Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
CV



Billa dan Rere berjalan santai sambil menenteng sebuah plastik yang berisi sarapan masing-masing. Keduanya memutuskan untuk memilih nasi uduk sebagai sarapan pagi kali ini.


"Ada kuliah enggak ?" tanya Rere setelah membuka gerbang kosan untuk masuk kedalam.


"Ada, tapi siang. Kamu ?"


"Tidak ada, tapi tugas numpuk." Billa tersenyum tipis mendengar jawaban teman kosannya itu. Billa yakin semua Mahasiswa pasti pernah merasakan posisi tugas yang begitu mengantri untuk dikerjakan. Semester lima ini puncaknya tugas menumpuk bahkan sering sekali mengerjakan dengan sistem kebut semalam. Tak jarang lingkaran hitam mengelilingi area mata pasti terjadi pada Mahasiswa yang kurang tidur karena lembur atau persiapan kuis.


.


Ding.


Sebuah notice masuk pada handphone milik Billa. Namun karena ponselnya tertinggal di kamar, Billa tidak mengetahuinya. Gadis itu tentu saja sedang menyantap sarapannya di ruang tv bersama temannya Rere. Usai menyelesaikan sarapan Billa tidak langsung balik ke kamar melainkan mengobrol ria bersama teman-temannya yang memiliki jadwal kuliah siang. Hampir satu jam gadis itu tidak beranjak dari ruangan heboh itu. Hingga merasakan sesuatu pada perutnya yang kurang nyaman, gadis itu memutuskan untuk kembali ke kamar dan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Cukup lama Billa berada dalam kamar mandi, gadis itu lama lantaran sakit perut dan mandi setelahnya.


"Astaghfirullah...!, haduh gimana ini. Mana sudah satu jam yang lalu pesannya." Ucap Billa sambil berjalan mondar-mandir di kamarnya yang berukuran sedang itu. Gadis itu baru saja keluar dari kamar mandi. Saat ingin berganti pakaian rumahan yang nyaman justru netranya melihat handphone nya yang tergeletak di atas kasur membuatnya ingin mengecek sebentar. Dan benar dugaannya, ternyata Dosen Mentopennya itu sudah mengiriminya pesan satu jam yang lalu.


"Bagaimana ini, aku harus membalas apa!" ujarnya kesal karena meninggalkan handphone nya di kamar selama itu.


{Assalamualaikum, ada yang ingin saya bicarakan serius. Apa hari ini ada kuliah pagi ?"}~Dosen Ricky Mentopen. Billa membaca sekali lagi pesan yang terkirim oleh Dosen tampannya itu. Gadis itu mencoba menarik dan membuang nafasnya secara teratur, mencari rasa nyaman untuk berfikir jernih sebelum membalas pesan dari dosennya itu.


{"Waalaikumussalam, Maaf Bapak. Saya hari ini hanya ada kelas siang. -} Billa sedang mengetik dan menghapus tulisan balasan untuk dosennya itu, Dia bahkan melakukannya berulang-ulang. Billa benar-benar tidak mengerti harus membalas apa. Akhirnya gadis itu putuskan untuk berganti pakaian yang lebih nyaman terlebih dahulu. Di bacanya kembali pesan dari Dosennya yang sudah berlalu satu jam lebih itu. Hingga tangan lentiknya ingin mengetik balasan dia dikagetkan dengan pesan yang juga baru masuk pada ponselnya.


"Astaghfirullah..," Ucapnya spontan. Billa kembali membaca pesan dari Dosennya dengan perasaan yang tidak enak.


{"Periksa Email dari saya sekarang,berikan jawabanmu setelah berfikir dengan jernih. Tidak perlu terburu-buru."} ~Dosen Ricky Mentopen. Billa segera membalas pesan yang sudah di bacanya dengan teliti itu.


{"Baik Pak"}~ Sekertaris Kelas A prodi Paud. Billa segera membuka laptopnya dengan perasaan yang tidak bisa di artikan. Gadis itu benar-benar takut dirinya melakukan kesalahan yang fatal. Tidak ada badai dan hujan tiba-tiba Dosennya mengirim pesan, padahal mata kuliahnya masih pekan depan. Gadis itu bersabar sambil menarik nafasnya secara teratur saat email yang dikirimkan berusaha untuk di baca tetapi loading karena masalah jaringan.


