Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Menekan Ego



Ricky menatap pria muda yang kini duduk dihadapannya memesan makanan dan minuman setelah tadi sempat menjawab sapaan yang diucapkan olehnya. Sementara Zaid dengan santai menyantap pesanan yang sudah tersaji dihadapannya. Pria itu memang tengah kelaparan karena belum makan siang.


"Kak Ricky tidak makan ?" tanya Zafran melihat sahabat Kakaknya diam tanpa menyentuh sajian dihadapannya.


"Apa selera mu sekarang berbeda ? Ini makanan kesukaanmu semua. Ayo dimakan aku sudah pesankan sesuai dengan menu favoritmu." Ajak Zaid yang juga memperhatikan teman dekatnya sedikit berbeda setelah Adiknya ikut bergabung dimeja makan itu.


"Bukan menu favoritku yang berubah, hanya karena tidak lapar saja." Zaid menautkan kedua alisnya lantaran begitu mengenali sahabatnya. Ricky tidak pernah seperti itu selama berteman dengannya. Sekenyang apapun pasti di lahap, karena ini adalah menu favoritnya.


"Hey, jangan menatapku seperti itu. Sudah kubilang wajahku memang tampan tapi ingatlah kau sudah menikah." Ujarnya guyon dengan tatapan Zaid seolah membaca pikirannya yang tiba-tiba bad mood karena kehadiran Adiknya.


"Ck, ayo makan. Kau begitu tega denganku kalau tidak makan. Aku sudah pesankan. Lagipula tidak baik menyia-nyiakan makanan." Ricky mulai menyuapkan makanannya kedalam mulutnya.


"Kamu tadi serius menemui gadis yang kau sukai ?" Zafran tersedak saat mendengar pertanyaan Kakaknya yang sulit dikontrol itu. Zafran benar-benar tidak enak hati membahas tentang masalah pribadi dihadapan sahabat Kakaknya. Meskipun selama ini hubungannya dengan teman dekat Kakaknya itu terjalin kuat. Pria itu tersenyum kikuk menatap Ricky yang juga penasaran dengan respon Adik sahabatnya.


"Hehe maaf ya Kak Ricky. Jadi membahas soal pribadiku." Ricky mengangguk pelan dengan tetap menyantap hidangannya. Sementara Zaid mulai memahami sikap Ricky terhadap Adiknya sedikit berbeda. Jika dulu mungkin Ricky akan menasehatinya untuk tidak perlu dekat dengan lawan jenis seperti menasehati Adiknya sendiri, sekarang terlihat cuek bahkan terkesan menghindar.


"Tidak masalah, jawablah pertanyaan Kakakmu." Ucap Ricky berusaha tenang untuk mengolah hatinya yang mulai panas. Zafran mengangguk sambil mengacungkan jempolnya sebagai tanda setuju.


"Aku tadi menemuinya, beruntung sekali tadi bertemu diparkiran. Sungguh aku semakin menyukainya. Lama tidak melihatnya membuatku begitu tertarik dengan tutur kata dan sikapnya yang penuh dengan kesopanan." Ucapnya jelas penuh rasa bahagia dan begitu terlihat antusias. Ricky menghela napasnya pelan, mengatur napasnya yang mulai sesak mendengar penuturan Adik sahabatnya. Terlepas entah siapa yang dahulu menyukainya. Namun, Ricky jelas marah terhadap dirinya sendiri karena menyukai gadis yang sama dengan Adiknya. Zafran bukanlah orang asing, semenjak berteman dengan Zaid, membuatnya merasa memiliki seorang Adik. Pria itu mengepal tangan kekarnya menahan gejolak dalam hatinya yang begitu kesal dan sesak dengan keadaan.


"Benarkah, Abang jadi penasaran bagaimana wajahnya. Apa kamu memiliki fotonya ?" Zafran tersenyum merekah ketika mendengar penuturan Kakaknya. Pria itu lantas mengangguk seraya membuka ponsel miliknya mencari foto perempuan yang begitu dia cintai. Zaid jelas semakin yakin bahwa sahabatnya menyimpan rahasia yang belum mau diceritakan saat memperhatikan sikap Ricky ketika dirinya menanyakan tentang gadis yang disukai Adiknya.


'Sepertinya dugaanku benar. Gadis itu adalah gadis yang sama.' Batin Zaid menyimpulkan ketika melihat reaksi wajah sahabatnya yang datar terlihat begitu dingin menahan kesal. Ricky Mencoba sekuat tenaga untuk menahan emosinya, pria itu ingin melihat foto gadisnya yang berada dalam ponsel milik Zafran. Sungguh dia begitu resah akan sebuah foto yang menurutnya lancang sekali menyimpan foto akhwat yang belum mahram pada ponselnya.


