
"Dek, tolong siapin titipan dari Umma punya Ricky. Kakak akan menemuinya setelah ini." Ucap Reza setelah menurunkan barang bawaan milik Billa dari mobil. Keduanya baru saja sampai kosan tepat setelah Adzan Dzuhur berkumandang. Kakak beradik itu serempak menjalankan kewajiban setiap muslim berangkat ke masjid terdekat karena kamar kosan Billa belum dibersihkan.
"Sudah dipisah kok, nanti Billa ambil dari kardus." Reza mengangguk pelan setelahnya menggandeng tangan Adiknya menuju masjid. Jika diperhatikan oleh orang lain, kedua kakak beradik itu nampak seperti pasangan, membuat banyak mata yang juga sedang menuju ke masjid menatap mereka dengan tatapan yang berbeda. Billa tetap menggandeng tangan Kakaknya lantaran memang sudah menjadi kebiasaan yang membuatnya nyaman.
"Makan siang dulu yuk Bang, tadi Umma sempet bawain aku lauk banyak." Ajak Billa setelah keduanya keluar dari masjid dan berjalan kembali menuju kosan.
"Adek saja yang makan, Abang mau makan siang sekaligus bertemu dengan sahabat Abang setelah ini."
"Pak Ricky dan Kak Zaid ?" Reza mengangguk pelan seraya tersenyum tipis. "Kalian akrab sekali, apa begitu dekat saat dulu masih sekolah ?" tanya Billa penasaran.
"Lumayan dekat, kami dulu selalu bersama-sama ketika di sekolah, ada satu lagi teman dekat kami waktu itu. Tapi dia perempuan." Billa mengerutkan dahinya seraya menoleh kearah Kakaknya yang terlihat santai.
"Kalian berempat bersahabat ?" Reza mengangguk pelan setelahnya menghadap kearah Adiknya yang terlihat begitu penasaran.
"Namanya Mutia, dia satu-satunya perempuan yang begitu dekat dengan kami waktu Itu. Tapi dia juga pergi pindah keluar kota bersama keluarganya setelah kelulusan sekolah waktu itu." Jawab Reza dengan terus memperhatikan raut wajah Adiknya.
"Apa dia cantik ?" Reza tertawa pelan mendengar ucapan Adiknya.
"Tentu saja, Abang bahkan dulu juga menyukainya." Billa mendelik menatap Kakaknya yang sekarang terkekeh geli.
"Apa sekarang masih menyukainya ?"
"Tidak, setelah mengetahui fakta bahwa dia menyukai orang lain" jawab Reza datar. Billa mengangguk mengerti lalu duduk di teras kosan. Keduanya baru saja sampai setelah berjalan kaki dari masjid. Reza mengikuti Adiknya yang duduk selonjoran di teras kosan.
"Abang sudah tidak tahu kabarnya kah ?" tanya Billa masih penasaran.
"Sudah tidak, setelah dia memutuskan untuk pindah keluar kota Abang dan yang lainnya juga memutuskan kontak apapun dari dia. Kalau Abang lihat sepertinya sekarang dia sudah menjadi Dokter" ucap Reza menatap lurus dengan ekspresi datar.
"Hoho, ada yang stalking ternyata." Guyon Billa menepuk pundak Kakaknya keras lalu pergi mengambil bingkisan untuk dibawa Kakaknya menemui calon suaminya.
"Aku lebih suka Ustadzah Winda, jadi mau dia dokter atau dosen sekalipun, kalau akhlaknya tidak seperti Ustadzah Winda aku tidak setuju" ucap Billa tenang sambil menyodorkan sebuah paper bag untuk dibawa Kakaknya.
"Tentu saja, tidak ada yang menandingi Ustadzah Winda, apalagi dia akan menjadi calon istri Abang." Billa tersenyum lega lalu mencium tangan Kakaknya dengan Takzim.
"Ada yang mau disampaikan untuk calon suamimu ?"
"Tidak," jawab Billa cepat.
"Baiklah, Abang pamit dulu. Belajar yang baik disini. Selamat Kuliah kerja nyata, jaga dirimu baik-baik saat berada di luar kampus dengan berbaur dimasyarakat berbeda. Semoga KKN kamu sukses." Billa memeluk Kakaknya erat setelah mengucapkan terima kasih.
