Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Jealous



"Sayang.. Ibu dan Ayah harus segera pulang, kau masih mau disini ?" ucap Ibu Nadia tiba-tiba datang bersama Ayah Roby menghampiri putranya yang terlihat sangat tidak nyaman.


"Aku ikut Bu, bagaimana bisa kita berangkat bersama lalu aku pulang ditinggal." Ucap Ricky tenang lalu menatap sahabatnya Reza yang terlihat tidak rela jika sahabatnya harus segera pulang.


"Nak Reza, selamat menempuh hidup baru. Doa terbaik untuk rumah tanggamu sayang. Maaf karena kami harus pergi sekarang. Insyaallah kita akan bertemu lagi pada momentum sakral lainnya." Cicit Ibu Nadia tersenyum ramah kepada Reza.


"Terima kasih Tante, Om, sudah meluangkan waktu di acara ini. Maaf belum bisa memberikan jamuan yang terbaik untuk Om dan Tante."Ucap Reza merendah membalas senyuman tulus dari kedua orangtua sahabatnya.


"Kamu gak asyik banget sih Ky, giliran kita kumpul gini pulang duluan." Gerutu Zaid menendang kecil sepatu mahal sahabatnya.


"Sorry, sekali lagi selamat atas pernikahanmu brother, semoga Allah selalu menyertai keluargamu Za, aku harus pergi. Doa terbaik selalu menyertai langkah kalian Reza dan Istri." ucap Ricky tulus lalu menatap sekilas perempuan yang sedang mengobrol dengan Ibu kandungnya.


"Terima kasih banyak Ky" Ricky mengangguk lalu melangkah pergi bersama Ayahnya tanpa menatap Mutia bahkan tidak berpamitan dengannya.


"Ibu Nadia, apa anda masih ingin mengobrol dengan calon menantu ?" tanya Ayah Roby saat melihat kebelakang Istrinya masih belum beranjak justru sedang berpelukan hangat dengan Billa.


"Sebenarnya masih pengen ngobrol, apa kita bawa saja Billa. Nanti kita kembalikan saat mau akad ?" seloroh Ibu Nadia tanpa mempedulikan seorang wanita yang kini nampak menunduk sendu.


"Sayang, Ibu pamit ya.. jaga dirimu baik-baik. Ibu sudah tidak sabar untuk memboyong kamu Kerumah Ibu. Sukses untuk KKN nya ya..Ibu pamit. Assalamualaikum" ucap Ibu Nadia memeluk hangat calon menantunya dan segera melangkah melambaikan tangan kepada Billa.


"Waalaikumussalam Tante, hati-hati" ujarnya membalas lambaian tangan dari calon mertuanya.


Mutia menatap lekat Billa yang kini terlihat kembali mengobrol dengan Kakak Iparnya, banyak pertanyaan dalam benaknya yang tidak bisa dia tanyakan langsung saat ini.


"Reza, aku permisi sebentar ingin ke toilet." Reza mengangguk sopan lalu menyuruh Billa untuk menemani teman perempuannya menuju toilet.


"Nama kamu Billa ?" tanya Mutia saat keduanya berjalan bersama menuju kamar mandi.


"Eh iya Kak, maaf sampai lupa belum kenalan." Ujarnya tersenyum lembut.


"Tidak apa-apa, kamu sangat imut dan terlihat masih sangat muda. Apa benar kamu tunangannya Ricky ?" ujarnya berhati-hati menatap gadis yang kini juga menatapnya dengan senyuman manisnya. Billa mengangguk pelan seraya menatap perempuan yang sangat anggun dihadapannya.


"Terima kasih pujiannya Kak, tapi sangat berlebihan. Kakak jauh lebih imut dan sangat cantik."


"Maaf sudah bertanya-tanya kepadamu."


"Tidak apa-apa Kak, bukankah Kakak bersahabat dengan Abang dan Teman-temannya tadi ?" Mutia mengangguk lalu menghentikan langkahnya dan kembali menatap lekat wajah Billa yang terlihat bingung.


"Iya, kami semua bersahabat. Dek, apa aku boleh bertanya serius kepadamu ?" ujarnya hati-hati menghela napasnya pelan mengurangi rasa gugupnya.


"Boleh Kak, Apa yang ingin Kakak tanyakan ?" tanya Billa antusias menunggu pertanyaan dari wanita yang sempat disukai oleh Kakaknya.


"Bagaimana bisa Ricky dan kamu bertunangan ?" maksudku kamu masih sangat muda, sedangkan Ricky sangat berbeda jauh umurnya denganmu, bagaimana kalian bisa saling mengenal ?."ujarnya canggung mengalihkan pandangan dari netra perempuan yang kini menatapnya lekat.


"Maksudmu kalian berjodoh menggunakan proses syar'i atau disebut dengan Ta'aruf ?" tanya Mutia mengikuti langkah Billa yang lebih dahulu berjalan di depannya. Sedangkan Billa mengangguk sebagai Jawaban.