"Ini" ucap Zafran yang langsung ditunjukan kepada Kakaknya.


"Haha, apa-apaan ini. Mana wajahnya ?" ujar Zaid mengembalikan ponsel milik Adiknya dengan kesal. Tanpa Zafran dan Zaid sadari, Ricky tersenyum tipis ketika melihat foto Billa yang ditunjukkan oleh Zafran.


"Ini baru Adikku. Calon penerus pondok pesantren milik Abah." Ricky tersenyum melihat keakraban Kakak beradik itu.


"Apa Kakak tahu, foto itu aku ambil Secara diam-diam saat dia akan beranjak pergi setelah mengisi holaqoh"


"Wah, kamu diam-diam mengikutinya ?"


"Tidak, aku tidak sengaja melihatnya dari belakang. Makanya aku foto dari arah belakang. Hanya foto seperti ini saja hatiku sudah berdesir ketika melihatnya." Curhatnya yang langsung membuat Kakaknya mencubit lengan Adik kesayangannya. Ricky melihat begitu besar perasaan Zafran terhadap Billa. Dirinya mulai mengerti, sepertinya memang Zafran benar-benar menyukai gadis yang juga disukainya.


"Jaga pandanganmu Dek, istighfar tidak boleh seperti itu. Kamu faham betul setan bermain saat mata kita sebagai Ikhwan melihat lawan jenis yang bukan mahramnya." Zafran mengangguk mengerti seraya meminum es yang tersaji dihadapannya.


"Entahlah, aku ingin menghapusnya dari ponselku tapi aku begitu khawatir tidak bisa melihatnya lagi saat dia masih sendiri. Aku yakin, dia pasti banyak yang menyukai. Tapi kalau aku majukan CV lagi pun pasti akan ditolak." Zaid menepuk pundak Adiknya yang begitu terlihat sendu dengan penolakan gadis yang begitu dicintainya.


"Apa yang membuatmu yakin dengan dia ?" tanya Ricky pada akhirnya setelah diam cukup lama. Pria itu penasaran mengapa Adik sahabatnya menyukai Billa.


"Sholihah" jawabnya jelas dengan senyuman khasnya yang menawan. Zaid menggelengkan kepalanya melihat begitu besar perasaan Adiknya terhadap gadis yang sukai. Sementara Ricky mengangguk mengerti dengan satu kata itu menunjukan banyak makna yang memang ada pada sosok Billa. Tidak dia pungkiri, ucapan Zafran memang benar apa adanya.


"Kakak pasti mengajarnya semester ini kan ? Secara dia sudah semester lima. Mata kuliah Kak Ricky Mentopen bukan ?" Ricky tersenyum tipis tanpa minat untuk menjawab pertanyaan Zafran. Lain halnya dengan Zaid yang mulai memahami awal mula sahabatnya menyukai seorang gadis Mahasiswinya sendiri.


'Hem, aku paham sekarang. Ternyata memang benar mereka gadis yang sama. Astaghfirullah.' Ucapnya dalam hati menatap bergantian kedua pria yang berbeda usia dihadapannya.


"Perjalananmu masih panjang, jika dia sudah menolak untuk melangkah bersama maka cari yang lain. Gadis diluar sana banyak yang juga Sholihah seperti dia. Jangan buang-buang waktumu menunggu ketidakpastian yang belum tentu dia jodohmu. Itu hanya sia-sia belaka." Zaid bangkit dari duduknya pergi meninggalkan mejanya menuju kasir untuk membayar makanan yang dipesannya dan juga Adiknya setelah mengucapkan pendapatnya. Pria itu hanya tidak ingin Zafran terus-menerus mengharapkan ketidakpastian, disisi lain Zaid lebih setuju gadis yang mereka sukai menikah dengan Ricky. Dilihat dari sisi manapun, Ricky jauh lebih matang daripada Adiknya yang baru saja kuliah.


"Tidak perlu mendengarkan hal yang membuatmu hilang semangat. Jika memang kamu yakin dia yang terbaik untukmu. Maka berjuanglah." Ucap Ricky menekan egonya, sebagai Kakak tentu saja dia tidak ingin bersaing dengan Adiknya sendiri. Meskipun bukan Adik sungguhan. Tapi Ricky benar-benar menganggapnya Adik, Pria itu memutuskan untuk berserah diri kepada takdir. Jika nantinya Billa menerimanya, pria itu akan mempertahankan. Tetapi jika Billa menolak, maka dia akan mencoba mengikhlaskan.