
Ricky tersenyum tipis saat mengingat aktivitas Billa dikampus tadi. Pria itu baru saja sampai dirumah setelah diam-diam membututi Billa, namun tidak sampai didepan kosan. Pria itu kembali putar balik karena mendapat telepon dari Ibunya untuk segera pulang. Setelah membersihkan tubuh yang lengket, Ricky beranjak keluar kamar dan menemui Ibunya yang sudah menunggu diruang makan.
"Sore Ibu Nadia, apa kabar hari ini..?" tanya Ricky sambil tersenyum saat bergurau dengan sapaan yang diucapkan ketika sedang di kampus. Ibu Nadia tersenyum lembut mendengar guyonan dari putra satu-satunya itu.
"Sore Pak Ricky, Alhamdulillah baik. " Jawabnya tak kalah bergurau dengan putranya. Ibu dan Anak itu tertawa ringan mendengarnya, aktivitas yang sejatinya sering sekali dihabiskan di kampus membuat panggilan Ibu, Ayah dan anak itu menjadi terbawa saat berada dirumah. Ibu Nadia membuatkan teh hangat dan beberapa cemilan untuk menemani ngobrol dengan putranya.
"Wah..., roman-romannya bakal ada wawancara dadakan ini" ucap Ricky menangkap sinyal kepo dari Ibunya.
"Haduh..., pintar sekali membaca situasi." Jawab Ibu Nadia dengan tersenyum. "Bagaimana kelanjutannya, apa ada kemajuan ?" Ricky yang ingin memakan kue ditangannya langsung berhenti dan menatap Ibunya yang sedang menanti jawaban dengan antusias. Pria itu melanjutkan melahap kue yang berada ditangannya dan menyeruput teh selagi hangat.
"Entahlah, Ibu tau. Dia sangat paket komplit. Aku bahkan tidak percaya diri dibuatnya setelah mengetahui sekeren itu dia" jawabnya tersenyum sambil mengingat wajah gadisnya.
"Eh astaga, kamu benar-benar jatuh cinta." Ungkapnya gemas melihat gelagat putranya.
"Siapa yang sedang jatuh cinta ?" suara yang berat dan berwibawa itu membuat kedua ibu dan anak itu spontan menoleh ke arah sumber suara.
"Anakmu. Lihatlah, lebih baik kita langsung melamarnya saja. Sepertinya putra kita benar-benar jatuh cinta." Ungkap Ibu menghampiri suaminya yang baru saja pulang dari kampus. Ibu Nadia dengan cekatan membantu melepas jas yang dipakai dan mengambil tas kerja milik suaminya. Ricky memperhatikan adegan so sweet itu sambil tersenyum. Dibenaknya pria itu membayangkan saat dirinya nanti menikah, akan dilayani seperti Ayahnya.
"Hey. Senyum-senyum sendiri. Bawalah kemari perkenalkan dengan kami." Cicit Ayah Roby menepuk pundak anaknya kuat.
"Sabar dong, Aku juga sedang berusaha. Belum dijawab CV ku Ayah" jawab Ricky santai kembali menikmati kue buatan Ibunya yang super serba bisa itu.
"CV ? apa kamu menggunakan metode Ta'aruf ?" tanya Ayah Roby serius. Sedikit banyak mengetahui aktivitas anaknya yang lebih religius. Ricky mengangguk pasti menjawab pertanyaan Ayahnya.
"Wah..., Ibu jadi penasaran. Boleh kami lihat fotonya ?" ucap Ibunya semakin kepo dengan calon istri anaknya sambil melayani suaminya dengan membuatkan teh hangat dan cemilan. Ricky hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ibunya. Pria itu mengambil Handphone didalam sakunya dan mulai membuka galeri untuk mencari foto yang sangat menarik untuk diperlihatkan kepada Ibu dan Ayahnya.
"Ini" ujarnya singkat sambil menyodorkan handphone kepada Ayahnya. Ayah Roby mengernyit heran saat melihat foto yang di tunjukan oleh putranya. Ibu Nadia yang penasaran karena melihat raut muka suaminya, akhirnya menghampiri suaminya untuk ikut melihat.
"Ricky.., yang mana calon menantuku. Kenapa banyak sekali gadisnya." Ucap Ibu Nadia ketika melihat foto dihadapannya adalah sekumpulan para muslimah yang sedang duduk melingkar sambil membaca Alquran ditaman kampus.
"Haha, tebak coba yang mana" gelak Ricky saat melihat ekspresi wajah kedua orangtuanya.
