
Cukup lama gadis itu memandangi foto yang sekarang telah membuatnya galau. Untuk kedua kalinya juga Billa membaca ulang CV ta'aruf yang di ajukan oleh Syafik. Bimbang tentu saja, dilain sisi gadis ini memiliki banyak mimpi dan keinginan yang belum terlaksana. Di lain sisi, akan datang kerugian bagi seorang wanita muslimah menolak lamaran Laki-laki Sholih, yang Billa kesal hanya satu, kenapa musti sekarang CV ini hadir, qodar Allah memang tidak ada yang mengetahui nya. Tanpa Billa sadari dia sudah cukup lama duduk di kursi itu, hingga adzan subuh berkumandang, Billa baru tersadar dan bergegas mengambil wudhu, dua rakaat fajar dia tunaikan dengan khusyuk, dilanjutkan dengan sholat subuh dua rakaat dan di akhiri dengan dzikir pagi dan muroja'ah hafalan juz tiga puluh.
Selepas mengulang hafalan Billa lantas merapihkan alat sholat dan bergegas keluar kosan. Dia akan berolah raga ringan dengan berjalan kaki santai sambil mencari sarapan pagi. Kosan Billa merupakan komplek perumahan khusus Mahasiswa dan Siswa yang jauh dari rumah. Banyak Mahasiswa yang juga sedang menikmati akhir pekan ini dengan berolah raga ringan sambil mencari sarapan. Billa melangkah ringan sambil mendengarkan nasyid kesayangan nya yang di nyanyikan oleh Musyari Rasyid. Rencananya dia akan berjalan santai memasuki kampus. Kampus Billa terkenal dengan asri dan sejuk, banyak pepohonan sepanjang jalan membuat siapapun yang berjalan kaki merasa sangat sejuk dan cocok untuk berolah raga ringan. Pihak kampus memang membuka kampus untuk umum ketika akhir pekan. Banyak pengunjung yang datang untuk piknik dan berolah raga ringan seperti yang dilakukan Billa sekarang.
Angin pagi benar-benar membuatnya tenang dan damai, tepat di pinggiran embung Billa istirahat duduk dan menatap bangunan megah milik Rektor Kampusnya tersebut. Bukan mengagumi bangunannya tetapi dia justru memikirkan keputusan nya untuk menerima Syafik. Dia akan mencoba menerima Syafik untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Artinya Billa harus mampu menjaga kepercayaan Syafik selama dirinya dan Syafik belum bisa menikah. Sungguh ini keputusan yang sangat sulit. Kalaupun menikah mereka akan tetap berjalan sendiri-sendiri karena terhalang oleh kuliah. Jadi Billa putuskan untuk mencoba menerima lamaran Syafik, meskipun dia juga tidak yakin dengan keputusan nya. Tidak ada yang tau kedepannya Bagaimana. Dia hanya takut untuk menyakiti dan disakiti. Itu saja. 'Ya Rabb, semoga ini yang terbaik. Kumohon selalu bersamaku, jika dia bukan jodohku maka pisahkan dengan cepat dan tetaplah selalu bersama kami, agar luka kami segera pulih Karena Mu.' Batin Billa sambil menatap banyak sekali ikan di dalam embung.
.
"Assalamualaikum, Kamu yang bernama Habibillah Hawaari ?" tanya pria tersebut tanpa menatap Billa. Pandangan pria itu tetap menatap gedung Rektor dan jarak antara Billa dengannya sekitar lima langkah. Pria itu bahkan tidak duduk melainkan tetap berdiri dengan satu tangan masuk kedalam kantung celananya dan tangan satunya memegang ponsel miliknya.
"Waalaikumussalam, Benar. Anda siapa ?"
"Aku Zafran, Mahasiswa baru juga disini. Kamu yang kemarin daftar di stand lembaga Binaan Dakwah juga kan ?" ujarnya sambil menoleh ke arah Billa.
"Iya, Apa kamu kakak pembina juga di sana ?"
"Bukan, Aku juga sama sepertimu, masih mahasiswa baru. Aku kemaren tidak sengaja mendengarkan percakapan mu dengan mbak Dinda. Kamu juga alumni Pondok Pesantren ?"
