
Ding
{"Tolong rekap Nama dan NPM kelas kalian, kirimkan filenya melalui email saya. Saya tunggu secepatnya"}~Pak Ricky Mentopen
{"Baik Pak"}~
Billa menghela nafasnya pelan setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Dosen Mentopen yang sudah mengajarnya kurang lebih satu bulan. Gadis itu segera membuka laptopnya dan mengirimkan file yang diminta oleh Dosennya.
{"Karena kamu sudah menyetorkan hafalan yang kamu punya pada juz tiga puluh. Saya sudah memutuskan untuk memberi nilai A pada mata kuliah ini"}~
Billa tersenyum senang ketika membaca pesan kedua yang di kirim oleh Dosen kalemnya itu.
{"Terima kasih Pak}~
Billa telah menyetorkan hafalan Qur'an pada juz tiga puluh secara full alias menyeluruh kepada Dosennya, saat beliau memerintahkan Mahasiswinya yang mempunyai hafalan untuk maju ke depan menambah nilai. Awalnya gadis itu ragu untuk memulai, tetapi Billa berfikir kenapa harus malu pada hafalan. Sedangkan justru hafalannya yang menolong nilainya agar mendapat nilai bagus. Benar kata Allah, jika kalian menolong Agamaku. Maka akan aku tolong urusan duniamu.
Tidak ada rasa malu sedikitpun yang gadis itu rasakan saat Billa mulai melantunkan surat demi surat yang terdapat pada juz tiga puluh dengan lancar dan suara yang merdu. Gadis itu duduk dengan tenang sembari melafalkan bacaannya dengan khusyuk. Bahkan Billa tidak sadar ketika seseorang yang sudah menjaga pandangan nya mulai menatap lekat beberapa detik dengan tatapan yang sulit di artikan.
Billa merebahkan tubuh mungilnya pada ranjang kesayangannya dengan minat. Tubuhnya yang lelah dengan aktivitas seharian di kampus ditambah banyak tugas yang sudah harus di kejar membuatnya benar-benar sibuk menatap laptop nya sesudah menunaikan sholat isya.
Ding.
{"Bill, maaf mengganggu waktumu malam-malam, tadi Pak Ricky menghubungiku. Mulai pekan depan setoran hafalan teman-teman sekelas yang ingin menambah, disetorkan melalui kamu saja. Kamu cukup mencatat nya dan berikan laporannya melalui email kepada Pak Ricky. }~Ratna.
Billa menghela nafasnya kasar ketika sudah membaca pesan teman dekatnya itu. Gadis itu matanya sudah mau terlelap,namun karena suara notice dirinya tak sampai hati mengabaikan pesan yang mungkin penting dan genting.
{"Baiklah"}~
Terlalu malas mengetik, gadis itu benar-benar terlelap usai membalas pesan temannya.
.
"Annisa Habibillah Hawaari, sepertinya dia dari Pondok. Hafalannya bagus, suaranya merdu, makhroj bacaannya pun baik."Ucap Seorang pria dewasa yang sedang memeriksa tumpukan hasil kuis dimeja kerjanya yang terletak di samping kamar luasnya saat ini. Sebuah lembaran kertas hasil dari tulisan seorang perempuan yang sudah mencuri perhatian nya kini sedang di periksa dengan teliti. Penanya bergerak lincah mencoret dan memberi nilai setelah memeriksa kuis yang diberikan.
Ricky adalah seorang Dosen yang sudah lama mengajar di kampusnya sendiri. Orangtuanya adalah pemilik dari kampus yang sedang Dia tekuni sekarang. Kedua orangtuanya adalah Profesor dan guru besar di kampusnya itu. Darah mengajarnya mengalir dari kedua orangtuanya sejak dulu. Ricky memang bukan dari pesantren tetapi lingkungan pergaulan nya yang agamis menjadikannya ikut tertular religius.
"Memangnya ada batasan untuk mengajar Yah" jawab Ricky kembali memeriksa lembaran tugas milik Mahasiswanya.
"Tidak ada batasan, masih ingat umur kan Ky" tanya Ayah menyindir seraya mengambil posisi duduk disofa yang terletak di sudut ruangan kerja milik anak tunggalnya itu. Ricky menghela napasnya sebagai jawaban atas pertanyaan Ayahnya. Berulang kali kedua orangtuanya berusaha menjodohkan dirinya dan membujuk anaknya segera menikah namun Ricky belum mau untuk melangkah ke arah itu.
