Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Stalking



"Suara nya merdu sekali, bikin Adek betah kajian kalo kaya gini" bisik Ratna sambil ber sender di bahu Billa.


"Sssttt, kalau ada yang ngaji itu di Simak Rat, kamu bawa Qur'an kan ? satu lagi niatkan karena Allah bukan karena pemilik suara." Ujar Billa sambil mencubit gemas pipi chubby teman akrabnya itu.


"Sambil menyelam minum air boo" jawabnya heboh sambil mencubit pipi Billa yang tak kalah chubby. Billa hanya tersenyum dengan tingkah teman dekatnya itu, tak apalah jika suara merdu milik Zafran menjadi penyemangat nya untuk kajian. 'Sekarang niat kajiannya karena suara merdu, semoga lusa dan seterusnya murni niat karena Allah. Aamiin.' Batin Billa sambil memperhatikan Ratna yang sedang mencoba Vidio kan Zafran.


.


Setelah kajian, keduanya berpisah di jalan. Billa yang memang ingin mampir ke mini market untuk membeli kebutuhan nya yang sudah menipis dan Ratna yang langsung pulang ke rumah neneknya. Setelah membeli semua kebutuhan yang di rasa sudah mau habis Billa langsung melesat pulang ke kosan. 'Malam ini nyedu mie instan saja ah, sudah lama banget aku gak makan mie.' batin Billa sambil mengendarai motor matic nya. Setelah memarkir kan motor kesayangan nya dengan aman. Billa segera melesat ke kamar mandi, hampir jam setengah enam sore Billa baru sampai kosan.. cukup 15 menit tidak perlu berlama-lama di kamar mandi membuat badannya lebih rileks dan segar. Netra nya menangkap belanjaan yang tadi sempat di beli sebelum pulang. Gadis itu lantas membereskan barang belanjaan pada tempat yang semestinya. Melihat mie instan yang sempat di beli membuat perutnya keroncongan. Billa lantas keluar kamar dan mulai memasak mie instan kesukaan nya. Mie rebus dengan toping sosis dan telur benar-benar menggugah selera anak kosan yang sedang kelaparan itu. Billa melangkah ke ruang tv, sebelum makan dia sempatkan untuk mengambil nasi putih dan minum di kamarnya. Belum sah namanya kalau makan mie rebus tidak memakai nasi putih. Kosan Billa memiliki ruang tv umum,ruang tamu umum dan dapur umum. Billa bahkan sering mengobrol dengan teman sesama kos nya di ruang tv ini.


Selesai makan, Billa langsung membersihkan peralatan makan dan mengambil wudhu untuk menunaikan kewajiban setiap muslim. Tiga rakaat Billa rampungkan dengan khusyuk dan di tutup dengan mengaji.


.


Ding.


"Assalamualaikum, besok tolong bagikan brosur lagi ke mahasiswa yang lain ya, brosur nya aku taruh di perpus pusat loker tiga puluh enam, aku ada janji dengan teman fakultas ku yg lain. Jadi tidak bisa menunggumu. Terima kasih sebelumnya." Setelah membaca pesan tersebut, Billa lantas mengetik balasan untuk Zafran.


"Oke".


Di seberang sana, Zafran merasa Billa sangat lah berbeda dengan teman perempuan yang lainnya. Biasanya jika dia sudah meminta tolong maka mereka akan mencoba untuk akrab dengan Zafran. Lain hal nya dengan Billa justru terkesan seadanya dalam menanggapi segala yang berkaitan dengannya. Zafran pun tidak mengambil pusing dengan pesan singkat nya. Hanya perhatian nya mulai terganggu dengan sikap cueknya. 'Apa dia sudah menikah, makanya menjaga jarak ya' batin Zafran.


"Aku mengandalkan mu" balas Zafran. Sungguh ini bukanlah Zafran, membalas hal yang sudah pasti. Bahkan hatinya mulai tidak karuan ketika Billa hanya membaca pesannya tanpa ada niat untuk membalas nya. Padahal kalau di lihat gadis itu sedang online.


"Lagi online juga, tapi segitunya gak bales chat ku. Apa dia sedang chatting sama pacarnya ?" ucap Zahran gemas.