"Iya, Ada perlu apa?" tanya Billa seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Aku juga lulusan Pondok Pesantren, aku hanya ingin membagikan ini kepadamu, tolong sebarkan juga dengan teman sekelasmu, siapa tau mereka ada yang tergerak hatinya untuk berubah menjadi lebih baik." Ujarnya gamblang.
"Apa ini semacam brosur khusus UKM binaan dakwah ?"
"Iya, tolong bantu aku untuk menyebarkannya. Kebetulan tadi aku bertemu dengan ketua binaan. Mereka menyuruhku untuk menyebarkan brosur milik UKM kita supaya banyak yang tertarik masuk ke dalam lingkup dakwah ini." Jawabnya gamblang sambil menyodorkan banyak brosur ke tangan Billa.
Billa menerimanya tanpa menjawab, gadis itu hanya mengangguk dan mulai membaca brosur UKM yang sudah mencuri perhatian nya.
"Aku boleh minta nomormu untuk ku hubungi jika ada brosur lagi suatu saat nanti ? hanya untuk menghubungimu yang berkaitan dengan dakwah kita saja tidak lebih." Ujarnya penuh penekanan karena melihat raut wajah ayu Billa yang berubah masam karena sempat meminta nomor ponselnya.
"Yang lain siapa ? Aku kenal nya kamu doang. " Dengan sedikit memaksa.
"Ya sudah, ini nomorku. Hubungi saja nomor itu." Ucapnya sambil memberikan ponselnya kepada zafran.
Setelah itu, keduanya berjalan berbeda arah tanpa menoleh satu sama lain. Seperti orang yang tidak kenal dan tidak pernah bicara. Sepanjang perjalanan menuju warung nasi uduk Billa membagikan brosur yang ada di tangannya dengan mahasiswa yang melintas dan berkunjung di warung nasi uduk tersebut.
.
Selesai sholat Dzuhur Billa merapihkan alat sholat dan mulai menghubungi teman dekatnya selama masuk kuliah ini, siapa lagi kalau bukan Ratna. Keduanya sepakat untuk tidak saling menjemput. Ratna akan menghampiri Billa ke kosan dan berangkat memakai motor masing-masing. Ratna tidak jadi di jemput dikarenakan motor kesayangannya tidak di pinjam.
.
"Lama banget sih booo' aku Sampek ngantuk nungguinnya. Aduuh.., gimana nanti kalau sudah di sana. Pasti aku ngantuk banget serasa di Nina boboin sama pemateri. Semoga aja kajiannya membahas jodoh. Biar gak ngantuk. Pasti melek semua tuh yang hadir." Ungkap Ratna tanpa rasa malu dan canggung sedikit pun.
"Sorry, Aku tadi jemur pakaianku dulu. Kalau di tinggal nanti pasti aromanya tidak sedap. Aku bawa motor sendiri ya, aku ada perlu juga nanti setelah ini" ucap Billa sambil memakai tas kesayangan dan mulai menghidupkan motor matic nya dengan santai.
Keduanya berkendara santai beriringan dengan motor Billa di depan memandu jalan mencari Masjid yang katanya di belakang kampus dengan nama Masjid At-Taqwa. Setelah berkeliling Santai mereka akhirnya menemukan masjid itu dan mulai memarkirkan motornya ke halaman masjid tersebut. Lambaian tangan Kakak pembina sudah menyambut hadirnya Billa dan Ratna dengan senyuman ramahnya. Namun, saat Billa akan melanjutkan langkah kakinya menuju masjid tanpa disengaja netra nya menangkap sosok Zafran keluar masjid menggunakan jalur pintu khusus pria dan pergi mengambil leptop di tas yang dia letakan di ransel miliknya.
'Apa dia asisten Ustadz juga ? kok segala ambil labtop.' batin Billa sambil mengamati gerak gerik sosok yang baru kenalan tadi pagi itu.
Rupanya Billa dan Ratna datang sedikit terlambat, sang Pemandu acara sudah mulai memandu acara dengan membacakan profil sang pemateri.
'Suara MC nya kok kayak kenal, siapa sih' batinnya sambil membuka tas nya dan mencoba mengeluarkan buku dan alat tulis untuk mencatat isi materi kajian hari ini.
'Eh, Dia kayaknya manusia itu...'