Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Jangan Kejar Dia!



Ricky keluar dari mobil mewahnya yang telah terparkir rapih di bagasi rumahnya, pria itu tengah berjalan menuju ruang tamu dengan senyum yang merekah di sepanjang jalan. Pria itu bahkan tidak menyadari ada sebuah mobil lain yang terparkir di area halaman rumahnya yang luas. Langkahnya terhenti saat Indera pendengarannya menangkap suara yang sangat tidak asing di telinganya.


'Mutia' ucapnya dalam hati ragu untuk melanjutkan langkahnya detik itu juga. Pria itu berbalik badan dan segera berlari kearah mobilnya. Tangan panjangnya segera merogoh ponsel yang terdapat dikantong celananya. Tidak butuh lama untuk seorang Ayah Roby mengangkat panggilan dari putra tunggalnya.


"Ayah, Kenapa kalian membiarkannya masuk kedalam rumah kita lagi ?" ucap Ricky menekan emosi didalam hatinya.


"Masuklah dulu, siapa tahu kamu mau reunian sama sahabatmu ?" ujar Ayah Roby cuek tanpa memperdulikan keluhan putranya.


"Tidak, lebih baik aku pulang ke Apartemenku." Ricky segera mematikan ponselnya dan memasuki mobilnya dengan buru-buru, namun saat ingin menghidupkan mesin, pria itu dikagetkan dengan ketukan pelan kaca mobilnya.


"Iky, kumohon jangan menghindar dariku. Aku hanya ingin bertemu sebentar denganmu." Cicitnya sedikit keras disertai ketukan kaca jendela mobil yang nyaring. Ricky segera keluar dari mobilnya setelah menghela napasnya kasar untuk menghilangkan kekesalan didalam hatinya.


"Mutia, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Sebaiknya kita tidak perlu bertemu mulai sekarang."


Deg


Mutia terdiam ditempat dengan raut wajah yang begitu kecewa dengan penuturan dari pria yang masih begitu dicintainya. Ayah dan Ibu Ricky hanya menyaksikan drama percintaan anaknya yang belum usai. Sebenarnya kedua orangtua Ricky sempat mengusir Mutia dari rumahnya. Namun, Mutia bersikeras untuk menjelaskan perkara kesalahpahaman tentang dirinya saat masih di Singapura. Dengan berat hati Ayah Roby dan Ibu Nadia mau mendengarkan penjelasan dari gadis itu, Kedua orangtua Ricky yakin walaupun sudah mengetahui fakta yang sesungguhnya, Putranya tidak akan kembali kepada perempuan yang terlihat masih begitu mencintai anaknya.


"Baiklah, setelah ini aku tidak akan menemui kamu lagi. Tapi, izinkan aku memelukmu sekali saja Ky, setidaknya sebagai salam perpisahan terkahir untuk hubungan ini. Kita bahkan memulainya dengan baik, bukankah seharusnya di akhiri dengan cara baik pula ?" pinta Mutia dengan menakan rasa sakitnya didalam hatinya.


"Maksudmu hubungan kita tidak seharusnya dilakukan ? kamu bahkan menyesal karena telah mengenalku lebih dalam ? apa kamu begitu membenciku ?" tanya Mutia beruntun dengan air mata yang terus mengalir di pipi mulusnya.


"Tidak, aku tidak membencimu, aku juga tidak menyesal telah mengenalmu. Seorang wanita dan pria, tidak seharusnya menjalin kasih tanpa ikatan. Itu jelas tidak diperbolehkan dalam Islam, Aku sangat memuliakanmu sebagai wanita. Dengan begitu, derajat kamu sebagai wanita sangat tinggi jika mampu menjaganya. Begitupula denganku, aku juga akan dipandang tinggi oleh Allah jika mampu menjaganya dengan baik."Ujarnya mencoba menjelaskan situasi yang bisa diterima oleh perempuan cantik dihadapannya.


