Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Secuil kenangan.



"Bill, sini dah gue pengen nanya serius sama lu" ujar Raka setelah pulang dari masjid menemukan teman perempuan yang memakai hijab lebar itu sedang menyiapkan bahan untuk membuat sarapan pagi. Pria itu benar-benar merealisasikan apa yang ada di benaknya untuk bertanya langsung pada Billa.


"Mau tanya apa ka ?" tanya Billa dalam posisi masih belum beranjak.


"Yang telfonan sebelum subuh lu bukan ?" tanya Raka sembari melangkah mendekat disusul oleh Agil dan juga Ridho. Sedangkan Alir tidak ikut masuk kedalam rumah lantaran langsung mengambil sapu lidi yang berada di pojok rumah untuk menyapu halaman depan.


"Hehe, maaf ya kalau ganggu. Padahal sebisa mungkin udah melanin suara. Sorry" ucap Billa sambil tersenyum hangat kepada teman lelakinya yang sedang menatapnya.


"Lagian kaya gak ada waktu lain aja sih Bill, kan bisa nanti siangan dikit" ujar Agil masih saja merasa aneh dengan jam telpon Billa.


"Iya, seharusnya memang seperti itu. Maaf ya kalau menganggu tidur kalian. Nanti aku bakalan bilang ke Kakakku biar gak nelfon lagi di jam subuh kaya tadi." Raka yang sempat menunduk lesu kembali menatap perempuan dihadapannya yang sejak tadi mengupas bawang.


"Lu telfonan sama Abang lu ?" tanya Raka serius.


"Iyalah, memangnya sama siapa lagi." Ujarnya sambil tersenyum ramah.


"Gue maafin asal buat sarapan yang enak pagi ini ya" Ucap Agil yang langsung beranjak keruang tengah.


"Berani bayar berapa lu nyuruh Billa buat masak sarapan enak ?" tanya Tiwi yang baru saja keluar kamarnya.


"Tau tu Agil, sok banget keganggu padahal mah takut aja kalo ternyata bukan Billa yang ketawa. Tapi.. hantu yang lagi ngeliatin lu ngeces di bantal" sanggah Ridho yang sejak tadi hanya menyimak obrolan teman-temannya.


"Sialan" umpat Agil menendang kecil kaki Ridho begitu saja.


"Lagian ya, kalian aja yang telat info. Billa itu memang selalu bangun kalau menjelang subuh, tepatnya sekitar jam tiga atau setengah empat dini hari. Dia rajin banget sholat malem. Kebetulan aja tadi subuh di telfon sama Abangnya. Makanya dia keluar kamar takut ganggu kita orang yang lagi tidur." Terang Tiwi jelas begitu saja.


"Astaga, calon istri idaman gue banget nih model begini." Ujar Raka mulai dengan drama sinetronnya.


"Minggir kalian semua, gue mau masak. Spesial buat yang katanya keganggu sama aktivitas Billa ngangkat telfon di dapur." Sindir Tiwi yang lengannya langsung di senggol oleh Billa.


"Sudah Tiwi, memang aku yang salah. Aku minta maaf ya. Insyaallah tidak akan lagi ngangkat telfon menjelang subuh. Sekarang kita masak, nanti keburu kesiangan ngerjain proker kelompoknya." Raka mengajak Ridho dan Agil untuk mempersiapkan program yang akan diselenggarakan hari ini.


"Lu udah konfirmasi belum sama Ibu-ibu PKK Desa ini, Kalau memang udah dapet izin kita cus aja buat penyuluhan di balai desa Lir." Usul Ridho yang saat itu melihat ketua kelompoknya sedang sibuk dihadapan laptopnya dengan khusyuk.


Setelah sarapan pagi bersama dengan menu nasi goreng dan telur dadar ditambah sambal teri pedas yang dibuat oleh Billa dan Tiwi, aktivitas posko dua satu dua kembali sibuk mempersiapkan diri untuk melanjutkan program yang akan dilaksanakan esok hari.


"Sudah siap semua belum ? Ayo guys. Jangan lama-lama dandannya kaum hawa!" teriak Ridho yang sejak tadi sudah menunggu cukup lama.


