
Ricky memandang kepergian Billa dengan senyum yang terus mengembang dibibirnya. Pria dewasa itu benar-benar jatuh cinta pada Mahasiswinya sendiri.
"Astaga.., " ucapnya lirih ketika terus mengingat wajah ayu milik gadisnya. Ricky masuk kedalam mobilnya dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara Billa sepanjang jalan menuju kosan, hatinya benar-benar diliputi rasa kesal dengan keadaan. Bayang-bayang Syafik jelas masih ada pada pikiran dan hatinya. Bohong jika Billa sudah melupakan pria yang lumayan lama menjalin hubungan erat walau tanpa komunikasi intens.
Gadis itu memarkirkan motornya dengan hati-hati dan segera melesat kedalam kamarnya.
"Ya Allah.. Kenapa sulit sekali melupakan Syafik. Apa ini bagian dari hukumanku atas kesalahanku menerima sebuah hal yang tidak Engkau Ridho" ucapnya lirih. Air matanya jatuh kesekian kalinya ketika diri yang rapuh itu mengingat tentang laki-laki yang pernah memenuhi hatinya.
Dering handphone miliknya yang memekik membuyarkan lamunannya dan segera menghapus air mata yang terjatuh di pipi chubbynya.
"Assalamualaikum Bang.."
"Waalaikumussalam Dek, sedang di kampus atau dikosan ?"
"Billa baru saja pulang dari kampus Bang. Abang apa kabar ?"
"Abang sehat, Umma dan Buya juga sehat. Kamu kenapa ?" tanya Reza menangkap suara adiknya seperti habis menangis.
"Aku hanya lelah Bang.., semester ini benar-benar banyak sekali tugas" keluhnya ringan sambil terus berusaha menghapus air matanya yang keluar karena pertanyaan dari Abangnya.
"Istirahat yang cukup Dek.. jangan memaksakan jika memang badannya benar-benar lelah. Jangan sampai nanti sakit hanya gara-gara tugas numpuk." Billa tersenyum tipis mendengarkan nasehat Abangnya.
"Hem, Terima kasih Bang" Reza benar-benar merasa Adiknya sedang tidak baik-baik saja. Panggilan telepon dialihkan dengan Vidio call itu jelas membuat Billa bingung, dilain sisi dia ingin menjawab tapi tidak ingin Abangnya sampai mengetahui dirinya sedang menangis.
"Kenapa tidak di angkat. Abang ingin melihat pipi chubby milikmu" ucap Reza semakin yakin bahwa adiknya memang sedang menangis.
"Ada apa sayang..?" tanya Reza sekali lagi dengan lembut karena Adiknya tidak menjawab pertanyaannya.
"Tidak ada apa-apa Bang.. aku hanya ingin istirahat. Boleh kah aku matikan teleponnya. Insyaallah nanti kita sambung lagi setelah Billa mandi ya.." ucap Billa hati-hati mengalihkan rasa penasaran Kakaknya.
"Baiklah. Abang akan menghubungimu nanti malam. Ada yang ingin Abang bicarakan."
"Siap, Assalamualaikum Bang" Gadis itu segera mematikan ponselnya dan beranjak ke kamar mandi. Tubuhnya yang lengket dan lelah ingin segera di guyur oleh air yang dingin. Setelah lima belas menit bersih-bersih dikamar mandi gadis itu keluar dengan wajah yang lebih segar. Billa mengambil nasi bungkus yang sudah dibeli tadi saat perjalanan pulang dari kampus. Setelah menyelesaikan makan malamnya dengan penuh rasa syukur, gadis itu beranjak membuka laptopnya dan melanjutkan mengerjakan tugas kuliah yang sudah menantinya. Jika sudah sibuk dengan tugasnya Billa bisa melupakan kegundahan hatinya yang sebenarnya sangat rapuh.
"Sudah adzan, sebaiknya sholat dulu." Gumamnya pada diri sendiri seraya beranjak mengambil wudhu. Billa melaksanakan kewajiban setiap muslim dengan tenang dan hikmat. Gadis itu bahkan sempat memanjatkan doa untuk kebaikan dirinya dan orang yang disayangi.
Ding.
Billa yang sedang merapihkan mukena dan sajadah segera mengambil ponselnya yang berada diatas kasur. Gadis itu begitu minat untuk membuka notice pada ponselnya. Namun, saat mengetahui pengirim pesan membuatnya kembali meletakan handphone nya dengan lesu. Billa pikir Abangnya yang mengirim pesan. Ternyata Dosen yang belakangan ini mengganggu pikirannya. Gadis itu setengah hati mengabaikan pesan dari Dosennya.
"Aduh kalau begini serba salah. " Ucapnya kesal menghampiri ponselnya lagi dan mulai membacanya.
{ Saya pesankan cemilan untuk menemani mengerjakan tugas ya, tolong kirim alamat kosan kamu"} ~ Pak Ricky Dosen Mentopen
Billa menautkan alisnya setelah membaca pesan dari Dosennya. "Dasar sok perhatian" gumamnya lirih.
