
"Dek" panggil Ricky lirih dengan satu tangan berusaha untuk menyentuh jari Istrinya yang sejak masuk mobil diam seribu bahasa.
"Iya ?" Billa menoleh dan berusaha melepaskan genggaman tangan dari suaminya.
"Ada apa ?" Ricky menepikan mobilnya tepat di depan sebuah kedai kuliner yang lumayan ramai pagi itu. Pria itu mampu merasakan sesuatu yang tidak beres dengan Billa yang sejak dalam perjalanan terlihat menyembunyikan sesuatu.
"Ayo Kak, aku sangat lapar" jawab Billa berusaha menghindari kontak mata dari kekasih halalnya yang kini tengah melongo karena Billa telah keluar dari mobilnya begitu saja.
Billa memesan makanan dan minuman hangat karena memang perutnya sudah menahan lapar sejak subuh. Sementara Ricky hanya pasrah dan duduk dihadapan Istrinya saat ini. Keduanya makan cukup tenang tanpa ada yang ingin memulai obrolan.
'Apa Kak Ricky tersinggung karena aku tadi meninggalkannya begitu saja dari mobil ?' tanya Billa dalam hati dengan sesekali mencuri pandangan dari pria dewasa yang terlihat semakin tampan.
"Jangan memandangiku terus, Kakak tahu kalau kamu begitu mengagumi ketampanan milik Kakak bukan ?" ujar Ricky tanpa menatap Istrinya yang kini terlihat begitu malu bahkan pipinya terlihat memerah.
"Narsis" satu kata yang lolos dari mulut Billa jelas menghentikan gerakan sendok Ricky seketika. Pria itu menatap netra Istrinya yang saat itu juga tengah menatapnya.
"Fakta" keduanya terkekeh geli saat menyadari obrolan mereka yang konyol.
Pasangan pengantin baru itu memutuskan berjalan-jalan disekitar Villa sembari banyak mengobrol untuk saling mengenal jauh satu sama lain. Ricky tidak pernah melepaskan genggamannya pada jari mungil milik Istrinya selama keduanya menikmati pemandangan indah yang memanjakan mata.
"Aku tahu, kamu saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ada apa Dek ?" Ujar Ricky menarik Istrinya kedalam pelukannya berusaha selembut mungkin agar Billa tidak sungkan.
"A-aku hanya memikirkan tugas laporan KKN yang belum aku selesaikan Kak"
"Benarkah ?" Ricky mengurai pelukannya dan menatap netra Istrinya yang kini tengah menunduk menghindari kontak matanya. Sementara Billa hanya mengangguk lemah tanpa ingin membalas tatapan dari suaminya.
"Jangan sungkan untuk meminta bantuanku jika kesulitan saat mengerjakan laporan nanti ya.."
"Terima kasih Kak"
Pasangan suami Istri itu kembali menikmati pemandangan dihadapan mereka dengan sesekali berfoto untuk mengabadikan momentum bulan madu Keduanya.
"Dek, boleh Kakak bertanya sesuatu ?" Billa yang saat itu tengah menikmati jagung bakar manis langsung mengangguk sambil tersenyum.
"Siapa pria pertama yang kamu sukai dulu ?" pertanyaan Ricky jelas langsung membuat Billa tersedak, perempuan itu bahkan langsung meminum air kelapa bakar yang sudah ada dihadapannya. Billa tidak menyangka, dari begitu banyak hal yang belum diketahui suaminya mengenai dirinya. Harus pertanyaan tentang pria yang ditanyakan padanya.
"Ehem, apa itu penting ?" tanya Billa serius menatap suaminya yang kini tengah menunggu jawabannya.
"Tidak jika dia tidak muncul atau mengganggu rumah tangga kita, tapi hal itu akan menjadi serius jika apa yang aku khawatirkan benar-benar terjadi." Jawaban suaminya jelas membuat Billa bingung bahkan bertanya-tanya dalam hati.
"Rahman" jawab Billa singkat menatap netra suaminya yang terlihat sendu bagai mawar yang sudah layu.
"Apa dia kini tengah belajar di Bogor ?" Billa mengangguk pasti sembari memperhatikan raut wajah suaminya yang semakin murung.
"Apa saat kita menikah dia datang ?" lagi-lagi Billa mengangguk sebagai jawaban, membuat Ricky melengos dan membanting jagung bakarnya yang tinggal beberapa gigitan lagi. Pria itu terlihat mengatur napas dan berusaha menekan rasa kesalnya dalam hati.
