
Billa memulai paginya dengan membuat sarapan nasi goreng yang disertai toping sosis dan telur mata sapi. Gadis itu akan kuliah menjelang siang tepatnya pukul sepuluh pagi nanti. Masih ada waktu yang cukup untuk membersihkan kamar dan mencuci beberapa helai pakaian kotor. Bukan hanya Billa yang sibuk dengan rutinitas paginya, beberapa teman kosan lain yang tidak memiliki kuliah jam pagi pun memulai harinya dengan bersih-bersih dan mencuci pakaian.
Hidup merantau dengan uang jajan yang cukup tidak membuat Mahasiswi perantauan itu malas mencuci pakaiannya sendiri. Justru harus pandai mengatur keuangan untuk hal yang lebih bermanfaat seperti biaya fotocopy dan print tugas atau untuk membuat alat pendidikan edukatif. Semua harus diatur sehemat mungkin. Belum lagi jika tiba-tiba ada praktikum yang membutuhkan dana lebih.
"Wih Billa, calon istri yang baik nih. Pagi-pagi sudah buat sarapan. Masuk siang kah ?" celetuk Rere saat berpapasan ingin mencuci piring kotor sehabis sarapan nasi uduk yang dibelinya.
"Aamiin, masuk agak siangan sih." Jawab Billa seadanya.
"Rajin banget pagi-pagi udah nyuci baju, beresin kamar, terus masak juga." Ujar Rere sambil mencuci piringnya.
"Cie, ada yang merhatiin aktivitas aku sepertinya" ledek Billa tak kalah membalas ucapan teman samping kamarnya.
"Haha, gak merhatiin tetap saja kelihatan. La wong kamar kita sampingan. wkwkwk" Keduanya asik mengobrol sampai berlanjut saat diruang Tv.
"Ngeselin banget, Aku dapet dosen Mentopen tapi nyebelin banget kasih tugasnya. Mana susah pula." Curhat Rere sambil membuka laptop dipangkuan nya.
"Memang siapa Dosennya ?" tanya Billa sambil mengunyah nasi goreng yang sudah dibuatnya tadi.
"Pak Ricky Irawan, Dosen anak Fisika yang gantengnya gak ketulungan itu." Jawabnya tanpa menatap Billa. Gadis itu tengah mengerjakan tugas tentang sampel penelitian.
Deg.
Billa mencoba bersikap normal dengan terus melahap sarapannya dengan tenang. Gadis itu sebenarnya sangat gugup saat mengetahui Dosen Mentopen teman Kosannya ternyata sama dengan dirinya. Apa jadinya jika Rere sampai mengetahui bahwa Pak Ricky Irawan Dosen yang juga mengajar sama pada mata kuliah Mentopen itu pernah datang ke kosan bahkan membawa makanan masakan Ibunya.
"Astaga" ucapnya tanpa sadar. Membuat Rere seketika menoleh kearah Billa yang sedang menggelengkan kepalanya pelan.
"Kenapa ? kamu pusing ?" Billa menggeleng cepat dan mencoba tersenyum.
"Tidak, aku hanya sedang menonton itu" ucapnya sambil menunjuk tayangan Upin Ipin yang sedang ditonton.
"Aku kira kenapa, Eh iya. Kamu sudah membuka kado dari Zafran ?" tanya Rere penasaran. Billa hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. "Jujur aku kagum sama pria itu. Sudah ditolak masih saja perhatian sama kamu" ucapnya enteng dengan meneruskan mengerjakan tugasnya.
"Kamu sebenarnya ada hubungan apa sama teman lelakimu itu ?" tanya Billa mulai terbuka dengan Rere. Keduanya sebenarnya sudah penasaran lama tentang kedua pria yang sama-sama pernah ditemui saat itu. Saat itu Billa menunggu Rere berbicara empat mata dengan teman lelakinya. Billa ditemani Zafran yang tidak disangka ternyata malah menyatakan ingin menghalalkannya.
"Hehe, Dia sebenarnya pacarku. Kami sudah menjalin hubungan cukup lama. Komunikasi yang jarang dan sulitnya membagi waktu untuk sekedar bertemu. Membuatku dan Regan sama-sama berjalan sendiri. Sampai aku menemukan kejanggalan dari sikapnya. Dia selingkuh Bill. Waktu kita ketemu sama mereka, saat itu aku milih putus dari hubungan ini. Tapi ternyata Regan memperjuangkan aku. Yah.. seperti yang kamu lihat, aku balikan lagi sama dia." Ucap Rere gamblang mulai terbuka dengan teman kosannya yang diyakini cukup bisa menjaga kepercayaan.
