
Meski pengambilan sumpah dokter telah usai, bukan berarti acara wisuda kedua hari ini telah berakhir. Para mahasiswa/i yang sudah sah bergelar sebagai dokter baru berkumpul dengan keluarganya yang hadir atau bahkan mereka yang berada dalam kelompok akan saling berkumpul, termasuk juga dengan keluarga mereka. Sama seperti saat ini.
"Damia, kamu hari ini datang juga ... " sapa Rena
"Ya, aku sudah bilang akan datang. Selamat untuk kalian semua," kata Damia
"Terima kasih, Damia," ucap Angga
"Sama-sama," balas Damia
Damia pun kembali memberikan buket bunga milik Angga yang sebelumnya dititipkan pada dirinya.
"Kamu datang sendiri saja, Damia?" tanya Joshua
"Iya, semalam aku sudah ajak Alina untuk ikut, tapi dia bilang tidak bisa ikut karena hari ini sudah ada urusan," jelas Damia
"Lalu, ibu dan ayah juga minta maaf karena tidak bisa ikut datang, tapi mereka mengucapkan selamat untuk kamu, Angga. Sebagai gantinya, lain kali silakan datang ke rumah," sambung Damia
"Yang diundang hanya Angga atau keluarga juga juga boleh ikut?" tanya Linda
"Sebenarnya ini undangan untuk Angga dan keluarga," ungkap Damia
"Wah, pertemuan dua keluarga! Itu pertanda baik!" seru Tio
"Lo harus mempersiapkan diri mulai dari sekarang, Angga," kata Beno
"Mungkin kita sudah harus melamar Damia untuk Angga," ujar Mama Yuli
"Ya, lebih cepat lebih baik ... " sahut Papa Nassar
"Wah, ada yang menuju halal, nih ... " kata Alvian, tunangan Linda.
Damia dan Angga sama-sama tersipu malu. Sepertinya keduanya masih belum terbiasa dan merasa canggung dengan pembahasan seputar pernikahan.
Setelah itu adalah saatnya sesi foto bersama. Mereka berfoto beramai-ramai atau secara individu dan ada juga yang berfoto berpasangan, seperti contohnya adalah Damia dan Angga.
•••
Seperti yang sudah dibicarakan, hari ini adalah waktu pelaksanaannya, yaitu Angga sekeluarga datang memenuhi undangan untuk datang ke rumah Damia. Tepatnya malam ini adalah acara pertemuan dua keluarga.
Begitu Angga dan keluarga tiba di rumah, Damia langsung menyambut kedatangan mereka.
Saat itu, Damia memakai gaun berwarna peach sebatas bawah lutut. Ukuran gaun di bawah lutut adalah favorit Damia karena bisa menunjukkan sisi cantik, elegan, dan membuatnya merasa nyaman tanpa terlihat berlebihan.
Seperti biasa, Angga merasa sedang melihat bidadari cantik setiap kali bertemu sang kekasih.
"Selamat malam, Damia," sapa Angga
"Selamat malam. Silakan masuk, semuanya ... " sambut Damia yang mempersilakan masuk kekasih sekeluarga.
Mereka yang telah datang pun melangkah masuk setelah dipersilakan masuk.
Angga datang dengan membawa sebuket bunga yang langsung diberi dan diterima oleh Damia. Tak hanya itu, keluarga sang kekasih juga ikut membawakan bingkisan berupa kue dan sekeranjang buah. Persis seperti acara lamaran, meski kali ini bukan acara yang resmi.
Ibu Rita dan Ayah Dpdi juga menyambut kedatangan mereka dengan baik.
Tanpa berbasa-basi dan menunggu lama, mereka langsung diajak untuk makan malam bersama. Tak jarang mereka saling mengobrol bersama saat makan malam.
"Maaf karena kami hanya bisa menyediakan yang sederhana dan seadanya," ujar Ibu Rita
"Tidak apa-apa. Justru kami yang merepotkan," kata Mama Yuli
"Tidak merepotkan sama sekali. Silakan makan," ucap Ayah Dodi
Mereka semua pun mulai makan malam bersama.
"Maaf, ya, Damia, Om, Tante ... suami saya tidak bisa ikut datang karena sedang ada urusan," kata Linda
"Tidak masalah. Kami juga dengar dari Damia, kalau Kakak-nya Angga baru belum lama ini menikah. Selamat atas pernikahannya," ucap Ibu Rita
"Panggil saja saya Linda, Tante. Terima kasih," sahut Linda
"Terima kasih, Tante," ucap Angga
"Sama-sama," balas Ibu Rita
Linda dan Alvian memang sudah menikah pada seminggu setelah acara pengambilan sumpah dokter pada acara wisuda kedua Angga. Saat itu adalah hari terakhir keduanya bisa bertemu karena setelah itu keduanya akan dipingit dan tidak bisa bertemu satu sama lain. Keduanya pun telah menginjak usia 2 minggu pernikahan.