"Apa yang ini ?" tunjuk Ayah Roby menunjuk salah satu wanita yang anggun difoto tersebut. Ricky mengangguk pasti sebagai jawaban.
"MaaSyaAllaah, dari kejauhan saja kelihatan cantik, anggun, Sholihah. Bagaimana dari dekat. Mana dong foto dari dekatnya Ky" cecar Ibu Nadia antusias sambil memperbesar foto dihadapannya.
"Sini Bu, Ayah belum lihat mukanya. Ibu dari tadi rusuh nih. Main rebut saja dari tadi." Ujar Ayah Roby ingin melihat jelas foto gadis calon menantunya.
"Dari mana Ayah tau kalau itu perempuan yang Ricky suka ?" celetuk Ricky seraya mengambil alih ponselnya yang sedang diteliti oleh Ayahnya.
"Eh, Ayah belum lihat. Dari tadi Ibumu yang melihat. Bawa sini dulu." Ujarnya sambil merebut kembali ponsel milik Ricky. "Ayah hanya menebak, karena aura dari gadis itu berbeda saja dari yang lain" celetuknya sambil memperbesar gambar dilayar handphone milik Ricky.
"Andai saja bisa langsung di lamar. Aku tidak perlu menunggunya." Ayah Roby menggeleng-gelengkan kepala saat melihat anaknya yang benar-benar kebelet nikah.
"Kenapa tidak dicoba saja ?" usul Ayah Roby seraya mengembalikan ponsel milik Ricky.
"Mana bisa, aku menghormati keputusannya kelak. Doakan saja semoga keinginanku segera diijabah oleh Allah" kedua orangtuanya kompak meng aamiin kan keinginan tulus putranya.
"Sayang sekali dia dari prodi Paud. Ibu jadi tidak bisa mengajar langsung calon menantu Ibu."
"Wah, bagus sekali kamu mencari istri dari jurusan itu. Nanti tidak perlu khawatir, dia pasti paham dengan anak-anak kelak." Cicit Ayah Roby membanggakan calon menantunya, padahal belum tentu gadis yang disukai anaknya mau menerima CV yang diajukan oleh putranya. Ricky hanya tersenyum lucu mendengar penuturan Ayah dan Ibunya. Pria itu segera beranjak pergi meninggalkan kedua orangtuanya yang sedang asyik mengobrol membicarakan calon menantunya. Dalam hati Ricky jelas bahagia ketika melihat Ibu dan Ayahnya menyukai pilihannya. Tetapi yang membuatnya khawatir adalah Billa akan menolak sebelum memulai.
"Ya Rabb, Kabulkan keinginanku. Aku benar-benar berharap kepadamu." Gumamnya lirih menatap langit yang dipenuhi bintang dari balkon kamarnya.
*
Billa yang tengah membereskan buku dimeja belajarnya setelah mengerjakan tugas individu. Tidak sengaja, menyenggol sebuah kotak kado yang sudah lama dibiarkan tergeletak dipojok meja belajarnya.
"Zafran" gumamnya lirih sambil mengamati kotak berukuran sedang dihadapannya. Sekelebat Billa tersenyum ketika mengingat perkenalan diantara keduanya. Billa mencari gunting kecil untuk membuka kado dari seseorang yang pernah menyukainya.
Gadis itu membuka kotak kado dengan pelan, dilihatnya sebuah amplop surat yang ditempelkan pada dinding kardus setelah membuka bungkus kadonya. Billa membuka surat itu dengan minat. Gadis itu larut dalam kata yang diucapkan Zafran dengan sopan dan menyentuh. Dibukanya kardus yang masih tersegel rapih dihadapannya. Billa terperangah melihat isi dari kado itu.
"Ya Rabb.. Cantik sekali." Gumamnya lirih sambil membuka sebuah mukena cantik yang berbalut kristal bening menghiasi kain berwarna pink dusty itu. Tidak hanya itu, Billa kembali tersenyum saat melihat sebuah kotak kecil yang sangat indah masih terbalut kotak berwarna pink dan pita indah menghiasinya.
"MaaSyaAllaah, indah sekali." Gumamnya senang ketika melihat sebuah Al-Qur'an berukuran sedang terlihat cantik dengan kotaknya dihadapannya.
"Zafran, maafkan aku karena membiarkan mukena dan Al-Qur'an cantik ini tergeletak begitu saja." Ucapnya haru memandangi pemberian pria yang begitu mencintainya dulu.