Lama tidak mendapatkan balasan Zafran mencoba untuk berselancar ria di media sosial. Tangannya mengetik pencarian di Instagram dengan nama 'Habibillah Hawaari' tulisnya. Dengan otomatis profil yang di cari pun muncul di urutan pertama. Foto profil wa Billa sama dengan foto profil nya di Instagram. Dengan mudah Zafran membuka nya, namun sayang. Akun yang sedang di kliknya ternyata memiliki privasi ketika ingin melihat lebih dalam profilnya. Akunnya terkunci. Yang artinya Zafran harus follow akun itu terlebih dahulu. 'Sial, kenapa musti di kunci sih' batinnya jengkel.


Bukan Zafran namanya kalau tidak memiliki cara lainnya, pemuda itu lantas membuka halaman Facebook nya dan mulai mengetik nama Billa, namun sayang ternyata di aplikasi itu juga ternyata Billa mengunci informasi yang mampu di lihat dari orang yang tidak berteman dengannya.


"Ck, sial. Kenapa dia begitu pelit." Ujarnya ketus. Setelah melakukan permintaan pertemanan, pemuda itu lantas membuka tutup ponselnya dengan gusar. 'Kenapa gak di konfir sih, apa dia sudah tidur' batinnya.


Lama Zafran menunggu respond dari Billa, namun karena tidak kunjung di konfir membuatnya mengklik cancel permintaan pertemanan nya secara gemas.


Sedangkan Billa, gadis itu masih khusyuk dengan laptopnya. Yaa, Billa sedang mencoba mencari informasi tentang semester yang akan dilalui semester awal ini. Billa mulai hanyut untuk mempelajari KRS prodinya agar tidak salah ketika nanti mengambil krs untuk semester satu nya.


*


Besok paginya Billa dan Ratna sudah berada di kampus, tepatnya mereka berada di lantai satu gedung akademik pusat. Mereka telah selesai melakukan pengambilan KRS yang akan mereka pelajari selama duduk di semester satu ini. Keduanya memutuskan untuk sarapan di kantin karena tadi pagi belum sempat makan.


"Kamu kenapa sih hari ini ? habis di transfer kah ? kok kayaknya senyum mulu" jawab Billa tak kalah seru sambil melirik Ratna.


"Haha, ketara banget ya ? wkwkwk" ucapnya sambil duduk mendekat disamping Billa.


"Kenapa ?"


"Aku sudah tau siapa nama laki-laki yang kemaren qiroaah di kajian kita loh" ucapnya sambil tersenyum. Billa tidak menjawab pertanyaan Ratna melainkan hanya tersenyum geli melihat tingkah teman dekatnya tersebut.


"Kok kamu diem aja sih, jangan-jangan kamu udah kenal sama Zafran ya bill ?" tuduhnya sambil melirik tajam Billa.


"Sudah kenal, tapi tidak dengan mengetahui dia bagaimana dan seperti apa" ujarnya gamblang.


"Kayaknya kamu sama dia sebelas, dua belas deh, sama-sama cuek dan ngeselin" ungkapnya kesal.


Melihat teman dekatnya kesal Billa pun menceritakan kronologi pertemuan dan perkenalan nya dengan Zafran.


"Kamu gak naksir kan ?" pertanyaannya yang cukup menohok itu langsung membuat Billa tersedak minuman yang baru saja dia minum.


"Apaan sih kamu rat, kalau kamu naksir Zafran sok atuh buat kamu seutuhnya, aku gak papa." Jawab Billa sambil tertawa.


"Alhamdulillah.. " ujarnya senang.


.


Ding.


.


Sebuah notice masuk ke ponsel Billa, membuat gadis itu segera mengambil ponselnya yang terletak tak jauh dari jangkauan matanya dan mulai membaca pesan singkat itu dengan ekspresi wajah yang bahagia.


"Dek, nanti Abang mampir ke kosan mu, Abang dari Natar habis mengontrol kerjaan disana. Kamu jangan kemana-mana ya..'!" perintah mutlak yang tidak bisa di bantah.


"Siaaap bang, aku tunggu ya.. jangan lupa belikan aku cemilan yang banyak ya bang.." balasnya ambigu.


"Insyaallah nanti sore sekitar habis ashar Abang sudah sampai di kosan mu, ada yang mau Abang bicarakan." Isi pesan terakhir yang Billa baca seketika membuat mulutnya yang sedang mengunyah bakso berhenti dan mengingat-ingat apa yang sudah dilakukannya selama disini.


'Abang mau ngomongin apaan sih' batinnya gelisah.