
Liburan telah usai, Billa sudah bersiap kembali ke kampus untuk melanjutkan studinya pada semester baru. Gadis itu sudah sibuk menyiapkan barang bawaan dari Ummanya untuk stok cemilan selama dikosan.
"Umma, tidak perlu sebanyak ini. Nanti disana Billa juga bisa beli kalau mau. Lagipula nanti Billa akan KKN. Jadi tidak dikosan." Terang Billa mengambil kembali berbagai cemilan yang hampir penuh pada kardus yang akan dibawanya.
"Jangan. Siapa bilang Umma hanya menyiapkan untuk kebutuhanmu. Sebagian, tolong kasihkan kepada Nak Ricky." Billa menoleh langsung kepada Ibunya yang sedang merapihkan kembali barang bawaan milik Billa.
"Umma, kalau untuk Pak Ricky lebih baik lewat Abang saja. Aku tidak bisa memberikannya langsung. "Jelas Billa kemudian beranjak berdiri untuk membereskan perlengkapan yang lain.
"Hanya bertemu untuk menyampaikan titipan tidak masalah sayang." Ujar Umma cukup ngeyel. Gadis itu menghela napasnya dalam, ingin membantah tapi yang namanya Ibu negara perintahnya mutlak.
"Baiklah." Jawab Billa lesu. Umma beranjak mendekati putrinya yang sejak tadi manyun karena permintaannya.
"Sayang.." ucapnya lembut meraih kedua tangan putrinya yang sedang membereskan perlengkapan. "Loh,kok cincinnya tidak dipakai ?" ucapnya lagi menatap Billa lekat mencari jawaban dari netra putrinya yang menunduk lesu.
"Umma, boleh enggak aku tidak memakai cincinnya ketika belajar di kampus. Aku takut akan menghilangkannya tidak sengaja saat belajar dikampus." Terang Billa mencoba membalas tatapan Ibunya.
"Sayang, bukannya Umma melarang keinginanmu. Tapi cincin itu adalah tanda kepemilikan yang menandakan adanya seseorang yang akan menjadi calon suamimu. Billa tahu bukan, kalau kedua orangtuanya Nak Ricky juga mengajar dikampus yang sama dengan Billa. Bagaimana nanti jika kalian tidak sengaja bertemu lalu melihatmu tidak memakai cincin lamaran kalian ?" ucap Umma gamblang untuk memberikan pengertian kepada putrinya.
Gadis itu menimbang kembali keputusannya untuk melepas cincin berlian pemberian dari kedua orangtua Ricky saat acara khitbah dua Minggu yang lalu. Gadis itu selama dirumah selalu memakainya, tapi entah kenapa saat ingin kembali ke kampus untuk KKN justru sangat tidak ingin memakainya.
"Umma, aku takut menghilangkannya, apalagi nanti KKN diluar kabupaten. Teman-teman sekelompok Billa juga belum tentu ada yang satu jurusan apalagi satu kelas. Semua jurusan diacak dalam satu angkatan,kita tidak tahu apapun yang ada didalam hati manusia. Umma tahu bukan, cincin ini sangat mahal.Jujur Billa takut menghilangkannya." Ucapnya benar-benar ngeyel untuk diajari menghargai proses khitbahnya.
"Pakai Dek, kalau ustadzah Winda tidak memakainya saat ini juga Abang akan merasa tersinggung dengan sikapnya." Ucap Reza yang sejak tadi menyimak perdebatan kecil Adiknya dengan Ibunya. Pria itu baru saja pulang kerja dan mendengar perdebatan kecil saat ingin memasuki kamarnya.
"Baiklah." Billa membuka lemarinya dan menemukan sebuah kotak kecil yang berisikan sebuah cincin berlian cantik yang pas pada jarinya. Gadis itu memakainya kembali walaupun ada perasaan takut. Billa sadar, dia tidak boleh egois dalam bersikap, apalagi dirinya saat ini sedang masa khitbah. Setelah selesai KKN, gadis itu akan resmi melangsungkan pernikahannya, sebuah kebaikan tidak baik jika harus ditunda lama-lama. Sebenarnya pihak Ricky mengusulkan untuk menikah setelah acara khitbah dua Minggu setelahnya, tetapi Billa menolaknya karena tidak ingin membuat keduanya rumit harus berpisah cukup lama disebabkan Billa yang harus KKN diluar kabupaten. Sementara Ricky berusaha untuk menerima pendapat gadisnya dengan lapang dada.
"Dek, nanti biar Kakak yang kasih cemilannya ke Ricky, Kalian belum mahram." Ucap Reza yang langsung disambut senyuman manis dari Adiknya.
"Wah, Abang memang yang paling bisa diandalkan. Terima kasih Bang." Reza tersenyum hangat lalu mengacak mahkota milik Adiknya yang tergerai indah.
