
Waktu terus berjalan, Billa dan teman-temannya kini tengah mempersiapkan berbagai persiapan acara Pensi yang akan diselenggarakan satu pekan lagi. Berbeda dengan teman-temannya yang senang karena tugas KKN akan segera berakhir, Billa sendiri dirundung gelisah lantaran hari pernikahannya juga akan diselenggarakan satu pekan setelah dirinya menyelesaikan program KKN, artinya. Billa hanya akan menyandang status lajangnya kurang lebih dua Minggu lagi setelahnya statusnya beralih menjadi Istri dari Dosennya sendiri.
"Bill, kok ngelamun terus. Ayo dong semangat, kita sebentar lagi kelar KKN. Lu kenapa sih ?" Tiwi yang saat itu tengah beristirahat setelah melatih anak-anak menari untuk Pensi, memilih menghampiri teman dekatnya yang juga baru selesai melatih remaja yang ditunjuk untuk pembawa Qiroah pada acara itu.
"Wi ? Kamu sudah bertunangan kah ?" pertanyaan Billa jelas membuat Tiwi langsung menoleh kearahnya dan mengamati lekat wajah teman dekatnya selama KKN.
"Menurutmu ?" Billa mengangguk lemah seraya tersenyum hangat.
"Iya, dan kau tahu, mungkin aku akan segera menikah setelah menyelesaikan KKN ini" Billa menoleh kearah temannya dan mencoba bersikap tenang.
"Kamu sudah siap ?"
"Tentu saja, Sebenarnya mau dibilang belum siap juga ya belum. Tapi aku tidak ingin menundanya lagi." Billa tersenyum mendengar penuturan dari teman dekatnya.
"Kamu juga sudah tunangan bukan ?" Billa mengangguk pelan seraya tersenyum."Kapan ?" Tiwi begitu antusias saat mendengar langsung temannya mulai terbuka dengannya.
"Insyaallah setelah KKN"
"Aku akan menghadirinya, jangan lupa undang kami semua." Billa hanya tersenyum ramah menanggapi permintaan teman dekatnya.
Billa dan Tiwi kembali melatih anak-anak yang akan menampilkan banyak pertunjukan pada acara tersebut, sementara itu Alir dan beberapa teman lelakinya kini tengah berunding dengan warga setempat untuk meminta izin dalam penyelenggaraan acara Pensi dari kepala dusun dan jajaran tokoh masyarakat lainnya.
"Lir, kita undang Pak Ricky juga kah ?" Alir yang saat itu sedang memainkan ponselnya sambil berjalan seketika menoleh kearah Ridho. Keduanya baru saja pulang dari rumah Kepala dusun untuk meminta izin.
"Nah itu dia, gue bingung kalo ngundang beliau juga."
"Ngapain bingung, orang cuman ngundang doang" Alir menghentikan langkahnya dan langsung menoleh kearah temannya.
"Kalau acara kita malam, otomatis Pak Ricky mungkin akan datang sore harinya. Dan kamu tahu bukan, acara kita ini bakalan sampai malam. Beliau mau tidur dimana ? bareng sama kita ? lu pikir deh itu." Ridho mulai mengerti kebingungan yang sedang dirasakan Alir.
"Kok repot sih, kita bagi saja tempat tidur kita." Pikir Ridho segampang itu.
"Ide lu bener-bener gak bisa dipake." Kesal Alir meninggalkan temannya dengan melangkah lebih cepat dan lebar.
"Ya gak usah ngebut juga jalannya." Alir tetap berjalan cepat tanpa menggubris ocehan dari Ridho.
"Gimana ? dapet izin kan ?" tanya Raka saat Alir sudah sampai dihalaman depan posko mereka
"Aman, insyaallah kita dapat izin dari mereka semua. Kita tinggal fokus ngelatih mereka dan nyiapin apa aja keperluan yang di butuhkan untuk acara itu." Raka mengangguk mengerti.
"Kita malam ini rapat ya, ada yang harus di obrolin lagi" cicit Alir kemudian masuk kedalam Posko untuk bersih-bersih.
"Apaan ?" tanya Raka kepada Ridho yang baru saja sampai di halaman. Ridho yang lelah habis berjalan mengangkat bahunya seolah tidak mengetahui permasalahan yang akan dibahas.