"Kamu tidak malu sama teman dekat mu Zaid ?, dia saja sudah menikah. Ayah membebaskanmu dalam memilih pasangan yang menurutmu cocok untuk menjadi ibu dari anak-anakmu. Menikahlah Ricky, umurmu bahkan sudah bujang tua" ucapan Ayahnya itu sukses membuat pria yang sudah berusia dua puluh sembilan tahun itu menoleh ke arah Ayahnya dengan raut kesal.
"Aku akan menikah, tenanglah. Memangnya mencari calon istri itu sama dengan memilih buah dipasar." Jawab Ricky jengkel.
"Baiklah, Ayah tunggu kabar baik itu." Ucap Ayah Roby sambil berlalu keluar dari ruangan anaknya. Sebenarnya Ricky bisa saja memilih wanita yang sesuai dengan keinginannya dengan berbagai CV yang sudah Dia terima dari banyak kenalan dan teman yang merekomendasikan. Tetapi kesibukan yang padat membuatnya malas untuk mempelajari CV yang sudah masuk kepadanya. Ada satu perempuan yang sudah mencuri perhatiannya beberapa pekan setelah mengajar di kelas baru nya. Pria itu bahkan sering mencuri pandang saat mengajar.
"Astaghfirullah..., apa harus mencoba ta'aruf dengannya ? tapi dia bahkan belum lulus kuliah. Bagaimana ceritanya ini" Ujarnya berdialog sendiri sambil memainkan pulpennya yang sedang diputar-putar oleh jarinya.
.
Pagi datang, gadis yang masih terbalut mukena berwarna pink dusty itu ketiduran di atas sajadah dengan kitab mungil nan suci masih dalam dekapannya. Tadi subuh setelah mengaji Billa mencoba untuk mengulang hafalannya kembali. Tak disangka ternyata Dia tertidur dengan lelap nya. Hingga suara jam weker pemberian sahabatnya Ara berbunyi nyaring sampai membuat si empunya kaget dan reflek mencari keberadaannya. Sayup-sayup matanya mulai terbuka dan bisa melihat jelas cahaya matahari yang mulai memasuki fentilasi udara kamarnya. Gadis itu segera bangun dan mematikan jam wekernya yang terletak di samping ranjangnya.
"Bill, mau ikut cari sarapan apa masak oy ?" teriak Rere kencang sambil mengetuk pintu kamar milik Billa. Billa beranjak membuka pintu dengan mukena masih terbalut di tubuhnya.
"Aku ikut, tunggu dulu mau ganti."Ucapnya sambil berlalu setelah membuka pintu kamarnya. Rere mengernyit heran saat melihat Billa masih memakai mukena tetapi terlihat baru bangun tidur.
"Apa kamu baru sholat atau belum sholat ketiduran pake mukena ?" Billa tersenyum kecil saat mendengar pertanyaan dari teman kosannya itu saat dirinya masih ganti didalam kamar mandi.
"Sudah sholat subuh kok, cuma ketiduran tadi habis sholat" ujarnya sambil menutup pintu kamar mandi. Keduanya keluar bersama mencari sarapan sambil berolahraga ringan jalan kaki santai.
"Sudah di buka belum titipan kadonya ?" tanya Rere sambil terus berjalan santai disamping Billa tanpa menoleh kearah Billa.
"Belum" Ucapnya singkat, membuat Rere menoleh kearah Billa sambil tersenyum penuh arti.
"Kenapa tersenyum seperti itu ?" Rere hanya terus tersenyum tanpa menoleh dan menghiraukan pertanyaan teman kosannya itu. Membuat Billa mencubit kecil tangan milik Rere dengan ringan.
"Buka dong Bill, siapa tau itu penting loh" jawab Rere sambil membalas cubitan kecil pada lengan milik Billa. Keduanya tertawa bersama karena melihat tingkah mereka seperti anak kecil yang sedang bertengkar dan saling membalas.
"Aku penasaran bagaimana Zafran bisa menitipkan kado kepadamu" Rere hanya tersenyum tipis tanpa ingin menjawab pertanyaan teman kosannya itu.