Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Restu Bang Reza



Billa mengetuk pintu kamar Abangnya dengan pelan setelah menunaikan sholat isya. Gadis itu sangat tidak tenang karena sikap Abangnya yang begitu dingin. Meskipun kedua orangtuanya sudah memberikan izin untuknya menikah muda. Tetapi Billa juga tidak ingin orang yang paling menyayanginya setelah kedua orangtuanya menjadi jauh karena sebuah pernikahan.


"Bang.., Billa mau bicara sebentar." Ucap Billa setelah mengetuk pintu kamar Kakaknya namun pintunya tak kunjung dibuka.


"Masuklah" Billa terkejut karena Kakaknya tiba-tiba bersuara setelah cukup lama gadis itu berdiam menunggu Kakaknya membuka pintu. Billa memutar gagang pintu dan ternyata pintunya tidak dikunci. Dengan sekuat hati gadis itu melangkah masuk dan menutup pintunya kembali.


Buya dan Umma yang menyaksikan putrinya mencoba mendekati Kakaknya karena marah, dibuat lega lantaran putranya masih mau mendengarkan penuturan Adiknya.


"Alhamdulillah, aku tahu. Meskipun putraku keras Kapala dan tegas. Tapi dia adalah kakak yang baik untuk Billa. Rasa marahnya karena belum rela adiknya akan di ambil oleh pria asing." Gumam Umma lirih menatap pintu kamar Reza yang sudah tertutup.


"Wajar jika Reza marah karena memang Billa tidak bercerita apapun kepadanya. Sedangkan selama ini dia yang paling mengetahui apapun tentang Adiknya. Biarkan mereka mengobrol, ayo kita tidur." Ujar Buya tersenyum lega dan membawa istrinya menuju kamar.


"Bang.." ucap Billa mengawali percakapan setelah diperbolehkan masuk menemui Kakaknya. Reza menatap adiknya dengan lekat menahan rasa kesal yang sesak didalam hatinya.


"Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan ?" Billa mendongak membalas tatapan Kakaknya yang tajam.


"Maafkan aku Bang, bukan maksud Billa tidak mendengarkan arahan Abang agar fokus untuk belajar. Siapa yang mengetahui qodar Allah. Dia datang bukan karena aku yang meminta. Bukankah menyegerakan kebaikan adalah Sunnah Rasul." Reza menghembuskan napasnya kesal. Adiknya benar-benar sudah memutuskan jawaban.


"Baiklah. Jika itu yang kamu inginkan. Bukan maksudku melarang sebuah kebaikan, tapi kamu harus faham. Mana prioritas dan mana keinginan. Billa, kamu masih sangat muda. Abang berharap kamu kembangkan potensi yang ada pada dirimu lebih dulu. Setidaknya sampai kamu lulus kuliah." Billa meneteskan air matanya, dia sudah menduga. Kakaknya tidak akan semudah itu memberikan izin. Meskipun Kakaknya bukan wali utama, tapi Billa tidaklah mungkin melaksanakan sebuah pernikahan namun justru dijauhi Abang kandungnya sendiri.


"Baiklah. Aku tidak akan memaksa Abang untuk merestui niatku. Tapi Billa harap, Abang bisa pertimbangkan niat Billa ini setelah bertemu dengan beliau. Jika nantinya Abang tetap tidak setuju, aku tidak akan menikah." Ujar Billa sendu sambil mengusap air matanya yang sempat keluar. Gadis itu beranjak berdiri ingin meninggalkan kamar Kakaknya.


"Berjanjilah, setelah ini jangan menangis. Abang menyayangimu Billa, kamu adikku satu-satunya, tidaklah mudah bagi Abang memutuskan perkara ini. Bahkan membayangkan saja tidak pernah, apalagi umurmu yang masih muda tentu saja Abang tidak pernah terfikir kearah Billa menikah muda." Billa kembali duduk dan semakin menangis saat mendengarkan ucapan Kakaknya. Gadis itu berhambur memeluk Kakaknya dengan kuat. Billa tidak menyangka Kakaknya begitu menyayanginya, meskipun belum memberikan restu tapi Billa bersyukur karena Kakaknya tidak lagi marah.


"Terima kasih Kak, jangan mendiamkan aku seperti tadi." Gumamnya lirih setelah melepaskan pelukannya.


"Hem, Bawalah dia menghadap Buya. Abang akan mencoba mempertimbangkan niatmu meskipun begitu berat, mana tahu ini adalah ketetapan terbaik dari Allah, kita bisa apa sebagai hamba jika ini adalah ketetapannya, lagipula apa yang menurut kita baik belum tentu baik bagi Allah. Begitupun sebaliknya, tidak ada yang mengetahui kalau menurut Abang tidak baik, mungkin saja menurut Allah ini yang paling terbaik" Billa kembali memeluk Kakaknya yang kini membalas pelukannya dengan erat.