"Setelah wisuda kedua, Angga masih harus ikut magang di rumah sakit, kan? Rencananya kapan akan mulai magang? Dan di mana?" tanya Ayah Dodi
"Benar, Om. Saya masih harus ikut magang atau yang sisebut dengan internship. Rencananya akan langsung dimulai dalam awal bulan depan. Kalau masih diterima, saya maunya lanjut magang di rumah sakit tempat Damia bekerja seperti masa program profesi atau koas sebelumnya," ungkap Angga
"Pasti diterima karena memgingat Angga yang selalu rajin dan pintar saat ikut program profesi sebelumnya," ucap Ibu Rita
"Semoga saja," sahut Angga
"Pasti diterima kok. Angga memang pintar, terbukti dengan lulus ujian dengan nilai yang baik," ujar Damia seraya memuji sang kekasih.
"Oh, ya? Memangnya berapa nilainya?" tanya Ibu Rita
"Angga lulus dengan nilai 88 dari rata-rata nilai 66 yang harus dipenuhi," ungkap Mama Yuli
"Nilai yang sangat bagus,"puji Ayah Dodi
"Tapi, saya masih belum bisa memenuhi nilai target saya sendiri, Om," kata Angga
"Angga punya target ingin mendapat nilai 90 dalam ujian , tapi hanya bisa dapat 88. Padahal itu hanya selisih sedikit dan aku juga sudah bilang itu nilai yang sangat memuaskan," ungkap Damia
"Yang Damia bilang itu benar kok. Tidak perlu merasa sedih atas pencapaian yang sudah sangat baik, apa lagi ujian fakultas kedokteran itu tidak mudah. Angga hanya perlu fokus untuk langkah selanjutnya," ucap Ibu Rita
"Baik, Tante ... " kata Angga
"Omong-omong, soal langkah selanjutnya ... kami datang ke sini bukan hanya dengan niat untuk memenuhi undangan dari Ibu dan Bapak, tapi kalau boleh kami juga mau membicarakan soal hubungan Angga dan Damia ke depannya. Meski pun, rasanya masih kurang tepat karena kami datang tanpa persiapan yang matang, tapi kalau boleh kami ingin berbincang dengan sedikit lebih serius soal hal yang saya katakan tadi," ucap Papa Nassar yang mulai angkat bicara setelah meletakkan sendok dan garpu di dalam piring dan terdiam cukup lama karena mungkin sebelumnya masih sibuk merangkai kata-kata.
"Tentu saja, boleh. Silakan saja dan sepertinya ini akan jadi pembicaraan yang cukup serius," ujar Ayah Dodi yang ikut meletakkan sendok dan garpunya di atas piring.
Semua pun ikut meletakkan sendok dan garpu di atas piring dan mulai menyimak pembicaraan dengan baik sebagai tanda sikap sopan santun.
"Seperti yang sudah kita semua ketahui, kedua anak kita, Angga dan Damia, saling menyukai dan sudah menjalin hubungan. Karena itu kami bermaksud untuk melamar Damia untuk putra kami, Angga. Setidaknya kami ingin memperjelas hal ini," ungkap Papa Nassar
"Kami sebagai orangtua Damia mengetahui hubungan mereka berdua. Angga adalah anak yang baik. Namun, apa pun keputusannya, kami akan menyerahkannya langsung pada putri kami, Damia ... " ucap Ayah Dodi
Semua pun menoleh dan menatap ke arah Damia.
"Aku menyukai Angga, Bu, Ayah ... " kata Damia dengan jujur.
"Apa kamu mau terus melanjutkan hubungan ini dan menerima lamaran Angga kali ini?" tanya Ibu Rita
Tanpa bersuara, Damia hanya mengangguk sebagai ganti jawaban atas pertanyaan sang ibu.
"Damia sudah setuju, maka kami tidak akan melarang kelanjutan hubungan ini. Kami terima lamaran dari Angga," ucap Ayah Dodi
"Syukurlah ... " Semuanya sudah bisa bernafas lega setelah kejelasan yang diberikan oleh Damia dan sang ayah.
"Terima kasih, Damia, Om, Tante ... " ucap Angga
"Sama-sama," balas Ibu Rita
Sedangkan Damia hanya tersenyum kecil dan Ayah Dodi hanya mengangguk pelan sebagai respon.
"Kalau begitu, mari kita lanjutkan lagi makan malamnya," ujar Ayah Dodi
"Lain kali kami akan mengadakan lamaran secara resmi," kata Mama Yuli
"Tidak masalah, meski hanya sebatas pembicaraan ringan seperti tadi. Namun, lain kali pun kami akan menyambut dan menerima dengan baik," ujar Ibu Rita
Mereka pun melanjutkan acara makan malam bersama setelah melalui pembicaraan singkat, namun mampu membuat tegang itu. Sesekali mereka semua masih saling berbincang ringan.
.
Bersambung.