"Apa kamu sudah tidak ada perasaan lagi kepadaku ? Aku akan berusaha menjadi lebih baik jika kamu menginginkannya. Aku juga akan belajar ilmu agama dan mengaji jika itu yang kamu inginkan. Iky, aku masih mencintaimu" gumamnya lirih menunduk dalam dengan air mata yang jatuh tanpa henti. Gadis itu begitu sedih saat mengetahui fakta bahwa pria yang selama ini dicari telah berubah bahkan terkesan menghindarinya.


"Mutia, bukan itu yang aku inginkan. Jika kamu ingin belajar dan lebih baik lagi, maka itu akan sangat baik untuk kehidupanmu. Tapi bukan karena untukku, niatkan karena Allah. Dengarkan aku, ini mungkin akan membuatmu sadar dengan kamu mengetahui kebenaran yang terjadi padaku. Tia, aku sudah memiliki calon istri, kami sudah proses khitbah. Dan Insyaallah satu bulan lagi kami akan menikah." Ucap Ricky hati-hati, netranya berusaha mengalihkan pandangannya agar tidak melihat wanita rapuh dihadapannya. Bagai tersambar petir di sore hari, Mutia benar-benar shock dengan kabar yang dilontarkan pria dihadapannya. Gadis itu mundur beberapa langkah dengan menahan gejolak emosi didalam hatinya, sakit tentu saja. Penantian selama delapan tahun tidak bertemu, kini tidak terbayar lantaran fakta yang tidak ingin didengarnya ternyata begitu gamblang dikatakan.


"Haha, kamu bercanda kan, kamu berbohong kan, tidak mungkin." Gumamnya lirih sambil menghapus air mata yang turun begitu saja. Ricky menghela napasnya kasar dan menjambak rambutnya pertanda bingung bagaimana lagi harus mengatakannya.


"Tia, apa yang dikatakan oleh Ricky memang benar, dia telah bertunangan dengan seorang wanita Sholihah. Tante harap, kamu bisa menerimanya Nak, masih banyak laki-laki diluar sana yang akan mencintaimu lebih daripada cintamu pada Ricky saat ini. Percayalah, mungkin Ricky memang bukan yang terbaik untukmu Nak, kamu berhak mendapatkan yang lebih baik daripada anak Tante. Sayang, kamu adalah seorang Dokter, kamu cerdas, dan juga cantik. Tante harap, kamu bisa menerima takdir Allah tentang kisah cintamu." Ucap Ibu Nadia sambil memeluk erat wanita yang dulu pernah dekat dengan putranya. Ibu Nadia dari dulu memang belum memberikan restu dalam hubungan yang terjalin antara putranya dengan Mutia, namun, wanita yang tidak lagi muda itu juga tidak melarang hubungan keduanya.


"Tante, aku masih mencintainya. Kumohon Tante, ini bohong kan, Ricky tidak mungkin sudah bertunangan. Aku bahkan menutup diri selama ini hanya untuk Ricky. Ini tidak adil!" teriaknya putus asa berlari masuk kedalam mobilnya yang terparkir dihalaman luas milik keluarga Irawan.


"Tia, hati-hati. Tenangkan dirimu dulu, jangan menyetir saat masih menangis. Mutia!" teriak Ricky mencoba menggedor kaca jendela mobil milik Mutia. Namun, teriakannya sama sekali tidak dihiraukan oleh Mutia, gadis itu tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Jangan kejar dia. Biarkan dia seperti itu. Kamu bukan pacar apalagi suaminya. Biarkan Deden yang mengejar dan mengawasinya." Ucap Ayah Roby yang sejak tadi hanya menyimak drama dihadapannya. Pria yang tidak lagi muda itu sudah memerintahkan salah satu supir terbaiknya untuk mengejar mobil wanita yang sejak tadi berada dirumahnya. Ricky menghentikan langkah lebarnya dan berusaha memenangkan pikirannya tentang wanita yang dulu pernah memenuhi hatinya. Pria itu masuk kedalam rumah tanpa mengatakan apapun dan langsung naik ke kamarnya.