
Hari kedua di tempat baru membuat seluruh Mahasiswa itu merasakan hawa yang begitu berbeda, dari mulai tidak bisa tidur karena belum terbiasa tidur sempit, bangun lebih awal dengan kondisi masih mengantuk karena harus menjalankan kewajiban di masjid, huru-hara kecil berebut kamar mandi. Dan masih banyak lagi keseruan yang membuat mereka tanpa sadar sudah lebih dekat dan makin kompak.
"Bill, lu ikut gue ke kantor camat sekarang. Ada program juga yang bagus buat program individu yang sesuai dengan prodi lu." Ucap Raka begitu saja disela-sela sarapan bersama pagi itu.
"Yaelah, gak cuman Billa yang ikut bro! tapi semuanya." Sanggah Alir lumayan jengkel dengan ucapan temannya satu itu."Iya juga. Sorry, gue ingetnya sama Billa aja." Modus Raka yang langsung mendapatkan umpatan dari teman-temannya. Sementara Billa yang sejak tadi dibicarakan tetap enjoy tanpa mau menanggapi celoteh teman-temannya.
"Lu kalo mau modusin Billa telat, gak liat tuh udah ada cincin mahal di jari manisnya." Celetuk Puri yang saat itu tak sengaja melihat cincin dijari manis teman sekamarnya itu. Dengan spontan, Billa langsung menyembunyikan tangannya yang saat itu langsung mendapatkan sorotan dari semua pasang mata pagi itu.
"Lu beneran udah tunangan Bill ? Atau bahkan udah Nikah ?" tanya Ridho lumayan kepo. Billa hanya diam dengan tenang tanpa menjawab bahkan lebih memilih fokus pada isi piringnya. Tiwi yang melihat teman dekatnya tidak nyaman segera mengubah topik pembicaraan.
"Tadi malam siapa yang gedor pintu depan ?" tanya Tiwi yang langsung membuat semuanya terdiam dan saling melirik.
"Tetangga sebelah, mungkin karena kita ribut dan kondisinya sudah larut. Nanti malam kita harus jaga sikap dan ucapan kita lagi. Mungkin mereka tidak nyaman dengan keributan kita tadi malam" ucap Alir menenangkan semua yang kini terlihat menyimak serius penjelasan darinya.
"Kita kan cuma ngobrol, dan itu juga gak ribut" sanggah Dita yang disetujui oleh teman lainnya.
"Tidak usah diambil pusing, nanti malam kita usahakan gak usah ngobrol kaya tadi malam sampai larut. Cukup sadar diri saja kita menumpang di desa ini." Billa dan teman-temannya mengangguk mengerti dan mulai membereskan peralatan makan untuk bersiap-siap mengunjungi Kantor kecamatan setempat.
"Bill, lu buruan mandi, yang lainnya udah pada mandi ngantri di kamar mandi masjid. Itu kamar mandi dalem kosong. Buruan gih mandi, nanti telat." Ucap Tiwi sambil mendorong temannya untuk segera masuk ke kamar mandi.
"Thanks ya Wi" ucap Billa setelah mengambil handuk dan perlengkapan mandinya.
Acara hari ini benar-benar menguras tenaga mereka semua, dari mulai perkenalan dengan warga kecamatan dan mendengarkan penjelasan kondisi desa dari Bapak Camat langsung. Juga mulai bersosialisasi dengan masyarakat setempat agar semakin akrab selama menetap di desa tersebut.
Cukup lama mereka semua berada di kantor kecamatan di desa itu, hingga menjelang siang Alir mengajak teman-temannya untuk pulang ke posko setelah berpamitan dengan staf dan Pak Danu selaku Camat setempat.
" Teman-teman, kalau nanti ada anak-anak yang sekiranya sedang bermain kita ajak mereka ke posko untuk merealisasikan proker kita tadi malam." Ujar Alir sambil melangkah berjalan bersama dengan teman-temannya untuk kembali ke posko.
"Siap" jawab mereka serempak sambil menutupi wajah mereka dari sinar matahari yang lumayan terik siang itu.
"Huft.. bisa-bisa gosong ini muka selama KKN, mana gak ada motor. Kalau ada kan kita enak gak jalan setiap mau kunjungan atau menghadiri acara " Celetuk Vivi mengomel seraya mengibas wajahnya dengan robekan kardus.
"Nikmati sajalah, yang lain juga kaya kita juga kok. Kita bahkan bersyukur karena internet masih terjangkau. Banyak posko lainnya yang tidak ada jaringan. Kebayang gak tuh, gimana sulitnya mereka sekarang." Ujar Alir menanggapi Vivi yang terlihat murung siang itu.
