
Kini Angga telah berada di dalam mobil miliknya bersama sang kekasih. Lelaki itu hendak mengantar sang kekasih pulang sampai ke rumahnya.
"Damia, kalau kamu masih merasa mengantuk, tidur lagi saja. Nanti kalau sudah sampai rumah kamu, akan aku bangunkan kamu," ucap Angga
"Kalau begitu, pastikan kamu langsung bangunkan aku saat sampai rumah," ujar Damia
Angga pun mengangguk pelan. Lelaki itu pun menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukan mobilnya tersebut di jalanan besar untuk menuju ke rumah sang kekasih.
Damia pun mulai memejamkan kedua matanya secara perlahan usai memakai sabuk pengaman dengan baik. Sambil melipat kedua tangannya di depan dada, Damia tertidur dengan sangat tenang.
Sesekali Angga yang sedang mengemudi melirik sambil tersenyum ke arah kursi di sampingnya tempat sang kekasih duduk dan tidur.
Damia yang tertidur terlihat tenang dan damai juga tetap cantik, meski saat sedang memiliki kesadaran penuh pun suster cantik itu tidak pernah bertindak atau bertingkah secara berlebihan. Angga yang berada di sampingnya pun ikut merasakan ketenangan dan kedamaian, apa lagi lelaki itu juga disuguhkan pemandangan indah yang sangat disukainya.
Saat hendak masuk ke dalam kompleks perumahan tempat tinggal Damia, Angga membuka jendela kaca mobilnya untuk meminta dibukakan gerbang oleh penjaga di sana. Karena Angga bicara sambil berbisik, penjaga gerbang pun mendekat karena tidak bisa mendengar suara Angga dengan jelas.
"Ya, Mas Angga, bilang apa tadi?" tanya Pak Amin, penjaga gerbang kompleks.
"Pak, tolong buka gerbangnya. Saya mau antar Damia pulang. Sekarang Damia lagi tidur karena kelelahan setelah pulang kerja langsung pergi ke acara saya," pinta Angga yang menjawab sambil berbisik.
"Oke, Mas. Saya lihat Mas Angga habis ada acara wisida, ya? Selamat atas kelulusannya, ya," ujar Pak Amin yang melihat seragam wisuda yang dipakai oleh Angga.
"Terima kasih, Pak," ucap Angga
"Sama-sama," balas Pak Amin yang lalu beranjak untuk membukakan gerbang kompleks.
Angga pun kembali menyetir mobil miliknya masuk ke dalam area perumahan usai gerbang dibuka.
Damia tertidur dengan lelap dan Angga pun sama sekali tidak mengganggunya. Hingga akhirnya, Angga pun menghentikan laju mobilnya saat sudah sampai tepat di depan rumah Damia.
Mobil telah berhenti dan terparkir dengan baik di pinggir jalan usai Angga memasang rem tangan. Namun, lelaki itu malah bergeming tanpa bergerak untuk membangunkan Damia.
Angga melepas sabuk pengaman yang terpasang pada dirinya dan duduk sedikit menyamping agar bisa memandangi wajah sang kekasih yang sedang tertidur dengan lebih jelas. Senyuman cerah tak pernah luntur dari bibir dan wajahnya.
Tangan Angga rasanya gatal sekali. Sebenarnya lelaki itu sangat ingin mengabadikan momen sang kekasih yang sedang tertidur ke dalam rekaman video pada ponsel miliknya. Namun, Angga masih sadar dan berusaha menahan diri untuk tidak merealisasikan keinginannya atau pun melanggar hak privasi sang kekasih. Lagi pula, lelaki itu berpikir Damia pasti tidak akan menyukai tindakan seperti itu.
Angga pun hanya bisa terus diam memandangi wajah cantik sang kekasih yang tertidur dengan tenang sambil menggenggam erat ponsel miliknya karena terus berusaha menahan niatnya untuk merekam video sang kekasih masih tertidur dengan lelap itu. Kalau saja ponsel adalah benda yang lunak, mungkin kini bentuknya sudah tidak karuan lagi.
Hingga akhirnya, Angga meletakkan ponsel miliknya di atas dashboard mobil.
..."Sepertinya, Damia terlihat tidak nyaman tidurnya karena seatbelt. Melihatnya tidur seperti itu saja membuat aku merasa sesak," batin Angga...
Angga pun berniat untuk membukakan sabuk pengaman yang terpasang pada tubuh sang kekasih dan mulai bergerak secara perlahan.
Saat Angga bergerak mendekat untuk membukakan sabuk pengaman yang dipakai Damia hingga terlepas sempurna sambil mengangkat tangan kekasih cantiknya itu secara perlahan, saat itu juga Damia mulai membuka kedua matanya perlahan karena merasa terusik.
