Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Kegiatan



Zafran pamit untuk kembali ke kamar, pemuda itu tidak langsung tidur justru berjalan ke arah balkon dan menatap langit. 'Ya Rabb yang membolak balikan hati manusia, tetapkan hati ini kepada pilihanmu yang tepat, aku berserah diri atas segala kemungkinan yang akan terjadi kelak.' Batinnya memohon. Sudah Zafran putuskan untuk menemui Billa besok, karena dia yakin Billa pasti sekarang sudah tidur.


*


Sementara di tempat lain, Syafik dan Rahman baru saja menyelesaikan kelas malam yang di isi oleh Syeikh asal Madinah yang terhubung melalui proyektor yang di fasilitasi oleh kampus mereka. Kampus yang berbasis seperti pesantren ini telah banyak mencetak para da'i yang handal untuk dikirim ke pelosok negeri guna menyebar luaskan syariat Islam. Sebenarnya syafik memiliki mimpi yang besar untuk bisa ikut andil dalam menyebar luaskan syariat seperti para kakak tingkatnya yang sudah di utus oleh kampus. Tetapi niat itu di urungkan kembali ketika mengingat satu nama yang sudah satu tahun selalu ada di hatinya.


"Jum'at pekan depan insyaallah ada jadwal untuk menelfon, siapa gerangan yang akan kamu telfon ?"


"Billa, aku menunggu jawabannya. "


"Aku harap jawaban itu membuatmu semangat dalam menuntut ilmu disini bung"


Syafik tidak menjawab ucapan Rahman, dia hanya tersenyum dan menepuk pundak sahabatnya.


"Bagaimana dengan Ara ?"


"Aku tidak tahu, dia kan di kampus putri. Aku berharap dia mau menungguku dan tidak menerima laki-laki mana pun yang mencoba meminangnya."


"Semoga harapan kita di dengar oleh sang pemilik hati, sebenarnya hanya pemilik ruh dan jiwa yang mampu membuat keinginan kita terkabul. Maka yang harus kita kencangkan adalah do'a kita atas harapan itu" ujar syafik sembari melangkah masuk ke dalam kamar.


Rahman membututi temannya itu dan meletakan pena dan kitab yang tadi di bawa saat belajar malam.


"Nanti malam ada hafalan yang harus kita kejar, seperti biasa bagaimana kalau kita menghafal di masjid" ucap Rahman menatap temannya yang sedang melepas baju atasannya dan mengganti dengan kaos untuk tidur. Syafik hanya mengangguk dan beranjak naik ke ranjang atas.


Rahman dan syafik satu asrama, ranjang mereka bahkan ranjang tingkat. Rahman memilih memakai ranjang bawah sedangkan syafik memilih di atas. Dikamar itu tidak hanya mereka berdua melainkan ada teman lainnya yang juga menempati kamar itu. Satu kamar asrama di tempati oleh enam orang mahasiswa berbeda jurusan. Tidak ada yang memegang ponsel satupun, kalau sampai ketahuan menyembunyikan benda pipih kesayangan sejuta umat itu, maka tidak ada toleransi untuk menghukum mahasiswa tersebut dengan hukuman DO. Bahkan mereka semua harus menstabilkan nilai agar nilai mata kuliah yang di ambil memenuhi standar yang berlaku di kampus tersebut, jika sampai tidak memenuhi syarat, maka kampus akan mengumumkan nama mahasiswa yang remedial dan mengulang ujian. Hanya satu kali kesempatan untuk memperbaiki nilai, jika masih gagal tidak memenuhi syarat maka hukuman DO pun berlaku untuk mereka. Tidak heran banyak mahasiswa yang mati-matian menghafal dan belajar tengah malam mengulang materi yang di sampaikan para syeikhoh yang mengajar langsung dari negara timur tengah. Hampir seluruh mahasiswa selepas melaksanakan sholat tahajud mereka tidak melanjutkan tidur nya, mereka justru berbondong-bondong pergi ke tempat yang menurut mereka nyaman dan tenang untuk mengulas materi dan menghafal hafalan yang sedang di pelajari. Sungguh apabila telah merasakan manisnya ilmu dia akan merasakan haus yang tiada henti dalam menuntut ilmu. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin dirinya merendah dan sangat kecil. Bagaikan padi yang sudah siap panen dia merendah bukan berdiri tegak seperti orang yang sombong.


