
Reza membawa Adiknya berkeliling mencari pantai yang sekiranya nyaman dan indah untuk menikmati waktu sore. Keduanya memutuskan untuk memilih Pantai Kedu yang letaknya berada di daerah Kalianda. Bukan hanya dapat menikmati indahnya pesona pasir dan air laut yang terlentang, tetapi mereka juga bisa menikmati Rawa kecil serta rumput yang hijau sejauh mata memandang.
"Wah.., Aku baru tau ada pantai sebagus ini di daerah ini. Abang sering kesini ya ?" ucap Billa tanpa menoleh kearah Kakaknya. Dia sibuk melihat pemandangan yang terpampang nyata di hadapannya sekarang.
"Tidak, Abang hanya iseng saja belok ke pantai ini. Pantai sebelah sepertinya sepi. Biasanya yang ramai pasti menarik." Ujar Reza sambil merangkul bahu Adiknya.
"Hem, Pantas ramai karena memang pantai ini menarik sekali" Tangan kanannya membalas rangkulan Kakaknya dengan memeluk pinggang kokoh milik Reza. Jika dilihat dari sudut orang yang tidak mengetahui status keduanya. Bisa dipastikan akan salah paham dengan keakraban mereka yang sangat dekat. Reza menggandeng tangan Adiknya untuk mengikutinya menyusuri bibir pantai dengan hamparan pasir yang putih dan bersih. Sejenak Billa benar-benar melupakan sakit hatinya yang belum sembuh dengan pemandangan yang indah di hadapannya.
"Aku senang sekali, lain kali kita ajak Buya dan Umma juga ya Bang" cicitnya senang.
"Iya, Kita akan ajak Umma dan Buya kesini saat kamu sudah liburan lagi." Tangannya mengelus kepala adiknya yang berjilbab panjang itu. Keduanya terus berjalan jauh menyusuri bibir pantai yang tidak pernah membosankan itu.
"Bang, Traktir Somay itu dong. Aku lapar" Reza mengangguk seraya tersenyum, Pria jangkung itu beranjak berdiri dan melangkah untuk membeli request dari Adiknya. Dua porsi somay saat ini mereka lahap sambil duduk menikmati pemandangan air laut di hadapan mereka.
"Bang, aku mau foto, Tolong ambilkan gambar yang bagus ya," Ucap Billa sembari melangkah mencari spot yang indah untuk mengambil gambar yang pas. Keduanya asik berfoto setelah menghabiskan porsi somay masing-masing.
"Coba tengok hasilnya. Kalau jelek ulangi lagi ya" Reza tersenyum mendengar penuturan Adiknya. Begitulah wanita, kalau sudah ada spot yang bagus. Tidak akan ketinggalan untuk berfoto. Billa Asyik melihat hasil jepretan Kakaknya, hingga netra nya menangkap bayang-bayang seseorang yang ikut terjepret tepat di belakang tubuh Billa. Billa menyipit kan matanya guna mempertajam penglihatan nya menuju foto yang telah diambil oleh Abangnya. Hingga Billa tersadar jika orang tersebut adalah seseorang yang Billa sangat tandai. Netranya mencari kesana-kemari untuk memastikan dugaannya.
.
Deg.
Seolah Takdir mempertemukan keduanya, mata mereka bertemu, menatap dengan pandangan berbeda. Hingga Billa lebih dahulu memutuskan pandangan dengan beralih ke arah Kakaknya yang sedang menikmati minuman segar di tangannya.
"Sial, Kenapa harus bertemu Reza disini" Ucapnya kesal, gadis itu sepertinya belum menyadari kalau ternyata Billa adalah Adik dari Reza. "Tapi..., kenapa mereka bisa terlihat akrab seperti pasangan ?" Ujarnya kembali menatap kedua Kakak-beradik itu. Dita benar-benar tidak menyangka, dirinya yang sedang menunggu seseorang karena berjanji untuk memenuhi ajakan seseorang, harus dipertemukan oleh dua orang yang sangat tidak ingin dijumpai.
