Bougenville of Love

Bougenville of Love
35 - Tidak Menolak.



Setelah masuk ke dalam rumah, saat hendak berpisah masuk ke dalam kamar masing-masing, tiba-tiba Angga menahan langkah Damia dengan mencekal tangan suster cantik itu.


"Hmm ... ada apa, Angga?" tanya Damia yang menoleh ke arah Angga.


"Damia, kamu tahu, kan ... aku akan selalu menunggu jawaban dari kamu," kata Angga


"Ya, aku tahu. Terima kasih," ucap Damia.


Mungkin maksud Damia mengucapkan terima kasih adalah karena Angga bersedia menunggu jawaban darinya atas pernyataan suka dan lelaki itu tidak memaksa dirinya.


"Kalau begitu, aku masuk ke dalam kamar dulu, ya," ujar Angga


"Oh, ya ... silakan," kata Angga


Angga pun langsung melepaskan cekalannya dari tangan Damia sebelum suster cantik itu meminta tangannya dilepaskan. Angga terus memerhatikan hingga Damia masuk ke dalam kamar. Lalu, lelaki itu pun berlalu dari sana.


..."Aku tidak menyangka kalau Angga akan kembali menyatakan perasaannya sama aku sebelum ingatan dia kembali pulih. Apa perasaan dia masih sama seperti dulu padahal aku sudah menyakiti hatinya dengan menolaknya? Meski untuk saat ini dia tidak mengingat yang dulu terjadi, apa dia tidak akan kembali merasa sakit hati saat ingat aku pernah menolaknya dulu? Apa saat mengingatnya lagi nanti, apa dia tidak akan merasa kecewa danemilih untuk tidak menyukai aku lagi?" batin Damia bertanya-tanya....


Damia pun berjalan menuju ranjang untuk duduk di tepinya. Suster cantik itu menghela nafas pelan, lalu melepaskan cardigan yang melapisi pakaiannya.


..."Lalu, bagaimana dengan aku? Apa aku masih sama seperti yang dulu? Apa aku harus menolak Angga lagi? Aku memang sudah putus dari Raffa, tapi kalau aku secepat ini sudah punya pacar lagi, apa nantinya orang-orang tidak akan menyangka kalau aku selingkuh? Terlepas dari itu, apa aku menyukai Angga? Apa aku harus menerima perasaan Angga atau menolaknya?" batin Damia...


Lalu, Damia pun mulai merebahkan dirinya di atas ranjang.


"Tidak bisa terus seperti ini. Semakin dipikirkan, rasanya semakin sulit menemukan jawaban," gumam Damia


Suster cantik itu pun menarik bantal guling untuk dipeluk olehnya dan mulai memejamkan kedua mata. Perlahan tapi pasti, Damia pun mulai terlelap dalam tidur.


•••


Keesokan harinya.


Seperti biasa, Damia terbangun di pagi hari. Sebelum memasak, suster cantik itu lebih dulu menghirup udara segar di pekarangan rumah.


Sambil menghirup udara pagi, Damia juga berjemur di bawah sinar matahari pagi.


Saat berbalik hendak kembali masuk ke dalam rumah untuk memasak, tiba-tiba saja Damia dikejutkan dengan keberadaan Angga di sana yang berdiri tak jauh di belakangnya.


"Ya ampun, Angga ... kamu mengejutkan aku saja!" seru Damia


"Aku kira kamu lagi masak seperti biasa di dapur, tapi aku cari-cari di dalam tidak ada," kata Angga


"Aku ingin menghirup udara segar sebelum masak. Ini aku mau ke dapur untuk mulai masak," ucap Damia


"Kamu kenapa masih berpikir ingin masak, sih? Kan, kamu bukan pembantu di rumah ini," ujar Angga


"Tidak apa-apa kok. Lagi pula, pasti kamu sudah merasa lapar. Kamu belum sarapan, kan?" tanya Damia


"Aku memang belum sarapan, tapi belum merasa lapar juga," jawab Angga


Damia hanya tersenyum sambil terus berjalan ke arah dapur.


"Damia, aku setia mengingatkan kamu kalau aku masih terus menunggu jawaban dari kamu," ucap Angga


"Memangnya kamu pernah beri aku pertanyaan apa sampai aku harus beri jawaban?" tanya Damia


"Bukan pertanyaan, tapi pernyataan," jawab Angga


"Kalau pernyataan, bukannya tidak perlu dapat jawaban? Memangnya pernyataan apa, ya?" tanya Damia


"Jangan pura-pura lupa. Aku tahu kalau kamu masih ingat. Jangan mengerjai aku juga, Damia. Pernyataan suka aku ke kamu itu tulus dan serius," jawab Angga


"Iya, maaf ... " kata Damia


"Lalu, apa jawaban kamu? Maksudnya, apa kamu sudah punya dan bisa kasih aku jawabannya?" tanya Angga


"Bukannya sudah jelas, ya?" tanya balik Damia


"Apanya yang sudah jelas? Kan, kamu masih belum kasih jawaban untuk aku?" tanya balik Angga lagi dengan bingung.