***


Pada sebuah kamar kecil yang nyaman, seorang gadis tengah khusyuk dengan balutan mukena dan bersenandung bacaan mushaf yang sedang dia dekap dan menunduk penuh dengan penghayatan. Billa mengulang kembali apa yang sudah dia hafalkan di pondoknya. Gadis itu tidak merasakan kantuknya kembali setelah melaksanakan dua rakaat tahajud dan satu rakaat witirnya. Sambil menunggu waktu subuh, dia gunakan untuk mengulang hafalan.


.


.


Ding.


"Zafran, kamu apa kabar ?"


Sebuah pesan masuk yang langsung di baca oleh pemilik handphone itu membuatnya mengernyitkan dahi dan mengecek siapa yang mengiriminya pesan di waktu hampir subuh ini. Pria itu mengecek nomor dan dilihatnya profil wa yang menunjukan seorang wanita muslimah begitu anggun nan cantik. 'Astaghfirullah' batinnya. Pria itu tidak membalasnya, melainkan langsung memblokir nomor wanita tersebut.


"Mau apa lagi dia, seharusnya malu menghubungiku setelah pergi tanpa sebuah penjelasan. Kemana urat malunya" ucapnya menggebu.


.


Pagi datang, hari ini Billa memiliki dua mata kuliah. Sejak subuh tadi dia sudah memiliki janji dengan Ratna untuk mengerjakan tugas kuliahnya membuat makalah di perpus pusat. Mereka sengaja mengerjakan di sana karena langsung bisa mengambil buku rujukan yang melimpah di perpus itu. Setelah mengikuti mata kuliah pertama selama kurang lebih sembilan puluh menit itu, keduanya langsung keluar kelas dan berjalan menuju perpus.


"Besok lusa kamu yang maju presentasi di mata kuliah psikologi anak ya ?"


"Hem, sudah lama banget aku ngerjain makalah itu tapi kelompokku maju terakhir terus" ujar Billa.


"Gak papa asal mau ngerjain bareng aja, jadi faham semua. Gak kaya kelompok ku pada masa bodoh akhirnya yang bisa jelasin aku doang boo" jawab Ratna menggerutu sepanjang jalan.


"Untung mata kuliah ini kita satu kelompok, jadi enak kan ngerjainnya bareng-bareng"


Keduanya sudah duduk di meja perpus dan mulai mengeluarkan laptop yang sudah di siapkan dari kosan. Billa lantas mencari buku rujukan untuk mulai mengerjakan tugas makalah yang sudah menantinya.


"Rat, kamu mending disini aja, jagain laptopnya nanti gantian nyari bukunya" Ratna tidak menjawab melainkan menganggukkan kepala dan mengacungkan jempol satu untuk menjawab Billa. Ratna dan Billa masih semester awal, mahasiswa baru lagi aktif-aktifnya mengerjakan tugas dari dosen. Mulai mengerjakan berbagai makalah dari mata kuliah berbeda-beda yang di bagi untuk setiap sub nya. Ada yang dikerjakan sebagai tugas mandiri dan banyak juga yang di kerjakan harus berkelompok. Billa yang sebenarnya bukan dari sekolah umum membuatnya sedikit harus belajar ektra untuk mencoba mengimbangi tugas yang di terimanya. Saat keduanya sedang sibuk masing-masing dengan Billa yang mendekte buku yang menjadi sumber teori dan Ratna yang mengetik di laptop, tiba-tiba seorang pemuda duduk di hadapan mereka sambil meletakan laptopnya juga dan tersenyum ke arah Billa.


*


"Maaf menggangu waktu kalian, aku ingin berbicara denganmu sebentar boleh?"