"Abang juga jaga diri baik-baik ya.., Insyaallah aku akan usahakan pulang saat acara Kakak tiba. Titip Umma dan Buya, sehat selalu untuk kalian." Reza membalas pelukan Adiknya tak kalah erat.
"Kabari Abang saat kamu sudah mengetahui lokasi KKN kamu, nanti biar Abang yang menjemputmu saat waktu itu tiba" Billa mengangguk paham dan mengurai pelukan itu, gadis itu melambaikan tangan kepada Kakaknya yang sudah masuk kedalam mobilnya dan mulai menghidupkan mobilnya. Gadis itu segera masuk ke kosannya dan mulai membersihkan kamarnya yang cukup lama ditinggal. Bukan hanya Billa yang sudah kembali ke kosan. Rere juga sudah kembali lantaran juga akan KKN, sementara untuk Adik tingkat dan Kakak tingkat masih liburan karena tidak dikejar waktu untuk KKN yang dikhususkan untuk semester enam.
"Waalaikumussalam Rere!" teriak Billa heboh karena merasa tidak sendirian.
"Kamu baru sampai ya ? Apa kabar ?" tanya Rere beruntun setelah keduanya berpelukan erat melepas rindu.
"Iya, Alhamdulillah baik. Kamu kapan datang ?"
"Tadi pagi, aku ketiduran makanya tidak tahu saat kamu masuk kosan. Pas aku mau ke dapur aku melihat sepatumu. Makanya aku ketuk kamarmu" Billa tersenyum mendengar penuturan teman kosannya.
"Sudah tahu lokasi KKN mu ?" Rere menggeleng pelan dan tanpa sengaja melihat cincin yang tersemat dijari manis milik temannya.
"Belum, tapi sudah dimasukan ke grup kelompok KKN ku." Jawab Rere mencoba menahan rasa penasarannya setelah melihat cincin yang melingkar indah dijari temannya. Keduanya mengobrol asyik sambil menikmati dan mencicipi cemilan yang baru saja di bawa dari rumah masing-masing.
*
"Wohoooo... siapa gerangan, tumben sekali kita bisa komplit makan siang bersama." Celetuk Zaid heboh saat kedua sahabatnya baru saja sampai dan duduk dihadapannya.
"Assalamualaikum" jawab Reza dan Ricky bersamaan menyindir temannya yang asyik bernostalgia.
"Waalaikumussalam" ucap Zaid terkekeh sendiri dengan tingkah konyolnya.
"Kamu bawa apa Za, tumben sekali repot-repot." Reza mengangkat paper bag yang dibawanya dan meletakan dihadapan Ricky.
"Ini dari Ibuku untuk calon menantu." Zaid langsung merebut paper bag dihadapan Ricky dan membukanya.
"Wah, hanya Ricky yang dapat ? Untuk aku mana ?" guyon Zaid sambil mengeluarkan salah satu cemilan yang membuatnya ingin mencicipinya.
"Memangnya kamu siapa ?" ujar Reza yang langsung membuat Ricky terkekeh gemas melihat ekspresi wajah Zaid.
"Wah, musti dijelaskan siapa Zaid Syafa Derendra ?" Reza dan Ricky serempak menimpuk temannya dengan bantal kecil sofa yang ada dibelakang punggung masing-masing.
"Sampaikan rasa terima kasihku untuk Ibu ya Za, bagaimana kabar Billa ?" tanya Ricky serius menatap Reza yang duduk tepat disampingnya.
"Iya, pasti aku sampaikan. Kabar Adikku sangat baik. Kamu tidak menghubunginya sama sekali ?" Ricky menggeleng pelan dengan senyum tipis khasnya.
"Semoga Allah mudahkan niatmu kali ini, bersabarlah, lagipula Billa KKN hanya kurang lebih dua bulan. Kalian menikah bukan menunggu Billa selesai semester enam kan, tapi selesai KKN ?" ujar Reza merasa kasihan dengan sahabatnya yang sepertinya sudah ingin sekali menikah alias ngebet nikah.
"Aamiin, terima kasih atas restu yang kamu berikan calon Kakak Ipar." ketiga pria itu terkekeh bersama sambil menikmati cemilan yang sudah dibuka oleh Zaid.
"Sama-sama Adik Ipar" jawab Reza guyon. Ketiganya mengobrol asyik mengingat masa lalu yang pernah dilalui ketiganya bersama saat masih di Sekolah Dasar.
"Apa kalian ada yang mengetahui kabar dari sahabat kita yang bernama Mutia ?"