"Angga, kamu sedang apa?" tanya Damia dengan suara kecil yang terdengar pelan khas seorang yang baru saja bangun dari tidur.
"Maaf kalau aku membuat kamu terbangun. Aku hanya ingin membuka sabuk pengaman kamu. Habisnya melihat kamu tidur dengan sabuk pengaman yang masih terpasang buat aku merasa sesak," jelas Angga yang langsung menjauhkan dirinya dan sedikit merasa gugup karena takut sang kekasih salah paham jika dirinya hendak berbuat macam-macam.
"Kenapa kamu tidak langsung bangunkan aku saja? Kita sudah sampai di rumah aku, ya?" tanya Damia
"Niatnya aku baru mau bangunkan kamu setelah membuka sabuk pengamannya. Ya, kita sudah sampai di rumah kamu," jawab Angga
"Sudah berapa lama aku tertidur? Apa kita sudah lama sampai di sini?" tanya Damia
"Belum lama kok. Baru lewat 10 menit sejak kita sampai di rumah kamu," jawab Angga
"Omong-omong, rumah kamu terlihat sepi. Apa ibu dan ayah kamu sedang bekerja?" tanya Angga melanjutkan.
"Ya, ibu dan ayah masih bekerja hari ini. Saking terburu-buru pergi setelah bekerja, aku sampai lupa mengabari ibu atau bapak kalau aku pergi, tapi untungnya aku sudah pulang sebelum ibu dan ayah pulang lebih dulu," jelas Damia
"Kalau begitu, aku turun, ya. Apa kamu mau mampir sebentar?" tanya Damia melanjutkan.
"Lain kali saja, deh. Tidak enak kalau aku mampir saat kamu sedang sendiri," jawab Angga
"Berarti kalau ibu dan ayah ada di rumah, kamu mau mampir ke rumah?" tanya Damia
"Kalau seperti itu, sepertinya aku masih harus mempersiapkan diri lebih dulu," jawab Angga
"Mempersiapkan diri untuk apa? Memangnya kamu mau melamar pekerjaan di perusahaan besar?" tanya Damia
"Aku memang bukan mau melamar pekerjaan di perusahaan besar, tapi cepat atau lambat aku akan melamar kamu di depan calon mertua yang sangat berharga bagi kamu dan aku karena mereka telah membuat kamu ada dan terlahir di dunia ini hingga aku bisa bertemu sama kamu," ungkap Angga
"Kamu bisa saja. Apa kamu yakin tidak mau mampir meski hanya sebentar?" tanya Damia
Angga pun hanya menggeleng pelan sambil tersenyum.
..."Jangan terus menawari aku untuk mampir, Damia. Jangan buat aku goyah dan luluh. Kalau begitu, aku bisa saja khilaf dan bisa jadi tidak akan sebentar kalau aku sungguhan mampir karena aku tidak mau pisah sama kamu," batin Angga...
"Lalu, apa kamu mau langsung pulang setelah ini?" tanya Damia
"Ya, aku mau langsung pulang saja," jawab Angga
"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan pulang, ya. Kalau begitu, aku turun, ya. Sekali lagi selamat atas kelulusan kamu," ujar Damia
"Ya, terima kasih, Sayang ... " ucap Angga
Kali ini adalah kedua kalinya Damia mendengar Angga memanggilnya dengan sebutan Sayang. Damia benar-benar tidak terbiasa dan langsung merasa malu sendiri sast mendengar panggilan sayang untuk dirinya itu. Damia pun segera beranjak ke luar dari mobil milik sang kekasih.
Namun, Damia tidak langsung beranjak untuk masuk ke dalam rumah. Saat itu, jendela kaca mobil diturunkan dari dalam oleh Angga.
"Terima kasih sudah mengantar aku pulang sampai rumah. Hati-hati dan selamat sekali lagi," ucap Damia
Angga yang berada di dalam mobil hanya mengangguk sambil tersenyum. Angga pun melambaikan tangannya senelum melajukan mobilnya untuk pergi dari sana dan mendapat balasan lambaian tangan dari sang kekasih.
Lalu, Angga pun melajukan mobil miliknya berbalik arah untuk ke luar dari area kompleks perumahan tersebut. Setelah melewati gerbang dan berpamitan pada penjaga di sana, Angga pun kembali menaikkan jendela kaca mobilnya hingga menutup sempurna.
•••
Beberapa hari kemudian.
Di hari libur kerja, seperti biasa Damia akan janjian untuk pergi bersama sang kekasih.
