Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Ngerumpi beda Versi



Billa terbangun kaget dari tidurnya saat mendengar suara ponsel yang memekik tepat diatas perutnya. Gadis itu ketiduran saat bermain handphone setelah mengikuti rapat rutin tadi malam. Billa terbangun begitu saja dan segera mengangkat ponselnya yang sudah lama berdering.


"Assalamualaikum" ucapnya dengan suara khas bangun tidur.


"Waalaikumussalam, Dek. Baru bangun ?" Billa mengernyit heran dan segera mengecek nomor yang melakukan panggilan kepadanya saat ini. Billa tersenyum hangat saat mengetahui Kakak satu-satunya yang menghubunginya.


"Iya Bang. Aku ketiduran juga tadi malem. Ini jam berapa sih" gumamnya lirih sambil mengecek jam yang ada dilayar ponselnya.


"Sekarang, kamu cuci muka dulu lalu sholat. Nanti Abang hubungi lagi." Ujar Reza sebelum menutup panggilan teleponnya. Billa mengangguk mengerti seolah Kakaknya mengetahuinya. Gadis itu segera keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur untuk mencuci muka dan mengambil wudhu.


Awal mula Billa melakukan rutinitas malamnya selama KKN, gadis itu sempat takut karena belum mengenal kondisi dini hari di tempatnya KKN, Hari demi hari gadis itu lalui mulai terbiasa dengan lingkungan barunya. Rasa takutnya juga hilang karena teman-teman laki-lakinya tidur diruang tengah. Dalam kondisi ruangan yang sempit Billa mulai menggelar sajadahnya dan melakukan Dua rakaat sholat Tahajud dan satu rakaat witir. Tak lupa gadis itu juga melakukan sholat istikharah setelah menunaikan sholat tahajud.


"Bill, rajin banget sih." Gumam Tiwi saat sayup-sayup melihat aktivitas rutin yang dilakukan teman dekatnya itu. Billa hanya menanggapinya dengan tersenyum seraya melipat peralatan sholatnya.


Gadis itu segera keluar dari kamarnya untuk menelepon Kakaknya Reza di ruang Dapur. Billa melihat jam yang terletak di dinding ruangan itu sambil menekan panggilan pada nomor Kakaknya.


"Halo Bang," sapa Billa terlebih dahulu setelah panggilannya diangkat.


"Halo Dek, sudah selesai sholatnya ?" Billa mengangguk sebagai jawaban, gadis itu lupa kalau Kakaknya tidak mungkin melihat gerakannya.


"Alhamdulillah sudah, ada apa Bang. Kenapa menelpon malam-malam begini, kebiasaan banget sih"


"Maaf Dek, Abang hanya ingin mengetahui kabarmu selama KKN." Billa mengernyit heran lalu mulai melakukan panggilan Vidio kepada Kakaknya. Tak butuh lama, Reza mengalihkan panggilan telepon dengan Vidio, wajah mungil dan imut Billa langsung memenuhi layar ponselnya saat itu.


"Aku baik Bang, bagaimana kabar Buya dan Umma dirumah Bang ?" tanya Billa sambil melihat wajah Kakaknya yang terlihat lebih segar.


"Alhamdulillah semuanya sehat, Abang mau mengingatkan, insyaallah pekan depan Abang jemput kamu untuk acara Abang." Billa mengangguk mengerti sambil tersenyum dilayar ponselnya.


"Siap Bang, Billa gak lupa kok. Tapi Billa harus izin dulu sama Pak Camat dan Kepala Dusun sebelum pulang. Bang, Oh iya, Billa juga harus izin kepada Pak Ricky" ucapnya yang langsung membuat Reza heran.


"Kenapa harus Ricky, nanti dia juga datang di acara Kakak sayang."


"Pak Ricky adalah Dosen pembimbing lapangan Billa selama KKN Bang."Ujar Billa polos begitu saja. Reza menghela napasnya pelan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria itu jelas memahami sahabatnya pasti menggunakan kekuasaannya untuk melancarkan modusnya.


"Jadi kamu selama KKN masih ketemu ?" tanya Reza penasaran.


"Iya," jawab Billa singkat sambil mengangguk pelan.


"Baiklah, jaga dirimu disana baik-baik ya.. jaga kesehatanmu juga. Jangan lupa sholat dan jaga sikapnya." Billa mengangguk mengerti sambil mengacungkan jempolnya dihadapan layar ponselnya.


"Apa Abang sudah siap untuk menjadi Imam ?" tanya Billa penasaran dengan Kakaknya yang super cerewet.


"Tentu saja, jika belum siap kenapa harus memulai" ? ujarnya simple dan tertawa ringan. "Dek, uang sakunya masih tidak, Buya tanya kepada Abang kemarin pagi saat sarapan."