"Aku sedang menunggu proses selanjutnya. Sekali lagi maafkan Billa karena sudah membuat Abang marah." Reza tersenyum lembut dan mengusap kepala adiknya yang terbalut jilbab.


"Billa, menikah bukanlah perkara yang mudah. Abang berharap Billa terus belajar dan memperbaiki diri apalagi ketika sudah mempunyai Imam. Kelak, kamu sudah tidak bisa sebebas ini." Billa tersenyum hangat mendengar nasehat Kakaknya. Billa sungguh terharu, dibalik sikap Kakaknya yang tegas, begitu peduli akan dirinya.


"Iya Bang. Insyaallah Billa akan terus belajar." Keduanya memutuskan untuk mengobrol lebih dalam sambil menikmati suasana langit malam di teras halaman rumah. Billa menceritakan tentang sosok Dosen itu apa adanya. Gadis itu masih enggan untuk membagi kisah masa lalunya dulu saat bersama Syafik. Masa lalu hanya masa lalu, tidak perlu diungkit dan diingat lagi. Biarkan itu menjadi sebuah perjalanan sebelum akhirnya berada dititik saat ini. Fokuslah untuk hari yang baru.


Ricky segera membuat janji dengan sahabatnya Zaid. Setelah mendapatkan sebuah jawaban yang pasti, laki-laki dewasa itu langsung menghubungi sahabatnya dengan semangat empat lima. Keduanya sepakat bertemu untuk membicarakan lebih dalam lagi mengenai proses selanjutnya.


"Wohoooo... selamat brother. Semoga dilancarkan proses selanjutnya." Ucap Zaid ketika Ricky baru saja tiba disebuah cafe favorit Keduanya.


"Alhamdulillah, terima kasih atas doamu. Ini juga pasti berkat doa yang juga kamu selipkan untukku." Keduanya beradu jotos menyatukan kedua tangan mereka saling memberi dukungan.


"Sama-sama. Aku ikut bahagia mendengar kabar baik ini. Segerakan prosesnya dan jangan menunda setelah sampai pada khitbah."


"Aku ingin memintamu menjadi perantara kami untuk berproses Nadzor dan silaturahim kerumahnya, sebelum keluargaku resmi mendatangi walinya. Waktu libur ini adalah waktu yang sangat kondusif untuk melanjutkan proses kami. Aku meminta tolong kepadamu Bung."


"Insyaallah aku siap. Tinggal tentukan saja kalian akan ketahap itu. Sebentar, bukankah kamu sudah sering melihatnya saat mengajar. Kenapa harus lanjut ke proses Nadzor. Langsung silaturahim saja kerumahnya. Toh kalian sama-sama menyetujui untuk lanjut bukan ?"


"Benar juga. Billa memintaku untuk mempelajari CV nya dan menunggu jawabanku. Artinya setelah aku menjawab dia menerimaku bukan ?" Zaid kembali berfikir merasakan ada yang mengganjal dengan proses ini.


"Tidak, benar katamu. Kita lanjut ke proses Nadzor. Ditahap ini kalian yang memutuskan untuk saling menerima atau tidak. Sekarang tentukan dimana tempat untuk kalian Nadzor ?" Keduanya serius membicarakan mengenai rencana proses yang akan dilakukan sebelum masuk pada tahap khitbah.


"Za, bagaimana dengan Zafran ?" tanya Ricky menatap sahabatnya dengan tenang setelah selesai membicarakan tentang rencana keduanya.


"Entahlah, dilihat dari berbagai sisi kamu lebih pantas untuk melangkah lebih dahulu daripada dia. Aku bahkan tidak setuju jika dia menikah muda. Apalagi amanah yang akan di emban anak itu nanti bukanlah perkara mudah. Jadi biarkan dia nanti terluka, dengan begitu hatinya akan kuat dimasa depan dengan rintangan yang lebih dahsyat. " Ricky mengangguk sedikit ragu. Ada keraguan didalam hatinya saat harus membuat Adik sahabatnya itu merasa terluka karena gadis yang begitu dia cintai akan dinikahi Sahabat Kakaknya sendiri. Bahkan keduanya menjalin hubungan yang erat.


"Aku sangat tidak enak hati nantinya. Tapi aku juga tidak bisa melepaskan Billa begitu saja. Cukup lama aku menunggu jawaban."


"Sudah, fokuslah dengan tujuanmu. Biar aku dan Abah yang akan menangani Zafran."


"Sebentar, dari mana kamu tahu kalau kami sama-sama menyukai Billa ?" Zaid tersenyum mengejek saat melihat ekspresi wajah sahabatnya.


"Sudah aku duga. Aku sendiri yang mengetahuinya dari cara kalian saling menatap. " Ricky melemparkan tisu yang sudah dipakai ke wajah sahabatnya.


"Sok tahu sekali."