{Tidak perlu Pak, Saya baru saja makan malam. Sudah kenyang"}~ Sekertaris Kelas A prodi Paud.
Billa meletakan ponselnya dengan kesal setelah menyetel mode silent pada handphonenya. Gadis itu larut pada tugas yang sedang dikerjakan, dirasa badannya mulai pegal dan lelah Billa mematikan laptopnya. Gadis itu beranjak ke kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum tidur dan keluar dengan pakaian yang nyaman untuk menemani tidurnya.
"Ya Allah.. Aku lupa kalau tadi Abang mau ngomong. Astaghfirullah... " ucap Billa kaget ketika melihat riwayat sebanyak delapan panggilan tak terjawab dari Kakaknya dan satu panggilan dari Dosennya. Gadis itu ingin menelpon balik Kakaknya tetapi diurungkan karena melihat jam yang sudah menunjukan pukul sebelas malam.
{"Baiklah, tolong jangan menghindar. Saya hanya ingin membuatmu nyaman belajar di kampus"}
{"Bila"}~
{"Maaf jika mengganggu waktumu"}~
{"Belajarlah dengan nyaman, jangan sungkan jika bertemu nanti ketika di kampus"}~
{"Billa"} ~
{"Baiklah, saya tidak akan mengganggumu lagi malam ini. Selamat mengerjakan tugas"}~
{"Sekali lagi maaf karena membuatmu tidak nyaman selama perkuliahan nanti"}~
{"Tidak perlu menjawab CV ku dengan terburu-buru. Pertimbangkan dengan jernih. Insyaallah saya menunggunya dengan sabar"}~
{"Sepertinya kamu benar-benar sedang sibuk ya.., bacalah pesan ini. Sampai bertemu besok"}~
{"Jangan terlalu larut tidurnya. Jaga kesehatan walaupun banyak tugas"}~
{"Pesan ini terakhir, semoga mimpi indah. Selamat rehat"} ~
Billa tersenyum tipis membaca pesan dari Dosennya yang kalem itu. Gadis itu tidak menyangka ada seorang Dosen yang berusaha mendekatinya.
{"Terima kasih Pak. Saya akan berusaha nyaman. Selamat rehat juga"} ~
Billa terkejut ketika melihat centang berwarna biru pada pesan yang telah dikirim. Ternyata Dosennya belum tidur. Bahkan statusnya langsung online setelah membaca pesan darinya. Tentu saja, Ricky jelas menunggu balasan pesan dari gadis yang sudah mencuri perhatiannya. Betapa senangnya pria dewasa itu ketika mendapat balasan ucapan selamat rehat dari orang yang disukainya. Dirinya benar-benar seperti orang sedang kasmaran. Senyum manis itu jelas menghiasi wajah dinginnya sekarang.
"Apa ada kabar baik ?" tanya seseorang yang tidak sengaja melihat senyum pada wajah anaknya. Ibu Nadia yang ingin mengambil minum karena haus saat terbangun tidak sengaja melihat ruangan kerja milik anaknya terbuka membuatnya melangkah mendekat untuk memastikan.
"Sangat baik Bu...," Ricky menghampiri Ibunya yang sedang menatapnya di depan pintu dan memeluk Ibunya dengan erat. Sebagai anak tunggal, membuatnya sedikit manja dengan perempuan yang sudah melahirkannya.
"Apa itu tentang calon menantuku ?" Tanya Ibu Nadia dengan antusias. Ricky mengangguk sebagai jawaban tanpa melepas pelukan sang Ibu.
"Doakan anakmu yang sedang berjuang untuk membawanya kerumah ini Bu.." gumamnya lirih sambil mengurai pelukan keduanya. Ibu Nadia tersenyum hangat dan membelai wajah putranya.
"Alhamdulillah.., Ibu pasti mendoakan yang terbaik untuk kebaikanmu. Apa dia Dosen juga ?" Ricky tertawa kecil mendengar pertanyaan Ibunya.
"Dia masih unyu Bu..,"
"Eh..., Daun muda ternyata. Apa masih kuliah ? jangan-jangan.."
"Haha, benar.. Dia Mahasiswi yang sedang menempuh mata kuliahku Bu Nadia." Membuat Ibu Nadia benar-benar terkejut.
"Nak.., Astaga. Baiklah kalau kamu menyukainya. Ibu yakin dia pasti mempesona. Sampai membuat putraku jatuh hati pada Mahasiswinya. Perkenalkan pada Ibu dan Ayah secepatnya." tutur Ibu Nadia semangat. Jujur sebagai seorang Ibu melihat anaknya yang sudah lumayan berumur. Membuatnya takut jika putranya belum kunjung menikah. Kabar bahagia sekali baginya saat mengetahui putranya sedang berusaha mengejar gadis pujaannya.
"Doakan ya Bu.. semoga dia menerima putramu." Ibu Nadia Tersenyum lembut dengan mengangguk pasti pada permintaan anaknya.