Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Hamil



"Jangan menangis, saya akan sabar menunggu jawabanmu. Pergilah, saya tidak akan menahanmu lagi. Jaga diri baik-baik Billa. Saya pamit pergi untuk tugas." Ucap Ricky sendu melihat gadisnya menangis sambil menyodorkan sebuah sapu tangan miliknya untuk Billa. Gadis itu menerima sapu tangan dengan perasaan sulit diartikan. Bukan menangis karena akan ditinggal pergi, melainkan karena Dosennya itu begitu tulus menunggunya dengan sabar. Jelas tadi Billa akan menolak pria dewasa itu, tapi Ricky menahannya seolah tidak ingin mendengar penolakan darinya.


"Baiklah, Hati-hati. Assalamualaikum" Billa beranjak keluar pintu setelah mengusap air matanya yang sempat keluar tadi.


"Waalaikumussalam" Ricky tersenyum hangat mendengar ucapan gadisnya yang terdengar begitu tulus. Jika Billa sudah mahrom untuknya jelas pria itu akan memeluknya saat ini. Jangankan mahrom, dihalalkan saja belum. Bagaimana bisa untuk sekedar memegangnya. Ricky jelas sangat memuliakan seorang perempuan. Ditambah dia adalah sosok yang sangat Ricky cari selama ini.


"Bagaimana ? Kenapa lama sekali ?" tanya Ratna beruntun setelah keduanya berjalan beriringan menuju kelas lagi.


"Apanya yang bagaimana, ya dilaporkan saja hasil selama ini." Billa jelas menghindari kontak mata dengan temannya. Gadis itu sangat tidak ingin Ratna mengetahui dirinya habis menangis didalam.


"Horor sekali tadi Pak Ricky. Tapi jujur sih, tadi beliau ngeliat kamu gitu banget Bill. Apa karena kamu nunduk ya ?" Billa hanya menggerakkan bahunya sebagai respon tidak mengetahuinya.


Billa dan Ratna masih ada kelas satu lagi hari ini, namun karena jam selanjutnya masih lumayan lama. Keduanya memutuskan untuk menunggu di kantin. Ratna mudah sekali lapar, gadis itu bahkan sering membawa cemilan ringan di tas. Bahkan sering merengek untuk ditemani makan ke kantin akhir-akhir ini.


"Rat, ngemil terus.. mana sambil jalan makannya. Nanti saja pas di kantin sambil duduk." Tegur Billa mengingatkan adab makan kepada teman dekatnya.


"Aku lagi stres makanya ngemil terus bawaannya."


"Iya aku paham, tapi jangan sambil jalan gini. Kamu juga lebih berisi akhir-akhir ini aku perhatiin." Ratna menghentikan langkahnya saat mendengar penuturan temannya. Gadis itu jelas langsung memperhatikan postur tubuhnya dan kembali menatap Billa yang juga sedang menatapnya bingung.


"Masa sih.., jangan-jangan.." Billa semakin bingung melihat sikap temannya yang aneh.


"Apaan sih,"


"Huaaa, sungguh ini tidak lucu. Aku beneran gendutan kah ?" tanya Ratna memastikan.


"Enggak gendut, siapa yang bilang gendut. Aku cuma bilang lebih berisi. Makanya jangan ngemil terus Ratna sayang" ujar Billa menenangkan teman dekatnya yang sekarang super bawel. Billa semakin bingung saat Ratna justru menangis sedih saat ini di pelukan Billa.


"Cup cup cup.. kamu gak gendut kok, kamu masih langsing. Hanya berisi sedikit tidak membuatmu terlihat gendut Ratna. Haduh... maaf ya.. kamu kok jadi melow gini sih " ucapnya repot sendiri menenangkan Ratna yang semakin menangis. Tatapan mata Mahasiswa lain yang sedang melintas tentu saja membuat Billa semakin malu karena temannya tak kunjung berhenti menangis di pelukannya.


"Benarkah aku tidak gendut ?" Billa mengangguk pasti agar Ratna tidak kembali menangis.


"Benar, sekarang ayo kita ke kantin. Kamu pasti haus habis menangis" tutur Billa sambil mengusap air mata Ratna dan menggandengnya menuju kantin.


"Sebenernya kamu kenapa, sikapmu aneh sekali hari ini ?" tanya Billa hati-hati setelah memperhatikan sikap temannya yang tidak seperti biasa.


