Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Berhenti memanggilku dengan nama lengkap



Billa menikmati liburannya dengan perasaan yang campur aduk. Dirinya memang sudah mengetahui kebenaran tentang Syafik yang berkomunikasi dengan perempuan lain, Billa sendiri tidak tau siapa perempuan yang membuat Syafik berpaling. Sahabatnya Ara hanya berpesan tidak perlu mengharapkan Syafik dan belum menjelaskan apapun mengenai prihal itu semua. Hanya satu yang Billa yakin, sahabatnya tidak mungkin menuduh tanpa bukti. Terlebih Rahman juga yang sudah menyuruh nya untuk menjauhi Syafik.


"Bill, tidak perlu memikirkan apapun tentang Syafik, aku dan Rahman sedang berusaha untuk mencari tau kebenarannya" Billa tersenyum hangat mendengarkan nasihat yang keluar dari sahabatnya Ara.


"Kamu tidak perlu mencemaskan kondisiku Ara, belajarlah dengan baik disana, katakan pada Rahman tidak perlu mencari tau lebih dalam lagi tentang Syafik. Aku baik-baik saja tanpa laki-laki itu" Ucapnya tegas.


"Apa syafik masih menghubungimu ?"


"Hem, meskipun sampai sekarang dia masih menyimpan rapih semuanya. Aku hanya ingin mengetahui sampai kapan dirinya akan berbohong dengan janji dan kata manisnya" Ujar Billa pilu.


Ara menatap lekat sahabatnya itu dengan perasaan yang sulit di artikan, saat ini keduanya tengah melakukan panggilan Vidio call, meskipun Billa mengatakan dirinya baik-baik saja, Ara yakin Billa berusaha menutupi rasa sesak dan sakit yang dialaminya saat ini. Terlebih Billa baru pertama kalinya merasakan jatuh hati, membuat Ara merasa khawatir dengan sahabatnya itu.


"Billa.., cobalah untuk bertanya kepada Syafik tentang kalian, mungkin dengan kamu yang mengawali akan membuatnya berkata jujur dan tidak menggantungkan hubunganmu sekarang" Billa tersenyum lemah. Bukan karena dirinya terlalu mencintai atau takut untuk ditinggalkan. Tetapi karena Billa ingin melihat sejauh mana Syafik menganggapnya.


"Ara, benarkah Rahman mendengar nama Dita dalam percakapan nya ?" tanya Billa serius setelah Ara memutuskan untuk memberitahu segalanya kepada Billa.


"Iya, tenanglah. Aku sudah menyuruh Rahman untuk menyelidiki sebenarnya Dita yang di maksud Anin-.."


"Tidak perlu menyelidikinya" Ara terkejut dengan perintah Billa, sepertinya mode tegasnya telah kembali, Ara mengangguk sebagai jawaban. Ara yakin Billa bukanlah perempuan yang menangis kemudian rela sampai tidak makan karena hal memuakkan seperti ini.


"Baiklah, aku harus mengulang hafalanku sebelum liburan ini habis, aku tutup ya.. insyaallah besok aku sempatkan untuk menghubungimu" Billa mengangguk sebagai jawaban.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


Gadis itu berjalan menuju jendela kamar yang mengarah langsung Ke pekarangan rumah yang ditanami banyak sayuran hijau disamping rumahnya. Membuka jendelanya dan mulai menghirup udara pagi dengan segar.


"Ini semua salahku, berharap kepada manusia bukanlah sesuatu yang dibolehkan dalam Islam. Ustadz Razik bahkan pernah membahasnya." Gumamnya lirih.


.


Ding.


"Assalamualaikum Annisa"


Billa meraih handphone nya yang dia letakan di atas meja belajarnya. Gadis itu tersenyum getir ketika mengetahui Syafik lah yang mengirim pesan. Jika dulu dirinya akan membalasnya dengan senang hati. Kini membalas pesan nya pun enggan. Hingga suara dering ponsel yang memekik, membuat gadis itu ragu untuk menjawab telepon dari seorang pria yang sudah membuatnya kehilangan rasa percaya.