*
Sementara itu kini Ricky dan kedua orangtuanya tengah membicarakan tentang persiapan pernikahan Ricky dan Billa yang akan diselenggarakan kurang lebih dua pekan lagi. Keluarga Ricky sudah mempersiapkan segalanya dengan sempurna, hanya tinggal menunggu calon menantu pulang, untuk menyiapkan perhiasan yang akan diberikan untuk Billa.
"Ky, coba tanya Billa, dia mau mahar apa ?" ujar Ibu Nadia saat tengah meneliti model gaun yang akan dikenakan calon menantu dan putranya pada acara sakral itu.
"Tidak boleh begitu sayang, kita coba dengarkan dulu pendapatannya. Ibu percaya kamu pasti memberikan yang terbaik untuk Billa. Tapi untuk menghargainya sebagai perempuan, kamu bisa menanyakannya." Ricky mengangguk mengerti lalu mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja.
Pria itu tidak menghubungi Billa langsung, melainkan langsung menghubungi Abangnya yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
"Assalamualaikum, Ky" ucap Reza diseberang sana yang tengah sibuk juga mempersiapkan acara Adik satu-satunya.
"Waalaikumussalam Bang, bagaimana kabarnya pengantin baru ?" ujar Ricky meledek sahabatnya.
"Alhamdulillah sangat sehat dan lebih segar" membuat keduanya terkekeh bersama saling meledek satu sama lain.
"Bang, aku mau tanya serius." ucap Ricky berusaha membiasakan diri memanggil sahabatnya dengan Abang untuk menghormati statusnya nanti.
"Ada apa ?" Reza mulai serius mendengarkan obrolan yang mungkin menyangkut tentang pernikahan Adiknya.
"Tolong tanyakan kepada Billa, dia ingin diberikan mahar apa Bang.. insyaallah sebaik mungkin aku akan memberikannya."
"Wah, kalau nanti dia memintamu untuk membaca semua buku yang ada perpustakaan kampusmu kau sanggup ?" ledek Reza berniat melihat kesungguhan dari calon Adik Iparnya.
"Tidak masalah, asalkan tidak diberikan waktu satu hari." Keduanya terkekeh bersama saat menyadari tingkat konyol yang sama.
"Baiklah, aku akan menanyakannya nanti. Tunggu saja kabar dariku." Ricky mengangguk seolah Reza mengetahuinya.
"Sip, lanjutkan pekerjaanmu Bos. Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Ricky kembali menyantap makanannya yang tertunda karena permintaan dari Ibunya. Pria itu nampak sangat gugup mendekati hari bersejarah dalam hidupnya.
"Baca lagi tentang malam pertama Ky, hafalkan dan nanti praktiknya saat sudah sah" Usul Ayah Roby mencoba meledek putranya yang akhir-akhir ini rajin perawatan bahkan berolah raga.
"Hafal" celetuk Ricky yang langsung mendapat cubitan dari Ibunya.
"Kamu membaca atau menonton ?" Ricky terkekeh geli mendengar penuturan dari Ibunya.
"Apaan sih Ibu Nadia, mana ada seperti itu. Nanti juga bakal spontan yang begituan. Aku hafal karena menghafalkan Doa dan Kalimat ijab yang akan ku ucapkan nanti" Ibu Nadia langsung tertawa saat merasa malu mendengar penuturan dari putra tunggalnya.
"Ibumu hafal luar dalam"
"Ayahmu juga pakar" Ricky menggelengkan kepalanya pelan saat mendengar hal intim yang dikatakan dari kedua orangtuanya.
"Aku harus pergi sekarang Bu, insyaallah aku pulang telat. Tidak usah menungguku pulang. Aku akan membawa kunci."
"Mau kemana ?"
"Nanti juga Ibu dan Ayah mengetahuinya. Assalamualaikum" Ricky pamit kepada Ibu dan Ayahnya setelah menyelesaikan makan malamnya. Pria itu rencananya akan melihat rumah yang akan dibelinya untuk tempat tinggalnya nanti bersama Billa saat sudah menikah. Walaupun Ricky anak tunggal, dia tidak mau saat membina rumah tangganya tinggal bersama kedua orangtuanya. Pria itu cukup mengetahui perkara yang membuat Istrinya nanti nyaman untuk tinggal bersamanya.