Damia terdiam dan terus melangkah. Ada sedikit rasa khawatir dalam benak Angga.


..."Apa jangan-jangan Damia sudah siap untuk menolak aku? Memikirkannya saja sudah membuat hati aku terasa sangat sakit," batin Angga...


Saat merasa Damia memerhatikan wajahnya dengan seksama, Angga pun tersenyum kecil meski prasangka buruk terus nengganggu benaknya.


"Memangnya, kamu mau jawaban seperti apa dari aku?" tanya Damia


"Aku berharap kamu kasih jawaban dan respon positif, tapi itu semua kamu yang memutuskan," jawab Angga


"Bagaimana kalau aku menolak kamu?" tanya Damia


..."Seperti dulu ... " batin Damia melanjutkan....


"Mungkin aku akan menggalau," jawab Angga


"Bukankah semalam aku tidak menolak?" tanya Damia


Perasaannya yang sudah lebih dulu kacau karena terpengaruh dengan prasangka buruknya, membuat Angga kesulitan memproses kata-kata dari pertanyaan yang diajukan oleh Damia.


"Tapi, kan, kamu juga belum bilang terima," kata Angga


"Tunggu, apa maksudnya ... kamu tidak menolak, itu artinya kamu menerima aku?" tanya Angga dengan raut wajah yang telah kembali berseri-seri.


Damia hanya tersenyum sambil terkekeh kecil karena melihat ekspresi pada wajah Angga.


Angga pun langsung memeluk tubuh Damia dan mendekapnya dengan erat. Meski terkejut dengan tindakan tiba-tiba dari lelaki itu, Damia hanya membiarkannya. Suster cantik itu malah terlihat membalas pelukan lelaki itu.


..."Aku harap aku tidak salah mengambil keputusan. Sejujurnya, aku merasa nyaman sama Angga. Yang bahkan kenyamanan ini tidak dapat aku rasakan saat masih berpacaran sama Raffa. Sepertinya, mungkin tanpa aku sadari sebenarnya aku sudah menyukai Angga dan mungkin ini sudah berlangsung sejak lama," batin Damia...


Rasa cemas yang tidak berarti telah tergantikan oleh rasa bahagia yang tak terbendung lagi di dalam benak Angga.


"Terima kasih, Damia." Hanya kata-kata itu yang bisa mengungkapkan rasa bahagia yang dirasakan oleh Angga.


"Ugh~ Angga, kamu memeluk aku terlalu erat. Aku jadi sesak nafas," ucap Damia


Sadar jika dirinya sudah berlebihan, Angga pun langsung melepaskan pelukannya pada suster cantik itu.


"Maaf ... " kata Angga


"Ya. Tidak apa-apa," sahut Damia sambil menghela nafas lega.


"Jadi, hari ini kita sudah mulai pacaran? Atau mulai semalam?" tanya Angga


"Kita jadikan hari ini saja," jawab Damia


"Baiklah. Aku akan selalu mengingatnya," kata Angga


"Memangnya kenapa? Apa kamu mau mengingat hari ini untuk hari anniversarry nanti?" tanya Damia


"Tentu saja. Itu sudah pasti," jawab Angga dengan cepat.


"Sayang sekali. Sebenarnya aku ini tipe orang yang sulit mengingat hal seperti itu. Aku saja sering lupa sama hari ulang tahun sendiri," ucap Damia


"Tidak apa-apa. Cukup hanya aku yang mengingatnya dan kita akan merayakannya bersama," kata Angga


"Ya sudah. Aku mau mulai masak dulu," ujar Damia


"Biar aku bantu," sahut Angga


"Tidak perlu. Nanti kamu malah kena cipratan minyak panas lagi. Lebih baik kamu duduk di sini saja," kata Damia


"Baiklah," patuh Angga yang langsung duduk di dekat konter dapur.


"Bagaimana dengan luka bakar kamu itu? Apa sudah lebih baik?" tanya Damia


"Hanya luka kecil kok. Aku baik-baik saja," jawab Angga


"Meski begitu, tetap harus dirawat dengan baik agar cepat sembuh. Setelah sarapan nanti akan aku periksa sekalian diolesi obat," ujar Damia


Angga tersenyum senang. Damia sudah menerimanya dan masih sangat peduli dengannya. Tentu saja, itu membuat Angga merasa sangat bahagia. Lelaki itu pun terus memerhatikan suster cantik yang sedang memasak yang kini telah resmi menjadi pacarnya itu sambil tersenyum bahagia.


.


Bersambung.