Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Tamu tak di undang.



Suasana hari itu benar-benar terasa begitu syahdu, tangis bahagia menyertai pasangan pengantin tersebut saat melakukan proses sungkem kepada kedua orangtuanya. Billa menangis sendu saat kedua orangtuanya ikut menangis melihat Bayinya yang dulu ditimang, kini telah diserahkan kepada suaminya.


"Sayang, berbaktilah kepada Suamimu. Dia adalah Imam untuk keluargamu sekarang. Jaga pakaiannya sebagaimana kamu menjaga harga dirimu saat masih menjadi anak kami. Sesungguhnya, surga bisa kau pilih dari pintu mana saja saat kamu mampu menjadi Istri yang Sholihah. Maka perjuangkan lah dengan baik Billa." Umma memeluk erat putrinya setelah mengatakan Nasehatnya.


"Kamu tetap Putriku, namun prioritasmu adalah suamimu sayang, tugas dan kewajiban Buya sudah berpindah kepadanya saat ini. Semoga keberkahan dan kebaikan selalu menyertai keluargamu putriku." Ucap Buya Reyhan mencium kening putrinya setelah memberikan pelukan hangatnya. Billa dan Ricky hanya mampu menangis dalam diam, lidahnya begitu kaku saat harus membalas setiap nasehat dari kedua orangtuanya masing-masing. Mereka hanya diam mengangguk mengerti, berjanji dalam hati untuk menjalankan setiap nasehat untuk keduanya.


Doa kebaikan terus mengalir untuk kedua mempelai tersebut dari para kerabat dan teman-teman Ricky maupun Billa. Ricky menggenggam erat tangan Istrinya yang sudah halal baginya dengan lembut, seolah memberitahukan kepada Billa tentang perasaannya saat ini yang begitu bahagia telah sampai pada titik puncak dimana dia menyempurnakan agamanya dengan menikah.


Suara sorak bahagia dan tepuk tangan begitu meriah saat keduanya berjalan naik pada pelaminan pengantin. Ricky dengan lembut terus menggenggam tangan mungil Istrinya yang saat itu begitu cantik dan mempesona.


"Happy Wedding Brother!" teriak Zaid yang begitu heboh bersama sahabatnya Reza, mereka seolah lupa dengan gandengannya masing-masing. Keduanya begitu bahagia, akhirnya tidak ada lagi bujang diantara persahabatan itu.


"Aku bahagia sekali, akhirnya teman kita satu itu menikah. Kau tahu betul bagaimana perjalanannya sampai pada titik ini." Gumam Reza lirih memeluk pundak sahabatnya Zaid.


"Hem, aku harap. Mutia tidak perlu hadir pada acara ini. Kau sebenarnya sudah tahu bukan tentang hubungan mereka ?" tanya Zaid serius menatap sahabatnya Reza yang kini mengangguk pelan.


"Mereka tidak berjodoh, tidak ada yang bisa menentang Takdir tertulis. Kita doakan saja semoga Tia bisa mendapatkan jodohnya lebih daripada Ricky." ucap Reza tulus yang disetujui oleh Zaid.


"Aamiin"


Kedua laki-laki tampan itu begitu kaget saat mendengar suara lembut yang begitu familiar ditelinga mereka. Keduanya menoleh bersamaan menatap seorang wanita yang kini tersenyum anggun menatap mereka.


"Tia" gumam mereka bersamaan tak menyangka sahabatnya Mutia akan hadir pada acara penting Ricky dan Billa.


"Kau datang" ujar Reza menetralkan suasana yang mendadak canggung.


"Tentu saja, Bukankah kita sahabat. Meskipun, aku tidak diundang." Ucap Mutia jujur menatap kedua sahabatnya yang kini menatap heran kearahnya.


"Ricky hanya menghargai perasaanmu, itulah sebabnya dia begitu menjaga dirinya tanpa harus mengundangmu" celetuk Zaid sengaja agar sahabatnya itu tidak merusak momentum penting dalam hidup Ricky.


"Apa kalian sudah mengetahuinya ?" gumam Mutia lirih menatap sendu kedua mempelai yang kini tengah menyalami tamu undangan diatas pelaminan. Reza dan Zaid hanya mengangguk pelan sembari mengikuti arah pandang dari gadis tersebut.


