Habibillah Hawaari

Habibillah Hawaari
Sakral



Pagi itu, kediaman rumah keluarga Hawaari penuh dengan sanak saudara dan kerabat dekat mempelai lelaki untuk ikut menggiring pengantin menuju Hotel, tempat acara sakral itu berlangsung. Billa dan Umma tengah membantu Kakaknya bersiap-siap dengan merapihkan pakaian dan perlengkapan ringan untuk dipakai Kakaknya saat akad.


"Duh.. tampan sekali Abangku, semoga lancar ya Bang." Cicit Billa menatap Kakaknya yang sudah siap dengan setelan pakaian putih bernuansa agamis.


"Masa sih, Abang kalah tampan tidak sama calon Adik ipar ?" tanya Reza kembali meledek Adik satu-satunya.


"Mungkin bakalan kalah sih" ujar Billa meledek kembali Kakaknya yang tengah mencubit pelan lengan Billa.


"Reza, akhirnya waktu ini tiba sayang. Umma harap, kamu mampu menjadi sosok Imam yang mampu membina rumah tanggamu dekat dengan Allah, jangan pernah membentaknya walaupun kau begitu emosi, jangan pernah menodai tangan bersih ini jika kelak tingkat kesabaranmu tipis. Sikapmu kepadanya mencerminkan bagaimana Umma dan Buya mendidik putra kami. Semoga Allah meridhoi dan memberikan keberkahan atas keluargamu kelak sayang." Ucap Umma yang begitu menyentuh sambil membelai wajah putra satu-satunya.


"Insyaallah Reza akan selalu lakukan nasehat Umma dan Buya, aku minta maaf jika dalam kesendirianku masih membebani dan membuat Umma dan Buya khawatir, jangan pernah berhenti memberikan restu dan doa Umma walau aku sudah menikah. Karena sesungguhnya aku masih tanggung jawab Umma dan Buya begitupun sebaliknya, Umma dan Buya akan tetap menjadi tanggung jawabku sampai nafasku berakhir. Semua pemberian Allah tidak pernah luput dari Doa Umma. Aku sayang Umma" Kedua pasangan Ibu dan Anak itu larut dalam pelukan hangat yang kini sebentar lagi mungkin akan jarang dilakukan setelah Reza menikah. Terlebih Reza memilih tinggal dirumah sendiri untuk membina rumah tangganya kelak.


"Belum akad sudah melow gini, gimana nanti kalau sudah akad. Sudah ah jangan sedih-sedih terus Bang. Kita sudah ditunggu oleh yang lainnya." Cicit Billa tersenyum hangat melihat pemandangan dihadapannya.


"Kamu gak sedih apa Abang akan menikah, secara nanti kamu tidak akan bisa sebebas dulu kepada Abang." Tanya Reza menatap Adiknya yang terlihat menahan tangisnya.


"Aku sebenarnya sangat sedih, tapi aku tidak ingin di momentum sakral ini kita sedih, apalagi sampai menangis. Aku ingin kita semua tersenyum, bukankah ladang pahala dan segala keberkahan akan tiba setelah lafadz akad suci itu terucap. Bahkan disaksikan langsung oleh pemilik bumi dan para malaikat yang sangat mulia itu." Ucap Billa kembali tersenyum hangat memeluk Kakaknya dan Ibu yang telah melahirkannya.


"MaaSyaAllaah, anak Umma sudah dewasa." Gumam Umma membalas pelukan anak-anaknya.


"Wah.., Buya ketinggalan ini. Kenapa tidak ajak-ajak kalau mau berpelukan" seloroh Buya Rehan muncul dari arah pintu kamar Reza.


"Buya" ucap Reza dan Billa bersamaan. Billa meraih tangan Ayahnya dan membimbing masuk berkumpul bersama Ibu dan Kakaknya.


"Sayang, kita sudah ditunggu diluar, tidak enak kepada mereka jika kita terlalu lama. Bissmillah, kita niatkan langkah kita untuk kebaikan. Semoga Allah membersamai langkah kita menuju lokasi." Ucap Buya yang langsung di setujui oleh Billa dan Ibunya.


