Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Tugas



Billa dan Ratna sibuk dengan laptopnya masing-masing, keduanya mengerjakan tugas yang berbeda. Tepat pukul setengah dua belas bel tanda istirahat aktivitas peminjaman dan pengembalian buku pinjaman di perpus ditutup. Para petugas perpustakaan sibuk merapihkan buku yang berjejer dimeja tempat membaca dan mengerjakan tugas. Billa dan Ratna kompak membereskan buku masing-masing dan mengembalikan ke bagian yang sesuai dengan jenisnya. Sebelum pintu masuk ditutup seluruh mahasiswa yang masih didalam perpus itu harus segera keluar. Billa dan Ratna berjalan beriringan mengambil tas ransel yang diletakan di loker khusus mahasiswa.


Billa menuruni tangga menuju lantai satu sendirian, Ratna harus mengembalikan pinjaman buku yang sudah dibawanya selama tiga hari menginap di rumahnya untuk mengerjakan tugas, jika tidak segera dikembalikan maka akan dikenakan sangsi berupa tagihan untuk membayar masa pinjam. Billa memainkan ponselnya sambil menunggu Ratna untuk menyelesaikan administrasi perpus.


{"Bagaimana masakan Ibu saya ?"} ~ Pak Ricky Dosen Mentopen.


Billa membaca pesan dari Dosennya dengan tenang. Sebenarnya tidak tega mengabaikan pesan Dosen Mentopen nya, bagaimanapun Dosennya itu sudah baik hati memberikan sarapan pagi dengan menu yang lengkap. Ditambah menu itu buatan Ibu dari Dosennya sendiri. Saat bingung ingin membalas atau tidak, bangku disebelahnya tiba-tiba diduduki oleh seseorang. Billa spontan menoleh dan menatap seseorang yang sedang duduk sedikit berjarak dengan kursinya. Kedua netra itu saling menatap dalam diam. Namun segera diputus sepihak oleh Billa.


"Kenapa tidak dibalas pesan dari saya, selama ini bahkan tidak ada satupun mahasiswi yang mengabaikan pesan dari saya." Ucap Ricky sambil terus menatap gadisnya yang manis.


"Saya akan membalasnya jika membahas perkuliahan, selebihnya tidak akan saya balas. Maaf dan terimakasih untuk sarapannya. Saya harap ini yang terakhir Bapak menemui saya di kosan." Jawab Billa tenang tanpa menatap Dosennya yang kini sedang menatapnya dalam.


"Baiklah, Maaf jika mengganggumu. Saya menunggu Jawaban anda tanpa batas waktu. Jangan pernah menolak apapun pemberian dari saya, Insyaallah saya berjanji tidak akan datang lagi ke kosan." Billa menoleh untuk menatap Dosennya yang kini justru tengah menundukan pandangan.


"Terima Kasih Pak." Ucap Billa tulus sambil mencari teman dekatnya yang tak kunjung datang.


"Siang Pak Ricky, apa anda sedang mengunjungi perpustakaan pusat ? mari saya antar anda untuk berkeliling Pak " tanya seorang petugas perpustakaan dengan ramah menyambut kedatangan calon penerus Kampus itu. Ricky beranjak berdiri menyambut petugas perpustakaan tak kalah ramah.


"Saya hanya ingin mampir sebentar Pak, kebetulan tadi ada yang harus saya sampaikan dengan seseorang. Terima kasih tawarannya. Selamat beristirahat." Ujarnya menolak dengan halus dengan senyuman khasnya dan mengambil uluran tangan untuk bersalaman.


"Baiklah, jika begitu. Saya permisi dulu Pak. Silahkan dilanjutkan" Ricky mempersilakan petugas itu untuk beranjak pergi dengan ramah. Billa hanya memperhatikan kedua orang penting yang sedang bersalaman itu dengan tenang. Saat sedang menoleh kearah keluar netranya menangkap bayangan teman dekatnya yang sedang melambaikan tangan kepada Billa memberi tanda bahwa dirinya berada di pintu itu. Billa segera beranjak berdiri menyusul temannya.


"Mau kemana ?" tanya Ricky melihat pergerakan Billa yang seperti hendak beranjak.


"Maafkan saya Pak, teman saya sudah menunggu di pintu keluar. Permisi" Ricky mengangguk sebagai jawaban dengan terus memperhatikan Billa yang sedang berjalan kearah pintu keluar. Nampak kedua gadis muda itu sedikit mengobrol sambil meliriknya yang juga sedang memperhatikan keduanya.


