
Billa mengernyit heran saat mendapatkan notice dari Zafran, bahkan terdapat 2 kali panggilan tak terjawab. Belum sempat mengetik, Zafran sudah mengirim pesan terlebih dahulu.
"Billa, apa ada yang ingin kamu tanyakan kepadaku?"
"Tidak, Semoga urusanmu lancar dan dimudahkan atas niatmu yang ingin menikah muda, dia sangat cantik Zafran" Zahran menghela nafasnya saat membaca balasan dari Billa.
"Dia bukan calon ku, Dia hanya teman lamaku. Apa kamu lupa, atas apa yang aku ucapkan di pertemuan terakhir kita ?"
Billa mengernyit kan dahi sambil berfikir. Gadis itu lantas paham apa yang dimaksud oleh Zafran. Billa tidak ambil pusing untuk menjawab pesan itu.
"Aku sedang menunggu seseorang Zaf, maafkan aku"
"Siapa ?"
"Tidak penting untukmu"
"Penting, kamu berbohong kan. Supaya aku tidak menunggumu"
Billa tidak membalasnya lagi. Dia sangat kesal dengan jawaban Zafran, sudah di beritahu malah mengira berbohong.
*
Hari berlalu dengan cepat, saat ini bahkan Billa sudah memasuki semester empat, gadis itu sangat menikmati proses perkuliahan dan kegiatan UKM nya dengan senang. Gadis itu mulai bisa menguasai setiap tugas yang di berikan oleh dosen dengan baik, dia bahkan tidak pernah kesulitan dalam mengerjakan tugas nya, baik itu tugas individu maupun kelompok dia kerjakan dengan baik. Hubungannya dengan syafik pun terjalin aman dan tentram, meskipun komunikasi mereka terhalang setiap dua pekan sekali baru bisa bertukar kabar itupun dengan waktu yang sangat singkat. Berulang kali syafik mengajaknya untuk menikah, tidak apa jika harus berpisah lantaran studi masing-masing. Namun Billa belum siap jika harus menikah muda. Gadis itu bahkan memiliki keinginan untuk melanjutkan studinya lagi setelah lulus strata satunya.
"Bill, ada titipan lagi nih," Billa lantas mengambil bungkusan itu dan membuka nya bersama Ratna.
"Wih, sarapan pagi nih, kamu jujur deh sama aku. Kamu jadian sama Zafran ya. Buktinya dia selalu bawain kamu sarapan gini. so sweet " ucapnya sambil menyuapkan satu sendok ke dalam mulutnya.
"Enggak Rat, tapi aku yakin ini juga bukan dari dia. Secara Zafran itu gak mungkin ngelakuin hal kayak gini iya gak sih" Billa mulai merasa aneh dengan titipan bekal yang selama ini dia terima. Kalau hanya satu atau dua kali tidak masalah, tetapi ini sudah hampir setiap hari dia dapat titipan dari kurir yang mengantarkan sarapan langsung ke kelasnya. Teman-teman sekelas Billa juga mengetahui nya sejak pak kurir itu selalu datang atas dasar mengantar sarapan. Semester ini memang jam mata kuliah Billa sangat terlalu pagi. Pukul 07:30 dosen pasti sudah memasuki kelas.
"Mungkin penggemar kamu tau, kalo kamu semester ini jamnya dimulai pagi." ucap Ratna sambil terus mengunyah sarapan milik Billa. Billa memang tidak pernah mengambil sarapan itu, Ratna selalu siap jika harus menghabiskan porsi itu. Billa terbiasa memasak pagi sehabis dia melakukan aktivitas subuh, dirinya sudah sangat disiplin mengingat jam mata kuliahnya yang terlalu pagi.
"Hem, tapi gak papa sih malah kamu jadi bisa sarapan kan?" ujarnya menyindir teman dekatnya itu.
"Haha, betul. kamu mending gak usah sarapan kalo pagi. Udah tau bakal dapet sarapan gratis malah masak kalo pagi."
"Tapi kan kamu jadi enak, bisa sarapan gratis ya kan?"
"Hehe, makasih ya. Nanti kalo kita udah tau siapa yang mengirim sarapan ini aku bakalan makasih banget ke orangnya. Perutku jadi kenyang dan belajar nya nyaman karena gak nahan lapar pas ada kuis pagi haha."