Hari ini Damia dan Angga pergi mengunjungi Kota Tua yang sudah lama direncanakan, namun baru sempat terealisasikan.
Di sana, Damia dan Angga jalan-jalan dengan perasaan riang gembira dan tampak bahagia karena terus bersama, meski hanya datang mengunjungi tempat bersejarah yang sudah lampau.
Keduanya mengunjungi museum dan banyak bangunan bersejarah lainnya, jalan-jalan menaiki becak yang dikendarai tukang kayuh, serta menaiki sepeda berdua sambil berboncengan. Keduanya juga sempat makan siang khas Jakarta yang sudah lama diinginkan Damia, yaitu soto babat Betawi.
"Sebenarnya, sudah cukup lama aku ingin makan soto babat Betawi seperti ini, tapi selalu tidak kesampaian dan baru bisa makan sekarang," ujar Damia
"Lalu, bagaimana dengan sekarang? Apa rasanya enak?" tanya Angga
"Ya, enak dan aku senang," jawab Damia sambil tersenyum.
Lalu, Damia dan Angga kembali pulang saat malam hari tiba.
Saat berada di dalam mobil untuk kembali pulang, ponsel milik Damia berbunyi dan suster cantik itu langsung memeriksa ponsel miliknya.
"Ada apa?" tanya Angga
"Ada pesan masuk dari ibu. Ibu bertanya, kapan aku pulang dan aku sudah balas kalau kita sedang ada di jalan untuk pulang," jelas Damia
"Tidak perlu cepat-cepat, ibu hanya sekadar bertanya. Hati-hati saja mengendarai mobilnya," kata Damia
Akhirnya, mobil Angga berhenti tepat di depan rumah Damia. Lelaki itu mengantarkan sang kekasih sampai ke rumahnya.
"Kamu ikut turun juga, yuk. Mampir dulu ke rumah aku," ajak Damia
"Sudah malam, aku langsung pulang saja ... " kata Angga yang menolak secara halus.
"Sebenarnya ibu yang minta supaya kamu mampir ke rumah. Ibu mengirim pesan, katanya ... pulangnya nanti minta Angga untuk mampir dulu sebentar ke rumah, ya. Kamu coba lihat dan baca saja sendiri," ujar Damia sambil memperlihatkan isi pesan masuk dari sang ibu pada layar ponsel miliknya ke Angga.
Angga pun langsung membaca pesan yang ditunjukkan sang kekasih padanya.
"Kamu benar, tapi aku tidak enak karena tidak membawa apa-apa. Aku lupa membeli sesuatu karena terburu-buru ingin mengantar kamu pulang," ucap Angga
"Tidak masalah, kamu tidak perlu selalu membawa sesuatu saat datang ke rumah aku. Mampir dulu sebentar saja. Ayo, turun ... " kata Damia
Damia pun lebih dulu beranjak ke luar dari dalam mobil. Lalu, suster cantik itu berjalan memutar untuk menuju pintu kemudi dan meminta sang kekasih untuk segera turun.
Saat itu, Angga mau tak mau mengikuti permintaan sang kekasih yang juga termasuk permintaan dari calon ibu mertua, meski dirinya merasa tidak percaya diri dan gugup.
"Damia, aku-"
"Sudah, tidak perlu merasa tegang. Ada aku, kamu tidak sendiri kok. Lagi pula, ibu tidak menggigit orang," kata Damia seolah tahu sang kekasih yang merasa gugup.
"Aku juga tahu. Kamu ada-ada saja," sahut Angga sambil terkekeh kecil untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Damia pun menggenggam tangan Angga untuk memberikan rasa tenang dan aman pada lelaki tampan itu.
"Rileks ... dan, ayo kita masuk," kata Damia
Angga hanya mengangguk pelan dan menyempatkan diri untuk mengatur nafas agar setidaknya rasa gugupnya bisa berkurang.
"Aku pulang!" seru Damia
"Ibu, ini ... aku sudah bawa orang yang mau Ibu temui," sambung Damia saat sang ibu menghampirinya di pintu masuk rumah.
"Kalau begitu, ayo masuk ke dalam," ujar Ibu Rita
Damia pun mengajak Angga untuk ikut masuk ke dalam rumah.
"Maaf, Tante ... saya tidak membawa apa-apa," ujar Angga
"Tidak apa-apa, tidak usah repot-repot ... " kata Ibu Rita
Saat itu Ayah Dodi pun muncul dan Angga langsung melepas genggaman tangannya dengan Damia. Seolah tidak mau dirinya tertangkap basah telah menyentuh dan menodai kesucian dari benda yang amat berharga.