Gadis itu menggigit kecil bibir bawahnya dengan perasaan tak karuan saat mulai memahami isi dari file yang dikirimkan oleh Dosennya itu. Billa menelan salivanya dengan susah ketika melihat pesan pada halaman terakhir yang terdapat di layar laptopnya. Tangannya terulur menutup laptopnya secara spontan dengan nafas masih tidak beraturan. Kedua tangannya bergetar merasakan hawa yang dingin pada tubuhnya dengan kepala yang terasa berdenyut tak tertahan.


"Astaghfirullah.." ucapnya lirih sambil mencoba beranjak menjauh dari meja belajarnya, berjalan mendekat kearah ranjang dengan kedua tangannya memegang kepalanya yang nyut-nyutan sakit sekali. Billa mencoba memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya mencari ketenangan. Tanpa sadar, air matanya keluar menandakan betapa sedih dirinya saat ini. Gadis itu meringkuk dalam diam, perasaan yang lama bahkan belum musnah sepenuhnya, luka yang dirasa belum sembuh secara menyeluruh. Bayangan Syafik jelas masih nyata dipikirannya saat sedang sendiri.


"Ya Rabb... Kenapa engkau hadirkan kembali hal seperti ini padaku sekarang" ucapnya lirih sambil menangis sendu, matanya yang sembab karena lelah menangis membuatnya mengantuk dan tertidur pulas tanpa mengatur jam alarm sebelumnya.


.


Sementara itu seorang pria dewasa saat ini tengah gundah gelisah berjalan kesana-kemari dengan satu tangan dimasukan pada kantung celananya dan satunya memegang ponsel sambil diputar-putar oleh jarinya dengan lincah. Hal ini sudah menjadi kebiasaan Ricky ketika sedang gelisah. Tangannya akan reflek untuk memainkan benda apapun pada jarinya.


"Apa dia sudah membacanya ?" ucapnya lirih pada dirinya sendiri. Laki-laki tampan itu segera menghidupkan komputer yang terletak di meja kerjanya. Tangannya bergerak lincah membuka email pribadinya untuk mengecek status Email-nya.


"Alhamdulillah, sudah di baca." Ujarnya tersenyum lega sambil memainkan pulpen yang terletak diatas mejanya.


.


Billa terbangun saat mendengar suara tawa teman-teman kosannya yang sedang mengobrol asyik di ruang tv samping kamarnya. Gadis itu segera beranjak duduk dan mengusap wajahnya dengan kasar. Kepalanya yang terasa sakit sudah lumayan membaik. Dilihatnya jam weker yang berada di samping ranjang yang berukuran sedang itu menunjukan pukul dua belas lewat tiga puluh lima menit. Membuat Billa reflek berlari ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berwudhu.


"Astaghfirullah aku ketiduran, mana mepet banget waktunya. Haduh, sempet enggak ya siap-siap buat ke kampus." Ucapnya panik sambil menggelar sajadahnya untuk sholat. Usai melaksanakan kewajiban setiap muslim, Billa segera mengganti pakaiannya untuk pergi ke kampus. Ponselnya berdering keras membuat Billa kewalahan sendiri dibuatnya.


"Billa, Kamu dimana ? Kenapa belum datang. Sebentar lagi Dosen masuk" tanya Ratna panik karena Billa belum sampai di kelas padahal beberapa menit lagi Dosen akan masuk. Sementara dirinya harus menyiapkan absen jika sekertaris tidak masuk. Ratna sudah mewanti-wanti kepada teman dekatnya, jika tidak masuk harus memberi kabar terlebih dahulu supaya dirinya bisa mengambil Absen yang dipegang oleh Billa.


"Aku baru mau otw, semoga saja Pak Doni agak telat masuknya. Aku ketiduran Rat."Ucapnya sambil mengunci kamar kosannya.


"Baiklah, Hati-hati" Billa segera menutup ponselnya dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.