Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Minta Maaf



"Dek" panggil Reza setelah memperhatikan Adiknya hanya diam menatap keluar jendela selama perjalanan.


"Iya ?" Billa tetap menatap keluar jendela tak ingin wajah sendunya terlihat oleh Kakaknya.


"Kamu belum bisa memaafkan Dita ?" Billa mulai menoleh kearah Kakaknya dengan senyuman dipaksakan. Gadis itu tidak menjawab pertanyaan dari Kakaknya melainkan hanya mengangkat kedua bahunya seperti tidak minat untuk membahas wanita yang tadi dijumpainya.


Reza memilih diam lantaran faham, Adiknya tidak ingin membahas jauh tentang perempuan yang sempat berta'aruf dengannya. Sebenarnya bukan hanya soal perempuan yang sempat berta'aruf dengan Kakaknya Billa terlihat mendung, melainkan sosok laki-laki tampan yang sudah hampir satu tahun dilupakannya, kini bisa bertatapan langsung dengannya, walaupun hanya sebentar.


'Astaghfirullah' ucapnya dalam hati saat mengingat kembali sosok laki-laki yang dulu ada dihatinya. Billa memilih tidur selama perjalanan untuk menenangkan pikirannya sebelum sampai dirumahnya.


Sementara itu didalam sebuah mobil mewah,nampak seorang perempuan sedang mengeluarkan emosinya kepada lawan bicaranya, gadis itu begitu kesal lantaran pria disampingnya itu selalu dingin bahkan tidak mempedulikannya sama sekali.


"Kamu kenapa sih ! selama ini aku udah sabar banget sama kamu. Sudah satu tahun setengah kita pacaran, tapi kamu tetep gak berubah! turunin aku disini. Lebih baik aku pulang sendiri daripada satu mobil sama kulkas kaya kamu!" teriak Dita tidak tahan lagi oleh sikap Syafik.


Ya, selama pria itu tidak berhubungan lagi dengan Billa. Syafik memang masih berpacaran dengan Dita, namun pria itu selalu bersikap dingin dan cuek dengannya. Baik saat bertemu langsung maupun ketika keduanya LDR karena Syafik masih menempuh pendidikan di kampusnya yang sangat dibatasi alat Komunikasi.


"Baiklah" Syafik segera menghentikan mobilnya mendadak tepat di pinggir jalan. Dita yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh saat memintanya dibuat tak percaya dengan tindakan pria yang selama ini menjadi kekasihnya. Tepatnya kekasih cadangan.


"Syafik! kau tega kepadaku menurunkan aku seperti ini, Kau!" terlanjur kesal dengan sikap pria dihadapannya. Gadis itu segera keluar dari mobil mewah Syafik dan membanting pintunya cukup keras. Tidak peduli lagi nantinya akan pulang seperti apa, daripada semakin emosi lebih baik menjauh sejenak untuk menenangkan pikirannya.


"Jika bukan karena kamu memiliki segalanya, aku tidak akan mempertahankan hubungan seperti ini. Cuih!" ucap Dita setelah mobil Syafik menjauh dari penglihatannya. Sementara Syafik, pria itu sudah tidak peduli lagi dengan perempuan yang dulunya begitu anggun dan sangat lemah lembut. Sikapnya yang begitu lembut membuatnya begitu terpesona walaupun dirinya saat itu tengah menjalin hubungan dengan Billa. Namun seiring berjalannya waktu, Dita semakin menuntut serta kasar dalam menghadapi masalah. Dita bahkan tidak segan bersuara tinggi dan membentaknya terang-terangan. Hal itulah yang membuat Syafik berubah menjadi cuek dan dingin terhadapnya. Disisi lain, pria itu begitu menyesali atas kebodohannya dulu saat mengkhianati Billa yang begitu tulus menunggunya.


"Annisa Habibillah Hawaari"gumam syafik lirih menyesali segalanya saat ini. Pria itu kini tengah mendapatkan jatah libur selama satu pekan setelah menjalani ujian akhir semesternya. Syafik tengah memanfaatkan waktu liburnya untuk pulang ke kampung halaman dan mengunjungi pacarnya Dita. Jika di kampus umum seperti milik Billa tengah menyelesaikan KKN maka lain dengan kampus Syafik yang notabenenya Seperti pondok pesantren.