Namun, Damia mengerti kalau sang kekasih yang ingin mendapat kesan baik dari kedua orangtuanya.
"Ayah, sudah pulang ... " kata Damia
"Ya, hari ini pulang sedikit lebih cepat," sahut Ayah Dodi
"Apa kabar, Om, Tante?" tanya Angga
"Kabar baik," jawab Ayah Dodi
"Karena Angga sudah ada di sini, ayo kita makan malam bersama dulu," ajak Ibu Rita
"Saya tidak mau merepotkan, Tante. Tidak perlu," kata Angga yang menolak secara halus.
"Tidak merepotkan kok. Makanannya juga sudah disiapkan. Ayo, kita ke meja makan," ujar Ibu Rita
"Damia, ayo ajak pacar kamu masuk untuk makan," ucap Ayah Dodi
"Ayo, Angga ... jangan sungkan atau segan," ajak Damia
Angga pun hanya bisa mengikuti Damia dan kedua orangtuanya untuk beralih ke meja makan.
"Ayo, duduk dulu, Angga ... " ajak Damia
"Maaf, ya, kalau hanya ada makanan sederhana," kata Ibu Rita
"Saya suka makanan rumahan kok, Tante. Masakan buatan Damia sangat enak, pasti kemampuannya didapat dari Tante. Jadi, pasti saya akan suka rasanya," ujar Angga usai duduk di salah satu kursi di sana.
"Benar. Masakan Damia dan Ibu-nya rasanya memang enak. Ayo, makan ... " kata Ayah Dodi
Ibu Rita menyendokkan nasi untuk sang suami dan Damia menyendokkan nasi untuk Angga. Lalu, Ibu Rita juga memberikan lauk ke atas piring nasi yang disendokkan Damia untuk Angga setelah menaruh lauk di atas piring nasi sang suami.
Lalu, mereka pun memulai makan malam bersama. Angga merasa senang dan tersentuh saat mendapat perlakuan hangat dari keluarga sang kekasih.
Di sela makan malam bersama, nereka pun saling berbincang.
"Jadi, sudah berapa lama kalian berdua pacaran?" tanya Ayah Dodi
"Baru jalan 7 bulan, Om," jawab Angga
"Damia bilang, Angga sudah lulus kuliah, ya? Selamat atas kelulusannya, ya. Anggap saja makan malam bersama kali ini sebagai perayaan dari kami atas kelulusan kamu, tapi maaf kalau semuanya serba sederhana di sini," ujar Ibu Rita
"Ya, selamat, Angga ... " ucap Ayah Dodi
"Terima kasih atas ucapannya, Om, Tante. Saya baru saja lulus kuliah, tidak seperti Damia yang malah sudah dapat pekerjaan tetap," ucap Angga
"Tapi, itu lebih baik dari pada Damia yang langsung bekeria setelah lulus SMA tanpa kuliah. Kamu pasti bisa mendapat pekerjaan yang bagus," ujar Ibu Rita
"Apa yang mau kamu lakukan setelah lulus dari kuliah, Angga?" tanya Ayah Dodi
"Rencananya saya mau langsung cari kerja sebentar lagi, mungkin untuk magang lebih dulu," jawab Angga
"Ya, itu ide bagus ... " kata Ayah Dodi
Setelah cukup mengakrabkan diri dengan mengobrol, rasa gugup dan tegang yang Angga rasakan sudah sedikit berkurang. Lelaki itu merasa senang karena keluarga sang kekasih sangat baik terhadapnya.
Usai makan malam, Angga menyempatkan diri untuk bermain catur atas ajakan dari calon ayah mertua. Kedua lelaki dewasa itu bermain catur sambil mengobrol ringan. Setelah lewat beberapa ronde permainan, akhirnya Angga pun berpamitan untuk kembali pulang.
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu, ya, Om, Tante ... " ujar Angga
"Hati-hati di jalan dan titip salam untuk keluarga," pesan Ayah Dodi
"Maaf kalau hanya bisa titip salam, tidak bisa membawakan apa-apa untuk Angga pulang," ujar Ibu Rita
"Tidak apa-apa, Tante. Nanti salamnya saya sampaikan," kata Angga
"Kamu di dalam saja, tidak usah antar aku ke luar," sambung Angga yang beralih bicara pada sang kekasih.
"Kalau begitu, kabari aku saat sudah sampai di rumah dan hati-hati di jalan," ujar Damia berpesan.
Angga pun mengangguk dan lelaki itu pun beranjak pergi untuk kembali pulang setelah berpamitan sekali lagi.
.
Bersambung.