"Kenapa malah nungguin disini, aku sudah lama menunggumu disana ?" tanya Billa beruntun sambil menunjuk kursi yang kini tengah diduduki oleh Dosennya.


"Aku tidak berani kesitu. Makanya aku melipir kearah keluar. Alhamdulillah kamu sadar."


"Kenapa tidak berani ? aneh sekali kamu, untung saja mataku melihatmu. Apa kamu berniat meninggalkan aku ?" tanya Billa kesal karena sudah ditunggu lama tapi diam-diam mau keluar sendirian.


"Eh bukan gitu boo, liat dong disamping mu tadi itu Pak Ricky Dosen Mentopen kan ? aku gak berani karena ada beliau. Lagian kamu kok bisa tenang gitu duduk samping Dosen ?"


"Memangnya kenapa kalau duduk samping Dosen, dia juga kan manusia." Ujar Billa menghilangkan gugup yang sedang dirasakannya saat ini.


"Tapi serius nanya Bill, Pak Ricky kenapa bisa duduk disamping kamu ?" tanya Ratna serius saat keduanya berjalan beriringan.


"Katanya mau nemuin seseorang. Makanya masih nunggu disitu tadi" jawab Billa sesuai dengan pernyataan yang didengar tadi.


"Tapi tadi pas kita jalan keluar beliau juga keluar setelah kita you know..." Billa menoleh kearah temannya yang sedang menatapnya. Namun Billa hanya menggerakkan bahunya seolah tidak mengetahui tentang Dosennya itu. Keduanya memasuki kantin Bu Lela dengan semangat. Rasa haus dan lapar karena mengerjakan tugas membuat keduanya kompak untuk makan siang dengan somay dan es teh sebelum memulai perkuliahan nanti.


"Bu Lela.. Es Tehnya dua sama Somay dua porsi yaa..."teriak Billa sedikit keras karena suasana kantin yang cukup ramai.


"Siap Neng.. ditunggu ya.." jawab Bu Lela ramah sambil cekatan melayani pembeli.


"Habis ini sholat ke masjid dulu yuk" ajak Billa yang langsung di setujui oleh Ratna.


"Sepertinya pekan depan Pak Ricky belum bisa masuk kelas deh, beliau ada kunjungan ke Jakarta. Kira-kira kita dikasih tugas apa ya.., soalnya beliau belum pernah absen selama mengajar dikelas kita kan." Cicit Ratna sambil memainkan ponselnya mengecek grup UKM yang diikuti nya. Billa menoleh kearah Ratna dengan tatapan yang sulit dimengerti.


'Pergi kunjungan katanya ? kenapa tidak bilang. Tadi juga harusnya bisa ngomong. Eh.. siapa aku ngapain juga dia kasih tau kesibukannya' batin Billa berdialog sendiri sambil menatap somay yang sudah tersaji dihadapannya.


"Woy, kebiasaan deh. Sering banget ngelamun. Kenapa ?" tanya Ratna sambil memberi kecap dan saos pada somaynya.


"Kamu kata siapa beliau gak masuk ?" bukannya menjawab Billa malah langsung bertanya tentang Dosennya. Membuat Ratna dengan cepat menatap kembali temannya yang kini sedang menatapnya.


"Hayoo... kok kepo gitu sih." Ledeknya sambil melahap somaynya dengan tenang.


"Tidak apa, Baguslah kalau tidak masuk. Mungkin saja tugas tambahan sebagai gantinya."


"Ya jelaslah bagus menurutmu. Kamu mah enak udah tenang. Soalnya nilai mu saja udah A tanpa UTS dan UAS. Sungguh membuat iri saja." Ungkapnya cemberut, Billa terkekeh gemas dengan mulut teman dekatnya yang menggerutu sendiri.


"Haha, bukan begitu. Lagian nikmatin aja sih.. Kenapa rempong gitu jadinya.


"Aku mau nambah hafalan nanti dikelas sambil nunggu dosen ya.." Billa mengangguk pelan sambil mengaduk bumbu somaynya yang begitu menggoda.


"Banyak yang suka sama Pak Ricky, Kamu tau enggak kalau beliau nantinya yang menjadi pewaris kampus ini ?" Billa terbatuk lantaran tersedak saat mendengar penuturan temannya tentang Dosen yang belakangan ini mengganggu pikirannya.