"Kenapa kita gak coba tanya kurirnya yuk, siapa yang mengirim ini tiap ada kelas pagi Rat"
"Udah, katanya privasi. Tapi pak kurir bilang. Kalau ini sarapan di jamin halal dan sehat. Jadi tidak usah takut kalo mau makan."
Billa semakin penasaran, selama ini Zafran tidak pernah lagi bertemu ataupun berkomunikasi dengan Billa. 'Tidak mungkin kalo itu dari Zafran.'
Kelas dimulai dengan tertib, hari ini bahkan terakhir perkuliahan semester empat menuju ujian semester perkuliahan. Banyak tugas yang diberikan guna menambah nilai yang diberikan oleh para dosen.
"Mana banyak banget tugas makalah individu ini, Minggu tenang bukannya untuk persiapan materi malah sistem kebut semalam buat bikin makalah"
"Besok kalo kamu jadi dosen jangan kaya gini kalo pas akhir semester Bill, Kasian mahasiswa nya. Udah repot pusing juga." ujar Ratna mengutarakan uneg-unegnya.
"Siap."
.
Pagi ini adalah hari yang membuat semua mahasiswa berusaha bangun pagi dan menyiapkan segala perlengkapan untuk ujian akhir semester perkuliahan. Seluruh mahasiswa diharuskan menggunakan almamaternya ketika memasuki kelas dan saat ujian berlangsung. Dilarang meninggalkan Kartu tanda mahasiswa selama mengikuti ujian. Pengawas akan menanyakan KTM kepada seluruh mahasiswa dikelas setiap akan membagikan soal yang akan di uji kan.
"Mampus, hari ini bukan soal lembaran yang di uji, tapi mikroteaching di kelas. Kesel banget aku Bill, kenapa sih gak soal atau tugas aja, mikro itu kalo lagi perkuliahan aktif aja. Masa udah di ujung gini masih aja mikro." ujarnya menggerutu selama menunggu pengawas datang.
"Udah jalani aja, lagian pasti bisa. Kita udah berulang kali mikro selama perkuliahan. Kamu bawa kan APE untuk materi kamu ?"
"Bawa sih, tapi sumpah males banget mikro depan dosen jurusan lain Bill." Sebenarnya Billa juga merasakan hal yang sama dengan Ratna dan temannya tetapi Billa berusaha tenang menghadapi ujian kali ini. Memang dasarnya cuek, jadi malas untuk bercerita apa yang di alami.
Seluruh mahasiswa jurusan paud untuk semester empat mengalami hal yang sama. Mikroteaching di depan dosen jurusan lain memang sangat tidak menyenangkan. Meskipun didampingi dengan dosen mata kuliah yang mengajarkan mata kuliah tersebut. Tetap saja membuat mental mahasiswa di uji untuk memperagakan layaknya guru sedang mengajar. Masing-masing mahasiswa hanya berikan waktu selama 5 menit untuk membahas materi yang telah di berikan oleh dosen.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga ini mikro. Besok hari terakhir kita ujian. Kamu langsung pulang kampung seperti biasanya apa mau ikut aku dulu kita have fun dulu bareng temen-temen lainnya."
"Memangnya kali ini pada mau kemana ?"
"Kayaknya pada mau muncak ke Rajabasa, ikutan yuk. Buat kenang-kenangan aja kalo kita pernah pergi bareng sama anak sekelas"
"Boleh, berapa hari"?
"Seperti nya cuma 1 malam"
"Okeh, habis itu baru pulkam."
Keduanya lantas keluar kelas dan menuju parkiran. Saat hendak memasang helm, tatapannya bertemu dengan netra seseorang yang juga sedang melihatnya dari kejauhan. Billa lantas memutus pandangan itu dan menoleh ke arah lain.
"Ayok naik, ke mall dulu yuk, Pumpung masih jam segini."
"Boleh"
"Kamu lihat Zafran tadi ?, dia suka sama kamu dari semester awal sampe sekarang. Kamu gak mau nyoba buat ngasih kesempatan apa ?"
"Enggak" jawabnya singkat. Ratna hanya mengomel karena sikap Billa yang terlalu cuek dan tertutup tidak pernah bercerita apapun padanya.
"Coba tanya, dia bukan yang ngasih kita sarapan semester ini kalo ada kelas pagi"
"Kamu aja deh, Males aku." Ratna tidak lagi menyahut, terlalu kesal jika membahas Zafran di depan Billa.
***