Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Terima Kasih



Billa keluar dari kamarnya, karena merasa sangat haus setelah tadi beraktivitas di dapur bersama asisten rumah tangganya. Gadis itu tidak mengetahui kalau tamunya sedang makan diruang makan. Kamar Billa berada di ruang tengah dekat ruang Televisi dan kamar Abangnya. Saat dirinya sedang mandi dikamar mandi milik kamarnya, dia tidak mendengar para tamu berjalan melewati ruangan tengah untuk menuju keruang makan. Dengan mata yang masih tertuju pada ponselnya, gadis itu tetap melenggang berjalan menuju ruang makan.


"Billa, perhatikan jalannya." Ucap Buya Rehan mengingatkan.


"Iy-..." langkahnya langsung terhenti saat melihat dihadapannya sudah banyak mata memandangnya dengan tatapan berbeda. Ada yang tersenyum, ada yang datar tanpa ekspresi dan tentu saja ada yang begitu menantikan kemunculannya sedari tadi. Gadis itu langsung berbalik arah dan berjalan cepat menuju kamarnya. Rasanya sangat malu dan jengkel dengan dirinya sendiri.


"Ehem', sudah masuk ke kamar. Masih saja dipantau." Celetuk Reza mengingatkan. Zaid terkekeh seru melihat sahabatnya begitu kikuk saat kepergok masih memperhatikan calonnya itu.


Ricky tersenyum canggung kepada kedua calon mertuanya saat netranya bertatapan dengan Ibu dan Ayah dari gadisnya.


"Terima kasih atas jamuannya Pak, masakan Ibu Billa sangatlah lezat. Persis sekali dengan Ibu saya." Ucap Ricky begitu tulus merasakan makanan yang tersaji dihadapannya.


"Sama-sama Nak, semoga kamu tidak kapok mencoba masakan Ibu" Jawab Buya Rehan mewakili Umma yang kini tersenyum ramah menatap calon menantunya.


"Artinya, niat kami silaturahim dengan Ibu dan Ayah dari Mbak Billa diterima ya Pak., Bu..', saya akan menyampaikan kabar baik ini kepada wali sah dari sahabat saya. Insyaallah kelanjutan prosesnya akan kami kabari secepatnya. Semoga Allah memudahkan niat kita semua." Ucap Zaid mewakili pihak Ricky dalam silaturahim tahap perkenalan.


"Alhamdulillah kami sangat senang dengan silaturahim kalian hari ini, benar Nak. Niat saudara Ricky kami terima dengan senang hati. Kami akan menunggu kedatangan wali sah dari Nak Ricky agar tali silaturahim yang akan terjalin ini semakin kuat dan saling mengenal." Papar Buya dengan gamblang. Ricky menghela napasnya lega begitu mendengar inti dari niatnya diterima dengan senang hati. Pria itu begitu bahagia ditambah bonus bisa melihat gadisnya walaupun hanya sekilas.


"Terima kasih banyak sebelumnya Pak, Bu, Insyaallah saya akan berusaha untuk menjaga komitmen yang telah jatuh saat niat ini terselip dalam hati saya. Sebelumnya, mohon maaf Pak, apa boleh saya berpamitan dengan Dek Billa sebelum saya pulang. Insyaallah tidak akan lama, saya hanya butuh waktu lima menit untuk menyampaikan sesuatu." Tutur Ricky yang langsung mendapat sorotan mengejek dari sahabatnya Reza.


"Modus banget anak satu ini. Untung kawan dekat," celetuk Reza sengaja yang langsung mendapat cubitan dari Ibunya.


"Tidak apa Nak, Ibu akan panggilkan putri Ibu didalam, kalian bisa bertemu di teras depan." Ricky mengangguk mengerti dan mulai pamit beranjak keluar. Sementara yang lainnya masih di ruang makan melanjutkan obrolan yang begitu nyambung.


"Billa..., boleh Umma masuk ?" ucap Umma setelah mengetuk kamar gadisnya beberapa kali. Billa beranjak membuka pintu dan mengizinkan Ibunya masuk kedalam kamarnya.


"Ada apa Umma.., bukankah masih ada tamu diruang makan ?" tanya Billa heran melihat Ummanya justru menghampirinya dikamar.


"Iya Nak, mereka akan pamit pulang sebentar lagi. Nak Ricky ingin bertemu sebentar denganmu diluar. Temui dia sebentar habis itu bantu Umma dan Mbok Arum di dapur ya.." Billa sempat kaget mendengar penuturan Ibunya. Gadis itu heran lantaran kenapa keluarganya membolehkannya bertemu padahal belum mahram.


