Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Liburan di mulai



Cukup larut pria tampan itu termenung dengan pernyataan yang dikatakan oleh gadis yang sangat dia harapkan untuk menjadi pendamping hidupnya, mendengarkan keluh kesahnya ketika memimpin pondoknya, dan sejuta harapan yang telah dia angankan ternyata harus sirna sebelum mencoba. Sungguh menyedihkan kisah cintanya, setelah di tinggal pergi tanpa kejelasan dengan kekasihnya,kini bahkan di tolak tanpa mau mencoba mendekat. Terlalu sakit nampaknya bagi Zafran dengan kenyataan yang ada di depan mata, membuatnya berfikir kembali jika ingin tetap di sini. Pemuda itu melangkah jauh dari balkon tempatnya memikirkan kebaikan untuk dirinya sendiri dan berjalan kearah ruang kerja sang Abah yang kebetulan sedang memeriksa laporan dari kakaknya Zaid.


*


Malam ini untuk pertama kalinya Billa sangat lega ketika sudah mengatakan sejujurnya dengan Zafran, Billa akui dirinya sudah menaruh hati kepada syafik. Hingga sulit baginya untuk menerima pria lain yang mencoba mendekatinya. Gadis itu merangkak ke ranjang kecil ternyaman nya dan mulai merajut mimpi dengan perasaan yang lega.


.


Suara motor yang di panaskan dan gurauan teman-teman kosannya begitu nyaring di telinga Billa, gadis itu memutuskan tidur kembali saat setelah melaksanakan aktivitas subuhnya. Billa ingin menyiapkan staminanya untuk menyetir motor nya sendiri untuk perjalanan pulang kampung yang memakan waktu kurang lebih satu setengah jam lamanya.


"Bill, bangun dong. Mau pada otw balik nih. Bakal lama kita gak ketemu." Teriak Rere mewakili teman-teman kosannya yang juga sedang bersiap mengeluarkan barang-barang yang akan di bawa pulang. Billa mencoba menjawab teriakan Rere dengan bergumam lirih, kesadaran nya belum sepenuhnya kembali setelah tidur pulasnya.


"MaaSyaAllaah, udah pada mau otw ya.., Aku malah baru bangun hehe" ujarnya tanpa dosa


"Kamu jadi pergi sama teman-temanmu ?" tanya Rere sambil membuka nasi uduk sebagai sarapannya pagi ini.


"Enggak, aku pulang hari ini. Abangku tidak kasih izin" ujarnya sendu.


"Tidak apa, masih ada liburan semester lagi kedepannya, mudah-mudahan masih ada acara kelas di lain waktu"


"Betul" Billa melangkah ke dapur dan mencoba memasak nasi goreng seadanya dengan sisa nasi tadi malam di rice cooker miliknya.


"Kami berangkat duluan ya, selamat liburan. Semoga di tahun ajaran baru kita bertemu kembali. Salam untuk keluarga kalian ya. Assalamualaikum" Teriak salah satu teman kosan Billa yang tak sabar pulang ke kampung halaman.


"Iya, Hati-hati dijalan, Salam juga untuk keluarga kalian" Ucap Rere berteriak sambil melambai kearah teman-teman nya yang sudah mulai melajukan motornya masing-masing untuk meninggalkan kosan. Kini yang tersisa hanya Rere dan Billa yang belum beranjak untuk meninggalkan kosan. Billa berencana untuk melakukan perjalanan saat sore, agar sejuk dan mulai tidak panas ketika berkendara. Namun lain halnya dengan Rere, perempuan itu sepertinya sedang menunggu sesuatu sebelum pulang.


"Nungguin siapa sih, dari tadi mondar-mandir gak jelas banget kamu re"


"Hehe, Sorry kalo ganggu. Aku nunggu di depan aja ya"


"Apaan sih, biasa aja woy, cuman penasaran aja sampe segitunya kamu nungguin, jangan-jangan ini yang buat kamu nunda pulang pagi ?" Yang di tanya hanya tersenyum dan kembali menyambar benda pipih nya untuk menghubungi seseorang.


"Aku Sampek bosen, awas aja kalo gak jadi" ujarnya ketus. Billa yang sedang menonton tv di buat melongo dengan perkataan temannya yang ketus itu.