Keluarga Hawaari itu melangkah keluar menuju mobil yang telah disiapkan sebelumnya, beberapa mobil lainnya sudah terparkir rapih dihalaman untuk ikut menggiring pengantin menuju lokasi. Termasuk para sahabat Reza yang kini tengah menatap Reza dari kejauhan.


"Assalamualaikum calon pengantin, semoga lancar ya. Allah bersama denganmu kawan." Ucap Zaid menyapa sahabatnya yang kini tengah menggandeng Istrinya juga.


"Waalaikumussalam, MaaSyaAllaah terima kasih telah menyempatkan datang kawan." Ujar Reza merasa terharu dengan sahabatnya.


"Kenapa kuliah gak bawa mobil aja Dek, kamu sudah lancar." Ucap Reza saat mengamati Billa yang kini lancar mengemudikan mobilnya.


"Alhamdulillah motor sudah cukup Bang " ujarnya tersenyum hangat kepada Kakaknya.


Tepat tiga puluh menit rombongan telah sampai dengan selamat di lokasi acara, dengan ramah dan juga meriah keluarga calon besan menyambut kedatangan mempelai pria dengan sangat sopan. Tidak butuh waktu lama acara sakral itu kini telah tiba didepan mata.


Reza dengan tenang menjabat tangan wali dari mempelai perempuan untuk mengikrarkan qobul dengan lancar.


"Saya terima nikah dan kawinnya Winda Lailatul Husna Binti Kyai Amar Ruslan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Ucap Reza dengan lugas dan satu tarikan napasnya.


Suara sah dan Doa terpancar jelas diucapkan oleh sang penghulu dan para saksi ijab qobul beserta keluarga inti. Seorang wanita cantik dan sangat anggun dengan berbalut pakaian pengantin indah nan syar'i keluar dari sebuah ruangan yang di dampingi oleh beberapa keluarganya menuju tempat sakral Reza mengucapkan ijab qobul.


Perempuan yang tidak lagi menyandang status jomblo itu kini telah duduk berdampingan dengan suaminya, Reza segera menatap wajah ayu Istrinya yang dulu tak pernah mau dia tatap untuk menjaga pandangan sebagai Ikhwan Sholih. Pria itu menyempatkan doa kebaikan diatas kening istrinya dengan khusyuk dan mencium keningnya dengan lembut. Sementara Winda meraih tangan halal suaminya untuk mendapatkan ridho dan keberkahan pertama kali sebagai suami istri dengan takzim.


Billa memeluk Ibu dan Ayahnya bersamaan setelah menyaksikan momentum sakral Kakaknya dengan lancar, gadis itu merasa sangat bahagia Kakak satu-satunya telah mendapatkan seorang partner yang sangat tepat. Netranya menangkap seorang pria yang tidak terlihat sejak tadi kini tengah mengobrol asyik dengan seorang lelaki yang juga dikenal oleh Billa, namun dengan cepat gadis itu kembali menatap Kakaknya yang kini tengah melakukan tradisi sungkem kepada mertuanya untuk meminta restu dan doa terbaik dalam rumah tangganya.


"Sayang, bisa tolong ambilkan Umma minum. Umma sangat haus karena sejak tadi menangis." Bisik Umma ditelinga gadisnya. Billa tersenyum hangat dan mengangguk sebagai jawaban. Dengan cepat gadis itu beranjak untuk mencari minum yang telah disediakan dekat deretan berbagai jamuan.


"Dek" ucap seseorang dengan suara berat khasnya yang sangat familiar ditelinga Billa. Pria itu memanggilnya dari dekat saat tangan Billa tengah memegang sebuah botol air minum.


"Iya ?" jawab Billa mendadak grogi dan sangat tidak nyaman.


"Haus ?" tanya Ricky ambigu yang juga kini mendadak grogi saat melihat gadisnya terlihat sangat cantik dengan gaun pesta syar'i yang sepertinya berseragam dengan keluarga inti.


"Aku harus segera mengantarkan ini ke Umma, silahkan nikmati hidangannya Kak, permisi" ucapnya tanpa sadar yang langsung membuat Ricky terkejut bahkan mengukir senyum tipis dibibirnya.


'Apa tadi katanya ? Kak ?' ucapnya didalam hati menatap kepergian Billa dengan perasaan bahagia.