"Move on"ucap Reza singkat, kembali menatap perempuan yang dulunya juga disukainya. Mutia hanya mengangguk lemah sembari mengusap air mata yang sempat terjatuh pada pipi mulusnya.


Sementara itu, disudut ruangan lain yang berbeda, tampak dua pemuda tampan berdiri tegap dengan setelan jas hitamnya begitu sendu menatap seorang perempuan yang masih memenuhi hati kedua pemuda tersebut. Keduanya begitu terpukul dengan takdir cinta yang tidak memihak kepada mereka.


"Ayo kita pulang. Datang kesini sama saja membuat hatimu terbakar. Billa berhak mendapatkan jodoh terbaiknya. Berkaca dirilah, Bapak Dosen itu lebih unggul darimu dalam segala hal." Celetuk Rahman menyeret sahabatnya untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Tidak, aku harus mengucapkan maaf dan selamat untuk terakhir kalinya pada Billa." Menahan lengan sahabatnya yang terus mengajaknya keluar. Rahman mengangguk sembari menyeret sahabatnya untuk mengikutinya duduk dan memakan jamuan.


"Baiklah, aku lapar. Ayo kita makan. Bukankah bertemu dengan mantan membutuhkan tenaga ?" guyon Rahman menarik paksa Syafik untuk ikut menuju hidangan khusus tamu.


Di sudut ruangan, Zafran nampak tidak fokus dengan obrolan teman-teman lamanya saat masih di kampus yang sama dengan Billa dan Ratna. Hanya Ratna yang memahami bagaimana sedihnya perasaan Zafran saat ini. Netranya yang sendu terus menatap Billa dari kejauhan.


"Zafran, aku yakin. Kamu pasti bisa mendapatkan jodoh terbaik untukmu kelak. Billa memang baik dan tepat menurutmu, tapi bukankah baik untukmu bulan berarti baik menurut Allah. Yakinlah, Allah telah mempersiapkan jodoh terbaik untukmu kelak." Hibur Ratna kepada teman lelakinya yang sejak tadi hanya menatap Billa dari kejauhan.


"Sungguh aku tidak menyangka, aku mengajaknya menikah muda dulu. Tapi dia menolaknya, apa aku kalah baik dari Kak Ricky ?" tanya Zafran menatap Ratna yang kini tengah mengemil hidangan yang ada dihadapannya.


"Tentu saja, lihatlah dirimu. Kau masih kuliah bahkan belum lulus. Kalian seumuran, bagaimana jika ego kalian masih sama-sama tinggi. Lalu bagaimana nanti kamu menyelesaikan segala persoalan rumah tangga yang tidak segampang itu diselesaikan. Apalagi jika Istrimu sudah hamil, kau tidak peka dengan kemauannya. Maka habislah kau!' ujar Ratna seolah menumpahkan kekesalan yang dirasakan kepada suaminya melalui Zafran.


"Huft.. susah kalau ngomong sama Bumil" celetuk Zafran meninggalkan Ratna yang tengah asyik menyantap hidangan setelah menggerutu panjang lebar. Zafran lebih memilih menghampiri Kakaknya yang kini sedang menyantap hidangan ditemani Istrinya dan Mutia.


"Bang" panggil Zafran lirih menepuk pundak Kakak kandungnya yang tengah mengunyah makanan.


"Hem" jawabnya menatap Adiknya yang terlihat lesu.


"Apa ini Zafran ?" tanya Mutia menatap Adik sahabatnya yang begitu tampan dimatanya. Perempuan dewasa itu begitu terpesona dengan wajah imut milik Zafran yang hampir sama dengan Zaid.


"Iya, kau mengingatnya ?" Mutia mengangguk sembari tersenyum hangat menyapa Zafran yang justru terlihat dingin dan cuek.


"Hai Zafran, apa kau masih mengenaliku ?" Zafran hanya menatapnya sekilas lalu memilih duduk disamping Kakak Iparnya dan meminum air minum yang sudah tersedia dihadapannya.


"Tidak" ucapnya cuek lalu mengecek Ponselnya begitu saja. Mutia menghela napasnya dalam, mulai menimbang perbedaan antara Zaid dan Zafran yang begitu kontras.


"Kalian berbeda sekali" gumamnya lirih namun masih terdengar ditelinga keduanya.


"Tentu saja" jawab Kedua kakak beradik itu bersamaan membuat Mutia kembali menarik napasnya menahan kesal.