"Alhamdulillah masih, tapi kalau mau nambahin juga gak nolak" ujarnya sambil nyengir kuda. Reza tersenyum hangat sambil menunjukan beberapa lembar uang merah dilayar ponselnya.


"Ini" ucapnya meledek sambil tersenyum.


"Baiklah, besok saat pulang juga Kakak tambahin. Dan satu lagi, saat nanti Abang sudah menikah. Uang kamu full bukan Abang lagi yang mengirim. Tapi Buya langsung, demi menjaga hati istri Abang nantinya, semoga kamu memahaminya sayang"


"Santai kali Bang, lagipula memang seharusnya Buya yang mengirim. Kalau Abang pasti ada yang diselipkan ya" guyon Billa meledek Kakaknya sambil tertawa ringan.


"Eh, enak saja. Gini-gini Abang punya uang sendiri ya.. Abang juga di gaji oleh Buya dari hasil perusahaan milik Buya " Keduanya kembali tertawa ringan sambil terus meledek satu sama lain, hingga terdengar suara adzan subuh keduanya memutuskan untuk mematikan sambungan setelah mengucapkan nasehat dan salam.


"Lu kaya gak ada waktu tau gak Bill, telfonan dini hari, dari jam berapa lu" ujar Ridho keluar dari ruang tengah lantaran mendengar suara Adzan subuh yang cukup kuat.


"Hehe, maaf ya kalau ganggu. Aku udah sebisa mungkin kecil suaranya. Kalau masih gede maaf ya.." Ridho mengacungkan jempol seraya masuk kamar mandi untuk membasuh muka dan mengambil wudhu.


Billa beranjak keluar dari dapur dan masuk kedalam kamar melewati teman-teman lelakinya yang mulai bangun sambil mengucek matanya.


"Gue salah denger apa gimana ya, kaya ada yang ngobrol sama ketawa di dapur" Celetuk Raka sambil mengucek matanya yang baru terbangun.


"Gue juga denger tapi cuma ketawa aja. Itupun cuma ringan aja." Ujar Agil yang langsung membuat Raka menatap teman lelakinya.


"Jangan-jangan" ucap keduanya berbarengan dan saling menatap seolah berbicara lewat tatapan.


"Udah deh, gak usah parno. Udah seminggu tidur disini gak ada apa-apa juga. Gak usah bikin huru hara subuh-subuh" ucap Alir menengahi kedua teman lelakinya yang masih terbengong dengan tanda tanya besar.


Sementara Billa yang sudah memasuki kamarnya tidak lagi mendengar obrolan teman lelakinya diluar ruangan karena tengah membangunkan teman-teman perempuannya untuk sholat berjamaah di masjid.


"Sumpah gue dengar jelas Gil" ucap Raka masih membahas suara yang didengarnya diruang dapur.


"Gue juga denger, tapi gak berani buka mata. Merinding anjir!" celetuknya mulai tak nyaman membicarakan soal makhluk halus.


"Kalian denger apaan ?" tanya Ridho penasaran dengan kedua temannya yang asyik mengobrol sambil berjalan menuju masjid.


"Mereka denger suara orang ngobrol sama ketawa ringan diruang dapur katanya."Ucap Alir yang saat itu berjalan tepat disamping Ridho sedangkan Raka dan Agil berjalan lebih dahulu didepan keduanya.


"Bukan hantu woy, itu Billa lagi telfonan." Jawab Ridho apa adanya. "Gue juga denger tapi habis itu Adzan subuh. Gue langsung ke dapur pas banget Billa habis nutup telepon." Ujar nya santai yang langsung menghentikan langkah teman-temannya.


"Gila, telponan mau subuh. Kaya gak ada waktu lain aja." Sanggah Agil yang merasa aneh dengan waktu menelpon versinya.


"Tunggu dulu, lu tahu enggak siapa yang ditelpon ?" tanya Raka penasaran.


"Entahlah, gue gak nanya. Lagian kenapa sih, itu hak dia kali. Lagian dia gak ganggu juga. Toh, gak kenceng juga suaranya." Bela Ridho dengan santai yang langsung mendapat sorotan tajam dari Agil dan Raka bersamaan. Sementara Alir hanya mendengar santai tanpa mau ikut menimbrung ngerumpi versi teman lelakinya.


"Kalo gak kenceng gue kenapa bisa denger coba ?" sanggah Agil kesal.


"Lu denger karena memang waktunya bangun sholat" jawab Ridho tak kalah kesal dengan teman satunya itu.


"Udah woy, malu diliatin warga. Ayo buruan keburu mulai sholatnya." Ucap Raka menengahi debat kecil kedua temannya, pria itu sebenernya cukup penasaran dengan gadis yang begitu berbeda dimatanya. Tapi, Raka lebih memendam dan mencoba mencari tahu langsung lewat Billa saat di Posko nanti.