
Hari berlalu lebih cepat, tanpa sadar satu pekan lagi liburan semester kali ini akan segera berakhir. Billa melewati harinya dengan perasaan yang berat. Gadis itu pintar menyembunyikan rasa sesak di hatinya saat bersama keluarga. Namun satu yang Billa tidak sadari, nampaknya Reza mulai sadar kegelisahan yang dirasakan oleh adiknya. Sikap Billa yang cenderung diam, membuat Abangnya berfikir adiknya tengah memikirkan sesuatu. Tetapi hal itu tidak disadari oleh kedua orangtuanya karena Billa selalu bersikap seperti biasa jika sedang berkumpul bersama.
"Kenapa akhir-akhir ini sering melamun ?" Ucap Reza saat tidak sengaja melihat adiknya melamun tepat di bawah pohon jambu di pekarangan belakang rumah. Billa sering menghabiskan waktunya untuk menanam bumbu seperti kunyit, jahe, kencur dan lain sebagainya dihalaman belakang rumah yang lumayan lebar.
"Abang mau kemana ?" Reza ikut duduk disamping adiknya yang tengah beristirahat setelah selesai menanam beberapa buah kunyit.
"Abang habis mengantar Umma ke rumah paman, Kamu kenapa sering melamun siang-siang begini ?"
"Hehe, memangnya aku melamun ya ? aku hanya sedang beristirahat sebentar" ujarnya sambil meraih koret yang digunakan untuk menanam kunyit.
"Abang tidak akan memaksamu untuk bercerita, apa mau jalan-jalan dulu ke pantai sebelum liburan habis ?" Reza hanya ingin Billa mampu mengatasi masalah nya sendiri. Mungkin adiknya itu memang butuh privasi.
"Boleh, nanti sore seperti nya lebih asyik. Bisa melihat sunset sekaligus." Ujarnya senang. Reza mengangguk sebagai jawaban.
"Abang masuk dulu ya, ganti baju dulu nanti kita buat rucuh lagi saja. Sepertinya segar, siang ini panas sekali." Billa mengangguk pasti dan segera menyelesaikan menanam beberapa buah kunyit lagi.
.
Semenjak kejadian itu, Billa tidak pernah menerima panggilan atau sekedar membalas pesan yang dikirimkan oleh Syafik. Bahkan dia akan segera menghapus pesan sebelum membaca terlebih dahulu isi pesan tersebut. Billa tidak memblokir nomor Syafik, untuk apa, toh dirinya juga tidak akan menggubris nya sama sekali. Sementara Ara selalu menyempatkan menghibur sahabatnya dengan melakukan Vidio call sebentar untuk berbagi aktivitas yang akan dilakukan saat liburan. Masa libur Ara lebih cepat daripada libur milik Billa. Dua hari yang lalu Ara sudah memberi kabar bahwa masa liburnya sudah habis, jadi ponselnya harus dikembalikan kepada petugas penitipan alat elektronik di kampusnya.
"Billa, aku harus menyampaikan ini kepadamu,Hari ini masa liburku habis. Kamu harus mengetahui hal ini sebelum kamu mengetahui dari orang lain" ucap Ara sebelum dirinya menyerahkan ponsel nya ke petugas kampus.
"Ada apa ?"
"Anindita Aulia Renata, dia lah sosok perempuan yang membuat Syafik seperti itu, syafik menceritakan semuanya kepada Rahman." Billa tersenyum Sinis ketika mendengar nama yang begitu dia tandai sejak dulu.
"Kenapa harus dia Ra" ucap Billa dengan tatapan kosongnya. Membuat Ara enggan untuk meneruskan ceritanya.
"Ceritakan lah kisah mereka, aku insyaallah baik-baik saja Ra." Dengan hati-hati Ara menceritakan tentang orang yang sudah melukai hati sahabatnya.
Liburan Semester lalu Dita mendapatkan nomor ponsel Syafik melalui teman lamanya dulu saat masih sekolah dasar. Putra memang masih sering bertukar kabar dengan syafik sampai saat ini. Keduanya bertukar kabar saat Dita mencoba menghubungi syafik saat itu, hal itu pun di sambut Syafik dengan senang hati. Sebenarnya Syafik saat ini masih bimbang dengan perasaannya kepada Dita. Menurut nya itu hanya cerita masa lalu, tetapi seiring berjalannya waktu karena komunikasi yang intens saat liburan membuat keduanya semakin dekat dan mulai tumbuh rasa sayangnya kepada Dita. Syafik bahkan sudah menjelaskan tentang dirinya yang sedang menunggu seseorang untuk menikah, tetapi Dita menggunakan moment itu untuk membuat syafik melupakan Billa. Dita sering menyuruhnya agar membatalkan niatnya untuk mempersunting Billa, Gadis itu bahkan sudah mengajak syafik menikah walaupun keduanya tidak bisa bersama karena studi nya masing-masing.
.
"Kamu baik-baik saja Bill?" Billa mengangguk lemah mencoba menarik nafasnya perlahan untuk menenangkan pikirannya yang membuatnya pusing.
"Apa mereka akan menikah?" tanya Billa dengan lemah, bohong jika dirinya tidak terluka. Dua tahun lebih menjalin hubungan dengan saling mempercayai tanpa komunikasi intens atau bertemu. Mengandalkan kepercayaan dan doa yang tak pernah luput nyatanya dipatahkan dengan mudah oleh takdir. Billa akui dirinya memang sangat bodoh karena terlena dengan janji dan perkataan manis yang keluar dari mulut Syafik. Tentu saja Billa sudah pernah mengharap kan atau berandai dengan segala keinginan jika kelak bisa bersama dengan syafik. Hal itulah yang membuatnya semakin sesak ketika mengingat betapa bodohnya dirinya saat itu.
"Sepertinya begitu, Billa, mulai sekarang fokuslah pada pendidikan mu. Aku yakin kamu akan menemukan yang lebih baik darinya. Kumohon jangan terus memikirkan pria itu." Ara sebenarnya tidak ingin mengatakan hal ini kepada sahabat nya. Tetapi dia harus melakukannya demi melihat sosok Billa yang tegas dan cuek itu kembali. Billa mengangguk pasti dengan tersenyum hangat kepada sahabat nya.
"Tenanglah, aku baik-baik saja sekarang. Belajarlah dengan tenang disana, aku menunggu kabar baik darimu secepatnya." ujar Billa tenang.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik Bill, aku juga menunggu kabar baik darimu. Assalamualaikum".
Billa tersenyum ketika mengingat percakapan terakhir yang dilakukan olehnya dan juga sahabatnya, Billa sangat bersyukur bertemu dengan teman yang selalu ada ketika dirinya berada pada titik lemah. 'Semoga Allah selalu menjagamu Ara' Batinnya tulus.
.
"Dek, buruan dandannya. Nanti keburu kesorean berangkat nya" teriak Reza sambil mengeluarkan mobilnya yang berada di garasi rumahnya.
"Jangan terlalu larut pulangnya ya.., Umma dan Buya menunggu dirumah. Hati-hati membawa mobilnya Za" pesan Umma ketika Reza berpamitan untuk membawa Billa jalan-jalan sebentar ke pantai. Reza mengangguk, meraih tangan sang ibu dan menciumnya takzim yang di susul oleh Billa.
.
"Bang, bukankah itu mantan calon Abang ?"