Sementara Reza yang sadar dengan gadis yang sedang menatap nya juga adalah mantan calonnya, membuat netranya segera beralih menatap kearah lain.
"Apa Dia yang bernama Anindita ?" tanya Reza menatap Adiknya yang terlihat muram sekali, berbeda raut mukanya saat pertama datang dan berkeliling. Membuat Reza penasaran kenapa Adiknya begitu kesal kepada mantan calonnya itu. Billa hanya mengangguk lemah sambil menatap lautan yang terbentang luas dihadapannya.
"Apa yang dilakukan olehnya, sehingga Kamu begitu kesal hanya karena namanya dan melihatnya ?" Billa pun menceritakan apa yang dialaminya saat masih berada satu Pondok Pesantren dengan Dita, namun Billa tidak menceritakan tentang Dita dan Syafik yang membuatnya sesak, entah sampai kapan luka yang begitu dalam itu sembuh. Siapapun pasti akan merasakan sakit yang teramat sesak ketika mengingat teman yang dulu membullynya, ternyata membuat orang yang sangat berarti dihidup nya merubah rasa percayanya menjadi hilang dan dihancurkan. Billa menarik nafasnya pelan dan mengeluarkan secara teratur, mencari ketenangan pikiran dan hatinya yang mulai sesak ketika mengingat hal yang paling ingin di kubur. Reza mendengar kan cerita Adiknya dengan tenang dan penuh minat. Kini Reza sadar mungkin luka yang masih membekas di hati Adiknya bisa jadi karena kejadian yang dialami Billa sangat keterlaluan bagi Adiknya.
"Tenanglah, Dia sudah Abang blacklist untuk menjadi calon istri Abang. Lebih baik sekarang kita pulang. Sepertinya akan turun hujan. " Ucapnya tenang meraih tangan Adiknya lembut dan menggandeng nya menuju parkir mobilnya. Billa mengangguk lemah mengikuti langkah kaki Kakaknya yang senantiasa berusaha membuatnya nyaman. Tidak ada sunset hari ini, yang ada hanya mendung di langit cerah yang tertutup awan hitam dan hati yang mulai cerah tetapi kembali tertutup kabut rasa kecewa.
.
Dita berjalan menjauh dari tempatnya duduk menunggu seseorang, Dirinya benar-benar tidak ingin bertemu dengan Reza atau Billa saat ini. Terlebih karena ulahnya, sekarang hubungan Syafik dengan Billa sudah berakhir. Ditatapnya ponsel yang menunjukan foto kedua kakak beradik itu yang sempat Dita ambil sebelum beranjak pergi saat Billa dan Reza asyik mengobrol.
"Lihatlah Syafik, Billa sudah menemukan penggantimu dengan mudah, setelah kalian tidak ada hubungan lagi. Ck, aku tidak menyangka kalau Reza ternyata mau di ajak jalan. Kenapa dulu sok jual mahal melakukan Ta'aruf dengan CV ? Menyebalkan. " Ucapnya kesal berbicara sendiri disepanjang jalan,hingga seseorang menarik tangannya untuk mengikuti langkahnya untuk duduk dikursi yang terletak di bawah pohon dekat rawa kecil di pantai itu. Dita segera memasukkan ponselnya kedalam tas kecil yang sedang dipakai karena menyadari sosok laki-laki yang menggandeng tangannya tadi.
"Aku mencari mu kemana-mana sejak tadi, aku pikir kamu menungguku di tempat biasanya. Ternyata malah jalan-jalan sendiri." Ucapnya sambil menatap perempuan yang sejak tadi seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Eh, Aha. Iya benar, aku hanya ingin jalan-jalan sebentar. Kamu lama sekali. Aku sampai bosan menunggumu" Ujarnya berusaha untuk menutupi rasa gugupnya.
"Maaf, aku tadi harus mengantar Ibuku dulu, Mau jalan-jalan ke Mall ?" tangan kanannya meraih tangan Dita dengan lembut seraya menatap perempuan cantik itu dengan lekat. Gadis itu tersenyum lembut dan mengangguk malu menerima tawaran laki-laki yang sudah menjadi kekasih nya selama lima bulan terakhir itu.