"Billa, sebenarnya aku sudah menikah." Jawab Ratna menundukkan malu kepada teman dekatnya. Billa tersenyum lucu saat mendengar hal konyol dari mulut temannya.


"Mana ada nikah. wkwkwk. Kamu jelas masih singgel. Hellow sudah hampir tiga tahun kita berteman. " Ratna menatap lekat temannya yang juga sedang menatapnya sambil mengunyah dimsum.


"Serius, WaAllahi aku sudah menikah"


"Uhuk" Billa tersedak makanan yang sedang dia nikmati lantaran ucapan sumpah yang dilontarkan Ratna begitu jelas dan tegas. Billa menatap Ratna dengan lekat mencari kebohongan Dimata gadis imut yang sudah menjadi teman dekatnya selama hampir tiga tahun. Namun, netranya yang sendu sama sekali tidak memancarkan kebohongan atau sedang bersandiwara saat ini. Billa beranjak mendekat dan memeluk temannya yang kini mulai meneteskan air matanya kembali.


"Ceritalah, aku akan mendengarkan segala keluh kesahmu selama ini, kamu terlihat begitu kuat selama ini" Tutur Billa menenangkan temannya yang semakin menangis dalam diam.


Kedua gadis itu beranjak meninggalkan kantin setelah membayar pesanan yang belum sepenuhnya dihabiskan. Billa memilih taman kampus sebagai tempat yang cukup tenang untuk temannya mengeluarkan segala gundah yang dirasakan saat ini.


"Sejak kapan kamu menikah ?" tanya Billa hati-hati menatap lekat netra Ratna yang terlihat sendu.


"Liburan kemarin, Kami sudah menjalin kasih lumayan lama. Dia study jauh yang mengharuskan kami LDR dan jarang sekali komunikasi. Tadinya aku sudah memutuskan hubungan kami saat aku mulai hijrah membenahi sikapku. Tapi dia menolaknya, dia cukup sabar dan setia menungguku selama satu tahun lamanya aku membiarkan hubunganku dengannya menggantung tanpa kejelasan. Namun, dia benar-benar serius denganku. Hingga liburan kemarin dia datang melamarku tanpa sepengetahuanku. Aku masih mencintainya. Kedua orangtuaku juga mengenal baik dia. Jadi kami memutuskan untuk menikah saat itu juga. Sekarang bahkan kami sedang LDR. Dia harus tetap disana mengolah perusahaan yang sudah lama dia rintis." Ucap Ratna gamblang sembari sesekali mengusap air matanya yang terus mengalir.


"Alhamdulillah, sesungguhnya kamu begitu kuat dalam menjaga hatimu Ratna. Aku senang saat kamu mampu memelihara cintamu dengan tulus tanpa mencampur adukan dengan maksiat. Allah mempersatukan kalian lagi setelah kalian putus. Itu artinya kalian memang ditakdirkan bersama. Lalu kenapa saat ini kamu sedih ?" tanya Billa ketika melihat temannya begitu sedih saat ini.


"Hem, seperti yang kamu lihat. Kita masih semester lima. Kita bahkan belum PPL, KKN bahkan skripsi. Jalanku masih panjang. Sekarang.., aku bahkan merasakan sesuatu yang seharusnya belum tumbuh saat ini." Billa mengernyit heran mencoba menelaah ucapan temannya.


"Bicara yang jelas aku tidak faham dengan sesuatu yang tumbuh." Ratna kembali menangis saat mengingat dirinya belum datang bulan dan sikapnya yang dia rasakan sendiri sensitif sekali akhir-akhir ini.


"Hey.., kenapa menangis lagi.. Ratna seharusnya kamu bersyukur. Allah menjaga hubungan kalian dengan ikatan yang halal. Kenapa harus sedih ?"


"Bukan itu.., sepertinya aku hamil Billa." Ucap Ratna semakin menangis menutup matanya dengan kedua tangannya mencoba mengusap air mata yang menetes deras.


"Cup cup cup... MaaSyaAllaah.. tenanglah temanku sayang, itu adalah sebuah anugerah yang harus kamu syukuri. Diluar sana banyak sekali pasangan yang menantikan seorang anak untuk melengkapi keluarga kecil mereka." Billa benar-benar terharu dengan kisah temannya. Gadis itu memeluk temannya yang saat ini terus menangis meski sudah ditenangkan.