"Umma, apa Umma yakin mengizinkan aku bertemu dengan Pak Ricky diluar ?" tanya Billa memastikan.


"Apa Bang Reza menyetujui tentang niatku Umma ?" tanya Billa penuh dengan penasaran. Gadis itu begitu deg-degan saat mengetahui Abangnya ternyata benar-benar pulang saat dirinya memberitahu Calonnya akan datang ke rumah.


"Iya sayang. Mereka teman dekat. Jadi mana mungkin Abangmu menolak Nak Ricky." Ujar Umma seraya menyentuh lembut mahkota putrinya. "Sekarang, temui dia didepan, dia pasti sudah menunggumu dari tadi." Billa mengangguk dan memakai kembali jilbab panjangnya yang sempat dilepas.


"Assalamualaikum" ucap Billa malu saat mengetahui ternyata hanya Dosennya sendirian tanpa Kakaknya dan teman Dosennya seperti yang dikatakan Ibunya. Ricky langsung menoleh dan menatap canggung gadisnya yang sudah berdiri didepan pintu masuk rumahnya.


"Waalaikumussalam Dek, Alhamdulillah niatku diterima baik oleh keluargamu. Hari ini adalah hari terakhir kita berkomunikasi langsung. Kedepannya, kita hanya akan berkomunikasi lewat perantara proses kita. Abangmu yang akan menjadi wasilah proses kita kedepannya sampai ijab qobul terucap dari lisanku." Ungkap Ricky gamblang tanpa basa basi dengan sesekali mencuri pandangan milik gadisnya yang masih setia menunduk malu.


"Alhamdulillah, terima kasih sudah datang berkunjung Pak. Dengan izin Allah semoga niat baik kita selalu dalam lindungan Allah." Jawabnya singkat mencoba menatap wajah pria dewasa dihadapannya yang kini juga menatapnya canggung.


"Aamiin, sekali lagi terima kasih telah memilihku untuk menjadi Imam di keluarga kecil kita nanti. Jaga dirimu baik-baik. Selamat menempuh kuliah kerja nyata. Dan terutama, jaga hatimu. Insyaallah dalam waktu dekat aku dan keluargaku akan datang lagi untuk melanjutkan proses kita ketahap Khitbah" Billa mengangguk kecil mengerti dengan segala ucapan pria dihadapannya.


"Baik Pak," ucapnya singkat yang langsung ditertawakan oleh Abangnya Reza dan temannya saat keduanya sudah berada didekat pintu keluar.


"Waktu sudah habis. Percakapan dilanjutkan nanti saat sudah halal." Celoteh Reza semangat mengerjai sahabatnya yang kini terlihat malu karena ucapannya didengar oleh kedua sahabatnya.


"Baiklah, Saya pamit pulang. Jaga dirimu baik-baik Dek." Ucapnya sekali lagi menatap gadisnya yang juga sedang menatapnya. Billa tersenyum lembut sembari pamit masuk kedalam membantu Ibu dan Asistennya membereskan sisa makan.


"Terima kasih sekali lagi Pak, secepatnya keluarga saya akan datang berkunjung ke rumah ini lagi. Sampaikan salam dan terima kasih saya lagi kepada Ibu didalam. Semoga Allah memberikan nikmat sehat dan juga nikmat lainnya kedepannya." Buya tersenyum ramah mendengar ucapan calon menantunya. Tak salah pilih tentunya, pria dewasa itu memang cukup memberikan nilai plus di mata Ayah dan Ibu Billa.


"Iya Nak, sama-sama. Begitupun sebaliknya, semoga kamu dan keluargamu selalu dalam perlindungan Allah." Balas Buya Rehan tulus lalu memeluk calon menantunya dengan erat.


"Kami pamit Pak, Assalamualaikum" ucap Ricky lembut seraya mencium tangan calon mertuanya dengan takzim. Lalu beralih kepada sahabatnya yang kini nampak tersenyum ramah menyambutnya. Keduanya berpelukan erat serta saling menepuk pundak.


"Terima kasih karena sudah memberikan aku kesempatan untuk menjadi bagian dari keluargamu." Ucap Ricky terharu.


"Terima kasih juga karena telah datang ke rumahku dengan niat baik ini. Aku sangat bersyukur" balas Reza yang langsung membuat keduanya semakin erat dalam memeluk.


"Hey, apa tidak ada yang mau mengajakku berpelukan ?" tanya Zaid yang sejak tadi hanya menyimak dan melihat pemandangan dihadapannya begitu harmonis.