"Aku kesel loh bill, kenapa sih cowok kalo udah dikasih kesempatan pasti bakal ulangin lagi kesalahan nya?" Billa yang mulai paham arah pembicaraan nya mulai memperbaiki posisi duduknya dan menatap temannya lekat.


"Aku nunggu dia Bill, laki-laki yang dulu pernah ngajak kamu dan aku ngomong di cafe" Billa hanya mengangguk dan mencoba mendengarkan lagi. Keduanya hening tanpa ada yang mau mengawali pembicaraan lagi. Hingga suara ketukan dan salam yang keras terdengar oleh mereka. Rere yang sepertinya faham dengan suara itu segera bangkit dan membuka pintu. Sedangkan Billa langsung masuk ke kamar tidak ingin mendengarkan lebih jauh permasalahan teman samping kamarnya itu.


.


"Assalamualaikum Annisa ku" Billa mengedipkan matanya berkali-kali untuk memastikan dirinya tidak salah membaca pemilik nomor yang sedang mengirimkan pesan salam kepadanya itu. 'Syafik' batinnya. Dengan cepat gadis itu membuka pesan itu dan mulai membalas nya dengan senyuman yang mengembang di sudut bibirnya.


"Waalaikumussalam syafik, apa kamu libur ?" Sebenarnya Billa cukup syok dengan pesan yang di terima siang ini. Pasalnya syafik tidak pernah memberitahu sebelumnya akan ada jam menelfon pekan ini. Dia juga penasaran apakah syafik dan sahabat nya juga libur semester seperti yang di alami nya.


"Hem, kami libur. Tetapi tidak diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Karena liburan kami tidak selama liburan yang kalian punya" ujar nya dengan senyuman yang juga tidak pernah luntur setelah mendengar suara gadisnya. Billa mengangguk paham.


"Apakah boleh memegang handphone selama libur disana ?" ujar nya memastikan.


"Iya, aku ingin kita memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin Annisa" Billa tersenyum bahagia ketika mendengar perkataan Syafik. Keduanya larut dalam obrolan dan mulai berbagi cerita masing-masing tentang perkuliahan yang di alami keduanya.


"Kalian sungguh beruntung, bisa belajar langsung dari para syeikhoh yang memang ahli dalam bidangnya" Ujar Billa menyesali dirinya tidak menentang keinginan abangnya. Membuat syafik seketika tersenyum mendengar perkataan gadisnya.


"Hey, kenapa begitu. Kamu juga akan belajar nantinya. Tenang saja." ucapnya tegas.


"Oh ya ?, dengan siapa ?"


" Tentu saja denganku, dan kamu jangan menyesali dengan pendidikan yang kau tempuh sekarang. Sebab aku akan menjadi seorang lelaki yang paling beruntung mendapatkan mu karena kamu telah mempelajari pendidikan untuk anak kita nantinya," Billa hanya tersenyum dengan ucapan syafik, padahal diujung sana syafik tidak melihat senyum itu, membuatnya berfikir apakah Billa tidak ingin membahas ini lebih jauh, Billa terlalu bahagia dengan segala perkataan yang di lontarkan kepadanya, sampai lupa tidak memberikan respon apapun pada syafik yang tengah menunggu gelisah.


"Apa aku salah ngomong ?" gumamnya lirih namun masih terdengar di telinga gadisnya.


"Tidak, aku hanya terlalu bahagia dengan gombalan recehmu" ucapnya sambil tertawa.


"Aku serius, jaga hatimu ya" kata yang penuh dengan penekanan membuat Billa sangat yakin bahwa Zafran bersungguh-sungguh dengan segala ucapannya selama ini.


"Aku akan menjaganya dengan baik."


"Benarkah ?, Aku ingin tahu, apa tidak ada seorang lelaki yang mencoba mendekatimu ?" Billa meneguk saliva nya dengan kasar. Gadis itu sudah menduga bahwa cepat atau lambat Syafik pasti akan menanyakan hal ini.


"Apa nanti malam kamu akan tetap memegang ponsel mu ?" ujarnya mencoba mengalihkan topik pembicaraan itu, membuat Syafik mengerti bahwa gadisnya sedang menghindari pertanyaan itu.


"Insyaallah kami akan memegangnya sampai liburan selesai, jadi aku bisa menelfon mu kapan saja" ucapnya tegas.


"Aku.-