"Kenapa tidak menjawab telepon ku, Aku merindukanmu" Billa sungguh geli dengan isi pesan Syafik saat ini. Gadis itu ingin melihat, sejauh mana Syafik akan mencoba menghubungi nya. Sejak hari pertama Billa liburan sampai satu pekan ini, syafik hanya menghubunginya ketiga kalinya saat ini. Sebenarnya gadis itu sudah merasakan perubahan pada Syafik. Billa selalu memergoki status riwayat pada nomor syafik online di tengah malam dan dini hari. Padahal tidak sedang chatting dengannya.


Sejak liburan di rumah, Billa sering sekali tidur malam karena mengobrol dengan Abangnya dan keluarganya. Namun hal itu tidak membuatnya melupakan Sunnah malam nya dan bangun pagi. Itulah yang membuat Billa sering memergoki syafik sedang online pada status wa nya. Deringan ponsel untuk kedua kalinya membuat Billa berfikir untuk mencoba membuat Syafik terbuka.


"Waalaikumussalam, ada apa ?" Syafik semakin yakin dengan perubahan sikap Billa saat ini. Billa memang cuek dan tegas. Tetapi itu dulu saat dirinya dan Billa belum akrab. 'Kenapa sikap ini kembali lagi' batinnya heran.


"Annisa-"


"Berhenti memanggilku dengan nama lengkap ku" ucapnya tegas. Membuat syafik sangat terkejut bahkan mengedip kan matanya beberapa kali untuk memastikan dirinya sedang tidak bermimpi.


"Aku tanya sekali lagi, ada apa ?" membuat Syafik tersadar dan mencoba menghilangkan kaget nya dengan berdehem.


"Apa aku membuat kesalahan kepada mu ?" tanya syafik berhati-hati. Billa tertawa lirih saat mendengar pertanyaan syafik. Gadis itu benar-benar kesal dengan sikap Syafik yang penuh dengan pura-pura ini.


"Menurut mu ?" sikap Billa yang tegas dan cuek ini membuat syafik sedikit takut dengan apa yang dilakukannya selama ini Billa mengetahui dari orang lain.


"Baiklah, sepertinya kamu sedang lelah. Aku akan kembali menelfonmu nanti malam"


"Tidak perlu, bukankah nanti malam kau akan sibuk dengan seseorang ?"


.


Deg.


Syafik mencoba menelan Salivanya dengan susah. Gugup dan tegang yang dirasakan Syafik saat ini dapat dirasakan oleh Billa. Billa sangat menyayangkan sikap syafik yang terkesan ingin memiliki nya dan perempuan itu. Membuat Billa menahan kesalnya dengan menghela nafasnya kasar berulang kali.


"Tidak perlu menjelaskan apapun kepadaku, aku rasa kita cukup sampai disini. Aku harap dia yang terakhir menerima janji sampahmu" Ujar Billa tegas. Membuat syafik memahami, Billa telah mengetahui kebenaran yang disembunyikan nya rapat selama ini.


"Sejak kapan kamu mengetahui nya ?" ucap Syafik terdengar sendu.


"Sejak kapan kamu melakukan ini ?" ucap Billa dingin. Syafik menghela nafasnya pelan dan mencoba menenangkan dirinya sebelum menjelaskan segalanya kepada gadis yang masih sangat dia sukai.


"Maafkan aku, aku mulai tidak jujur kepadamu sejak liburan semester lalu. Apapun yang aku lakukan, karena aku takut kehilanganmu. Bahkan sampai detik ini perasaanku masih sama. Kamu boleh menyebutku pria lemah dan egois. Tapi satu yang harus kamu tau, aku tidak akan melepaskan mu" Ujar Syafik mencoba memberikan pengertian agar Billa mau mencoba memahaminya. Namun sayang, Billa tidak memperdulikan semua ucapan Syafik.


"Haha, Cukup sampai disini. Aku ingin fokus pada kuliah ku. Jangan pernah menghubungi ku lagi" Billa kematian seluler nya sepihak. Membuat syafik mengacak rambutnya frustasi. Hal ini pun tidak luput dari pandangan sahabatnya Rahman yang saat itu sedang merangkum hadist untuk dihafal.


"Rahman, Tolong a-.."


"Tidak akan. Dia terlalu baik untuk mu. Aku tidak menyangka dengan kelakuanmu Fik" ujarnya berlalu keluar mencari tempat yang nyaman untuk menghafal.


"Maksudmu ?"


"Menurut mu ?" tantang Rahman menatap lekat sahabatnya yang mulai memahami bahwa Rahman juga mengetahui segalanya saat ini.