"Ini toiletnya Kak, aku tunggu disini ya." Mutia mengangguk dan berlalu masuk kedalam toilet dengan perasaan yang penuh penyesalan.


"Seharusnya posisimu saat ini adalah milikku" gumamnya lirih menatap sendu wajahnya yang kini terlihat dari pantulan kaca lebar dihadapannya. Billa yang tengah memainkan ponselnya sambil menunggu sahabat dari Kakaknya dikejutkan dengan notice yang baru saja masuk pada ponselnya.


Ding.


{"Dek ?"} ~ Pak Ricky Dosen Mentopen


Gadis itu jelas bingung apa maksud dari calon suaminya yang mengiriminya pesan namun hanya memanggil.


"Bukankah tidak diperbolehkan untuk menghubungi sampai akad nanti, kenapa Pak Ricky melanggarnya. Ini bahkan sudah kedua kalinya melanggar setelah beliau menelpon saat mengunjungi posko pekan lalu" Gumamnya lirih menatap ponselnya ragu untuk membalas pesan dari Dosennya.


{"Iya Pak ?"} ~ Bidadariku


Ricky yang saat itu tengah di mobil menanti balasan pesan calon istrinya begitu senang saat menerima notice dari Billa, pria itu bahkan sampai berjingkrak girang di kursi belakang.


"Dia membalasnya " Ujarnya percaya diri tanpa menyadari Ayah dan Ibunya kebingungan dengan tingkahnya yang terlewat batas tanpa malu dengan usianya yang sudah hampir berkepala tiga.


"Pak Ricky ?" ucap Ibu Nadia menatap tajam putranya yang berada di kursi belakang, sedangkan Ayah Roby yang sedang menyetir hanya menggeleng pelan seraya menatap putranya dari kaca mobil.


"Eh, sorry Ibu Nadia." Ujarnya malu lalu kembali memainkan jarinya dengan lincah membalas pesan untuk Billa.


{"Kenapa memanggil Pak lagi, aku menyukai panggilan seperti tadi saat kita bertemu."}~


Billa mengerutkan dahi saat membaca pesan dari Dosennya, saat ingin membalasnya gadis itu dikagetkan dengan seseorang yang kini telah menepuk pundaknya dengan pelan.


"Eh Kakak, sudah selesai ?" tanya Billa menatap wajah Mutia yang terlihat berbeda saat sebelum masuk kedalam toilet.


"Hm" ujarnya cuek lalu melangkah mendahului Billa yang masih memegang ponselnya. Sepanjang perjalanan Mutia terlihat lebih dingin bahkan hanya menjawab pertanyaan dari Billa singkat. Gadis itu tak ambil pusing, Billa lebih memilih untuk berfikir positif dan cuek dengan sikap teman Kakaknya yang sedikit berbeda.


"Sudah ?" tanya Zaid saat Mutia baru saja bergabung dengannya dan juga Istrinya ketika sedang menyantap jamuan di meja tamu undangan. Sementara Billa melipir pergi menemui Ibunya yang sedang berbincang hangat dengan para kerabat dekat setelah pamit terlebih dahulu kepada Mutia.


"Hem, aku tidak menyangka. Ricky akan menikahi gadis yang masih sangat muda. Bukankah mereka terpaut usia yang sangat jauh, Kenapa Reza sampai menyetujuinya. Sedangkan Billa saja masih KKN." Gerutu Mutia kesal begitu saja menumpahkan apa yang ada di pikirannya pada Zaid dan Istrinya Zahra.


"Kau kenapa ? apa ada masalah jika mereka menikah walaupun usianya berbeda jauh ?" pancing Zaid saat merasakan keganjalan tentang sikap sahabatnya yang sudah berubah. Sebenernya bukan hanya Reza yang merasakan aneh saat Ricky terlihat acuh dan dingin ketika Mutia ikut bergabung dengan mereka tadi, tapi Zaid lebih memilih santai dengan apa yang dilihatnya. Pria itu akan bertindak jika memang ada hal serius yang harus segera diluruskan. Zaid lebih memilih berfikir positif dengan sikap Ricky yang mungkin lebih menjaga diri saat dirinya tengah akan menikah dan dalam posisi lajang.


"Tidak apa-apa, aku hanya heran. Seharusnya Billa bisa menyelesaikan dulu kuliahnya dan memulai karirnya. Tidak melulu menikah dini tanpa mengetahui konsekuensinya."


"Seperti kamu begitu ? Tia, tidak semua orang berfikir sama denganmu. Aku justru lebih setuju dengan pemikiran Billa. Usia matang tidak menjamin seseorang bersikap dewasa bahkan sukses. Ingat, Qodar Allah tidak ada yang mengetahui." Ucap Zaid santai namun tepat menusuk pada relung hati sahabatnya yang kini terdiam seribu bahasa.