"Kak" panggil Billa lirih berusaha memegang tangan suaminya dengan lembut. Ricky menatap wajah Istrinya yang terlihat merasa bersalah karena telah menjawab pertanyaannya dengan polos.
"Apa Kakak marah karena jawabanku ?" Ricky tersenyum lembut dan membawa Istrinya kedalam pelukannya.
"Tidak, aku akan marah jika dia sampai berani mendekatimu lagi"
"Dia memang menjadi pria pertama yang aku sukai, tapi aku sama sekali tidak pernah memberitahu dia tentang rasa sukaku padanya dulu. Karena sahabatku Ara ternyata juga menyukainya, maka aku lebih memilih memusnahkan perasaan sekilas itu." Pernyataan Billa jelas membuat Ricky semakin tertarik dengan kisah Istrinya dulu.
"Jadi dia sama sekali tidak mengetahui telah disukai oleh bidadari sepertimu ?" Billa menggeleng sebagai jawaban dan menatap netra suaminya yang tengah menatapnya juga.
"Aku hanya pernah mencintai satu pria yang salah." Ricky mengerutkan keningnya mencerna pernyataan dari wanita yang telah menjadi partner hidupnya.
"Maksdnya ini pria lain ?"
"Ya"
"Siapa ?" tanya Ricky serius memasang Indra pendengarannya untuk menyimak segala penjelasan yang keluar dari mulut mungil istrinya.
"Syafik"
Deg.
Ricky menghela napasnya dalam dan berusaha menahan kesal yang tiba-tiba datang menyelimuti hatinya. Pria itu bahkan sampai berjalan mondar-mandir beberapa kali karena nama yang telah di sebutkan Istrinya sesuai dengan hasil laporan penyelidikan orang kepercayaannya.
"Sayang, apa kamu masih mencintainya ?" Billa hanya tersenyum miris menatap kosong pemandangan dihadapannya dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"Tidak sama sekali" Ricky tersenyum lega mendengar jawaban langsung dari wanitanya. Kini pria itu tahu hal apa yang harus dilakukannya untuk rumah tangganya.
"Lalu, siapa pria yang kini kamu sukai sekaligus cintai ?" pancing Ricky sengaja menggoda Istrinya yang mulai salah tingkah.
"Aku tidak tahu" jawab Billa cepat berlalu dari hadapan suaminya dengan menutupi kedua pipi chubby miliknya yang semakin memerah.
"Hey, kenapa lari. Aku ingin mendengar siapa pria yang saat ini kamu cintai Dek" panggil Ricky jelas semakin menggoda Istrinya yang tengah dikejar. Ricky menangkap tubuh Istrinya dan membawanya kedalam pelukannya. Pria itu bahkan tak segan mencium kening Istrinya meskipun sadar saat ini tengah berada di sebuah tempat wisata.
"Apa kamu tidak ingin bertanya apapun kepadaku Dek ?" tanya Ricky tanpa melepaskan pelukannya justru semakin membawa wanitanya dalam dekapan hangatnya.
"Tidak, yang aku harap. Cinta itu selamanya hanya untuk Istrinya seorang" jawab Billa serius memberanikan diri mencium bibir suaminya sekilas. Ricky tidak menyangka, Billa anak didiknya yang tegas kini tengah berani menciumnya terlebih dahulu. Jarak yang sangat lekat dan intens membuat pria itu leluasa untuk memperdalam ciuman sekilas yang sepat ingin di lepaskan oleh Istrinya. Dengan lihai Ricky mampu membalik keadaan, tangannya menahan tengkuk Istrinya guna memperdalam ciumannya.
'Astaga, aku sungguh tidak bisa menahannya lagi. suasana yang dingin dan sejuk membuatku ingin kembali menggagahi Billa.' Ujar Ricky dalam hati.
Ricky melepaskan tautan bibirnya saat melihat wanitanya mulai kekurangan oksigen.
"Kita pulang ke Vila sekarang Dek"
"Eh, tapi kan kita masih belum melihat kearah sana" protes Billa mulai sadar telah membangunkan sisi mesum suaminya yang tidak bisa di tunda.
"Nanti sore kita akan jalan-jalan lagi sepuasnya. Sekarang, buat suamimu senang dulu." Bisik Ricky yang langsung membuat pipi chubby Billa merona.