
Zafran menatap langit hitam yang menghiasi bumi Allah saat malam hari, pemuda tampan itu begitu kalut dengan perasaannya saat ini. Nasehat Kakaknya jelas masih terngiang sampai menjelang malam. Zafran belum bisa memejamkan matanya sama sekali, padahal jam sudah menunjukan pukul sebelas malam.
Ding
{"Antum sudah tidur ? Kalau belum kemari ke pondok. Saya tidak bisa tidur malam ini."}~ Akhi Emir
Zafran segera menyambar kunci mobilnya dan memakai jaket sebelum keluar dari kamarnya. Benar, daripada memikirkan hal yang tidak ada ujungnya. Lebih baik menemani teman dekatnya di pondok. Emir adalah teman dekatnya selama Zafran merantau di Madinah. Keduanya bertemu disana karena satu asrama. Emir tidak mau diajak tinggal bersama di rumahnya. Pria itu justru ingin tinggal di pondok selama liburan. Baginya mengamalkan ilmu yang sudah didapat adalah sebuah hal langka. Maka dari itu, dia sangat senang berada dilingkungan pondok.
"Kenapa tidak bisa tidur ?" ucap Zafran saat dirinya baru memasuki sebuah kamar berukuran sedang milik Zafran ketika sedang menginap di pondoknya.
"Waalaikumussalam, datang itu ucapkan salam. Antum ini calon pimpinan di pondok ini." Sindir Emir sekaligus kesal lantaran kaget karena tiba-tiba temannya sudah berada di depan pintu. Emir sengaja belum menutup pintunya karena dia ingin beranjak ke masjid. Pria itu berfikir jika nanti Zafran tidak datang akan menambah hafalan di masjid. Namun tanpa diduga temannya itu datang tanpa membalas pesannya.
"Maaf Mir, kenapa tidak bisa tidur ? Itu bawa Qur'an mau kemana ?" Emir meletakan kembali kitab sucinya dan beranjak menutup pintu.
"Tadinya aku pikir kamu tidak akan datang. Ingin ke masjid mengulang hafalan."
Deg.
Bagaikan tertampar saat itu juga, seharusnya Zafran tidak perlu sibuk memikirkan hal yang tidak pasti. Sedang janji Allah yang sudah pasti diabaikan begitu saja. Padahal jelas Allah katakan, tidak akan merugi orang-orang yang thaat serta mengingatnya. Zafran mengusap wajahnya kasar karena kesal dengan dirinya sendiri.
"Ada apa ?" tanya Emir penasaran melihat sikap teman dekatnya.
"Ayo kita ke masjid. Bawa Qur'anmu. Aku akan memakai Qur'an di rak masjid." Emir mengangguk mantap dan segera mengambil kitabnya. Keduanya berjalan bersama menuju masjid yang sudah gelap karena lampu sudah dimatikan santri saat aktivitas malam berakhir.
"Apa tidak ada yang belajar di Masjid. Kenapa mereka menyia-nyiakan waktu begitu saja." Zafran tersenyum mendengar penuturan temannya. Di Madinah, seluruh mahasiswa berlomba-lomba untuk belajar saat malam hari. Terutama Mahasiswa yang bukan warga asli Madinah. Waktu malam adalah waktu dimana masjid ramai pengunjung dengan kitab masing-masing.
"Wajar, mereka masih santri. Nanti kalau sudah kuliah seperti kita bakal lembur kaya kita."
"Tidak, Menurutku jika mereka berlomba-lomba saat ini, maka nantinya akan memudahkan mereka saat berada di bangku kuliah. Dan satu lagi, tidak ada yang mengetahui sebuah umur. Cita-citaku adalah meninggal dalam hafalan Qur'an full dan menaburkan sebuah amal." Zafran menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan teman dekatnya yang nampak bingung karena Zafran tiba-tiba berhenti.
"Kamu benar Emir. Seharusnya sekarang kita tidak perlu memikirkan sebuah urusan yang sudah pasti Allah tulis. Cukup membawa bekal sebanyak mungkin dan percaya pada takdirnya."
"Kamu sedang membicarakan tentangnya ?" Zafran mengangguk pelan seraya melanjutkan langkahnya menuju masjid."Bagaimana ? " tanya Emir kembali begitu penasaran dengan sosok Billa.
