Tahajud dan satu rakaat witir Billa tunaikan dengan khusyuk. Setelahnya bermunajat kepada sang kuasa Ilahi dan segara bangkit kembali untuk menunaikan sholat istikharah untuk kesekian kalinya.


Bukan karena bimbang atau meminta petunjuk Billa melaksanakan dua rakaat Sunnah itu. Gadis itu hanya ingin memantapkan hatinya pada pilihannya, tidak ada yang mengetahui kedepannya. Bahkan setan bermain dengan sangat lihai dan licin saat sepasang manusia ingin menikah dalam waktu dekat. Penting bagi seseorang yang akan menikah untuk selalu berdoa dan meyakinkan hatinya dengan sholat istikharah.


Ding.


{"Assalamualaikum Billa" }~Ratna.


Billa meraih ponselnya dan langsung tersenyum manis saat mengetahui pesan dari teman dekatnya selama kuliah.


{"Waalaikumussalam Ratna, Apa kabar ?"}~


Keduanya asyik berbalas pesan sampai adzan subuh berkumandang. Ratna semenjak hijrah sudah terbiasa dengan aktivitas dini sebelum subuh. Semuanya berkat Billa, gadis itu diam-diam meniru segala sesuatu yang menurutnya baik dalam diri teman dekatnya.


Billa bersiap dengan gamisnya yang berwarna kalem dipadukan dengan jilbab yang senada dengan list yang ada pada gamis miliknya. Membuat penampilan gadis itu benar-benar anggun.


"Mau ke kampus Bill ?" tanya Rere melihat Billa sudah rapih dan berusaha mengeluarkan motornya dari garasi untuk dipanaskan.


"Iya, insyaallah kelompok KKN punyaku sudah keluar, kami rencananya mau kumpul berkenalan pagi ini." Ujarnya sambil mendorong motornya keluar garasi.


"Wah, semoga kita masih satu kabupaten ya.. untung-untung kalau misal tetap satu kecamatan."


"Aamiin, kamu dari mana ?" tanya Billa setelah menghidupkan motornya dan membiarkannya beberapa menit karena sudah cukup lama tidak dipakai. Pulang liburan kemarin gadis itu tidak membawa motornya, melainkan dijemput langsung oleh Kakaknya. Sementara motornya ditinggal dengan penjagaan dari Bapak Kosannya.


"Ini, kamu tidak sarapan dulu ?" ucap Rere sambil menunjukan sebungkus nasi uduk pada kresek putih ditangannya.


"Nanti saja, masih kenyang. Tadi sempet ngemil pas subuh." Ujarnya apa adanya, begitulah jika anak kosan habis pulang dari kampung. Berbagai cemilan yang dibawakan oleh Ibu pasti sangat bermanfaat untuk seorang anak kosan yang mager untuk keluar membeli sarapan. Hitung-hitung cukup untuk mengganjal perut sampai menjelang siang.


"Baiklah, aku masuk dulu. Selamat berkenalan dengan teman kelompok KKN" ucap Rere seraya melambaikan tangannya kearah temannya. Billa membalas lambaian tangan dan mulai melakukan motornya dengan kecepatan sedang. Gadis itu begitu menikmati udara pagi yang belum terpapar asap kendaraan lainnya. Cukup pagi gadis itu berangkat, lantaran harus menjemput teman dekatnya yang sedang hamil. Ratna menghubunginya semalam untuk meminta dijemput ingin ke kampus untuk kumpul dengan kelompok KKN nya juga.


"Kamu yakin tetap ikut KKN, pantas saja suamimu melarangmu untuk ikut, keponakanku didalam sana sudah sebesar ini." Billa menyentuh perut sahabatnya yang memasuki bulan ke enam.


"Jangan membahas itu, aku masih kesal. Hari perkiraan lahir anakku masih lama, masih sekitar tiga bulan lagi. Jadi aku akan tetap ikut KKN." Ujarnya ngeyel tanpa mau dibantah. Billa menghela napasnya dalam mencoba mengerti keinginan teman dekatnya.


"Iya.., baiklah jika itu keinginanmu. Lalu bagaimana jika dia ternyata ingin keluar duluan tanpa menghiraukan perkiraan dari Bidan atau Dokter ?" Ratna menekuk wajahnya mendengar ucapan Billa.


"Maksudmu bayiku harus lahir prematur !" tanya Ratna sedikit menaikan intonasinya karena kesal dengan pertanyaan temannya. Billa langsung memeluk temannya untuk menenangkan emosi yang sedang meledak saat ini. Billa langsung sadar, bahwa temannya yang sedang hamil cepat sekali marah, perasan sensitif dikarenakan kehamilannya.


"Bukan sayang.. uluh-uluh.. sudah ya jangan marah terus.. kasian adik bayi didalam pasti kaget dengan suara Ibunya yang tinggi. Baiklah, sekarang kita ke kampus ya.." ucap Billa merayu Ratna yang sejak tadi diam dengan wajah ditekuk.