Disepanjang jalan Billa dan teman-temannya berusaha menutupi rasa panas yang menyerang kulitnya dengan terus mengobrol dan berbagi cerita. Tanpa sadar langkah mereka sudah sampai dihalaman rumah yang menjadi tempat menginap posko kelompok mereka.
"Adik-adik, baru pulang sekolah ya.." celetuk Billa tersenyum manis dengan beberapa anak yang sedang berjalan sambil menutupi kepalanya dengan buku ditangannya. Siang itu memang matahari begitu terik dan hawanya menjadi sangat panas dan gerah.
"Iya Kak, Kakak siapa ?" tanya seorang anak perempuan yang langsung membuat beberapa teman-temannya juga ikut berhenti memperhatikan segerombol teman-teman Billa saat itu.
"Sini Dek, mampir dulu. Panas tahu," ucap Ridho mulai mengerti temannya Billa pasti ingin mengajak anak-anak itu untuk belajar Les dan Mengaji selama mereka di desa itu.
"Tapi kata Ibu guru, kalau pulang sekolah harus langsung pulang ke rumah." Billa tertawa ringan bersama teman-teman lainnya. Sementara Ridho yang saat itu menjadi sumber jawaban dari pernyataan anak-anak menjadi kikuk sendiri harus menjawab apa.
"Mampir sebentar ya, Kakak ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Habis itu, kalian boleh pulang kok." Bujuk Billa lembut yang langsung membuat beberapa anak perempuan itu berlari menghampiri Billa dan teman-temannya.
Raka mulai membicarakan niat baik mereka untuk membantu menyelesaikan PR dan mengajak mereka semua untuk ikut belajar bersama atau les di posko KKN. Kabar baik itu tentu saja disambut senang oleh anak-anak itu. Mereka berjanji akan kembali ke posko setelah pulang sekolah mengganti pakaian dan makan siang.
"Kak, boleh tidak kami mengajak teman-teman lainnya. ?" tanya Dewi salah satu anak perempuan yang begitu antusias dengan adanya belajar bersama menyelesaikan PR, ditambah tidak dipungut biaya apapun membuat anak-anak itu lebih semangat.
"Boleh, ajak mereka semua anak-anak desa ini yang menganggur setelah pulang sekolah. Kita akan belajar asyik disini." Ujar Ridho dengan senyuman cerah di bibirnya.
"Jangan lupa, sorenya datang lagi kita belajar mengaji bersama ya di masjid. Insyaallah nanti Kakak-kakak juga yang akan mengajari kalian semua." Ucap Billa yang langsung mendapat anggukan dari anak-anak itu.
"Wah, Alhamdulillah. Program kerja kita berjalan langsung dihari pertama kita." Ungkap Alir begitu senang dengan kekompakan teman-temannya.
"Lir, kita seharusnya kunjungan juga dengan Lurah dan Kepala dusun lainnya. Agar mereka mengenal kita di desa mereka. Setidaknya kita silaturahim kepada mereka agar nantinya kalau kita buat acara mereka tidak kaget." Ucapan Agil tentu saja disambut baik oleh teman-temannya
"Iya betul, besok kita bakal temui mereka semua dirumahnya. Kita juga harus berkenalan dengan RT dan RW setempat. Walaupun aku, Raka dan Pak Ricky sudah mengunjunginya saat hari pertama datang. Waktu itu kami memutuskan untuk mengunjungi beliau sebelum Pak Ricky pulang. Kita beruntung kawan, Pak Ricky begitu peduli dengan kelompok kita. Beliau sosok Dosen yang begitu memikirkan peserta didiknya dengan detail. Tidak semua DPL akan berbuat sama seperti beliau." Ucap Alir gamblang yang membuat teman-temannya begitu terharu dengan Dosen pembimbing Lapangan mereka.
"Udah ada yang punya belum ya Pak Ricky ?" celetuk Febri yang langsung mendapatkan ejekan dari teman-temannya.
"Lu mau ngarep gitu sama beliau ? lu sih Mau, Pak Ricky ogah sama lu. Lulus aja belum wkwkwk." Ujar Raka begitu puas meledek teman barunya itu. Billa hanya menyimak obrolan ringan teman-temannya, gadis itu mulai terbiasa dengan sekitarnya yang mungkin akan terus membicarakan calon suaminya.
'Ricky Irawan' ucapnya dalam hati dengan tersenyum sangat tipis.