"Mungkin hari ini adalah hari terakhirku meyakinkan diriku untuk menunggu. Aku akan mencoba untuk melupakannya. Semua berkat nasehatmu." Emir menautkan alisnya semakin bingung dengan ucapan temannya. Keduanya kembali mengobrol sebelum menghabiskan malamnya dengan mengulang hafalan dan menambahnya. Tepat pukul dua dini hari mereka memutuskan untuk kembali ke kamar.
"Kamu yakin dengan keputusan mu ?" Zafran mengangguk pasti seraya meletakan kitab milik Emir pada meja belajarnya.
"Aamiin, sudah sekarang kita tidur. Kurang lebih dua jam lagi kita akan dibangunkan untuk tahajud dan ke masjid untuk jamaah subuh sampai kajian pagi selesai." Emir mengangguk dan segera mematikan lampu kamarnya.
***
Disebuah kamar sederhana namun nyaman, terlihat seorang gadis tengah menatap layar laptopnya setelah melakukan sholat malam tiga rakaat dan dua rakaat dilakukan untuk sholat istikharah. Billa telah pulang kerumahnya kemaren sore setelah menyelesaikan ujian akhir semester. Gadis itu kembali membuka laptopnya karena kepikiran dengan CV yang sudah lama dibiarkan tanpa difikirkan lagi.
"Huft.., kenapa manjadi dewasa sangat rumit." Gumamnya lirih menatap file milik Dosennya yang berisi mengenai CV milik Dosennya. Gadis itu sudah memantapkan hatinya untuk memberi jawaban atas CV jodoh yang diberikan Dosennya. Hanya menunggu moment yang pas untuk memberikan jawaban kepada Dosennya.
"Aku tidak mungkin memberi tahu sekarang saat liburan mengenai jawabanku. Tapi aku juga tidak bisa menjawabnya saat memasuki perkuliahan nanti. KKN sudah didepan mata, Bang Reza sebentar lagi juga akan menikah." Gadis itu berdialog sendiri lantaran bingung memilih waktu yang pas untuk menjawab CV milik Dosennya. Billa menutup laptopnya dan segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat subuh.
Tok tok tok,
"Dek, keluar sebentar. Abang ingin berbicara denganmu." Billa yang tengah bersiap untuk melanjutkan tidurnya karena mengantuk, kembali terjaga saat mendengar Abangnya ingin membicarakan sesuatu.
"Ada apa Bang ?"
"Ayo lari pagi. Abang ingin ngobrol banyak. Jangan dirumah. Cepat ya, jangan lama-lama" Billa yang baru membuka pintunya dengan mata mengantuk begitu malas untuk olahraga dengan Kakaknya.
"Aku mengantuk sekali. Kakak sendiri dulu. Aku benar-benar ngantuk." Tutur Billa seraya mencoba menutupi rasa kesalnya.
"Eh tidak, kamu harus ikut. Tidak baik tidur lagi habis subuh. " Billa mendengus kesal dengan Abangnya yang pemaksa itu. Gadis itu kembali menutup pintunya dan segera berganti pakaian joging yang cukup menutup aurat tanpa menjiplak bentuk tubuhnya.
"Ada apa sii Bang, aku pengen tidur ," Ucap Billa kesal setelah dirinya berjalan santai beriringan dengan Kakaknya.
"Apa ustadzah Winda baik saat di Pondok ? Billa menatap Abangnya karena pertanyaan milik Kakaknya.
"Tentu saja, kenapa Abang menanyakan hal ini ?" tanya Billa penasaran karena memang Abangnya belum menceritakan secara detail mengenai pertemuannya dengan Ustadzahnya. Keduanya larut mengobrol lama hingga merasakan perut mulai keroncongan.
"Ayo kita mampir ke warung makan nasi uduk, nanti Abang yang mentraktir." Billa tersenyum lembut karena memiliki Abang yang begitu baik.
"Jujur dengan Abang, kamu tidak pacaran kan ?" Billa segera mengangkat wajahnya dan meletakan ponselnya menatap Kakaknya yang tengah meminum teh hangat.
"Memangnya kenapa ?" Billa penasaran kenapa Kakaknya menanyakan hal ini dengannya saat ini.
"Tidak ada apa-apa, semoga Allah menjagamu untuk tetap fokus belajar. Tidak perlu pacaran dulu. Kuliahnya diselesaikan dulu, setelah selesai baru kamu boleh main kapanpun dan dimanapun.