Tepat adzan Dzuhur berkumandang, Billa dan Kakaknya sampai di rumahnya yang sudah ramai kerabat dekat lantaran mempersiapkan acara pernikahan Billa yang akan dilangsungkan dirumahnya. Gadis itu memasuki kamarnya setelah bersalaman dan mengobrol sejenak menyapa saudaranya dan juga kedua orangtuanya.


"Huft.." Billa melangkah memasuki kamar mandi guna membersihkan tubuhnya yang lengket setelah melakukan perjalanan. Gadis itu segera mandi dan berganti pakaian yang nyaman untuk beristirahat. Jika teman-temannya mungkin sudah tidur sejak beberapa jam lalu, lain dengan Billa. Gadis itu memutuskan untuk mengunci pintu kamarnya dan segera tidur setelah melaksanakan empat rakaat sholat Dzuhur sebagai kewajiban seorang muslim.


"Assalamualaikum" ucapnya langsung tanpa melihat nomor dari yang menghubunginya.


"Waalaikumussalam" Gadis itu langsung membuka kedua matanya lebar saat mengenali suara berat milik Syafik. Sungguh, Billa tidak menyangka. Dari sekian lama tidak bertukar kabar, pria itu nekat menghubunginya lantaran hanya karena bertemu saat makan di restoran tadi. Billa tetap menutup mulutnya rapat, menenangkan hatinya yang mulai gelisah dengan apa yang dilakukannya saat ini.


"Aku tahu kamu marah padaku karena perbuatan yang telah aku lakukan padamu dulu. Aku minta maaf untuk segalanya Annisa." Billa menahan napasnya saat pria yang dulu begitu diharapkannya kini menyesali perbuatannya langsung melalui seluler.


"Hm" hanya itu yang Billa bisa lalukan. Gadis itu tidak tahu harus bagaimana lagi menyikapinya. Keduanya hanya terdiam beberapa menit lantaran bingung harus bagaimana memulai untuk memperbaiki segalanya.


"Bagaimana kabarmu ?" ucap Syafik pada akhirnya untuk mengawali percakapan setelah keduanya sama-sama diam tanpa obrolan apapun.


"Baik" Gadis itu sebenarnya sangat ketakutan, lantaran masih tetap membiarkan ponselnya terhubung dengan pria yang jelas tidak ada lagi hubungan apapun. Melakukan sambungan kepada calonnya saja Billa jarang dan bahkan bisa dihitung dengan jarinya.


"Bisakah kita bertemu sekali saja untuk aku meminta maaf kepadamu secara langsung ?" Billa menjauhkan ponselnya dari telinganya dan mengatur napasnya untuk lebih tenang. Tidak dipungkiri, gadis itu begitu shock dengan ajakan Syafik yang memang tidak pernah basa basi dalam bertutur kata. Sedikit banyak Billa memang begitu hafal dengan sikap pria yang dulu pernah dekat dengannya selama hampir dua tahun lamanya.


"Maaf" Syafik menghela napasnya pelan dan mencoba menerima tanggapan dari gadis yang masih begitu dicintainya. Syafik sadar, jika perbuatannya itu bukanlah perbuatan yang bisa langsung dimaafkan begitu saja. Seharusnya, pria itu berfikir dahulu sebelum berbicara.


"Baiklah, aku paham. Sekali lagi maaf, aku -" Syafik meneliti ponselnya saat terdengar suara panggilannya terputus oleh Billa. Pria itu mengusap kasar wajahnya lantaran benar dugaannya, Billa telah mematikan sambungannya tanpa mau mendengarkan apa yang ingin diucapkannya.


"Kamu tidak pernah berubah. Tegas dan selalu membuatku mati kutu dengan segala sikapmu" Ujarnya lirih mengamati sebuah foto yang masih tersimpan rapih di ponselnya.


Billa menghela napasnya lega setelah mematikan ponselnya tanpa permisi maupun mendengarkan ucapan Syafik. Gadis itu sadar, dirinya kini bukanlah seorang wanita yang belum memiliki calon. Bahkan hari yang penting baginya akan segera datang kurang lebih enam hari lagi.


Billa tidak peduli, bagaimana Syafik menganggapnya saat ini. Memutuskan sambungan sepihak bahkan tanpa pamit dan permisi. Toh memang keduanya sudah tidak memiliki hubungan apapun.


Gadis itu memilih mematikan ponselnya lalu kembali merebahkan tubuhnya yang memang sangat letih dan begitu merindukan tidur yang nyaman.