"Kamu yakin dia tidak akan mengulangi lagi kesalahannya ?" Billa yang mendengar penuturan temannya jelas seketika langsung teringat dengan Syafik yang membuat kepercayaannya hancur. Dalam hal ini Billa jelas hanya berpihak sebagai pendengar yang baik. Gadis itu berusaha tetap tenang walaupun langsung teringat dengan pria yang sudah melukainya.
"Apa Zafran dan Regan berteman ?"Rere tertawa ringan saat mendengar pertanyaan teman Kosannya itu.
"Mereka sepupuan. Makanya aku mengenal Zafran karena Regan sering sekali menceritakan tentang saudaranya itu. Billa terkejut dengan penuturan Rere yang sangat jelas itu.
"Yassalaam.., apa kamu juga mengetahui Zafran pindah kampus?" tanya Billa penasaran sejauh apa teman Kosannya itu mengenal pria yang menyukainya. Rere mengangguk pasti tanpa menoleh kearah Billa.
"Dia pergi karena tidak sanggup terus melihatmu Bill, Kamu tau. Dia begitu menyukaimu. Hatinya sakit saat kamu mengatakan tengah menunggu seseorang yang juga sedang study dan setelahnya menikah. Dia ingin move on dengan cara tidak melihatmu." Terang Rere gamblang sambil menatap Billa yang kini juga menatapnya.
"Baguslah.. mungkin dengan begitu, akan lebih baik bagi kami. Semoga Allah memberikan jodoh yang paling baik untuknya." Ujar billa tulus daridalam hatinya. Sebenarnya Billa sangat kaget ketika mengetahui alasan Zafran memilih pindah dari kampus yang sama dengan dirinya. Tapi, keputusan Zafran sangatlah tepat. Dengan begitu baik Billa maupun Zafran keduanya bisa sama-sama fokus dalam pendidikan.
"Apa tidak ada sedikitpun perasaan untuknya dihatimu Bill ?" tanya Rere serius yang langsung membuat Billa menghela nafasnya pelan.
"Entahlah, fokusku sekarang hanya satu. Aku ingin fokus pada pendidikanku." Jawabnya jelas. Rere mengangguk setuju mencoba memahami dari sisi Billa.
"Tentang pria yang kau tunggu, apa kamu-"
"Aku tidak lagi menunggunya." Rere menelan salivanya karena kaget saat Billa dengan tegas mengatakan tidak lagi menunggunya. Billa yang mulai tidak bisa menguasai hatinya memilih membereskan piringnya dan berlalu masuk kekamar.
"Sepertinya aku harus bersiap untuk kuliah Re, maaf aku harus kekamar." Ucapnya sebelum beranjak. Rere mengangguk pelan sebagai jawaban atas ucapan teman kosannya. Sebagai perempuan Rere sangat memahami perasaan yang kini Billa rasakan saat ada dua pria yang notabenenya berbeda. Namun yang membuat Rere sangat senang adalah kenyataan bahwa temannya itu sudah tidak lagi menunggu pria yang disukainya.
Billa membersihkan sisa sarapannya dan segera masuk kedalam kamar mandi. Gadis itu memang ingin segera mengguyur tubuhnya lantaran penat saat membicarakan masalalu nya. Cukup lama gadis itu bermain air untuk menghilangkan kekesalannya. Billa melangkah keluar kamar mandi sudah memakai pakaian formal untuk masuk kuliah pagi ini. Gadis manis itu segera bersiap memoles tipis lipstik dibibirnya agar tidak pucat dan memakai bedak tipis natural. Billa mengecek kembali jadwal dan peralatan yang wajib dibawa hari ini untuk masuk kelas.
Ding.
{"Tolong temui saya saat jam istirahat nanti. Berkaitan dengan tugas"}~ Pak Ricky Dosen Mentopen.
Billa menautkan kedua alisnya saat membaca pesan singkat dari Dosennya. Jarinya mengetik lincah pada layar ponselnya.
{"Siap Pak"}~
'Tumben gak pakai email, biasanya kalau ngirim tugas juga lewat email. Apa tugasnya banyak. Makanya harus dijelaskan.' Batinnya mencoba menerka-nerka. Belum sempat membenarkan hijab yang akan dikenakan, notice diponselnya kembali berdering. Membuat Billa segera melihat pesan pada ponselnya
{"Bill, Nanti temani Aku menghadap Pak Ricky."}~Ratna
Billa menghela nafasnya lega, ternyata bukan hanya dirinya yang harus menghadap, tetapi kosma kelas juga harus menghadap. Tadinya, Billa berfikir akan mengajak Ratna selaku kosma untuk ikut menghadap. Ternyata Dosennya itu juga menghubungi temannya.