"Sabar dulu oy, lu enak gak ngantri mandi tadi. Kita lama karena ngantri mandi Ridho!" ujar Eka kesal lantaran teman lelakinya satu itu selalu bawel dengan urusan waktu.


"Makanya kalau memang gak ada kerjaan buruan mandi, jadi gak ngantri bikin kesel aja. Kalau yang protes Billa, Tiwi sama Alir gue terima, mereka piket soalnya pagi ini. Lah ini Elo yang protes males banget gue dengerin. Jelas-jelas lu nganggur dari pagi, Bikin naik darah aja lu cewek!" Kesal Ridho bertambah dan langsung berjalan begitu saja tanpa menunggu teman-teman lainnya.


"Ikut cuy, kelamaan nunggu mereka. Kita langsung ke balai desa aja sekarang." Teriak Raka yang juga di ikuti langkahnya oleh Agil dan juga Alir. Keempat pria itu tidak ada yang menggunakan motor, semuanya sepakat untuk berjalan kaki menuju lokasi program walaupun cukup jauh.


"Dasar Cowok gak peka, dikiranya cewek bisa instan gitu kaya mereka. Ngeselin banget pagi-pagi bikin naik darah" celetuk Eka menggerutu sendiri sambil memoleskan bedak di pipinya.


"Sepertinya kita memang terlalu lama guys, benar kata Ridho. Mulai besok, selain yang piket kita harus mulai mandi biar gak mulur waktu terlalu lama untuk kegiatan." Ujar Febri menengahi agar tidak terjadi lagi hal kecil yang membuat aktivitas mereka tertunda lantaran mager.


"Aku setuju, kita harusnya belajar dari kemarin-kemarin. Sudah tahu antri dan cuma ada dua kamar mandi. Kita malah santai, lagipula mereka cowok-cowok mandinya juga gak disini. Mereka rela numpang mandi di kamar mandi masjid supaya kita gak ngantri. Eh malah tetep ngantri akhirnya." Terang Dita yang sejak tadi hanya menyimak perdebatan kecil diantara teman-temannya.


"Sudah yuk, sudah siap semua kan. Kita segera berangkat sekarang. Nanti mereka semakin marah kalau kita justru ngobrol disini." Cicit Billa yang langsung di setujui oleh rekan sesama perempuannya.


Perdebatan kecil ketika menjalankan program kuliah kerja nyata adalah hal yang akan menjadi kenangan dan warna tersendiri untuk masing-masing pribadi. Mereka semua sepakat, nantinya semua kejadian selama empat puluh hari dilalui bersama akan menjadi kenangan indah saat Mahasiswa itu selesai melalui program yang wajib dilalui oleh seluruh Mahasiswa pada akhir perkuliahan. Secuil kenangan itu akan menjadi cerita yang tidak akan dilupakan seumur hidupnya. Bayangkan saja empat puluh hari tidur, makan, debat, rapat dan melakukan hal lainnya bersama dalam satu rumah. Membangun kekeluargaan alami walaupun tanpa ikatan darah.


**


Disebuah ruang kerja bernuansa biru, terlihat seorang Pria dewasa tengah mengecek kembali sebuah undangan yang akan disebar langsung olehnya sendiri kepada teman-teman sejawatnya dan kolega bisnis yang menjalin erat kerjasama perusahaan satu sama lain.


"Fadil, apa jadwal saya masih ada setelah makan siang ?" tanya Reza kepada sekretaris pribadi yang selalu menemaninya selama menjabat sebagai CEO di perusahaan milik Ayahnya sendiri.


"Alhamdulillah sudah beres Pak, Anda kosong setelah makan siang nanti. Ada yang perlu saya bantu Pak ?" tanya Fadil sopan dan begitu cekatan mengimbangi karakter Reza yang begitu tegas.


"Okeh, terima kasih sebelumnya Dil, jika ada yang mencari ku tolong buat jadwal pertemuan selanjutnya, saya kemungkinan akan keluar setelah makan siang menemui beberapa teman saya dan rekan bisnis lainnya."Ujarnya sambil membereskan beberapa undangan pernikahan miliknya yang ada dihadapannya.


"Siap Pak" ucap Fadil lalu pamit keluar ruangan milik Bosnya.