"Haduh, masih kecil gini kenapa harus nikah dulu sih." Celetuk Reza sedikit kesal karena sejatinya Adiknya itu masih muda.
"Sebuah kebaikan tidak boleh ditunda " ucap keduanya serempak mengingatkan pada dirinya masing-masing. Kakak beradik itu terkekeh bersama karena ucapan keduanya yang sama. Umma hanya tersenyum lembut mendengar tingkah konyol anak-anaknya.
**
"Ayah!" teriak Ricky sedikit keras saat mengetahui Ayahnya akan berangkat kekampus untuk mengadakan rapat sebelum Mahasiswa masuk kembali setelah liburan. Ayah Roby menghentikan langkahnya dan menunggu kedatangan putranya yang sedang berlari kecil menuruni tangga.
"Apa hari ini rapat tentang Mahasiswa yang akan KNN ?"Ayah Roby memukul lengan putranya dengan tas jinjing yang ada ditangannya.
"Hey, bukannya sudah diberitahu keputusan dari kampus melalui email masing-masing ?" Ricky menyengir kuda lantaran malu tidak mengecek email dari kampus tadi malam. Bahkan sampai pagi pria itu belum melihat handphonenya.
"Baiklah, aku akan mengeceknya nanti. Sekarang jawab pertanyaanku Pak Roby" pinta Ricky berkata formal kepada Ayahnya.
"Benar Pak Ricky. Saya tunggu kedatanganmu kurang lebih lima belas menit dari sekarang, jika anda tidak datang dalam kurun waktu yang sudah ditentukan, Jangan salahkan saya untuk memindahkanmu bukan menjadi Dosen pembimbing lapangan pada kelompok yang ingi kamu bimbing." Ancam Ayah Roby sengaja agar putranya segera bersiap menyusulnya. Ricky langsung masuk kekamarnya dan segera mengganti pakaiannya untuk menyusul Ayah dan Ibunya kekampus.
"Ibu Nadia! Teriak Ricky membuat langkah anggun milik Ibu satu anak itu terhenti mendadak dan menunggu putranya yang sedang berlari kecil menghampirinya.
"Ada apa sih pagi-pagi teriak-teriak." Jawab Ibu Nadia kesal lantaran putranya masih saja seperti anak kecil pada usianya yang sudah matang.
"Ayo biar aku yang bawa mobilnya. Kita berangkat bareng saja. Ibu akan menghadiri rapat pagi ini kan ?" tanya Ricky memastikan. Ibu Nadia mengangguk pelan dengan santun dan segera memberikan kunci mobilnya kepada putranya.
"Bu, hari ini Billa akan tiba di kosannya. Apa ibu tidak ingin menemuinya ?" ucap Ricky setelah dirinya dan Ibu kesayangannya sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Benarkah ? wah.. ayo main. Eh, tunggu dulu. Kamu jelas tidak boleh bertemu dengannya. Sedikit banyak Ibu sudah mengetahui tentang proses yang kamu pakai dengan Billa." Ricky tersenyum tipis mendengar celoteh Ibunya.
"Ibu kan bisa main tanpa Aku. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja setelah lama tidak bersua."
"Dia baik-baik saja. Kamu meragukan perlindungan keluarganya dalam menjaga. Memangnya kamu siapa, baru saja jadi calon suami sudah sok sekali bisa memberikan perlindungan untuk membuat Billa baik-baik saja." Ucap Ibu Nadia mendadak selalu emosi dengan ucapan putranya.
"Ibu kenapa sih, Ricky perhatikan sejak tadi sewot terus. Oh iya juga, kenapa Ibu tidak berangkat bersama dengan Ayah ?"
"Entahlah, ada kalanya Ibu tidak sependapat dengan Ayahmu yang dingin itu." Ricky memarkirkan mobil mewahnya dengan elegan pada parkir khusus petinggi kampus.
"Apa perlu bantuan ku ?"
"Tidak Nak, hanya perselisihan kecil " Ricky menatap netra Ibunya yang kini menghindari tatapannya.
"Soal apa ?" tanyanya sekali lagi tidak ingin kedua orangtuanya bersitegang.
"Ibu ingin kalian menikah sebelum Billa KKN, tapi Ayahmu menolak karena kasihan denganmu dan Billa jika hal itu terjadi. Baru saja menikah harus berpisah lumayan lama untuk KKN." Ricky tidak menyangka, ternyata kedua orangtuanya begitu peduli dengannya. Sampai berdebat tentang pernikahannya.
"Ibu, sebaiknya kita masuk dulu. Nanti kita bicarakan lagi." Ibu Nadia mengangguk pelan dan berjalan beriringan mengejar waktu agar tidak telat pada rapat pagi itu.